KEIMANAN SEBAGAI NILAI ETIKA INTI PENDIDIKAN KARAKTER

Oleh: Ceceng Salamudin

Abstrak

Sejak kelahiran agama, keimanan telah menjadi kekuatan bagi perubahan aspek kehidupan yang lebih baik, tidak terkecuali aspek pendidikan. Pendidikan memerlukan keimanan sebagai kekuatan untuk melakukan perubahan. Inilah nilai keimanan dalam pendidikan. Urgensi keimanan dalam pendidikan semakin terlihat manakala pendidikan karakter digulirkan sebagai alternatif bagi terwujudnya keberhasilan pendidikan. Dengan demikian, kajian tentang substansi keimanan dalam pendidikan karakter mutlak diperlukan.

Makalah ini mengkaji tentang pengertian nilai, al-Qur’an sebagai kitab nilai, hubungan antara tauhid dengan pendidikan karakter, dan keimanan sebagai nilai etika inti pendidikan karakter. Untuk mengkaji keempat rumusan masalah tersebut, dilakukan metode deskriptif kualitatif dengan cara mengkaji setiap referensi yang berkenaan dengan keempat rumusan tersebut.

Setelah kajian dilakukan, maka ditemukan bahwa nilai terkait dengan keyakinan manusia untuk menentukan sebuah pilihan yang akibat dari pilihan tersebut ia menjadi manusia yang bernilai atau tidak. Dalam Islam, nilai baik-buruk didasarkan pada petunjuk al-Qur’an yang dirumuskan dalam syariah melalui lima kategori hukum, yaitu wâjib, mandûb, haram, makrûh, dan mubâh. Nilai baik-buruk dalam Islam didasarkan pada keimanan kepada Allah yang merupakan inti tauhid. Dalam konteks pendidikan karakter, keimanan sangat diperlukan karena ia menjadi inti pendidikan karakter dalam membangun kesadaran manusia sehingga mereka mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Kata kunci: nilai, etika, keimanan, pendidikan karakter

 

  1. Pendahuluan

Aspek keimanan menjadi kekuatan semua agama dalam mewujudkan tujuan kehadiran agama tersebut. Keimanan juga menjadi bukti keberagamaan “yang sebenarnya” seorang penganut agama. Orang yang mengaku beragama tetapi tidak beriman-sesuai dengan prinsip ajaran agamanya, maka dia sebenarnya tidak beragama.

Agama dalam arti keyakinan atau kepercayaan pun demikian. Ia menjadi kekuatan dan pembuktian keyakinan seseorang. Sepanjang penelaahan saya terhadap para penganut kepercayaan[1], saya menyimpulkan bahwa mereka mempunyai prinsip-prinsip keimananan sesuai dengan kepercayaan yang mereka anut. Artinya, mereka beriman terhadap apa yang mereka yakini tersebut. Hal ini menegaskan bahwa persoalan keimanan bersifat pribadi dan tidak perlu ada pemaksaan untuk mengimani atau tidak mengimani sesuatu.

Sebagai salah satu agama “keimanan”, Islam menjadi salah satu agama yang paling concern terhadap isu keimanan ini. Apalagi kalau Islam dimaknai sebagai ajaran Allah yang pertama kali diwahyukan kepada Nabi Adam, maka ia paling dulu berbicara tentang keimanan dibandingkan agama-agama lain yang berkembang sampai saat ini.

Mengapa keimanan menjadi begitu penting dalam agama dan (atau) kepercayaan? Karena keimanan menjadi penghubung satu-satunya antara seseorang dengan Tuhannya sehingga dengan hubungannya ini, fondasi agama menjadi kuat. Dalam tingkat epistemologi, keimanan juga memproduksi nilai baik buruk[2] yang menentukan tingkat ketaatan seseorang kepada Tuhannya dan secara umum juga menentukan kualitas keberagamaan seseorang.

Salah satu aspek keberagamaan seseorang adalah berkenaan dengan pendidikan. Pendidikan adalah salah satu aspek yang menjadi perhatian agama dan (atau) kepercayaan apapun. Dengan demikian, pendidikan dalam konteks agama tidak bisa dipisahkan dari agama tersebut karena ia merupakan praktek keimanan seseorang. Semakin seseorang terdidik, seharusnya keimanannya semakin kuat dan begitu pun sebaliknya semakin seseorang beriman, semestinya ia semakin terdidik. Tetapi dalam kenyataannya, relasi antara keimanan dan pendidikan tidak selalu serasi. Oleh karena itu, saya perlu menegaskan bahwa pendidikan yang dimaksud di sini adalah pendidikan Islam yang salah satu fondasi epistemogisnya adalah keimanan. Dengan demikian, keserasian antara derajat keimanan dan kualitas pendidikan akan tercapai. Dalam Islam, semakin seseorang beriman, ia semakin terdidik dan semakin ia terdidik, maka ia semakin beriman. Orang yang seperti itu adalah orang yang berkarakter atau dalam term Islam orang yang berakhlak. Dengan demikian, pendidikan untuk membangun karakter atau akhlak itu sangat penting dan harus diperjuangkan.

Dalam tulisan ini, saya mengkaji (1) pengertian nilai, (2) al-Qur’an sebagai kitab nilai, (3) tauhid dan pendidikan karakter, dan (4) keimanan dan nilai dasar pendidikan karakter. Dengan keempat rumusan ini, saya bisa sampai pada kesimpulan pada keyakinan bahwa keimanan menjadi nilai dasar pendidikan karakter atau akhlak.

 

  1. Pengertian Nilai

Nilai menjadi tema sentral ketika kita berbicara tentang makna kehidupan. Karena berkaitan dengan makna kehidupan, nilai sering dibicarakan dan selalu diperbincangkan,[3] bahkan dalam prakteknya tidak ada hari yang kosong dari nilai. Dengan demikian, kajian tentang nilai selalu dibutuhkan karena hidup manusia memang memproduksi nilai.

Definisi nilai yang praktis adalah bahwa nilai itu adalah harga. Sesuatu yang bernilai berarti ia berharga. Harga itu bisa rendah, sedang, atau tinggi. Tetapi dalam kenyataannya susah mengukur standar harga seperti itu. Perlu dicatat bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang tidak bernilai. Artinya, semua hal itu bernilai walaupun nilainya sangat rendah sehingga saking rendahnya seolah-olah tidak bernilai.[4]

Berikut ini definisi-definisi nilai yang bersifat teoritis dan berkembang dikalangan akademisi. Saya mengutipnya dari buku Dr. Rohmat Mulyana.[5]

Kurt Baier (2003). Ia mengartikan nilai berdasarkan pengamatannya terhadap aspek sosiologi, psikologi, antropologi, dan ekonomi. Seorang sosiolog menafsirkan nilai sebagai keinginan, kebutuhan, kesenangan, sampai sangsi dan tekanan dari masyarakat.

