ISLAM DAN KEBUDAYAAN

Posted on September 28, 2015

0


Oleh: Ceceng Salamudin

(Dosen STAI Al-Musaddadiyah Garut)

E-mail: cecengsalamudin@yahoo.co.id.

 

Abstrak

Hubungan antara Islam dan kebudayaan sering menimbulkan ketegangan dan gesekan pemahaman. Semua ini disebabkan karena pemahaman terhadap hubungan keduanya belum tepat. Oleh karena itu, tulisan ini sangat penting untuk memetakan hubungan keduanya dan menempatkan substansi keduanya dalam pemahaman yang tepat. Dengan menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan studi literatur, dapat ditemukan bahwa Islam dan kebudayaan merupakan dua entitas yang bisa diintegralisasikan dan juga bisa tetap dipisahkan. Pengintegrasian Islam dengan kebudayaan berkenaan dengan ajaran-ajaran Islam yang kebenarannya bersifat relatif dan merupakan produk pemikiran manusia. Sebaliknya pemisahan Islam dan kebudayaan berkenaan dengan ajaran-ajaran Islam yang sifatnya mutlak dan asli merupakan hasil pemikiran Tuhan.

Kata kunci: Islam, kebudayaan, al-Qur’an

 


PENDAHULUAN

“Tinggi rendahnya ekspresi keberagamaan seseorang, terlihat dari tingkatan ekspresi budayanya”[1] adalah ungkapan yang menarik untuk menggambarkan hubungan antara Islam dan kebudayaan. Ungkapan ini menunjukan bahwa praktek keberagamaan manusia merupakan praktek kebudayaannya. Dengan demikian, Islam-sebagai salah satu agama-dan kebudayaan mempunyai “nafas” yang sama sebagai ruang untuk menunjukan perilaku manusia.

Studi tentang hubungan antara Islam dan kebudayaan menjadi sangat penting dalam perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Artikel-artikel yang ditulis oleh Gusdur (Almarhum) menunjukan bahwa Islam dan kebudayaan merupakan satu kesatuaan yang tidak bisa dipisahkan. Walaupun Islam mempunyai substansi ketuhanan yang berbeda dengan substansi kebudayaan, tetapi dalam kenyataannya Islam adalah “budaya” yang dipraktekan oleh manusia.

Pemikiran Gusdur bukan satu-satunya pemikiran tentang hubungan antara Islam dan kebudayaan. Banyak pemikiran yang menolak untuk mempersamakan atau menyatukan antara Islam dan kebudayaan. Bagi mereka, agama dan budaya dua hal yang berbeda. Agama hasil “pemikiran” Tuhan sementara kebudayaan hasil pemikiran manusia.[2]

Perlu studi lebih jauh tentang hubungan antara Islam dan kebudayaan agar ketegangan tidak terjadi. Tulisan ini akan mencoba melakukannya dengan bertitik tolak dari pembahasan tentang Islam dan kebudayaan dan bagaimana relasi keduanya.

MEMAKNAI ISLAM

Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Nabi Muhammad.[3] Dengan demikian, Islam mempunya sisi kepastian ajaran ketuhanan yang menjadi alasan mengapa umat Islam mempertahankan keberagamaannya dan menganggap orisinalitas Islam sebagai agama tidak diragukan lagi.

Fungsi Islam sebagai sebuah agama di antaranya menciptakan rasa aman bagi pemeluknya. Penciptaan rasa aman menunjukan bahwa terdapat hubungan antara iman dan aman. Rasa aman muncul karena keyakinan (iman) tentang sesuainya sikap manusia dengan kehendak dan petunjuk Tuhan.[4] Bukan rasa aman yang sebenarnya ketika tidak didasari oleh keimanan kepada Allah swt. Rasa aman yang tidak didasari oleh keimanan yang kuat adalah rasa aman yang rapuh dan mudah jatuh. Sebaliknya rasa aman yang dibangun karena dasar keimanan yang teguh akan senantiasa kokoh dan menjadi fondasi untuk membangun kesuksesan di dunia dan akhirat.

Islam berisi ajaran mengenai berbagai segi kehidupan manusia.[5] Persoalan sosial-budaya, politik, ekonomi sampai ilmu pengetahuan dan teknologi terkandung di dalamnya. Dengan demikian, umat Islam mengganggap bahwa agama mereka adalah agama yang lengkap yang mengatur semua segi kehidupan, baik dunia maupun akhirat.