Seorang psikolog melihat nilai sebagai “suatu kecenderungan perilaku yang berawal dari gejala-gejala psikologis, seperti hasrat motif, sikap, kebutuhan, dan keyakinan yang dimiliki secara individual, sampai pada wujud tingkah lakunya yang unik”

Seorang antropolog mengartikan nilai sebagai “‘harga’ yang melekat pada pola budaya masyarakat seperti dalam bahasa, adat kebiasaan, keyakinan, hukum dan bentuk-bentuk organisasi social yang dikembangkan manusia”.

Seorang ekonom melihat nilai sebagai “‘harga suatu produk dan pelayanan yang dapat diandalkan untuk kesejahteraan manusia.”

Gordon Allport (1964), ahli psikologi kepribadian “Nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya”
Kupperman (1983) “Nilai adalah patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara cara-cara tindakan alternatif”
Hans Jonas dalam Bertens (1999) “Nilai adalah alamat sebuah kata ‘ya’ (value is address of a yes), atau kalau diterjemahkan secara kontekstual, nilai adalah sesuatu yang ditunjukan dengan kata ‘ya’”.
Kluckhohn dalam Brameld (1957) “Konsepsi (tersirat atau tersurat, yang sifatnya membedakan individu atau ciri-ciri kelompok) dari apa yang diinginkan, yang mempengaruhi pilihan terhadap cara, tujuan antara, dan tujuan akhir tindakan.”
Rohmat Mulyana (2004) “Nilai adalah rujukan atau keyakinan dalam menentukan pilihan”

Berdasarkan definisi-definis di atas, maka dapat disimpulkan bahwa nilai adalah keyakinan yang menjadi pilihan seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Sesuatu itu bisa berada di wilayah sosial, psikologi, ekonomi, dan agama sekalipun. Pilihan tersebut sangat menentukan tindakan seseorang dan akibat dari tindakan tersebut, ia bisa dikategorikan sebagai orang yang bernilai atau tidak. Sebagai contoh, di kalangan masyarakat pedesaan, sampai sekarang masih berlaku pemahaman bahwa orang yang memilih pesantren sebagai tempat belajar agama lebih bernilai dari pada orang yang memilih bersekolah untuk belajar teknologi atau ilmu terapan lain. Pilihan seseorang untuk belajar ke pesantren dari pada ke sekolah menentukan penilaian publik terhadap dirinya. Tindakan tersebut juga menjadikannya dianggap lebih bernilai dari pada orang yang belajar di sekolah.

Sangat disayangkan berbagai definisi di atas tidak menjelaskan nilai dari perspektif agamawan atau para pemikir teologi. Padahal hal ini penting agar kajian tentang nilai tidak terlepas dari unsur spiritual-religius. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa studi tentang nilai masih didominasi oleh hal-hal yang bersifat material dan abstrak-rasional dan masih sedikit yang menghubungkannya dengan wilayah transenden atau abstrak-suprarasional.

Secara garis besar nilai itu ada tiga macam, yaitu nilai benar-salah, nilai baik-buruk, dan nilai indah tidak indah. Dalam filsafat, nilai benar-salah itu disebut logika. Ukurannya kalau sesuai dengan logika berarti benar sementara kalau tidak sesuai berarti salah. Nilai baik-buruk disebut etika. Kriterianya kalau sesuai dengan etika berarti baik, sementara kalau tidak sesuai berarti buruk. Nilai indah-tindak indah dinamakan estetika. Ukurannya kalau sesuatu sesuai dengan estetika berarti indah dan kalau tidak sesuai berarti tidak indah. [6]

Tulisan ini mengkaji nilai baik-buruk yang dalam perspektif agama disebutnya akhlak. Akhlak adalah budi pekerti yang didasarkan pada kebenaran agama. Dengan demikian, ada tiga istilah yang artinya kadang-kadang disamakan atau dianggap sama, yaitu etika, akhlak, dan budi pekerti.[7] Etika, sudah dijelaskan sebelumnya, merupakan cabang filsafat nilai yang berbicara tentang baik dan buruk menurut akal. Akhlak pun tadi sudah digambarkan. Yang belum dijelaskan adalah budi pekerti. Apa itu budi pekerti? Budi pekerti adalah ukuran baik dan buruk bagi perbuatan seseorang yang bersifat netral. Netral artinya tidak menurut akal dan juga agama.[8]

Bagaimana ketiga istilah tersebut bisa berada dalam kajian kita sekarang? Harus diakui bahwa filsafat Yunani mempunyai peran penting dalam memperkenalkan ketiga istilah tersebut, yaitu ketika para pilosof Yunani banyak melontarkan pemikiran tertentu yang kemudian dirumuskan sebagai etika atau etik. Jadi sekali lagi saya tegaskan bahwa etika hasil olah akal para pilosof.

Demokritos menjelaskan seperti ini “ideal tertinggi dalam hidup manusia adalah euthymia: keadaan batin yang sempurna. Ideal ini tercapai dengan menjangkakan secara seimbang semua faktor dalam hidup: kesenangan dan kesusahan, kenikmatan dan pantang. Jadi, etikanya dijiwai oleh prinsip Yunani yang klasik: keseimbangan.”[9] Berdasarkan hal ini, Demokritos menegaskan bahwa keseimbangan jiwa itu merupakan inti etika dan secara jelas pemikirannya terkait dengan etika manusia, bukan makhluk lain.

Konsep etika juga dijelaskan oleh Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Konsep mereka tentang etika hampir sama, yaitu terkait dengan budi pekerti yang bertujuan untuk kesenangan hidup dunia dan (atau) akhirat. Etika mereka pun bersifat rasional yang biasanya dinamakan “intelektualisme etis”. Mengapa bersifat rasional? Karena bagi mereka, budi adalah tahu dan mengetahui kebenaran. Orang yang berbudi adalah orang yang berpengetahuan atau orang yang mengetahui. Dengan demikian, orang yang mengetahui pasti berbuat baik dan ketika ia berbuat jahat, maka sejatinya ia tidak tahu atau pengetahuannya dikuasai oleh hal-hal yang tidak rasional.[10]

Penjabaran tentang konsep etika menurut ketiganya dijelaskan sebagai berikut. Sokrates mengatakan bahwa “tujuan tertinggi kehidupan manusia ialah membuat jiwanya menjadi sebaik mungkin” atau mencapai eudaimonia (kesenangan atau kesempurnaan jiwa). Supaya seseorang mencapai eudaimonia, ia harus melakukan aretê (keutamaan atau kebajikan). Aretê pun dalam prakteknya ada dua. Ada arête yang telah membuat seseorang menjadi baik atau telah mencapai kesempurnaan jiwa. Arête seperti ini terkait dengan konsep moral[11]. Ada Arête yang belum menjadi keutamaan tapi baru potensi yang belum diwujudkan dalam kenyataan.[12]

Sokrates juga mengatakan bahwa keutamaan adalah pengetahuan. Terkait dengan ini, Sokrates menyimpulkan tiga hal. Pertama, manusia tidak melakukan kesalahan dengan sengaja, tetapi karena keliru atau tidak tahu. Kedua, keutamaan bersifat integral dan menyeluruh. Artinya, tidak mungkin manusia yang mempunyai keutamaan berani tidak mempunyai keutamaan adil. Ketiga, keutamaan dapat diajarkan kepada orang lain.[13] Hal yang terakhir menegaskan bahwa nilai baik-buruk bisa diajarkan kepada orang lain. Artinya, nilai kebaikan atau keburukan bisa ditransfer kepada orang lain melalui pembelajaran. Pernyataan ini dibantah oleh pernyataan berikut:

“Sebenarnya keraguan tentang dapat tidaknya nilai diajarkan, muncul karena nilai dipersepsi hanya sebagai tema dalam wilayah filsafat. Kajian logika, etika, dan estetika memang menelaah nilai secara mendalam melalui sudut panjang filsafat, tetapi dalam proses pendidikan kualitas kebenaran, kebaikan, dan keindahan merupakan tema-tema abstrak yang (disadari atau tidak) menyatu dengan perilaku seseorang.” [14]

Pernyataan ini menegaskan bahwa nilai baik-buruk itu sebenarnya tidak bisa diajarkan karena ia dengan sendirinya telah menyatu dalam jiwa seseorang. Artinya, seseorang sudah mempunyai potensi baik atau buruk yang tidak bisa dipengaruhi oleh pengajaran tentang kebaikan atau keburukan. Ini nanti merupakan pendapat Aristoteles. Ia dalam hal ini memang berbeda dengan Sokrates. Plato sepertinya setuju dengan pendapat Sokrates bahwa nilai baik-buruk atau budi bisa diajarkan. Kemudian ia membagi budi menjadi dua, yaitu budi filosofis dan budi non filosofis (budi biasa). Budi filosofis timbul dari pengetahuan dengan pengertian yang jelas dan ditujukan untuk kehidupan non duniawi yang sacred dan abadi. Budi non filosofis muncul dari kehidupan sehari-hari dan ditujukan untuk kehidupan sehari-hari yang sifatnya remeh temeh dan tidak abadi.[15]

Sementara itu, Aristoteles menyatakan bahwa etika dalam bentuk mengetahui saja tidak lah cukup tetapi ia mesti dipraktekan dalam kehidupan, yaitu manusia melakukan apa yang dianggapnya baik dan selalu menjaga kelakuan baik tersebut. Dia juga, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, menolak pendapat Sokrates bahwa nilai baik-buruk dapat diajarkan. Menurutnya, nilai baik-buruk tidak bisa diajarkan.[16] Sebenarnya mengejutkan kalau Aristoteles yang pemikirannya banyak dikembangkan oleh para ilmuwan menolak pengajaran nilai padahal pengajaran itu bersipat ilmiah. Ia cenderung melihat nilai sebagai sesuatu yang bersifat personal dan tidak perlu ditularkan kepada yang lain. Padahal logika Aristotelian banyak dijadikan untuk “memaksa” sesuatu yang tidak bersifat ilmiah menjadi ilmiah atau sesuatu yang abstrak-spirutual menjadi konkret-material. Mungkin ia memang benar-benar anti nilai. Ia memang tidak setuju kalau nilai dimasukan dalam kerangka epsitemologi sain.

Bagaimana pandangan Islam mengenai nilai baik-buruk? Sebagaimana kita pahami bahwa Allah menciptakan manusia dengan dihadapkan pada baik dan buruk (al-Balad [90]: 8 dan al-Insân [76]: 3).[17] Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia bisa baik atau bisa juga buruk. Ini adalah nilai bagi manusia. Dalam Islam, selain menjadi persoalan ketuhanan, baik dan buruk juga merupakan dasar agama yang penting. Bagi seorang mukmin, Allah sumber nilai yang bersifat absolut.[18] Dengan demikian, tidak mungkin Allah dipinggirkan ketika ia merumuskan sebuah nilai baik atau buruk karena Allah lah sebenarnya yang menentukan sesuatu itu baik atau buruk, bukan manusia. Hal ini dipertegas oleh teologi Asy’ariyyah. Menurut mereka, baik dan buruk, termasuk hukum-hukum logika telah ditentukan oleh Allah dan terlalu gegabah bagi manusia untuk menghukum Tuhan (karena penentuan nilai tersebut tidak sesuai dengan kehendak manusia) atau menjustifikasi-Nya (karena Dia telah menentukan kategori-kategori nilai yang sesuai dengan kehendak manusia).[19]

Mengapa dalam Islam, nilai baik-buruk dinamakan akhlak? Alasannya karena terminologi akhlak menunjuk pada kebaikan lahir-batin dan dunia-akhirat. Selain itu, terminologi tersebut juga menegaskan bahwa manusia adalah makhluk jasadi dan ruhani[20] yang keduanya saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. Hal ini didasari oleh al-Qur’an sebagai sumber nilai, di antara terdapat dalam Q. S. Shad [38]: 71-72.

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: ‘Sesungguhnya aku menciptakan manusia dari tanah’. Maka, apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan kepadanya roh-Ku, maka hendaklah kalian merendahkan diri kepadanya”.

Ayat ini menggambarkan manusia sebagai makhluk jasadi dan ruhani sekaligus dan manusia tidak bisa berpaling dari kenyataan bahwa Allah adalah pemilik dan penentu kehidupan manusia di dunia dan akhirat, termasuk Allah penentu nilai-nilai yang dijadikan sebagai standar ketaatan atau ketidaktaatan manusia kepada-Nya.

Akhlak adalah nilai untuk sebuah perbuatan manusia. Dengan demikian, akhlak tidak bisa dipisahkan dari perbuatan. Akhlak baik merupakan nilai dari perbuatan baik dan sebaliknya akhlak buruk merupakan nilai untuk perbuatan buruk. Mengenai hal ini, Ibnu Bajah, seorang filosof muslim (w. 1138 M) membagi perbuatan manusia ke dalam dua bagian. Pertama, perbuatan yang dilakukan karena motif naluri dan bersifat hewani dan kedua, perbuatan yang timbul dari pemikiran yang lurus dan kemauan yang bersih dan bersifat insani. Dia memberikan contoh seseorang yang melemparkan batu ketika ia terantuk oleh batu tersebut. Kalau alasan melemparkan batu tersebut karena batu itu telah membuatnya terganggu atau terluka, maka apa yang ia lakukan merupakan perbuatan hewani yang didorong oleh naluri kehewanan. Tetapi kalau alasannya karena dikhawatirkan akan membahayakan orang lain maka perbuatannya adalah perbuatan kemanusiaan. Jadi perbedaan keduanya bukan perbuatannya tetapi motifnya. Pekerjaan terakhir inilah menurut Ibnu Bajah bisa dikatakan sebagai akhlak.[21]

Dari mana sumber akhlak tersebut? Akhlak bersumber dari al-Qur’an. Hal ini karena al-Qur’an adalah kitab yang memuat nilai yang menjadi pedoman bagi kehidupan manusia.