Islam memperkenalkan dirinya sebagai agama yang selalu sesuai dengan setiap waktu dan tempat.[6] Dengan demikian, ajaran Islam mempunyai sisi fleksibilitas yang bisa sesuai dengan situasi dan kondisi apapun. Pernyataan ini menjadi salah satu tesis yang tertanam di dalam pemikiran mayoritas umat Islam sehingga mereka tidak kebingungan ketika masalah-masalah baru datang dalam kehidupan mereka. Mereka yakin Islam bisa menyelesaikannya. Ketika Islam dipahami sebagai ajaran yang berlaku untuk segala tempat dan zaman, maka umat Islam mesti menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat.[7]

Mengapa Islam mesti menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat? Karena umat Islam mempunyai sumber ajaran bagi kehidupan mereka dunia dan akhirat, yaitu al-Qur’an. Al-Qur’an menjadi referensi utama dan paling otoritatif bagi kehidupan manusia. Semua tradisi dan kebudayaan masyarakat Islam dibangun di atas landasan kitab suci tersebut.[8]

Sebagai sumber rujukan yang paling otoritatif, al-Qur’an tidak hadir dalam ruang “hampa”, tapi ia (al-Qur’an) diturunkan pada masyarakat Arab yang sudah memegang dan mempraktekan tradisi dan sistem budaya yang mereka anut. Dengan demikian, al-Qur’an lahir dalam masyarakat yang tidak bebas nilai.[9] Ali ibn Abi Thalib menyatakan bahwa ‘Al-Qur’an ini adalah teks-teks di antara dua pinggir bingkai (mushaf), ia tidak bicara. Yang berbicara sesungguhnya adalah orang (pembaca).’[10] (Kata Al-Qur’an dari penulis. Pada sumber aslinya ditulis kata Alquran). Perkataan ini menegaskan bahwa pada dasarnya al-Qur’an itu teks manifest yang terdiri dari susunan kalimat. Al-Qur’an bisa bernilai jika seseorang menafsirkannya dan seorang penafsir tidak pernah bebas nilai tapi ia selalu membawa nilai dalam menafsirkan teks tersebut. Dengan demikian, nilai sebuah teks tergantung pada siapa yang menafsirkannya. Sejalan dengan ini, Barthes (seorang tokoh semiotika postmodernisme) menyatakan bahwa sebuah teks menjadi kepemilikan “sepenuhnya” si pembaca karena si pengarangnya sendiri sudah “mati” (The author is dead). Ini mengisyaratkan bahwa walaupun sebuah teks mempunyai seorang pengarang (orang yang memberikan nilai pada karangannya), tapi si pembaca mempunyai otoritas penuh untuk menafsirkan teks tersebut. [11]

Sebagai sebuah teks, al-Qur’an mempunyai hubungan dengan masyarakat pembacanya dan tradisi mereka. Hubungan ini sangat kuat dan unik, yang tidak ditemukan dalam tradisi agama lain. Relasi ini disadari atau tidak mempunyai pengaruh terhadap karakterisitik masyarakat pembacanya[12], yaitu pengaruh terhadap budaya dan tradisi mereka. Analisis psiko-sosial menjelaskan bahwa “pembacaan al-Qur’an yang dilakukan secara berulang-ulang, baik secara individu atau kelompok, disadari atau tidak akan mempengaruhi pembentukan pribadi seseorang dan secara kolektif akan menciptakan tradisi yang diwarnai oleh simbol-simbol keislaman.”[13]

Al-Qur’an juga mempersilahkan umat Islam untuk menggunakan akalnya untuk mengembangkan pengetahuan.[14] Pengembangan ini dilakukan dengan menjadikan al-Qur’an sebagai paradigma. Paradigma al-Qur’an dimaknai sebagai “suatu konstruksi pengetahuan yang memungkinkan kita memahami realitas sebagaimana al-Qur’an memahaminya.”[15] Paradigma ini mencoba untuk menggali apa yang terkandung di dalam al-Qur’an dan bagaimana al-Qur’an menjawab permasalahan yang dihadapi masyarakat pembacanya.[16]

Berkenaan dengan paradigma al-Qur’an, ada dua dimensi di dalam kitab suci ini, yaitu bahasa (teks) dan konteks. Dimensi bahasa memuat konteks dan sebaliknya dimensi konteks terkandung unsur bahasa. Keduanya sulit untuk dibedakan, Dengan demikian, menurut Nashr Hamid Abu Zayd, pentingnya meletakan teks al-Qur’an dalam konteks tertentu seperti kebudayaan. Sebagai teks yang hadir dalam kebudayaan, al-Qur’an bisa dipahami dalam konteks kebudayaan tersebut.[17]

Berkenaan dengan kehadiran al-Qur’an dalam kebudayaan, maka al-Qur’an mempunyai dua sifat konteks yang berbeda, yaitu paradigmatik dan ideologis. Sebagai konteks paradigmatik, al-Quran telah memberikan sumbangsih dalam kemajuan dunia. Sebaliknya, sebagai konteks ideologis, tidak bisa dipungkiri bahwa al-Qur’an telah menjadi alat legitimasi untuk melakukan hal-hal yang negatif seperti kekerasan dan kekuasaan yang menyesatkan.[18]

Al-Qur’an sebagai sumber pokok ajaran Islam tidak bisa terlepas dari konteks kebudayaan atau tradisi yang ada pada saat al-Qur’an diturunkan. Konsep asbab al-Nuzul dalam memahami al-Qur’an menunjukan bahwa al-Qur’an “bicara” dalam bahasa kebudayaan dan tradisi masyarakat pada waktu itu dan akan terus bicara “sesuai” dengan kebudayaan dan tradisi para pembacanya. Dengan demikian, kajian tentang hakikat kebudayaan penting untuk dilakukan supaya kita mempunyai bekal dasar untuk memahami relasi antara Islam dan kebudayaan yang berkembang.