 

  1. Al-Qur’an sebagai Kitab Nilai

Kasus dibakarnya al-Qur’an oleh tentara Amerika di Afganistan yang terjadi pada pada awal bulan Maret tahun ini menimbulkan protes umat Islam di belahan dunia. Mengapa mereka marah? Karena bagi mereka al-Qur’an adalah kitab nilai. Membakar al-Qur’an berarti merusak nilai. Jadi, yang jadi persoalan sebenarnya bukan rusaknya kertas-kertas tersebut tetapi dilecehkannya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kejadian ini membuktikan bahwa betapa hebatnya nilai yang terdapat di dalam al-Qur’an sehingga tidak boleh satu pun nilai tersebut hilang dari al-Qur’an.[22]

Bagaimana kita memahami al-Qur’an sebagai kitab nilai? Ajaran-ajaran al-Qur’an terbagi ke dalam dua kelompok besar. Pertama, ajaran-ajaran dasar yang bersifat mutlak benar, kekal tak berubah dan tidak boleh dirubah, yaitu ayat-ayat al-Qur’an yang berbentuk teks-teks berbahasa Arab. Kedua, ajaran-ajaran hasil penafsiran manusia dari ajaran-ajaran dasar. Ajaran ini bisa berubah dan bisa diubah, seperti terjemahan dan penafsiran terhadap al-Qur’an, seperti kitab-kitab tasfir karya para ulama[23].

Nilai al-Qur’an bisa digali dari kedua ajaran tersebut. Nilai itu diantaranya tentang fungsi dan bukti kebenaran al-Qur’an berdasarkan penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Di antara fungsi tersebut adalah al-Qur’an: 1) petunjuk bagi manusia (al-Baqarah [2]; 185), 2) petunjuk menuju jalan yang sebaik-baiknya (al-Isra [17]: 9), 3) penegasan akhlak terpuji Allah (Thaha [20]: 8) yang wajib diteladani oleh manusia (Nabi bersabda: بِا خلاق الله تخلقوا /berakhlak lah kalian dengan akhlak Allah), dan 4) penegasan akhlak mulia Nabi (al-Qalam [68]: 4). Hal ini dipertegas oleh ucapan Siti Aisyah bahwa “Budi pekerti Nabi adalah al-Qur’an” (HR. Ahmad). Sebagai sebuah petunjuk (hudan), al-Qur’an menjadi solusi yang bersifat praksis dan dibutuhkan usaha yang serius untuk membuktikan al-Qur’an sebagai petunjuk tersebut.[24] Salah satunya dengan menjadikan al-Qur’an sebagai rujukan nilai bagi kehidupan manusia. Bukti kebenaran al-Qur’an adalah bahwa al-Qur’an: 1) dijamin keotentikannya (al-Hijr [15]: 9) dan 2) terbukti kebenarannya dengan menantang siapa saja yang mau membuatnya (17: 88). Salah satu bukti kebenaran al-Qur’an adalah keserasiaannya dalam beberapa lafadz yang mempunyai lawan kata. Sebagai contoh, di dalam al-Qur’an, kata al-kufr dan al-îman terhitung sebanyak 17 kali dan kata kufr dan îman sebanyak 8 kali.[25] Kesimbangan jumlah kata tentang keimanan dan kekufuran menunjukan bahwa nilai baik atau buruk menjadi realitas kemanusiaan yang telah diatur sedemikian rupa oleh Allah swt. dalam al-Qur’an dan memungkinkan manusia dengan kesadarnnya memilih jalan yang terbaik.

Dalam penjelasan yang lebih luas, dinyatakan bahwa alasan al-Qur’an sebagai kitab nilai itu karena al-Qur’an adalah cahaya bagi kegelapan. Jadi, al-Qur’an bernilai karena menjadi penerang bagi kegelapan. “Al-Qur’an sebagai cahaya harus mampu menjadi penerang bagi kegelapan, mengangkat harkat dan martabat manusia, serta memberikan direksi bagi perubahan-perubahan sosial. Al-Qur’an sebagai cahaya harus mampu membentuk sebuah paradigma yang bersifat komprehensif, sebagaimana dituturkan dalam surah an-Nur [24]: 35 bahwa Tuhan adalah cahaya langit dan bumi”.[26]

Dalam prakteknya, nilai baik-buruk itu diatur oleh perangkat syariah yang merupakan perangkat utama dari sistem nilai Islam. Dalam sistem ini, semua tindakan manusia tidak terlepas dari salah satu dari lima kategori ini, wâjib (wajib), mandûb (sunah atau dianjurkan), haram (terlarang), makrûh (tidak disukai), dan mubâh (dibolehkan).[27] Wâjib adalah nilai yang harus lakukan oleh seorang muslim. Contoh perbuatannya adalah menyantuni orang-orang dhua’fa. Dengan demikian, hukum menyantuni orang-orang dhua’fa adalah wâjib. Seorang muslim bernilai sangat tinggi manakala ia melakukan perbuatan tersebut. Haram adalah nilai yang harus ditinggalkan oleh seorang muslim. Contoh perbuatannya adalah korupsi. Dengan demikian, hukum korupsi adalah haram. Seorang muslim bernilai sangat rendah manakala ia melakukan kejahatan tersebut.

Dalam konteks nilai yang bersifat nasional, al-Qur’an sesuai dengan pancasila sebagai dasar negara kita dan sumber nilai berbangsa dan bernegara. Sebagai sumber nilai, pancasila melahirkan nilai-nilai luhur. Sila pertama pancasila (Ketuhanan Yang Maha Esa) adalah keimanan (sesuai dengan nilai al-Qur’an) dan menjadi nilai inti pancasila. Empat sila lainnya secara substansial mesti dijiwai oleh sila pertama tersebut. Gambaran kelima sila pancasila yang berbasis pada nilai keimanan adalah sebagai berikut:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa
  3. Persatuan Indonesia berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa
  5. Keadilan sosial berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa[28]

Dalam Islam, kelima dasar pancasila yang digerakan oleh nilai keimanan dinamakan tauhid. Tauhid ini adalah keimanan khas Islam. Tauhid ini juga nanti akan dilihat sebagai kekuatan yang mengarahkan dan membimbing pendidikan karakter.

 

  1. Tauhid dan Pendidikan Karakter

Sebelumnya saya ingin menegaskan bahwa dalam Islam, pendidikan karakter sama dengan pendidikan akhlak.[29] Hal ini karena dalam konteks Islam, seseorang yang berkarakter (positif) adalah orang yang berakhlak (baik). Ada orang yang sangat peduli kepada umat dan ia menjadi penggerak kemajuan umat tetapi tidak melaksanakan shalat lima waktu atau puasa Ramadhan. Menurut Islam, orang seperti itu tetap saja tidak berkarakter dan akhlaknya tetap saja jelek. Begitupun sebaliknya, ibadah wajibnya tidak pernah tertinggal tetapi ia tidak mempunyai kepedulian sama sekali terhadap umat, maka ia juga tidak berkarakter dan pastinya tidak berakhlak. Artinya, Islam mendorong konsep keseimbangan ibadah personal dan ibadah sosial yang mesti sama-sama dilakukan oleh seorang muslim sehingga menjadi sosok yang berkarakter.

Salah satu hal yang menjadikan seseorang berkarakter atau berakhlak itu adalah nilai tauhid yang dimilikinya. Mengapa demikian? Karena tauhid merupakan prinsip dasar Islam. “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelummu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, Maka sembahlah aku’” (Q. S. Al-Anbiya [21]: 25). Selain tauhid, akhlak juga merupakan dasar dan intisari dari konsep Islam. “Tauhid mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa, pencipta alam semesta dan sumber dari segala-galanya. Akhlak dan ajaran-ajaran moral dalam Islam bersumber dari Tuhan dan oleh karena itu mempunyai dasar yang kuat”.[30]

Urgensi tauhid bagi manusia dinyatakan oleh Imam Ghazali dalam Kitab Ihya ‘Ulumuddin. Menurutnya, ‘setiap manusia telah diciptakan atas dasar keimanan kepada Allah…’[31] Penjelasan lainnya menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia atas dasar potensi tauhid. Tauhid ini dipancangkan dalam fitrah kemanusiaan dan menjadi pengikat antara manusia dengan Allah.[32] Pentingnya tauhid ini adalah selalu menjaga kita dari perpisahan dengan Allah. Dengan tauhid, kita selalu terikat dengan Allah. Kita tidak akan terlepas dari-Nya walaupun berada dalam situasi dan kondisi yang sangat sulit sekalipun. Dengan demikian, tauhid merupakan fitrah kemanusiaan dan nilai inti kehidupan manusia.

Apakah ini tauhid itu? Inti tauhid adalah beriman kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Ini merupakan prinsip pertama dari ajaran Islam dan setiap apa pun yang dianggap bernilai Islami.[33] Setiap muslim wajib memilikinya karena fitrah mereka adalah mempunyai keyakinan tentang keesaan Allah (al-Rum [30]: 30 dan Al-A’raf [7]: 172). “Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap insan, dan bahwa hal tersebut merupakan fitrah (bawaan) manusia sejak asal kejadiannya”[34] Hal ini dipertegas oleh pendapat Ibn ‘Athîyah bahwa makna fitrah adalah ‘keadaan atau kondisi penciptaan yang terdapat dalam diri manusia yang menjadikanya berpotensi melalui fitrah itu mampu membedakan ciptaan-ciptaan Allah serta mengenal Tuhan dan syari’at-Nya’[35].

Kata fithrah terambil dari kata fathara yang artinya mencipta. Sebagian ulama mengartikannya ‘mencipta sesuatu pertama kali tanpa ada contoh sebelumnya’ atau bisa diartikan sebagai asal kejadian atau bawaan sejak lahir.[36] Salah satu hadits menyebutkan bahwa “semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, lalu kedua orang tuanya menjadikannya menganut agama Yahudi, Nashrani, atau Majusi. Seperti halnya binatang yang lahir sempurna, apakah kamu melihat ada anggota badannya yang terpotong, kecuali jika kamu yang memotongnya? (tentu tidak!)” (HR. Bukhari dan Muslim).[37]

Seorang ulama kontroversial, seperti Mirza Ghulam Ahmad pun mendorong manusia untuk mengenal Allah dan mengimani-Nya. Baginya, mengenal Allah dan mengimani-Nya merupak nilai dasar kemanusian.[38] Pemikirannya dalam hal ini sama dengan pemikiran para ulama yang menentangnya. Titik temu ini sebenarnya bisa dijadikan perekat antara ajaran Ahmadiyyah dengan mainstream ajaran Islam lainnya. Persoalan khâtam al-nabiyyîn yang menjadi salah alasan utama menolak Ahmadiyyah bisa diselesaikan kalau kita kembali kepada hakikat metodologi penafsiran dan kepada keterangan al-Qur’an yang menyatakan bahwa penilaian keimanan menjadi hak sepenuhnya Allah swt.

Mengapa kita perlu bertauhid? Eric Fromm mengatakan bahwa barang siapa yang tidak menerima otoritas Tuhan, maka ia akan mengikuti “(1) relativisme penuh, di mana nilai dan norma sepenuhnya adalah urusan pribadi, (2) nilai tergantung pada masyarakat, sehingga nilai dari golongan yang dominan akan menguasai, dan (3) nilai tergantung pada kondisi biologis, sehingga Darwinisme sosial, egoism, kompetesi, dan agresivitas adalah nilai-nilai kebajikan.[39]

Bagaimana hubungan tauhid dengan pendidikan karakter? Perlu dipahami bahwa “menerima tauhid dalam pengertian paling universal sama artinya dengan mengakui kemungkinan adanya berbagai perspektif tauhid tentang pengetahuan dan hal-hal lainnya dalam berbagai budaya dan peradaban selain Islam.”[40] Ini artinya tauhid bisa dijadikan sebagai kekuatan bagi semua pengetahuan dan peradaban manusia. Salah satu pengetahuan tersebut adalah pendidikan. Jadi, semua perkembangan konsep pendidikan bisa ditilik dari perspektif tauhid. Dalam tulisan ini, saya ingin mengkaji relasi antara tauhid dan konsep pendidikan karakter sehingga saya bisa membuat rumusan yang bisa menarik benang merah antara keduanya, baik pada tataran teoritis maupun operasional.

Pada wilayah fungsi tauhid, kita sepakat bahwa tauhid mesti diterima sebagai doktrin yang dipraktekan dalam pemikiran dan semua kehidupan manusia.[41] Dengan demikian, tidak ada satu pun pemikiran dan praktek kehidupan manusia yang terlepas dari nilai-nilai tauhid.

“Ajaran yang paling fundamental dalam Islam adalah doktrin keesaan (Tauhîd) yang dinyatakan dengan cara yang paling universal dalam “kesaksian” pertama iman Islam, lâ ilâha illallâh, yang biasanya diterjemahkan sebagai “tiada Tuhan selain Allah”. Doktrin ini menyampaikan sikap dasar dan ruh Islam, yang berupaya untuk direalisasi setiap muslim dalam dirinya sendiri dengan menata dan memadukan semua pikiran dan tindakannya ke dalam sebuah keutuhan yang harmonis dan sebuah kesatuan.”[42]

Tauhid mempunyai keterkaitan dengan pendidikan karakter. Hal ini bisa dilihat dari salah satu pengertian pendidikan karakter, yaitu:

“Proses pembentukan jati diri manusia yang dilakukan dengan cara membangun kualitas logika, akhlak, dan keimanan. Pembentukannya diarahkan pada proses pembebasan manusia dari ketidakmampuan, ketidak benaran, ketidakjujuran, ketidakadilan dan dari buruknya akhlak dan keimanan. Dengan proses tersebut, diharapkan terbentuk jati diri manusia yang berwatak, berakhlak, dan bermartabat.”[43]