MEMAKNAI KEBUDAYAAN

Kebudayaan adalah kekhasan manusia. Manusia adalah pelaku kebudayaan. “Ia menjalankan kegiatannya untuk mencapai sesuatu yang berharga baginya, dan dengan demikian kemanusiaanya menjadi lebih nyata.[19] Dalam konsep kebudayaan, manusia tidak menguasai alam tetapi mengetahuinya. Manusia mengakui alam sebagai ruang pelengkap untuk memanusiakan dirinya. Bacon mengatakan, “we cannot command nature except by obeying her.”[20]

Kebudayaan berasal dari dari bahasa Sansekerta; “buddhayah”, (yaitu budi dan daya). Kata budi mengandung arti “perasaan yang timbul dari pikiran dengan otoaktivitas badaniah, kemudian menimbulkan tindak tanduk (perilaku) untuk memenuhi keinginannya, yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat.” Sedangkan kata daya berarti “kekuatan yang tertanam dalam diri manusia untuk mencapau maksud dan tujuan di dalam memenuhi keinginannya.” Secara istilah, kebudayaan merupakan perwujudan dari otoaktivitas jiwa, yaitu cipta (kognitif), rasa (afektif), dan karsa (psikomotorik) untuk dapat mencapai karya atau perkembangan hidup.[21]

E, B. Taylor adalah orang yang pertama kali mendefinisikan kebudayaan pada tahun 1871 dalam bukunya Primitive Culture. Menurutnya, kebudayaan adalah “keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat”[22] Menurut Ashley Montagu, “kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya.”[23]

Budaya sering dinamakan sebagai kultur. Beberapa ahli menjelaskan dan merumuskan definisi kultur.[24]

No. Nama Penjelasan tentang Kultur
1. Elizabeth B. Taylor dan l. H. Morgan “budaya yang universal bagi manusia dalam berbagai macam tingkatan yang dianut oleh seluruh anggota masyarakat.”
2. Emile Durkheim dan Marcel Maus “sekelompok masyarakat yang menganut sekumpulan simbol-simbol yang mengikat di dalam sebuah masyarakat untuk diterapkan.”
3. Franzs Boas dan A. L. Kroeber “hasil dari sebuah sejarah-sejarah khusus umat manusia yang melewatinya secara bersama-sama di dalam kelompoknya.”
4. AR Radcliffe Brown dan Bronislaw Malinowski “sebuah praktik sosial yang memberikan support terhadap struktur sosial untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan individunya.”
5. Ruth Benedict dan Margareth Mead “kepribadian yang ditulis dengan luas; bentuk-bentuk dan sekaligus terbentuknya kepribadian tersebut ditentukan oleh kepribadian para anggotanya.”
6. Julian Steward dan Leslie White “sebuah cara bagi manusia beradaptasi dengan lingkungannya dan membuat hidupnya terjamin.”
7. Morton Fried dan Marvin Haris “sebab-sebab fisik dan ekonomis yang dapat menyebabkan munculnya kultur itu sendiri dan juga sekaligus dapat menyebabkan perubahan-perubahan di dalamnya.”
8. Claude Levi-Strauss “refleksi dari struktur biologis yang universal dari pikiran manusia.”
9. Harold Conklin dan Stephen Tyler “alat yang mengatur mental yang dapat menentukan bagaimana seorang anggota sebuah kelompok masyarakat memahami dunianya.”
10. E. O. Wilson dan Jeomen Barko “ekspresi yang tidak terlihat dari ciri-ciri genetik khusus.”
11. Sherry Ortner dan Michelle Rosardo “peran-peran bagi wanita dan cara-cara yang dipakai masyarakat untuk mengerti tentang jenis kelamin.”
12. Mary Douglass dan Cliffort Geerzt “sebuah cara yang dipakai oleh semua anggota dalam sebuah kelompok masyarakat untuk memahami siapa diri mereka dan untuk memberi arti pada kehidupan mereka.”
13. Renato Rosaldo dan Vincent Crapanzano “tidak akan pernah dapat digambarkan dengan komplit dan jelas karena pengertian-pengertian tentang kultur pasti merefleksikan bias-bias dari para peneliti.”
14. Kuntjaraningrat (1974) “sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa keseniaan, sistem mata pencahariaan serta sistem teknologi dan peralatan”

Penjelasan tentang substansi kebudayaan digambarkan sebagai berikut.