Definis ini memuat kata akhlak dan keimanan, selain kata logika. Bukan persoalan yang sepele ketika sebuah kata dimasukan dalam sebuah definisi. Pasti ada “sesuatu” yang menjadikan akhlak dan keimanan dimasukan dalam mengartikan pendidikan karakter. Apa sesuatu itu? Yaitu pengakuan yang sangat jelas akan pentingnya keimanan sebagai pendorong dan akhlak sebagai realisasi kehidupan. Dengan demkian, saya ingin menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak bisa dilepaskan dari tauhid dan akhlak. Kalau disatukan dengan kata logika, maka definisi itu menjelskan bahwa pendidikan karakter berorientasi pada pengembangan fungsi akal dan hati yang sehat yang akan membentuk akhlak peserta didik yang mulia, yaitu akhlak kepada Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam sekitar. Secara normatif, tujuan pendidikan yang berbasis pada tauhid dan akhlak membentuk pribadi-pribadi yang kuat keyakinannya kepada Allah, berakhlak mulia, dan berbudi luhur.[44] Tujuan ini sesuai dengan tujuan pendidikan karakter sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Secara praktis, tujuan pendidikan tersebut untuk membentuk pribadi-pribadi yang tangguh jiwanya dan teguh pendiriannya dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Penjelasan lain yang mendukung dugaan saya bahwa pendidikan karakter sama dengan pendidikan akhlak adalah adanya penjelasan lain bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).[45] Penjelasan ini sesuai dengan pernyataan bahwa akhlak adalah budi pekerti menurut perspektif agama.[46] Yang dimaksud plus itu adalah adanya keterlibatan agama dalam menentukan ukuran budi pekerti tersebut. Hal lain yang mendukung adalah pernyataan bahwa pendidikan karakter yang diduga dicetuskan pertama kali oleh pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966) menekankan dimensi etis spiritual dalam proses pembentukan pribadi peserta didik.[47] Artinya, dalam kemunculannya, pendidikan karakter membutuhkan “suntikan” etika kepribadian untuk mewujudkan tujuannya membentuk pribadi-pribadi yang berkarakter. Istilah etika kepribadian memang tidak murni selalu dihubungkan dengan keimanan kepada Tuhan, tetapi istilah tersebut membuka peluang supaya nilai keimanan mudah diterima oleh manusia. Kenapa demikian? Karena Islam adalah agama yang menghargai kepribadian manusia. Dengan demikian, akan lebih baik kalau konsep kepribadian menurut agama dilibatkan dalam pengembangan pendidikan karakter.

 

  1. Keimanan sebagai Nilai Etika Inti Pendidikan Karakter

Yang dijelaskan di dalam tulisan ini hanyalah keimanan kepada Allah yang menjadi nilai dasar keimanan kepada selain Allah, seperti kepada Nabi Saw., dan lain sebagainya. Artinya, keimanan kepada Allah menjadi inti keimanan kepada selain-Nya.

Ibnu Jarir al-Thabari mengatakan bahwa iman adalah percaya kepada Tuhan dan Nabi Saw.[48] Definisi ini mewakili semua keimanan. Percaya kepada Allah mewakili keimanan kepada yang ghaib dan percaya kepada Nabi mewakili keimanan kepada yang dhahir. Definisi iman kepada Allah yang agak lengkap dan populer di kalangan umat adalah meyakini Allah dengan hati, mengucapkan sesuatu yang bernilai iman dengan lisan (seperti syahadatain) dan mengerjakan perintah Allah dengan anggota tubuh dan kemampuan fisik lainnya.

Bagaimana konsep iman dipahami oleh para ulama? Dalam perspektif Asy’ariyyah, keimanan itu tetap ada walaupun seseorang sama sekali tidak melakukan amal shaleh dan sepanjang ia masih percaya kepada Allah. Yang penting di dalam hatinya ia beriman kepada Allah. Dengan demikian, nilai iman yang paling rendah ini bersifat qalbiyyah dan cenderung pasif. Dalam kajian mereka, iman itu cahaya yang tidak akan pernah mati sepanjang seseorang percaya kepada Allah walaupun ia menjalankan dosa-dosa besar, selain dosa menyekutukan Allah. Dalam tradisi mereka pula, orang yang hendak beriman kepada Allah disyaratkan untuk mengucapkan syahadatain.

Mayoritas pengikut Mutazilah melihat bahwa iman tidak cukup hanya percaya dengan hati, tetapi iman baru bernilai kalau seseorang beramal shaleh. Mereka juga mengatakan bahwa orang yang di dalam hatinya percaya kepada Allah tetapi tidak melaksanakan amal shaleh, maka ia akan abadi di dalam neraka. Mereka mendefinsikan iman sebagai keyakinan yang harus dibuktikan dalam amal perbuatan. Kalau amal shaleh tidak dilakukan sama sekali, maka iman itu tidak ada sama sekali walaupun hati percaya kepada Allah dan lisan mengucapkan syahadatain. Iman dalam pemikiran mereka kelihatan progresif.

Terlepas dari perbedaan pandangan tersebut, tulisan ini akan mengkaji keimanan sebagai sebuah nilai etika inti bagi pendidikan karakter. Di antara nilai etika tersebut adalah bahwa keimanan akan melahirkan kesadaran. Ini yang sangat penting dalam pendidikan karakter, bahkan dalam semua konsep pendidikan manapun, yaitu pendidikan untuk membangun kesadaran.

Bagaimana hakikat keimanan itu sebenarnya? Keimanan merupakan salah satu nilai ilahiyyah yang akan melahirkan kesadaran. Ia merupakan nilai etika Islam yang membedakannya dengan etika materialistis. Kaum Marxis berpandangan bahwa kesadaran (superstructure) ditentukan oleh srtuktur, yaitu basis sosial dan kondisi material. Ini bertentangan dengan Islam yang berpijak pada independensi kesadaran. Etika Islam bertentangan dengan etika yang selalu mengembalikan kesadaran pada konsep individu, baik yang berbentuk individualisme, eksistensialisme, liberalisme, dan kapitalisme. Bagi Islam, kesadaran ditentukan oleh Tuhan. Etika Islam juga menentang kesadaran yang berbasis pada sekulerisme, yaitu memisahkan semua kesadaran dari Tuhan.[49]

Mengapa keimanan merupakan inti? Saya akan menjawabnya dengan menghadirkan sebuah hadits Qudsi. Hadits ini berbunyi “Aku jadikan pada manusia itu qashr (istana), di dalam istana itu ada shadr (dada), di dalam dada itu ada qalb (kalbu), di dalam kalbu ada fu’ad, di dalam fu’ad ada syaghaf, di dalam syaghaf ada lubb, di dalam lubb ada sir, dan di dalam sir itu ada Anâ (Aku)”[50]

Hadits ini menjelaskan bahwa inti keimanan adalah hadirnya Anâ (Tuhan) dalam diri kita yang akan menjadi kekuatan untuk membangun kesadaran menjadi hamba Allah yang selalu sadar tentang hadirnya Allah dalam diri kita. Anâ adalah penggerak yang menggerakan jiwa, pikiran, perasaan, tubuh, dan segala hal yang menyangkut diri kita baik fisik maupun non fisik. Bayangkan ketika Anâ itu mengerakan diri kita dan kita siap menerima gerakan itu, maka semua gerakannya bernilai Anâ, yaitu bernilai ketuhanan. Jiwa, pikiran, perasaan, tubuh, dan semua hal menyangkut kita bernilai Anâ. Bayangkan juga kalau semua orang yang terlibat dalam pendidikan seperti itu. Kamad, wakamad, guru, peserta didik, pegawai TU, dan semuanya memiliki kesadaran tentang Anâ, maka dipastikan sekolah tersebut akan menjadi sekolah yang berkarakter.

Jadi, keimanan itu sebagai penggerak yang menggerakan kesadaran semua orang untuk dengan sadar berlaku baik, jujur, santun, tanggung jawab, tepat waktu, profesional, dan menjadi figur yang sesuai dengan kerjanya. Dengan demikian, keimananan harus selalu dijadikan sebagai kekauatn untuk mewujudkan pendidikan yang mencerahkan.

 

  1. Simpulan

Nilai merupakan salah satu cabang filsafat. Nilai terkait dengan keyakinan seseorang dalam menentukan sebuah pilihan. Pilihan tersebut bisa dianggap baik atau buruk. Nilai terbagi tiga, yaitu nilai benar-salah yang dinamakan logika, nilai baik-buruk yang dinamakan etika, dan nilai indah-tidak indah yang dinamakan estetika. Makalah ini mengkaji tentang nilai baik-buruk yang didasarkan agama yang disebut sebagai akhlak.

Al-Qur’an merupakan kitab nilai karena di dalamnya mengandung beragam nilai. Nilai al-Qur’an didasarkan pada ajaran-ajaran al-Qur’an yang mengandung kebenaran mutlak dan tidak bisa dirubah dan ajaran-ajaran yang relatif dan dengan demikian bisa dirubah. Beberapa nilai al-Quran digali dari ayat-ayat al-Qur’an tentang fungsi dan bukti kebenaran al-Qur’an. Di antara nilai tersebut adalah berkenaan dengan nilai baik-buruk, yaitu di antaranya tentang konsep iman dan kufur. Dalam penentuannya, nilai baik-buruk ini diatur oleh syariah dan melahirkan lima kategori nilai, yaitu wâjib, mandûb, haram, makrûh, dan mubâh. Al-Qur’an sesuai dengan nilai-nilai yang digali dari kelima sila pancasila.

Tauhid dan pendidikan karakter mempunyai hubungan yang erat. Hubungan ini didasarkan pada kesamaan antara pendidikan karakter dengan pendidikan akhlak. Kesamaan ini didasarkan pada sisi epistemologi dan aksiologi pendidikan karakter dan pendidikan akhlak.

Keimanan adalah nilai inti pendidikan karakter. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa keimanan bisa melahirkan kesadaran sebagaimana pendidikan karakter menjadikan kesadaran sebagai inti tujuan pendidikannya. Keimanan menjadikan pendidikan karakter sebagai kendaraannya dan pendidikan karakter menjadikan keimanan sebagai pijakannya. Dengan demikian, keimanan dan pendidikan karakter secara bersama-sama harus mewujudkan tujuan pendidikan yang mampu mendorong kehidupan yang lebih baik.

 

 

 

Daftar Pustaka

Ahmad, Mirza Ghulam. 1996. Filsafat Ajaran Islam (Islami Ushul Filâsafi. Penerjemah: Mukhlis Ilyas. Bogor: Jamaah Ahmadiyah Indonesia.

Bakar, Osman. 2008. Tauhid dan Sains: Perspektif Islam tentang Agama dan Sains. Bandung: Pustaka Hidayah.

Bertens, Kees. 1989. Sejarah Filsafat Yunani. Jakarta: Kanisius.

Budiman, Dasim dan Komalasari, Kokom (ed.). 2001. Pendidikan Karakter: Nilai Inti bagi Upaya Pembinaan Kepribadian Bangsa. Bandung: Widya Aksara Press.

al-Faruqi, Isma’il Raji. 2003. Islamisasi Pengetahuan (Islamization of Knowledge: General Principles and Work plan). Penerjemah: Anas Mahyudin. Bandung: Penerbit Pustaka.

Hodgson, Marshall G. S. 2002. The Venture of Islam: Iman dan sejarah dalam Peradaban Dunia (The Venture of Islam: Conscience and History in a World Civilization). Penerj.: Mulyadhi Kartanegara Jakarta: Paramadina.

Hatta, Mohammad. 1980. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: PT. Tintamas Indonesia.

Hanafi, Ahmad. 1996. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: bulan Bintang.

Koeseoma, Doni. “Pendidikan Karakter Integral”. Tersedia di http:/pendidikankarakter.org/articles_003.html.

Kuntowijoyo. 2007. Islam sebagai Ilmu. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Madkur, ‘Ali Ahmad. 2002. Manhaj al-Tarbiyyah fi al-Tashawwur al-Islami. Mesir: Dar al-Fikri al-‘Arabi.

Misrawi, Zuhairi. 2010. Al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin. Jakarta: Pustaka Oasis.

Mulyana, Rohmat. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta.

Muzani, Syaiful (Ed.). Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Prof. Dr. Harun Nasution. Bandung: Mizan.

Nasution, Harun. 1985. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: Universitas Indonesia.

Shihab, M. Quraish. 2003. Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.

—– . 2003. Wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan.

—– . 2010. Tafsir al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.

Suriasumantri, Jujun S. 1999. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Suyanto. “Urgensi Pendidikan Karakter”. Tersedia di http://pendidikankarakter.org/articles_004.html.

Tafsir, Ahmad (Ed.). 2001. Teori-Teori Pendidikan Islam. Bandung: Fakultas Tarbiyah.

—– . 2008. Filsafat Pendidikan Islam: Integrasi jasmani, Rohani, dan Kalbu Memanusiakan Manusia. Bandung: Rosdakarya.

 

[1]Antara tahun 2001-2003, saya terlibat dalam penelitian terhadap “agama” kepercayaan atau “sempalan” ajaran Islam yang muncul di Jawa Barat. Saya melakukan kajian buku dan lapangan terhadap kepercayaan yang berkembang di Cibubur Kuningan dan ajaran Ahmadiyyah yang ada di Tasikmalaya dan Kuningan. Saya mengamati langsung ritual-ritual mereka dan terlibat dalam advokasi hak-hak mereka yang “dikebiri” oleh pemerintah dan publik. Untuk memperkuat advokasi tersebut, kami mendirikan organisasi “PAKUAN” (Paguyuban Anti diskriminasi Suku, Ras, Agama, dan Kepercayaan). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa keimanan itu bersipat personal dan tidak bisa diintervensi oleh siapapun. Karena bersifat personal dan anti intervensi, maka keimanan menjadi kekuatan bagi para pemeluk kepercayaan tersebut.

[2]Keimanan bisa memproduksi nilai. Nilai dalam studi filsafat adalah nilai benar-salah (logika), baik-buruk (etika), dan indah-tidak indah (estetika). Jadi, keimanan bisa memproduksi nilai logika, etika, dan estetika. Pernyataan ini akan menuai banyak protes karena ukuran ketiga nilai itu didasarkan pada akal sedangkan agama tidak melulu terkait dengan akal.

[3]Dedi Supriadi, “Pendidikan Nilai: Sebuah Megatrend”, dalam Rohmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, (Bandung: Alfabeta, 2004), hlm. v.