(1)kebudayaan merupakan prestasi kreasi manusia yang bersifat immateri. Artinya, berupa bentuk-bentuk prestasi psikologis seperti ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, dan sebagainya, (2) kebudayaan juga berbentuk fisik seperti hasil seni, dan terbentuknya kelompok-kelompok keluarga, (3) kebudayaan dapat pula berbentuk kelakuan-kelakuan yang terarah, seperti hukum, adat istiadat yang berkesinambungan, (4) Kebudayaan merupakan suatu realitas yang objektif yang dapat dilihat, (5) kebudayaan tidak terwujud dalam kehidupan manusia yang soliter atau terasing, tetapi yang hidup dalam suatu masyarakat tertentu, dan (6) kebudayaan merupakan perwujudan dari cipta, rasa, dan karsa manusia yang diberikan oleh Allah.”[25]

Kebudayaan mencakup bidang sosial, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan (sain), teknologi informasi, keseniaan (estetika), dan filsafat agama.[26] Bidang-bidang kebudayaan tersebut dinamakan oleh Allport, Vernon dan Lindzey (1951) sebagai enam nilai dasar kebudayaan, yaitu nilai teori (menggantikan istilah sain), ekonomi, estetika, sosial, politik, dan agama. Nilai teori adalah “hakikat penemuan kebenaran lewat berbagai metode seperti rasionalisme, empirisme (empirisisme), dan metode ilmiah. Nilai ekonomi berkenaan dengan “kegunaan dari berbagai benda dalam memenuhi kebutuhan manusia.” Nilai estetika “berhubungan dengan keindahan dan segi-segi artistik yang menyangkut antara lain bentuk, harmoni dan wujud keseniaan lainnya yang memberikan kenikmatan kepada manusia.” Nilai sosial mencakup “hubungan antarmanusia dan penekanan segi-segi kemanusiaan yang luhur. Nilai politik berpusat kepada kekuasaan dan pengaruh baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dunia politik.” Nilai agama berkenaan dengan “penghayatan yang bersifat mistik dan transendental dalam usaha manusia untuk mengerti dan memberi arti bagi kehadirannya di muka bumi.” [27] Terkait dengan nilai agama, ia berfungsi sebagai sumber moral bagi segenap kegiatan kebudayaan. Agama menjadi kompas dan tujuan bagi praktik kebudayaan.[28]

Berdasarkan definisi-definisi atau penjelasan-penjelasan tersebut, kebudayaan dapat dilihat dari beragam persektif yang melahirkan wilayah studi yang sangat luas. Arti kebudayan terbentang dari ruang-ruang individu sampai ruang-ruang publik yang menjadikan makna dan penjelasan tentang kebudayaan begitu beragam. Walaupun demikian, kebudayaan dapat dibatasi dari sisi siapa yang terlibat dengan kebudayaan. Manusia, bukan makhluk ciptaan tuhan yang lain, terlibat dalam kebudayaan, baik sebagai yang “menciptakan” maupun yang “menghancurkan” kebudayaan. Cakupan kebudayaan sangat luas dan beragam. Semua kehidupan ini tidak dapat lepas dari arti budaya sehingga wajar kalau sekiranya budaya menjadi perhatian serius manusia dalam rangka membangun hubungan yang harmonis di antara mereka, dan lebih jauh lagi membangun peradaban dunia. Kebudayaan berkembang sepanjang waktu[29] dan setiap komunitas budaya berdiri di tengah komunitas lain dan dipengaruhi oleh mereka.[30]

Mengapa kebudayaan penting bagi manusia? Karena di dalam kebudayaan ada harapan yang terus hidup yang dapat memberi dukungan kuat terhadap tradisi manusia sekaligus keluar dari kungkungan teologi yang mengikat kebebasan manusia.[31] Dalam prakteknya, bagaimana Islam sebagai ajaran teologis menyikapi substansi kebudayaan yang memang lahir dari pemikiran manusia? Pertanyaan ini akan mengantarkan kita pada pembahasan selanjutnya mengenai hubungan antara Islam dan kebudayaan.

HUBUNGAN ANTARA ISLAM DAN KEBUDAYAAN

The religion is a cultural system (agama adalah sebuah sistem budaya) adalah sebuah tesis terkenal seorang Clifford Geertz[32]. Agama menurut Geertz merupakan sistem budaya karena agama baginya adalah:

(1) sebuah sistem simbol yang berperan (2) membangun suasana hati dan motivasi yang kuat, pervasif, dan tahan lama dalam diri manusia dengan cara (3) merumuskan konsepsi tatanan kehidupan yang umum dan (4) membungkus konsepsi-konsepsi ini dengan suatu aura faktualitas semacam itu sehingga (5) suasana hati dan motivasi tampak realistis secara unik.[33]

Sebagai sebuah sistem simbol, agama menyampaikan sebuah ide kepada orang lain, seperti suatu peristiwa penyaliban dalam tradisi agama Nashrani atau gulungan Taurat yang dianggap sebagai wahyu bagi orang-orang Yahudi.[34] Agama juga membangun suasana hati dan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi ini dibangun dari serangkaian nilai yang menentukan apakah sesuatu benar atau salah.[35]

Terkait dengan konsep kebudayaan dan perkembangan pemikiran Islam Hassan Hanafi menegaskan bahwa budaya dan tradisi pemikiran merupakan anak kandung zamannya. Konstruksi budaya dan tradisi pemikiran tidak bisa dipisahkan dari lingkaran sejarah yang mengitarinya. Dalam konteks Islam, pemikiran dan budaya Islam klasik dibangun oleh budaya dan tradisi bangsa Arab dan wilayah-wilayah yang ditaklukannya. Dengan demikian terjadi kontak budaya yang sedimikian intensif dan akulturatif antara dunia Islam dan dunia luar. Kontak tersebut didasarkan pada faktor agama, Arabisasi, konversi ke Islam, fragmentasi politik, dan gejolak sosial.[36]       Dalam konteks budaya Arab-Islam, Abed al-Jabiri menjelaskan bahwa struktur nalar kebudayaan Islam berporoskan pada tiga hal pokok, yaitu Tuhan, manusia, dan alam. Dalam poros tersebut, Tuhan berada posisi yang sangat sentral, sedangkan alam merupakan media pengantar manusia untuk bisa mencapai-Nya.[37]

Terkait dengan manusia sebagai pelaku kebudayaan, Sastraprateja menjelaskan bahwa “manusia adalah mahkluk yang historis. Hakikat manusia sendiri adalah sejarah, suatu peristiwa yang bukan semata-mata datum (tanggal atau hari). Hakikat manusia hanya dapat dilihat dalam perjalanan sejarah bangsa manusia.” Baginya, ada enam dorongan atau orientasi yang tetap dimiliki oleh manusia (anthropological constants) yang dapat ditarik dari pengalaman sejarah umat manusia, yaitu:

1) Relasi manusia dengan kejasmanian, alam, dan lingkungan ekologis;

2) Ketertiban dengan sesama;

3) Keterikatan dengan struktur sosial dan institusional;

4) Ketergantungan masyarakat dan kebudayaan pada waktu dan tempat;

5) Hubungan timbale balik antara teori dan praktek;

6) Kesadaran religious dan para pemeluk agama.[38]

Islam bisa berinteraksi dengan berbagai kebudayaan. Watak fleksibilitas Islam ini menjadikannya bisa berdampingan dengan kebudayaan-kebudayaan lainnya. Di Mesir, Islam bisa bersinteraksi dengan kebudayaan Firaun, Yunani-Romawi, Koptik, Islam, Arab, Laut Tengan dan Afrika.[39] Melihat fakta sejarah ini, sampai kapanpun Islam bisa beradaftasi dengan keragaman budaya dengan tidak mencederai Islam sebagai agama ketuhanan.

Relasi antara Islam dan kebudayaan dibangun dengan kembali kepada ajaran-ajaran Islam dan memaknai mereka tidak dalam kerangka berpikir yang sempit atau bahkan sama sekali tertutup, tetapi dalam kerangka mencapai tujuan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Tujuan ini bisa dicapai dengan melihat ajaran Islam dalam dua karakter yang berbeda. Pertama, ajaran-ajaran Islam yang merupakan wahyu Tuhan. Ciri ajarannya bersifat umum, tanpa perincian, dan penjelasan tentang pelaksanaannya. Kebenarannya bersifat mutlak. Kedua, ada ajaran-ajaran agama yang merupakan hasil penafsiran manusia dan menjadi penjelasan bagi ajaran-ajaran sebelumnya. Kebenarannya bersifat nisbi.[40] Produk penafsiran ini bisa dikatakan sebagai kebudayaan dan dengan demikian terbuka peluang terjadinya kesalahan.

Terkait dengan relasi antara Islam dan kebudayaan, maka ajaran-ajaran agama yang pertama bisa mempengaruhi kebudayaan, sementara itu ajaran-ajaran agama yang kedua yang dihasilkan oleh pemikiran manusia yang bisa dianggap sebagai kebudayaan bisa mempengaruhi agama. Dengan demikian, Islam dan kebudayaan saling mempengaruhi.[41] Kebudayaan memang tidak bisa mempengaruhi ajaran yang pertama dan sebaliknya ajaran yang pertama tidak bisa mempengaruhi kebudayaan. Ajaran-ajaran agama hasil penafsiran manusia merupakan salah satu unsur kebudayaan[42] dan akan mendorong berkembangnya kebudayaaan.[43] Dengan demikian, prestasi kebudayaan tidak mungkin dicapai tanpa peran agama[44].

Berdasarkan studi tersebut, maka tidak ada alasan untuk memunculkan ketegangan karena berbeda pemahaman dalam memaknai hubungan antara Islam dengan kebudayaan. Dengan demikian, pernyataan bahwa Islam adalah sebuah budaya tidaklah salah karena yang dimaksud adalah ajaran-ajarannya yang bersifat nisbi. Begitupun tidak salah kalau dikatakan bahwa Islam bukanlah budaya karena yang dimaksud adalah ajaran-ajarannya yang bersifat mutlak.

KESIMPULAN

Islam adalah agama yang memuat dua karakter ajaran. Karakter pertama bersifat statis dan kebenarannya absolut. Karakter ini tidak bisa dikurangi atau ditambahkan dan tidak bisa diintervensi oleh pemikiran manusia. Dengan demikian karakter yang pertama ini tidak ada kaitannya dengan kebudayaan. Karakter ajaran kedua bersifat dinamis dan kebenarannya relatif atau nisbi. Karakter ini bisa dikurangi atau ditambahkan dan tentu saja bisa diintervensi oleh pemikiran manusia karena pada hakikatnya ajaran kedua ini merupakan produk pemikiran manusia. Dengan demikian karakter yang kedua ini terkaitan dengan kebudayaan dan merupakan produk kebudayaan.

            Kebudayaan merupakan hasil pemikiran manusia dan tidak ada hubungan sama sekali dengan wahyu Ilahi yang mutlak kebenarannya. Kebudayaan berkembang ketika manusia dihadapkan pada perkembangan zaman dan ketika mereka ingin meningkatkan kualitas kehidupannya. Manusia berbudaya adalah manusia yang siap menghadapi perkembangan zaman dan berupaya melakukan peningkatan kualitas hidup.

Islam dan kebudayaan merupakan dua entitas yang berbeda tetapi pada saat bersamaan bisa menjadi satu kesatuaan dan juga tetap bisa tidak bisa dipersatukan. Islam yang menjadi kesatuaan dengan kebudayaan adalah Islam yang ajaran-ajarannya merupakan produk kebudayaan. Sebaliknya Islam yang tidak bisa dipersatukan adalah Islam yang ajaran-ajarannya murni wahyu Ilahi yang bukan merupakan produk kebudayaan.


 

DAFTAR PUSTAKA

Arif, Mahmud. 2008. Pendidikan Islam Transformatif. Yogyakarta: LKiS.

Bey, Arifin. 2003. Beyond Civilization Dialogue: A Multicultural Symbiosis in the Service of World Politics. Jakarta: Paramadina.

Chittick, William C. 2001. The Sufi Path of Knowledge: Hermeneutika Al-Qur’an Ibnu al-‘Araby. Yogyakarta: Qalam.

Hodgson, Marshall G. S. 2002. The Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia (The Venture of Islam: Conscience and History in a World Civilization). Penerj.: Mulyadhi Kartanegara Jakarta: Paramadina.

Kuntowijoyo. 2007. Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Maslikhah. 2007. Quo Vadis Pendidikan Multikultur: Rekontruksi Sistem Pendidikan Berbasis Multikultur. Salatiga: STAIN Salatiga Press dan JP Books.

Misrawi, Zuhairi. 2010. Al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin. Jakarta: Pustaka Oasis.

Muhammad, Husein. 2011. Ijtihad Kyai Husein: Upaya Membangun Keadilan Gender. Jakarta: Rahima.

Muzani, Syaiful (Editor). 1995. Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Prof. Dr. Harun Nasution.Bandung: Mizan.

Naim, Ngainun dan Sauqi, Achmad. 2008. Pendidikan Multikultural: Konsep dan Aplikasi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Pals, Daniel L. 2001. Seven Theories of Religion: Dari Animisme E. B. Tylor, Materialisme Karl Mark Hingga Antropologi Budaya C. Geertz. Penerjemah Ali Noer Zaman (Seven Theories of Religion). Yogyakarta: Qalam.

Parekh, Bhikhu. 2008. Rethinking Multiculturalism: Keberagaman Budaya dan Teori Politik. Yogyakarta: Kanisius.

Ramayulis. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

  1. J., J. W. M. Bakker. 1984. Filsafat Kebudayaan: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Kanisius.

Shihab, M. Quraish. 2003. Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.

______. 2003. Wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan.

Suriasumantri, Jujun S. 1999. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

[1]Sanusi Uwes, “Silabi Mata Kuliah Pendidikan Kontemporer untuk Mahasiswa S3 Prodi Pendidikan Islam dan Pendidikan Bahasa Arab”, Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, 2012.

[2]Relasi antara Islam dan kebudayaan ditafsirkan dalam kutub pemikiran yang berbeda. Pemikiran pertama menegaskan penolakan terhadap “hubungan mesra”antara Islam dan kebudayaan. Pemikiran ini bertolak dari pemahaman bahwa semua ajaran Islam bersifat mutlak benar, tidak ada ajaran Islam yang sifatnya nisbi atau relatif. Penolakan ini menimbulkan adanya ketegangan dengan pemikiran kedua yang setuju bahwa Islam dan kebudayaan merupakan soul-mate dalam membangun kehidupan masyarakat Islam. Pemikiran yang terakhir ini melihat bahwa Islam dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan. Memisahkan keduanya berarti menghancurkan keduanya. Pemikiran yang kedua ini didasarkan pada adanya ajaran-ajaran Islam yang bersifat relatif dan nisbi. Model ajaran ini cocok dengan kebudayaan yang kebenarannya bersifat relatif dan nisbi. Untuk mensiasati kedua kutub pemikiran ini, kiranya apa yang dijelaskan oleh Harun Nasution bisa menjadi tawaran solusi. Baginya, ajaran-ajaran agama terbagi ke dalam dua kelompok besar. Pertama, ajaran-ajaran dasar dasar yang bersifat mutlak benar, kekal tak berubah dan tidak boleh dirubah. Kedua ajaran-ajaran hasil penafsiran manusia dari ajaran-ajaran dasar. Ajaran ini bisa berubah dan bisa diubah. Lihat Syaiful Muzani (editor), Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Prof. Dr. Harun Nasution, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 292.

[3]Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 2008), ed. ke-2, hlm. 17.

[4]M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan. 2003), cet., ke. 26, hlm. 219

[5]Nasution, Islam Ditinjau, hlm. 17.

[6]M. Quraish. Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 383.

[7]Ibid., hlm. 383.

[8]Husein Muhammad, Ijtihad Kyai Husein: Upaya Membangun Keadilan Gender, (Jakarta: Rahima, 2011), cet. ke- 1, hlm. xiii.

[9]Ibid., hlm. xviii-xix.

[10]Ibid., hlm. xxx.

[11]Al-Qur’an sangat berbeda dengan teks-teks selainnya. Al-Qur’an dilindungi oleh Yang Maha Memiliki, yaitu Allah Swt. Dengan demikian, nilai-nilai al-Qur’an sudah inherent di dalamnya. Untuk memahami nilai-nilai tersebut, seorang pembaca melakukan penafsiran atau pentakwilan sebagai cara untuk mencoba memahami isi al-Qur’an. Artinya, tafsir atau takwil merupakan cara untuk mencoba memahami kandungan al-Qur’an, bukan benar-benar mewakili apa yang “dinginkan” oleh al-Qur’an. Karena mencoba, belum tentu hasil penafsiran atau pentakwilan sesuai dengan apa yang “diinginkan” oleh al-Qur’an. Dengan demikian, seorang penafsir atau pentakwil tidak bisa semena-mena untuk mengeluarkan nilai-nilai tersebut karena bisa jadi hasil bacaannya tidak sesuai dengan hakikat al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia.

[12]Masyarakat pembaca diartikan bukan sebagai pembaca biasa, yaitu yang hanya membaca lafadz-lafadz al-Qur’an tetapi membaca dalam arti melakukan kajian terhadap al-Qur’an baik posisinya sebagai penafsir (pentakwil) atau pengkaji tafsir/takwil.

[13]Lihat pengantar penerbit buku William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Hermeneutika Al-Qur’an Ibnu al-‘Araby, (Yogyakarta: Qalam, 2001), hlm. viii.

[14]Shihab, Wawasan Al-Qur’an, hlm. 383.

[15]Kuntowijoyo. Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika. (Yogyakarta: Tiara Wacana. 2007). hlm.11.

[16]Konsep tentang ayat-ayat Makiyyah dan Madaniyyah menunjukan bahwa pembagian tersebut berkenaan dengan kondisi masyarakat penerima al-Qur’an dan guna merespon dan mengatasi masalah-masalah sosial, budaya, ekonomi, politik dan segmen kehidupan lain yang dihadapi oleh masyarakat. Sebagai contoh, ayat Makiyyah berkenaan dengan ketauhidan dan nilai-nilai kemanusiaan universal, seperti keadilan, kesetaraan manusia, kebebasan, pluralitas, dan martabat manusia. Sementara itu, ayat Madaniyyah menetapkan aturan-aturan yang lebih rinci dan spesifik yang dihadapi masyarakat Madinnah seperti hukum-hukum pribadi, hukum-hukum keluarga, dan kehidupan bersama masyarakat multikultural. Lihat Zuhairi Misrawi, Al-Qur’an Kitab Toleransi, (Jakarta: Pustaka Oasis, 2010), hlm. 149.

            [17]Ibid., hlm. 147.

[18]Ibid.

   [19]J. W. M. Bakker SJ., Filsafat Kebudayaan: Sebuah Pengantar, (Yogyakarta: Kanisius, 1984), cet. ke-15, hlm. 14.

[20]Ibid., hlm. 15.

[21]Rofi A. dkk., Pemberdayaan Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005), hlm. 28. Penjelasan lain menyatakan bahwa “budi” merujuk pada ungkapan spiritual manusia, sementara “daya” terkait dengan perilaku fisik manusia, dalam mengekspresikan kemampuannya untuk mencapai sebuah tujuan. Kroeber dan Kluckhohn membuat tujuh kategori mengenai budaya. Kategori pertama, terkait dengan definisi budaya. Kebanyakan para ahli mengartikan budaya sebuah keseluruhan yang kompleks yang terdiri dari elemen-elemen yang berbeda, seperti pengetahuan, keyakinan, seni, hukum, moral, kebiasaan, dan beberapa kemampuan-kemampuan lain yang dihasilkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kategori kedua terkait dengan sejarah budaya yang dipandang sebagai sebuah warisan atau tradisi sosial. Kategori ketiga menekankan pada aspek normatif. Budaya dianggap sebagai aturan, atau jalan hidup (way of life). Kategori ini memandang budaya sebagai kesatuan gagasan, nilai, dan perilaku. Kategori keempat mengambil pendekatan budaya yang memandang budaya sebagai sesuatu yang terkait dengan proses penyesuaian manusia terhadap alam sekitarnya sebagai media penyelesaian masalah. Kategori ini menekankan pada proses belajar dan pembiasaan memahami alam sekitar dan menempatkan pentingnya gagasan tentang hubungan masyarakat dengan lingkungannya. Kategori kelima berhubungan dengan aspek-aspek struktural dan terpusat pada studi tentang pola dan pengorganisasian budaya. Kategori keenam menafsirkan budaya sebagai produk asosiasi, yang menekankan pentingnya ide dan simbol. Kategori ini mencoba menafsirkan budaya sebagai produk atau artefak manusia yang membedakannya dengan binatang. Kategori ketujuh sejalan dengan ungkapan sebagian akademisi yang menganggap definisi budaya tidak lengkap dan tidak dapat dihakimi sesuai dengan definisi-definisi yang sistematis. Lihat Arifin Bey, Beyond Civilization Dialogue: A Multicultural Symbiosis in the Service of World Politics, (Jakarta: Paramadina, 2003), hlm. 187-188.

[22]Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999), cet., ke-12, hlm. 261.

[23]Ibid., hlm. 261.

[24]Ngainun Naim dan Achmad Sauqi, Pendidikan Multikultural: Konsep dan Aplikasi, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), hlm. 121-122.

[25]Maslikhah, Quo Vadis Pendidikan Multikultur: Rekontruksi Sistem Pendidikan Berbasis Multikultur, (Salatiga: STAIN Salatiga Press dan JP Books, 2007), hlm. 23-24.

[26]Rofi A., dkk., Pemberdayaan Pesantren, hlm. 29.

[27]Suriasumantri, Filsafat Ilmu, hlm. 263.

[28]Ibid., hlm. 270.

[29]Bhikhu Parekh, Rethinking Multiculturalism: Keberagaman Budaya dan Teori Politik, (Yogyakarta: Kanisius, 2008), hlm. 197.

            [30]Parekh, hlm. 2008: 221.

   [31]Marshall G. S. Hodgson, The Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, Penerjemah: Mulyadhi Kartanegara (The venture of Islam: Conscience and History in A World Civilization), (Jakarta: Paramadina, 2002), hlm. 278.

[32]Clifford Geertz adalah seorang antropolog budaya kelahiran San Fransisco Amerika tahun 1926. Ia dianggap seorang antropolog Amerika paling terkemuka sebagaimana Evans-Pritchard di dalam antropolog Inggris. Geertz sebagaimana Pritchard mempunyai perhatian serius terhadap agama. Dalam mengkaji agama tersebut, ia menggunakan analisis budaya sebagai sebuah sain interpretatif yang mencari makna. Baginya, studi budaya tidak bisa menggunakan pendekatan-pendekatan eksperimen tetapi pendekatan interpretasi yang menggali dan merumuskan makna. Dalam hal ini, bukunya yang berjudul The Interpretation of Cultures (1973) menjadi karya besarnya dalam bidang analisis budaya. Judul pengantar buku tersebut yang sangat terkenal adalah Thick Description: toward An Interpretative Theory of Culture. Di dalam pengantar tersebut, ia mengatakan bahwa budaya adalah sebuah ide tentang makna atau signifikansi dan manusia, mengutip Max Weber, adalah “seekor binatang yang digantung di jaringan makna yang ia bentangkan sendiri”. Ketika seseorang ingin menjelaskan kebudayaan manusia, maka ia harus menggunakan metode thick description (deskripisi mendalam), yaitu menggambarkan bukan hanya apa yang terjadi pada manusia tetapi mengapa mereka melakukan apa yang terjadi tersebut. Lihat Daniel L. Pals, Seven Theories of Religion: Dari Animisme E. B. Tylor, Materialisme Karl Mark Hingga Antropologi Budaya C. Geertz, Penerjemah Ali Noer Zaman (Seven Theories of Religion), (Yogyakarta: Qalam, 2001), hlm. 395 dan 408.

[32]Ibid., hlm. 414.

[33]Ibid.

[34]Ibid. Dalam tradisi Islam pun demikian, banyak simbol yang menunjukan dan mengandung gagasan dan nilai. Ajaran-ajaran ritual seperti shalat dan ibadah haji dan non-ritual seperti ibadah batiniyyah menunjukan makna dan gagasan yang muncul dari simbol-simbol tersebut. Dengan demikian, seperti agama lain, Islam adalah agama simbolik.

[35]Ibid., hlm. 415.

[36]Mahmud Arif, Pendidikan Islam Transformatif, (Yogyakarta: LKiS, 2008), hlm. 27-28.

[37]Ibid., hlm. 103.

[38]Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2008), cet- ke-7, hlm.1.

[39]Misrawi, Al-Qur’an Kitab, hlm.193.

[40]Muzani, Islam Rasional, hlm. 239.

[41]Ibid., hlm. 238.

[42]Ibid., hlm. 289.

[43]Ibid., hlm. 241.

[44]Bakker, Filsafat Kebudayaan, hlm. 48.

Posted in: Artikel