[4]Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam: Integrasi jasmani, Rohani, dan Kalbu Memanusiakan Manusia, (Bandung: Rosdakarya, 2008), cet., ke-3, hlm. 50.

[5]Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan, hlm. 8-11.

[6]Tafsir, Filsafat Pendidikan, hlm. 50. 51.

[7]Ketika kuliah semester I (September – Desember 20011), saya menemukan dalam sebuah buku ada lima kata yang diduga terkait dengan perbuatan atau perilaku baik-buruk, yaitu etika, moral, akhlak, karakter, dan budi pekerti. Dari kelima kata ini, tiga diantaranya, yaitu etika, moral, dan budi pekerti merujuk pada tingkah laku atau perbuatan yang dianggap baik, sementara dua sisanya, yakni karakter dan akhlak bisa merujuk pada perilaku yang baik atau buruk. Pendapat ini bisa dilihat di Yadi Ruyadi, “Pendidikan Karakter atau Pendidikan Budi Pekerti?”, dalam Dasim Budiman dan Kokom Komalasari (Ed.), Pendidikan Karakter: Nilai Inti bagi Upaya Pembinaan Kepribadian Bangsa, (Bandung: Widya Aksara Press, 2001), cet. ke-1, hlm. 341.

Dulu saya sepakat dengan semua pendapat tadi, tetapi sekarang saya tidak sependapat dengan sebagian pernyataan tadi karena konsep etika, moral, dan budi pekerti juga mempunyai dua sisi nilai, yaitu baik atau buruk apalagi ketika ketiga kata tersebut (dan dua kata yang lainnya) sering digunakan untuk menggambarkan dua sisi perbuatan manusia, yaitu baik dan buruk.

[8]Tafsir, Filsafat Pendidikan, hlm. 120-122.

[9]Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, (Jakarta: Kanisius.1989), cet., ke.6, hlm.66.

[10]Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani, (Jakarta: PT. Tintamas Indonesia, 1980), hlm. 83, 106, dan132.

[11]Jadi menurut Sokrates, moral itu adalah etika yang telah menjadikan seseorang menjadi baik. Jadi sifatnya nyata. Orang yang bermoral adalah orang yang benar-benar baik; tidak pura-pura baik. Kebaikannya pun jelas dan ia selalu menjadi orang baik.

[12]Bertens, Sejarah Filsafat, hlm 89-90.

[13]Bertens, Sejarah Filsafat, hlm.90-91.

[14]Supriadi, “Pendidikan Nilai”, hlm. vii-viii.

[15]Hatta, Alam Pikiran, hlm. 106-107.

[16]Bertens, Sejarah Filsafat, hlm. 162.

[17]‘Ali Ahmad Madkur, Manhaj al-Tarbiyyah fi al-Tashawwur al-Islami, (Mesir: Dar al-Fikri al-‘Arabi, 2002), hlm. 161.

[18]Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: Universitas Indonesia, 1985), cet, ke-5, hlm. 48.

[19]Marshall G. S. Hodgson, The Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, Penerjemah: Mulyadhi Kartanegara (The venture of Islam: Conscience and History in A World Civilization), (Jakarta: Paramadina, 2002), hlm 272.

[20]Ahmad Tafsir (ed.), Teori-Teori Pendidikan Islam, (Bandung: Fakultas Tarbiyah, 2001), hlm. 131.

[21]Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), cet. ke-6, hlm. 159.

[22]Saya sempat berpikir bagaimana kalau dalam waktu yang bersamaan, semua mushap al-Qur’an yang ada di dunia ini dibakar dan yang tersisa hanyalah debu. Pertanyaannya, apakah nilai-nilai yang terdapat dalam al-Qur’an juga ikut musnah? Menurut hemat saya, nilai-nilai al-Qur’an tidak akan musnah karena nilai-nilai tersebut bukan dalam bentuk tulisannya tetapi kandungannya. Hanya saja membakar kitab suci berarti pelecehan terhadap nilai dan kalau ternyata semua mushaf itu dibakar dan musnah, maka dunia ini telah kehilangan nilai terbesar sepanjang sejarah hidup manusia. Dengan demikian, dunia ini sudah tidak bernilai lagi untuk ditempati. Wallahu a’lam.

[23]Nasution, Islam Rasional, hlm.291- 292.

[24]Zuhairi Misrawi, Al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, (Jakarta: Pustaka Oasis, 2010), hlm. 84.

[25]M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 2003), cet. ke-27, hlm. 30.

[26]Misrawi, Al-Qur’an Kitab, hlm. 83.

[27]Osman Bakar, Tauhid dan Sains: Perspektif Islam tentang Agama dan Sains, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2008), hlm. 64-65.

[28]Tafsir, Filsafat Pendidikan, hlm. 152-154.

[29]Ini merupakan kesimpulan sementara saya setelah mengikuti mata kuliah Seminar Pendidikan di semester I dan ketika mengikuti diskusi-diskusi pada mata kuliah Pendidikan Karakter di semester II sekarang.

[30]Nasution, Islam Rasional, hlm.445.

[31]M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2010), vol. ke-10, cet. ke-3, hlm. 208.

[32]Madkur, Manhaj al-Tarbiyyah, hlm. 108-109.

[33]Isma’il Raji al-Faruqi, ‘Islamisasi Pengetahuan, Penerjemah: Anas Mahyudin (Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan), (Bandung: Penerbit Pustaka, 2003), cet ke-3, hlm.56.

[34]M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2003), cet. ke-14, hlm. 15.

[35]Shihab, Tafsir al-Mishbah, cet. ke-3, hlm. 209.

[36]Ibid, hlm. 208.

[37]Ibid.

[38]Mirza Ghulam Ahmad, Filsafat Ajaran Islam, Penerjemah: Mukhlis Ilyas (Islami Ushul kî filâsafi), (Bogor: Jamaah Ahmadiyah Indonesia, 1996), hlm. 128.

[39]Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2007), ed. ke-2, hlm. 107.

[40]Bakar, Tauhid dan Sains, hlm.44.

[41]Ibid, hlm.30.

[42]Ibid, hlm.290.

[43]Dedi Mulyasana, “Pendidikan Karakter: Apa, Mengapa dan Bagaimana?”, dalam Dasim Budiman dan Kokom Komalasari (Ed.), Pendidikan Karakter: Nilai Inti bagi Upaya Pembinaan Kepribadian Bangsa, (Bandung: Widya Aksara Press, 2001), cet. ke-1, hlm. 298.

[44]Nasution, Islam Rasional, hlm.445.

[45]Suyanto, “Urgensi Pendidikan Karakter”. Tersedia di http://pendidikankarakter.org/articles_004.html.

[46]Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan, hlm. 121.

[47]Doni Koesoema A., “Pendidikan Karakter”. Tersedia di http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/pendidikan/umum1.html.

[48]Misrawi, Al-Qur’an Kitab, hlm. 240.

[49]Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu, hlm. 91-92.

[50]Tafsir, Filsafat Pendidikan, hlm. 28-29.

%d bloggers like this: