KONSEP TARBIYYAH DI DALAM AL-QUR’AN

Posted on September 5, 2015

0


Oleh:

Ceceng Salamudin

Abstrak

Pengkajian konsep tarbiyyah di dalam al-Qur’an mesti dilakukan supaya pendidikan Islam mempunyai fondasi keilmuan yang jelas.

Tulisan ini mengkaji tentang (1) kata-kata yang seakar dengan kata tarbiyyah, (2) konsep tarbiyyah di dalam al-Qur’an, dan (3) implikasi konsep tarbiyyah terhadap pendidikan Islam.

Tulisan ini merupakan studi literatur. Dengan demikian, metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif yang dilakukan untuk menjawab ketiga rumusan penelitian. Dalam prakteknya, untuk menjawab rumusan yang kedua, metode maudhu’i dalam pendekatan tafsir juga digunakan.

Setelah penelitian dilakukan, ditemukan bahwa kata tarbiyyah tidak ada di dalam al-Qur’an, tetapi kata-kata yang seakar dengan kata tarbiyyah, yaitu rabb, ribâ, yarbû, nurabbika, rabbayâni, dan rabbaniyyîn ditemukan di dalam al-Qur’an. Rabb, rabbayâni, dan rabbaniyyîn berkenaan dengan konsep pendidikan. Rabb berkenaan dengan Allah sebagai hakikat pendidik dan manusia ditugaskan untuk menjalankan peran Allah tersebut. Rabbayâni berkenaan dengan orang tua sebagai pendidik utama dan pertama di keluarga, Rabbaniyyîn berkenaan dengan karaktar pendidik yang harus mempunyai ilmu yang luas dan ketakwaan kepada Allah Swt. Konsep tarbiyyah berimplikasi positif terhadap hakikat pendidikan Islam, karakter seorang pendidik muslim, dan konsep-konsep pendidikan Islam yang lain.

Keyword: Rabb, tarbiyyah, pendidikan

  1. Pendahuluan

Asep Ahmad Fathurrahman (Alumni Pascasarjana UIN SGD Bandung) menulis sebuah disertasi yang berjudul “Interaksi Pendidikan dalam al-Qur’an”. Disertasi ini meneliti tentang kisah-kisah di dalam al-Qur’an yang kemudian dirumuskan sebagai bentuk interaksi pendidikan. Ada tujuh kisah yang dikaji, yaitu (1) Kisah Nabi Musa dan Khidir, (2) Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, (3) Kisah Nabi Nuh dan Kan’an, (4) Kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha, (5) Kisah Qabil dan Habil, (6) Kisah Nabi Zakaria dan Hannah Binti Faqudz, dan (7) kisah Maryam dan Nabi Isa. Ketujuh kisah ini berkenaan dengan proses, tujuan, materi, pola, karakter pendidik, karakter peserta didik, dan norma-norma yang digunakan sebagai ciri interaksi pendidikan yang baik.[1]

Berdasarkan disertasi tersebut, dapat dilihat bahwa al-Qur’an banyak mengandung konsep pendidikan. Dari satu segi saja, yaitu kisah-kisah di dalam al-Qur’an, bentuk interaksi pendidikan bisa dirumuskan apalagi kalau kita menelaah semua ayat-ayat al-Qur’an dengan seksama, maka akan banyak ditemukan rumusan-rumusan pendidikan yang digali dari ayat-ayat al-Qur’an tersebut.

Tulisan ini mengkaji konsep tarbiyyah di dalam al-Qur’an dan implikasinya bagi pendidikan Islam. Ada tiga bagian isi tulisan ini yang akan ditelaah, yaitu penelusuran kata-kata yang seakar dengan kata Tarbiyyah, konsep tarbiyyah (pendidikan) di dalam al-Qur’an, dan implikasi konsep tersebut bagi pendidikan Islam.

  1. Kata-Kata di dalam al-Qur’an yang Seakar dengan Kata Tarbiyyah

Secara bahasa, kata tarbiyyah bisa dilacak berdasarkan akar katanya. Ada dua kata bahasa Arab yang melahirkan kata tarbiyyah. Pertama, kata rabâ yarbû rabwan yang artinya bertambah atau tumbuh besar, seperti kalimah rabâ al-mâlu artinya bertambah harta atau rabâ al-waladu artinya anak tumbuh besar.[2] Kedua, rabba yarubbu rabban, seperti rabba al-amra yang artinya memperbaiki urusan atau rabba al-ni’mah artinya menambah kenikmatan atau rabba al-shabiyya artinya memelihara, mengasuh, dan mendidik anak. Kata yang kedua ini (rabba) berkenaan dengan kata rabb, yaitu salah satu Asma al-Husna yang artinya Tuhan atau pemilik[3] atau pemelihara dan pendidik. Rabb al-‘âlamin artinya Allah adalah pendidik dan pemelihara seluruh alam.[4]

Bandingkan dengan pendapat Abdurrahman al-Bani sebagaimana dikutip Ali Ahmad Madkur. Menurutnya, tarbiyyah mempunyai tiga bentuk bahasa. Pertama, rabâ yarbû rabwan (isim masdar-nya adalah ribâ) bermakna bertambah dan tumbuh seperti dalam Q. S. al-Rum [30]: 39 dan al-Baqarah [2]: 276. Kedua, rabâ yurbî dari wazan khafâ yukhfî yang artinya muncul. Ketiga, rabba yarubbu rabban yang artinya mengurus dan memelihara.[5]

Berdasarkan hasil penelusuran sementara penulis, kata yang seakar dengan kata tarbiyyah adalah rabb, ribâ, yarbû, nurabbika, rabbayâni, dan rabbaniyyîn. Keenam kata ini disebutkan di dalam al-Qur’an. Hubungannya ada yang hanya dari sisi bahasa (akar kata) dan ada yang juga dari sisi konsep pendidikan. Ribâ, yarbû, dan nurabbika hanya mempunyai hubungan dari sisi akar kata saja, sedangkan rabb, rabbayâni, dan rabbaniyyîn selain dari sisi bahasa, keduanya juga mempunyai hubungan dari sisi konsep pendidikan. Penjelasan tentang hubungan keenam kata tersebut dengan kata tarbiyyah akan dijelaskan kemudian.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa kata rabb seakar kata dengan Tarbiyyah. Penulis mencoba mengecek secara manual jumlah kata rabb di dalam al-Qur’an. Hasilnya ditemukan bahwa kata rabb terdapat dalam 115 ayat yang tersebar dalam Q. S. al-Fatihah [1], al-Baqarah [2], Ali Imran [3], al-Nisa [4], dan 23 surah dalam juz ke-30. Rinciannya sebagai berikut:

  1. S. al-Fatihah [1] mempunyai satu ayat, yaitu ayat 2;
  2. S. al-Baqarah [2] mempunyai 39 ayat, yaitu ayat 5, 21, 26, 30, 37, 46, 49, 61, 62, 68, 69, 70, 76, 105, 112, 124, 126, 127, 128, 129, 131, 139, 144, 147, 149, 157, 178, 198, 200, 201, 258, 260, 262, 274, 277, 282, 283, 285, dan 286.
  3. S. Ali Imran [3] mempunyai 28 ayat, yaitu ayat 7, 8, 9, 15, 16, 38, 40, 41, 47, 49, 50, 51, 53, 60, 73, 84, 124, 125, 136, 147, 169, 191, 192, 193, 194, 195, 198, dan 199.
  4. S. al-Nisa [4] mempunyai tiga ayat, yaitu ayat 1, 65, dan 77.
  5. Juz 30 mempunyai 44 ayat, yaitu al-Naba [78] tiga ayat (36, 37, dan 39), Al-Naziaat [79] empat ayat (16, 19, 24, dan 44), Al-Takwir [81] satu ayat (29), Al-Infitar [82] satu ayat (6), Al-Muthaffifin [83] dua ayat (6 dan 15), Al-Insyiqaq [84] empat ayat (2, 5, 6, dan 15), Al-Buruj [85] satu ayat (12), al-A’la [87] dua ayat (1 dan 15), al-Fajr [89] tujuh ayat (6, 13, 14, 15, 16, 22, dan 28), al-Lail [92] satu ayat ( 20), al-Dhuha [93] tiga ayat (3, 5, dan 11), al-Insyirah [94] satu ayat (8), al-‘Alaq [96] tiga ayat (1, 3, dan 8), al-Qadr [97] satu ayat (4), al-Bayyinah [98] satu ayat (8), al-Zalzalah [99] satu ayat (5), al-‘Adiyat [100] dua ayat (6 dan 11), al-Fil [105] satu ayat (1), Quraisy [106] satu ayat (3), al-Kautsar [108] satu ayat (2), al-Nashr [110] satu ayat (3), al-Falaq [113] satu ayat (1), dan al-Nas [114] satu ayat (1).

Selain kata rabb, kata lain yang seakar dengan kata tarbiyyah dan terdapat dalam al-Qur’an adalah kata ribâ. Kata ribâ berjumlah tujuh kata dan terdapat dalam lima ayat, yaitu Q. S. al-Baqarah [2]: 275, 276, dan 278, al- Nisa [4]: 161, dan Q. S. al-Rum [30]: 39. Dalam ayat 275, terdapat tiga kata. Dalam ayat 276 dan 278 terdapat masing-masing satu kata. Dalam Q. S. al-Nisa [4]: 161 dan Q. S. al-Rum [30]: 39 masing-masing terdapat satu kata. Kata yarbû ada dua kata, yaitu dalam Q. S. al-Rum [30]: 39. Kata nurabbika hanya satu kata, yaitu dalam Q. S. al-Syu’ara [26]: 18. Kata rabbayani hanya satu kata, yaitu dalam Q. S. al-Isra [17]: 24. Kata rabbaniyyîn hanya satu kata, yaitu dalam Q. S. Ali Imran [3]: 79.[6]

No Lafadz Jumlah Lafadz Jumlah Ayat Jumlah Surah
1 Rabb Belum diteliti 115 27 (belum semua surah dalam al-Qur’an diteliti)
2 Ribâ 7 5 3
3 Yarbû 2 1 1
4 Nurabbika 1 1 1
5 Rabbayânî 1 1 1
6 Rabbaniyyîn 1 1 1

Tabel 1. Lafadz dalam al-Qur’an yang Seakar dengan Kata Tarbiyyah

  1. Konsep Tarbiyyah di Dalam al-Qur’an

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa enam kata di dalam al-Qur’an seakar dengan kata tarbiyyah. Keenamnya mempunyai hubungan dengan kata tarbiyyah. Ribâ, yarbû, dan nurabbika mempunyai hubungan dari sisi bahasa, sedangkan kata rabb, rabbayâni, dan rabbaniyyîn mempunyai hubungan dari sisi bahasa dan konsep pendidikan.

Penulis akan membahas terlebih dahulu kata ribâ, yarbû, dan nurabbika. Ketiga kata ini mempunyai hubungan dari sisi bahasa tetapi tidak mempunyai hubungan dari sisi muatan konsep pendidikan.

  1. Kata Ribâ, Yarbû dan Nurabbika dalam al-Qur’an

Ada lima ayat yang memuat kata ribâ, satu ayat yang memuat kata yarbû, dan satu ayat yang memuat kata nurabbika. Ribâ dan yarbû berkenaan dengan konsep riba dan nurabbika berkenaan dengan konsep pengasuhan terhadap anak angkat.

  1. Q. S. al-Baqarah [2]: 275

šúïÏ%©!$# tbqè=à2ù’tƒ (#4qt/Ìh9$# Ÿw tbqãBqà)tƒ žwÎ) $yJx. ãPqà)tƒ ”Ï%©!$# çmäܬ6y‚tFtƒ ß`»sÜø‹¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßg¯Rr’Î/ (#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ßìø‹t7ø9$# ã@÷WÏB (#4qt/Ìh9$# 3 ¨@ymr&ur ª!$# yìø‹t7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$#

“orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

  1. S. al-Baqarah [2]: 276

ß,ysôJtƒ ª!$# (#4qt/Ìh9$# ‘Î/öãƒur ÏM»s%y‰¢Á9$# 3 ª!$#ur Ÿw =Åsム¨@ä. A‘$¤ÿx. ?LìÏOr&

“Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”

  1. S. al-Baqarah [2]: 278

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# (#râ‘sŒur $tB u’Å+t/ z`ÏB (##qt/Ìh9$# bÎ) OçFZä. tûüÏZÏB÷s•B

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.”

  1. S. al-Nisa [4]: 161

ãNÏdɋ÷{r&ur (#4qt/Ìh9$# ô‰s%ur (#qåkçX çm÷Ztã öNÎgÎ=ø.r&ur tAºuqøBr& Ĩ$¨Z9$# È@ÏÜ»t7ø9$$Î/ 4 $tRô‰tGôãr&ur tûï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 öNåk÷]ÏB $¹/#x‹tã $VJŠÏ9r&

“Dan disebabkan mereka memakan riba, Padahal Sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.”

  1. S. al-Rum [30]: 39

!$tBur OçF÷s?#uä `ÏiB $\/Íh‘ (#uqç/÷ŽzÏj9 þ’Îû ÉAºuqøBr& Ĩ$¨Z9$# Ÿxsù (#qç/ötƒ y‰YÏã «!$# ( !$tBur OçF÷s?#uä `ÏiB ;o4qx.y— šcr߉ƒÌè? tmô_ur «!$# y7Í´¯»s9’ré’sù ãNèd tbqàÿÏèôÒßJø9$# ÇÌÒÈ

“Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).”

Kata ribâ dan yarbû yang terdapat dalam kelima ayat tersebut, sebagaimana kata tarbiyyah, diambil dari kata rabâ yang artinya bertambah atau tumbuh.[7] Dengan demikian, dari sisi bahasa, kata ribâ, yarbû, dan tarbiyyah berasal dari akar kata yang sama.

Dari sisi kandungan ayat, kata ribâ dan yarbû dalam kelima ayat tersebut tidak memuat konsep pendidikan tetapi berkenaan dengan konsep riba, baik secara bahasa maupun istilah. Jadi, konsep riba tidak terkait dengan konsep pendidikan. Ini untuk menjawab keraguan orang yang mungkin suatu hari terjadi ketika ia mengetahui bahwa secara bahasa kata ribâ dan tarbiyyah mempunyai hubungan dan dikhawatirkan ia juga menyimpulkan bahwa konsep riba berkenaan dengan konsep pendidikan.

  1. Q. S. al-Syu’ara [26]: 18)

tA$s% óOs9r& y7În/tçR $uZŠÏù #Y‰‹Ï9ur |M÷WÎ6s9ur $uZŠÏù ô`ÏB x8̍çHéå tûüÏZř

“Dia berkata: ‘Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu engkau masih bayi dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu…’”

Akar kata nurabbika adalah kata rabâ (kemudian diberitambahan tasydid pada ‘ain fi’il-nya (huruf ba) menjadi rabbâ yurabbî tarbiyyan (wazan farraha yufarrihu tafrihan) yang artinya menumbuhkan atau membesarkan seperti rabbâ al-walada yang artinya menumbuhkan anak menjadi besar. Kata nurabbika dalam ayat ini tidak menunjukan adanya proses pendidikan yang dilakukan oleh Fir’aun (Raja Ramses II yang bernama Marenptah I menurut Ibn Atsyur[8]) tetapi hanya pengasuhan biasa yang dilakukan ayah angkat terhadap putra angkatnya. Walaupun Musa hidup selama 30 tahun (menurut Tafsir al-Jalain) atau 40 tahun (menurut Tafsiran Ibn Asyur) dengan Fir’aun[9], tetapi Musa tetap tidak tumbuh menjadi manusia terdidik. Dengan demikian, kebersamaan Musa dengan Fir’aun bukan kebersamaan yang bersifat pendidikan.

  1. Rabb dan Konsep Pendidikan

Kata rabb mempunyai hubungan dengan kata tarbiyyah dari sisi bahasa dan konsep pendidikan. Dari sisi bahasa, kata rabb dan kata tarbiyyah diambil dari akar kata rabba yang artinya memelihara atau mengurus.[10] Terkait dengan konsep pendidikan, kata rabb akan dikaji berdasarkan penafsiran para ulama terhadap ayat-ayat yang memuat kata tersebut.

  1. Q. S. al-Fatihah [1]: 2

߉ôJysø9$# ¬! Å_Uu‘ šúüÏJn=»yèø9$#

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”

Ayat ini penting untuk dihadirkan dalam tulisan ini karena ia menjadi rujukan untuk memaknai pendidikan. Menurut al-Maraghi, rabb dalam surah tersebut adalah pendidik yang memelihara orang yang didiknya dan    mengatur urusannya. Menurut ayat ini, ada dua pendidikan Allah terhadap manusia, yaitu (1) pendidikan jasmani (tarbiyyah khalqiyyah), yaitu Allah menumbuhkan badan manusia sampai batas terakhir dan mengembangkan kekuatan fisik dan akal manusia dan (2) pendidikan agama (tarbiyyah diniyyah tahdzibiyyah), yaitu Allah mendidik manusia dengan cara Dia mewahyukan kepada mereka supaya mereka sampai pada penyempurnaan akal dan pensucian jiwa.[11] Tarbiyyah khalqiyyah menegaskan bahwa penciptaan, pembinaan, dan pengembangan jasmani manusia dapat dijadikan sebagai sarana bagi pengembangan jiwanya dan tarbiyyah diniyyah tahdzibiyyah diperlukan bagi pembinaan dan penyempurnaan jiwa manusia melalui petunjuk wahyu ilahi.[12] Berdasarkan pembagian ini, “ruang lingkup altarbiyyah mencakup berbagai kebutuhan manusia, baik jasmani dan rohani, kebutuhan dunia dan akhirat, serta kebutuhan terhadap kelestarian diri sendiri,sesamanya, alam lingkungan dan relasinya dengan Tuhan.”[13]

Selain sebagai salah satu nama Allah (ketika tidak digabungkan dengan kata lain), rabb juga bisa ditujukan untuk manusia (ketika digabungkan dengan kata lain), seperti rabb al-dar (pemilik rumah) dan rabbu hadzihil an’am (pemilik binatang ini).[14] Dengan demikian, pendidik juga bisa berlaku untuk manusia, sebagaimana pendidik juga pada hakikatnya merupakan sifat Allah Swt.

Menurut al-Baidhawi (w. 685) dalam tafsir Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Tawil, kata rabbu pada dasarnya bermakna tarbiyyah, yaitu menghantarkan sesuatu sedikit demi sedikit menuju kesempurnaan. Al-Ashfahani (w. 502) dalam kitab Mufradat menyatakan bahwa kata rabbu pada dasarnya bermakna tarbiyyah, yaitu mengembangkan sesuatu setahap demi setahap sampai mencapai kesempurnaan.[15] Berdasarkan kedua ulama ini, unsur-unsur tarbiyyah terdiri dari:

  • Penjagaan dan pemeliharaan fitrah pendidikan;
  • Pengembangan fitrah tersebut dan mempersiapkannya;
  • Menghadapkan fitrah tersebut pada hal yang sesuai;
  • Meningkatkan konsep pendidikan secara bertahap.[16]
  1. Q. S. al-Baqarah [2]: 21

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Y9$# (#r߉ç6ôã$# ãNä3­/u‘ “Ï%©!$# öNä3s)n=s{ tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNä3Î=ö6s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs?

“Hai seluruh manusia, beribadahlah kepada Tuhan kamu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini menyuruh manusia untuk beribadah kepada rabb yang telah menciptakan manusia. Rabb adalah pendidik dan pemelihara. Pemberian rezeki, kasih sayang, dan pengampunan merupakan aspek rububiyyah Allah sebagai rabb manusia dan jagat raya ini.[17]

Allah mendidik kita dengan cara menebarkan rezeki ke semua manusia tanpa membeda-bedakan kualitas keimanannya. Allah juga mendidik kita dengan cara menebarkan kasih sayang-Nya yang mendahului siksa-Nya. Allah juga mendidik kita dengan cara mengampuni hamba-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Cara mendidik Allah tersebut mesti diteladani supaya manusia bisa mendidik dirinya dan orang lain sesuai dengan apa yang telah Allah lakukan.

  1. Q. S. Ali Imran [3]: 7

uqèd ü“Ï%©!$# tAt“Rr& y7ø‹n=tã |=»tGÅ3ø9$# çm÷ZÏB ×M»tƒ#uä ìM»yJs3øt’C £`èd ‘Pé& É=»tGÅ3ø9$# ãyzé&ur ×M»ygÎ7»t±tFãB ( $¨Br’sù tûïÏ%©!$# ’Îû óOÎgÎ/qè=è% Ô÷÷ƒy— tbqãèÎ6®KuŠsù $tB tmt7»t±s? çm÷ZÏB uä!$tóÏGö/$# ÏpuZ÷GÏÿø9$# uä!$tóÏGö/$#ur ¾Ï&Î#ƒÍrù’s? 3 $tBur ãNn=÷ètƒ ÿ¼ã&s#ƒÍrù’s? žwÎ) ª!$# 3 tbqã‚Å™º§9$#ur ’Îû ÉOù=Ïèø9$# tbqä9qà)tƒ $¨ZtB#uä ¾ÏmÎ/ @@ä. ô`ÏiB ωZÏã $uZÎn/u‘ 3 $tBur ㍩.¤‹tƒ HwÎ) (#qä9’ré& É=»t6ø9F{$#

“Dialah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu di antara (ayat-ayat) nya ada ayat-ayat yang muhkamat. Itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan kepada kesesatan, maka mereka mengikuti dengan sungguh-sungguh sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari dengan sungguh-sungguh takwilnya (yang sesuai dengan kesesatan mereka), padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman dengannya semua dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan ulul Albab.”

Ayat ini menjelaskan tentang ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat yang ada di dalam al-Qur’an. Kedua jenis ayat ini tidak mewakili ayat al-Qur’an secara keseluruhan tetapi hanya menegaskan bahwa al-Qur’an memuat kedua jenis ayat tersebut. Kedua jenis ayat ini hanya bisa diterima oleh orang yang mendalam ilmunya (al-Rasikhuna fi al-‘ilmi) dan terpuji dengan ciri-ciri: (1) takwa kepada Allah Swt., (2) kerendahan hati antara dirinya dan manusia, (3) zuhud, yaitu meninggalkan kenikmatan duniawi karena ingin mendekatkan diri kepada Allah padahal ia mampu memilikinya, dan (4) mujahadah, yaitu kesungguhan mengolah jiwanya mengontrol hawa nafsu.[18] Mereka menerima semuanya karena mereka yakin hal itu dari sisi Tuhan.

Orang-orang yang bisa mengambil pelajaran dari adanya kedua jenis ayat tersebut dan dari orang-orang yang rasikhuna fi al-‘ilmi adalah ulul albab, yaitu “orang-orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi oleh ‘kulit’, yakni kabut ide, yang dapat melahirkan kerancuan dalam berpikir”.

Yang terkait dengan konsep pendidikan adalah (1) ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat yang bisa dijadikan sebagai materi pelajaran ilmu agama Islam, (2) orang yang rasikhun fi al-‘ilmi dan ulul al-albab bisa menjadi ukuran bagi pendidik dan peserta didik.

 

 

 

  1. Q. S. Al-Nisa [4]: 1

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Z9$# (#qà)®?$# ãNä3­/u‘ “Ï%©!$# /ä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oy‰Ïnºur t,n=yzur $pk÷]ÏB $ygy_÷ry— £]t/ur $uKåk÷]ÏB Zw%y`͑ #ZŽÏWx. [ä!$|¡ÎSur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# “Ï%©!$# tbqä9uä!$|¡s? ¾ÏmÎ/ tP%tnö‘F{$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3ø‹n=tæ $Y6ŠÏ%u‘

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan menciptakan darinya pasangannya; Allah memperkembangbiakkan dari keduanya laki-laki yang banyak dan perempuan. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (pelihara pula) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi kamu.”

Perintah bertakwa kepada Allah dengan mengunakan kata rabbakum menunjukan supaya manusia lebih terdorong untuk berbuat baik kepada Tuhan yang memelihara dan membimbing (arti kata rabb). Kata rabbakum menunjukan supaya manusia lebih memahami makna kata tersebut sehingga ia bisa membangun hubungan baik dengan Tuhan.[19]

Selain dengan Tuhan, manusia juga harus membangun hubungan baik dengan sesama manusia melalui pemahaman yang baik terhadap kesatuan kemanusiaan yang dibangun dari beragama potensi dan latarbelakang sosial. Manusia yang Allah kembangbiakkan menjadi banyak berasal dari pasangan yang satu, yaitu Adam dan Siti Hawa. Dengan demikian, sudah sepatutnya manusia memahami makna kemanusiaan dalam konteks niversal. Inilah kandungan lain dari ayat ini.

Ayat lain yang mempunyai hubungan dengan ayat ini adalah Q. S. al-Hujurat [49]: 13. Ayat ini “berbicara tentang asal kejadian manusia yang sama dari seorang ayah dan ibu, yakni sperma ayah dan ovum/indung telur ibu, tetapi tekanannya pada persamaan hakikat kemanusiaan orang per orang karena setiap orang , walau berbeda-berbeda ayah dan ibunya, unsur dan proses kejadian mereka sama. Karena itu, tidak wajar seseorang menghina dan merendahkan orang lain.”[20]

Ayat ini berhubungan dengan paradigma pendidikan Islam berbasis toleransi yang mengedepankan sikap toleran dan terbuka yang mesti dipahami dan dipraktekan oleh peserta didik.

  1. Q. S. al-‘Alaq [96]: 1-5

.

ù&tø%$# ÉOó™$$Î/ y7În/u‘ “Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/u‘ur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   “Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ

  1. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan”
  2. Yang telah menciptakan manusia dari ’alaq
  3. “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah”
  4. “Yang mengajar dengan pena”
  5. Mengajar manusia apa yang belum diketahui(nya).”

Tema utama surah al-’Alaq adalah “pengajaran kepada Nabi Muhammad saw. serta penjelasan tentang Allah dalam sifat dan perbuatan-Nya, dan bahwa Dia adalah sumber ilmu pengetahuan”[21].

Kata rabb seakar dengan kata tarbiyyah. Kata ini mengacu kepada “pengembangan, peningkatan, ketinggian, kelebihan, serta perbaikan”.[22] Kata rabb apabila berdiri sendiri maka yang dimaksud adalah Tuhan. Hal ini karena Dia yang melakukan pendidikan untuk mengembangkan, meningkatkan, dan memperbaiki makhluk ciptaan-Nya.”[23]

Perintah membaca dalam ayat pertama dan ketiga “mencakup telaah terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri, serta bacaan tertulis, baik suci maupun tidak”.[24]

  1. Rabbayâni dan Konsep Pendidikan (Q. S. Al-Isra [17]: 24)

ôÙÏÿ÷z$#ur $yJßgs9 yy$uZy_ ÉeA—%!$# z`ÏB ÏpyJôm§9$# @è%ur Éb>§‘ $yJßg÷Hxqö‘$# $yJx. ’ÎT$u‹­/u‘ #ZŽÉó|¹

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua didorong karena rahmat dan ucapkanlah: ‘Tuhanku, kasihilah keduanya, disebabkan karena mereka berdua telah mendidikku waktu kecil’”.

Ayat ini berisi do’a seorang anak untuk orang tuanya. Do’a ini sangat populer di kalangan umat. Kepopuleran do’a ini sesuai dengan kenyataan bahwa orang tua merupakan pendidik pertama dan paling utama bagi seorang manusia.

Ayat ini mempunyai keterkaitan dengan pendidikan berdasarkan isi doa tersebut: ‘Wahai Tuhanku, Yang memelihara dan mendidik aku antara lain dengan menanamkan kasih pada ibu bapakku, kasihilah mereka keduanya disebabkan karena atau sebagaimana mereka berdua telah melimpahkan kasih kepadaku anatar lain dengan mendidikku waktu kecil’.[25]

Dalam perspektif pendidikan, ayat ini berkaitan dengan peran orang tua sebagai pendidik di keluarga. Peran orang tua dalam pendidikan anak menempati posisi yang utama. Mereka mendidik dengan mengedepankan kasih sayang sebagai orang tua kepada anaknya sebagai peserta didik. Kasih sayang ini menjadi inti pendidikan. Dengan demikian, semestinya pendekatan kasih sayang dikembangkan dalam pendidikan secara umum; baik formal, non formal, maupun informal.

  1. Rabbaniyyin dan Karakter Seorang Pendidik Muslim (Q. S. Ali Imran [3]: 79)

$tB tb%x. @t±u;Ï9 br& çmuŠÏ?÷sムª!$# |=»tGÅ3ø9$# zNõ3ßsø9$#ur no§qç7–Y9$#ur §NèO tAqà)tƒ Ĩ$¨Z=Ï9 (#qçRqä. #YŠ$t6Ï㠒Ík< `ÏB Èbrߊ «!$# `Å3»s9ur (#qçRqä. z`¿ÍhŠÏY»­/u‘ $yJÎ/ óOçFZä. tbqßJÏk=yèè? |=»tGÅ3ø9$# $yJÎ/ur óOçFZä. tbqߙâ‘ô‰s? ÇÐÒÈ

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu Dia berkata kepada manusia: ‘Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.’ akan tetapi (semesetinya dia berkata): ‘Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya’.”

Rabbaniyyin atau rabbani (bentuk mufrad-nya) biasanya diartikan sebagai orang–orang yang mempunyai kesempurnaan ilmu dan ketakwaan kepada Allah Swt. Rabbani dalam konsep pendidikan berarti pendidik. Ayat ini memuat konsep pendidik menurut al-Qur’an yang dilihat berdasarkan karakternya. Karakter seorang pendidik dalam al-Qur’an adalah ia “mengajakan Kitab Allah, baik yang tertulis (al-Qur’an), maupun yang tidak tertulis (alam raya), serta mempelajarinya secara terus menerus.”[26] Jadi, inti pendidik dalam Islam adalah ia mempunyai ilmu yang luas, bertakwa kepada Allah Swt., dan ia selalu mengajarkan ayat-ayat qur’aniyyah dan ayat-ayat kauniyyah.

  1. Konsep Pendidikan dalam Ayat-Ayat al-Qur’an yang Tidak Mengandung Kata-Kata yang Seakar dengan Kata Tarbiyyah

Sebelumnya telah dijelaskan Konsep pendidikan berdasarkan ayat yang mengandung kata-kata yang seakar dengan kata Tarbiyyah. Bagian ini akan menjelaskan konsep pendidikan berdasarkan ayat yang tidak mengandung kata-kata tersebut. Setelah dilakukan penelaahan, ternyata ditemukan bahwa konsep pendidikan lebih banyak diungkap dalam ayat-ayat yang tidak mengandung kata-kata yang berkenaan dengan kata Tarbiyyah. Mayoritas ayat-ayat pendidikan tidak mengandung kata-kata yang seakar dengan kata tarbiyyah. Ini menandakan bahwa secara keseluruhan semua ayat al-Qur’an bisa ditilik dari perspektif pendidikan tanpa mengharuskan adanya kata-kata yang seakar dengan kata Tarbiyyah. Tetapi pernyataan tersebut perlu penelitian lebih jauh.

Penulis menyajikan enam konsep pendidikan yang diungkapkan dalam ayat-ayat yang tidak memuat kata-kata yang seakar dengan kata Tarbiyyah, yaitu (1) tujuan pendidikan dalam Islam, (2) pendidikan sepanjang hidup (lifelong education), (3) metode penyampaian materi, (4) pendidikan akhlak dan (5) pendidikan teknologi.

  1. Tujuan Pendidikan dalam Islam

Konsep pendidikan yang pertama didasarkan pada Q. S. al-Dzariyat [51]: 56 tentang tujuan penciptaan manusia, Q. S. al-Baqarah [2]: 30 tentang manusia sebagai khalifah, dan Q. S. Hud [11]: 61 tentang kewajiban manusia memakmurkan bumi.

  • S. al-Dzariyat [51]: 56

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

  • S. al-Baqarah [2]: 30

øŒÎ)ur tA$s% š•/u‘ Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ’ÎoTÎ) ×@Ïã%y` ’Îû ÇÚö‘F{$# Zpxÿ‹Î=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ߉šøÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡o„ur uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ωôJpt¿2 â¨Ïd‰s)çRur y7s9 ( tA$s% þ’ÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: ‘Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.”

 

  • S. Hud [11]: 61.

4’n<Î)ur yŠqßJrO öNèd%s{r& $[sÎ=»|¹ 4 tA$s% ÉQöqs)»tƒ (#r߉ç6ôã$# ©!$# $tB /ä3s9 ô`ÏiB >m»s9Î) ¼çnçŽöxî ( uqèd Nä.r’t±Rr& z`ÏiB ÇÚö‘F{$# óOä.tyJ÷ètGó™$#ur $pkŽÏù çnrãÏÿøótFó™$$sù ¢OèO (#þqç/qè? Ïmø‹s9Î) 4 ¨bÎ) ’În1u‘ Ò=ƒÌs% Ò=‹Åg’C ÇÏÊÈ

“Dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka; Shaleh. Shaleh berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”

  1. S. al-Dzariyat [51]: 56 berkenaan dengan tujuan pendidikan dalam Islam, yaitu supaya peserta didik menyembah Allah Yang Maha Pencipta. Tafsiran ayat ini sebagai berikut: “Aku tidak menciptakan manusia dan jin kecuali untuk menjadikan tujuan Akhir atau hasil segala aktivitasnya sebagai pengabdian kepadaku.”[27]
  2. S. Al-Baqarah [2]: 30 berkenaan dengan tujuan pendidikan dalam Islam, yaitu agar peserta didik mampu menjadi pemimpin yang bisa menggerakan dirinya dan orang lain untuk mengabdi kepada Allah. Dalam konteks kepemimpinan organisasi atau lembaga, seorang pemimpin mempunyai kekuasaan dan peluang yang lebih terbuka untuk “menggiring” bawahannya untuk beribadah kepada Allah. Inilah hebatnya tujuan pendidikan Islam. Peserta didik didorong untuk menjadi seorang pemimpin sehingga ia mempunyai pengaruh yang lebih kuat untuk mempengaruhi orang lain untuk beribadah.

Q.S. Hud [11]: 61 menegaskan bahwa tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk menyadarkan manusia tentang proses penciptaan mereka dari tanah sebagai salah satu bahan utama bumi. Setelah manusia sadar tentang hal itu, mereka diugaskan oleh Allah untuk memakmurkan dan menjaga kelestraiaan bumi. Inilah kehebatan al-Qur’an. Ia terlebih dahulu menyadarkan manusia tentang asal penciptaan mereka, kemudian baru memerintahkan mereka untuk memakmurkannya. Manusia yang menggunakan akalnya dengan baik akan menyambut baik ajakan al-Qur’an untuk memakmurkan bumi karena mereka sadar dengan memakmurkan bumi berarti mereka juga memakmurkan diri mereka sendiri dan dengan melestarikan bumi berarti mereka juga menjaga keberlangsungan hidup mereka.

Berdasarkan ketiga ayat ini, menurut Muhammad Qutb, tujuan pendidikan dalam al-Qur’an adalah ‘membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya guna membangun dunia sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah.’[28] Manusia seperti itu dalam Islam dinamakan manusia yang bertakwa. Jadi, inti tujuan pendidikan dalam Islam adalah terbentuknya manusia yang bertakwa.

  1. Pendidikan Seumur Hidup (Q. S. Thaha [20]: 114)

Al-Qur’an memuat pendidikan sepanjang hidup (lifelong education). Nabi diperintah oleh Allah untuk terus belajar, yaitu memohon kepada Allah dan berusaha untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.[29]

’n?»yètGsù ª!$# à7Î=yJø9$# ‘,ysø9$# 3 Ÿwur ö@yf÷ès? Èb#uäöà)ø9$$Î/ `ÏB È@ö6s% br& #Ó|Óø)ムšø‹s9Î) ¼çmã‹ômur ( @è%ur Éb>§‘ ’ÎT÷ŠÎ— $VJù=Ïã ÇÊÊÍÈ

“Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebelum wahyu disempurnakan kepadamu, dan Katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan’.”

  1. Metode Menyampaikan Materi Melalui Kisah (Q. S. al-Qashash [28]: 76-81)

* ¨bÎ) tbr㍻s% šc%Ÿ2 `ÏB ÏQöqs% 4Óy›qãB 4Óxöt7sù öNÎgøŠn=tæ ( çm»oY÷s?#uäur z`ÏB ΗqãZä3ø9$# !$tB ¨bÎ) ¼çmptÏB$xÿtB é&þqãZtGs9 Ïpt6óÁãèø9$$Î/ ’Í<‘ré& Ío§qà)ø9$# øŒÎ) tA$s% ¼çms9 ¼çmãBöqs% Ÿw ÷ytøÿs? ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä† tûüÏm̍xÿø9$# ÇÐÏÈ   Æ÷tGö/$#ur !$yJ‹Ïù š9t?#uä ª!$# u‘#¤$!$# notÅzFy$# ( Ÿwur š[Ys? y7t7ŠÅÁtR šÆÏB $u‹÷R‘‰9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJŸ2 z`|¡ômr& ª!$# šø‹s9Î) ( Ÿwur Æ÷ö7s? yŠ$|¡xÿø9$# ’Îû ÇÚö‘F{$# ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä† tûïωšøÿßJø9$# ÇÐÐÈ   tA$s% !$yJ¯RÎ) ¼çmçFÏ?ré& 4’n?tã AOù=Ïæ ü“ωZÏã 4 öNs9urr& öNn=÷ètƒ žcr& ©!$# ô‰s% y7n=÷dr& `ÏB ¾Ï&Î#ö7s% šÆÏB Èbrãà)ø9$# ô`tB uqèd ‘‰x©r& çm÷ZÏB Zo§qè% çŽsYò2r&ur $Yè÷Hsd 4 Ÿwur ã@t«ó¡ç„ `tã ÞOÎgÎ/qçRèŒ šcqãB̍ôfßJø9$# ÇÐÑÈ   ylty‚sù 4’n?tã ¾ÏmÏBöqs% ’Îû ¾ÏmÏFt^ƒÎ— ( tA$s% šúïÏ%©!$# šcr߉ƒÌãƒ no4quŠysø9$# $u‹÷R‘‰9$# |Mø‹n=»tƒ $oYs9 Ÿ@÷WÏB !$tB š†ÎAré& ãbr㍻s% ¼çm¯RÎ) rä%s! >eáym 5OŠÏàtã ÇÐÒÈ   tA$s%ur šúïÏ%©!$# (#qè?ré& zNù=Ïèø9$# öNà6n=÷ƒur Ü>#uqrO «!$# ׎öyz ô`yJÏj9 šÆtB#uä Ÿ@ÏJtãur $[sÎ=»|¹ Ÿwur !$yg9¤)n=ムžwÎ) šcrçŽÉ9»¢Á9$# ÇÑÉÈ   $oYøÿ|¡sƒmú ¾ÏmÎ/ Ín͑#y‰Î/ur uÚö‘F{$# $yJsù tb%Ÿ2 ¼çms9 `ÏB 7pt¤Ïù ¼çmtRrçŽÝÇZtƒ `ÏB Èbrߊ «!$# $tBur šc%x. z`ÏB z`ƒÎŽÅÇtGYßJø9$# ÇÑÊÈ

“Sesungguhnya Karun adalah Termasuk kaum Musa, Maka ia Berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri’.”

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

“Karun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku’. dan Apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.”

“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: ‘Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’.”

“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: ‘Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar’.”

“Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan Tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).”

Kisah menjadi metode menyampaikan materi di dalam al-Qur’an seperti mengenai kisah Karun. Dalam kisah tersebut, Karun menyombongkan diri kepada Allah dengan mengklaim bahwa kekayaaannya karena jerih payahnya. Tiba-tiba Allah mendatangkan gempa dahsyat yang menelannya dan kekayaannya.[30]

Dengan kisah-kisah yang ada di dalamnya, al-Qur’an ingin mengajak para pendidik supaya mengajarkan materi pelajaran dengan menggunakan metode cerita. al-Qur’an merumuskan konsep pendidikan dari ayat yang di dalamnya tidak ada kata-kata yang seakar dengan kata tarbiyyah.

  1. Pendidikan Akhlak (Q. S. al-Qalam [68]: 4 dan Q. S. Al-Syams [91]: 7-8)

y7¯RÎ)ur 4’n?yès9 @,è=äz 5OŠÏàtã ÇÍÈ

“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

<§øÿtRur $tBur $yg1§qy™ ÇÐÈ   $ygyJolù;r’sù $ydu‘qègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)”

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”

Kedua ayat ini berkaitan dengan pentingnya pendidikan akhlak bagi manusia. Standar akhlak yang mulia telah ditunjukan pada pribadi Rasullah Saw. Umatnya mesti meneladani akhlak tersebut, di antaranya melalui konsep pendidikan akhlak.

Pendidikan akhlak dimaksudkan untuk menyadarkan manusia tentang adanya karakter positif dan negatif dari dirnya. Dengan proses penyadaran ini, manusia diharapkan mampu memilih mana yang baik dan mana yang buruk, kemudian mereka mampu menjalanan hal-hal yang baik dan menjauhi hal-hal yang buruk.

  1. Pendidikan Teknologi (Q. S. al-Jatsiyah [45]: 13)

t¤‚y™ur /ä3s9 $¨B ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# $tBur ’Îû ÇÚö‘F{$# $Yè‹ÏHsd çm÷ZÏiB 4 ¨bÎ) ’Îû šÏ9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcr㍩3xÿtGtƒ ÇÊÌÈ

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.”

Istilah penundukan dalam ayat ini mengisyaratkan bahwa manusia diberi kemampuan oleh Allah untuk membuat beragam cara yang bisa mendukung tujuan hidupnya di muka bumi ini. Untuk merealisasikan hal ini, manusia diberi potensi jasmani, akal, dan qalbu. Ketiga-tiganya bisa membantu menusia mewujudkan tujuan hidup tersebut.

Ayat ini berkenaan dengan teknologi sebagai alat untuk mencapai tujuan hidup manusia sebagai hamba Allah Swt. Teknologi merupakan hasil usaha manusia yang dibuat untuk mendukung tujuan hidup tersebut. Dalam konteks Islam, teknologi dijadikan sebagai alat untuk semakin efisien dan efektifnya manusia untuk beribadah kepada Allah Swt.

 

  1. Implikasi Konsep Tarbiyyah bagi Pendidikan Islam

Kata tarbiyyah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi pendidikan. Ini sesuai dengan penjelasan tarbiyyah secara bahasa dan istilah. Dalam konsep tarbiyyah, pendidikan adalah proses untuk mengarahkan sesuatu secara bertahap menuju kesempurnaan kejadian dan fungsinya.[31]

“Pengertian rubûbiyah (kependidikan atau pemeliharaan) mencakup pemberian rezeki, pengampunan dan kasih sayang; juga amarah, ancaman, siksaan, dan sebagainya. Makna ini akan terasa dekat ke benak kita saat mengancam, bahkan memukul anak kita, dalam rangka mendidik mereka. Walapun sang anak yang dipukul merasa diperlakukan tidak wajar, kelak setelah dewasa ia akan sadar bahwa pukulan tersebut merupakan sesuatu yang baik baginya. Jadi, apapun bentuk perlakuan Tuhan kepada makhluk-Nya harus diyakini bahwa yang demikian itu sama sekali tidak terlepas dari sifat kepemeliharaan dan kependidikan-Nya, walau pun perlakukan itu dinilai oleh keterbatasan nalar manusia sebagai sesuatu yang negatif.”[32]

            Konsep tarbiyyah juga menegaskan bahwa tujuan pendidikan menghantarkan peserta didik pada derajat kesempurnaan yang diberikan oleh Allah. Dengan demikian, ia meliputi semua dimensi kemanusiaan atau pribadi manusia.[33]

Berdasarkan konsep tarbiyyah, ada empat dasar pendidikan yang mesti dipahami.

  1. Pendidikan adalah proses sistematis yang mempunyai tujuan, sasaran, dan pencapaian;
  2. Pendidik adalah perwakilan Allah Yang Maha Pencipta. Allah menciptakan fitrah dan memberikan potensi. Dia mengembangkan, meningkatkan, dan mengimplementasikan fitrah. Pendidik juga harus menjalankan, mengembangkan, meningkatkan, dan mengimplementasikan konsep pendidikan supaya fitrah atau potensi peserta didik bisa berkembang dan mencapai kesempurnaan sebagai makhluk Tuhan.
  3. Pendidikan menetapkan langkah-langkah bertahap yang di dalamnya konsep-konsep pendidikan dijalankan dari batas yang satu ke batas yang lain dan dari jarak yang satu ke jarak yang lain.
  4. Perilaku pendidik berkaitan dengan realitasnya sebagai makhluk Allah. Dengan demikian, ia mesti mengikuti syariat Allah Swt.[34]

Bagaimana konsep tarbiyyah berimplikasi pada pendidikan Islam? Terlebih dahulu, penulis akan menjelaskan tentang arti pendidikan Islam. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang didasarkan pada konsep-konsep Islam. Salah satu konsep Islam adalah penghargaaan setinggi-tingginya terhadap manusia. Penghargaan tersebut mewujud pada pandangan Islam terhadap manusia. Islam memandang manusia sebagai makhluk yang mempunyai tiga potensi dasar, yaitu potensi jasmani, potensi akal, dan ruhani.[35] Artinya, bahwa pendidikan Islam menghargai manusia sebagai makhluk yang mempunyai tiga potensi tersebut. Berbeda dengan pendidikan Islam, pendidikan Barat (dalam arti yang mengggunakan paradigma positivistik sebagai filsafat pendidikannya) hanya mengakui dua potensi manusia saja, yaitu potensi jasmani dan akal. Dengan kedua potensi ini, Barat memang maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sampai saat ini, namun kemajuan mereka adalah semu, dalam arti kemajuan tersebut menuju kehancuran peradaban.[36] Hal ini karena kemajuan Barat adalah kemajuan tanpa nilai, tanpa agama, tanpa Tuhan. Buktinya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dimanpaatkan untuk menguasai negara lain, dalam bentuk penjajahan ekonomi, penjajahan budaya, dan penjajahan sendi-sendi kehidupan lainnya.

Islam sangat menghargai jasmani dan akal, namun itu bukan merupakan ukuran kehebatan manusia. Islam sangat menghargai dan menjungjung tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi, namun itu bukan merupakan tujuan. Dalam Islam, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dijadikan sebagai jalan untuk mengabdi kepada Allah Swt. Ini lah yang disebut potensi ruhani. Jadi, pendidikan Islam membimbing jasmani, akal, dan ruhani untuk mengabdi kepada Yang Maha Agung.

Orang Barat memang beragama, tapi agama itu tidak dijadikan sebagai nilai dalam dimensi kehidupan. Bagi mereka, agama adalah urusan pribadi dan tidak perlu “mengintervensi” pendidikan. Artinya, bagi mereka agama tidak perlu dimasukan dalam kurikulum pendidikan. Ini lah yang dinamakan sekurelisasi pendidikan[37], yaitu memisahkan agama dari pendidikan. Islam jelas menolak pandangan seperti ini. Dalam konsep Islam, pendidikan harus dipandu oleh agama, agar tidak keblinger, agar tidak kacau dan mengacaukan masyarakat. Agama harus “mengintervensi” kurikulum sehingga jenis kurikulum apapun yang berkembang tidak bebas nilai tetapi bernilai Islami.

Untuk mempertegas substansi pendidikan Islam, Azyumardi Azra merinci tiga karakteristik pendidikan Islam. Pertama, pencarian, penguasaan, dan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai wujud ibadah kepada Allah S.W.T. Kedua, pengakuan akan adanya kemampuan dan potensi untuk berkembang dalam suatu kepribadian. Ketiga, pengamalan ilmu pengetahuan sebagai wujud tanggung jawab kepada Allah dan manusia.[38]

Berdasarkan penjelasan tentang pendidikan Islam, maka konsep tarbiyyah di dalam al-Qur’an menegaskan hakikat pendidikan Islam dan memberi arah terhadap pendidikan Islam sehingga pendidikan tersebut selalu mendorong peserta didik dan pendidik untuk meraih predikat sebagai hamba Allah yang bertakwa.

 

  1. Simpulan

Kata tarbiyyah tidak ada di dalam al-Qur’an. Yang terdapat di dalam al-Qur’an adalah kata yang seakar dengan kata tarbiyyah, yaitu rabb, ribâ, yarbû, nurabbika, rabbayâni, dan rabbaniyyîn.

Kata tarbiyyah dengan keenam kata tersebut mempunyai hubungan. Hubungannya bisa dari sisi bahasa (akar kata) dan atau dari sisi muatan konsep pendidikan. Ribâ, yarbû, dan nurabbika mempunyai hubungan dari sisi akar kata, sedangkan rabb, rabbayâni, dan rabbaniyyîn selain dari sisi bahasa, keduanya juga mempunyai hubungan dari sisi konsep pendidikan.

Dari sisi konsep pendidikan, rabb menegaskan arti pendidikan sebagai proses penyadaran manusia sebagai hamba Allah yang harus selalu beribadah kepada Allah. Penyadaran ini dilakukan melalui pengembangan, peningkatan, dan perbaikan kepribadian manusia. Rabb berkenaan dengan Allah sebagai hakikat pendidik dan manusia yang mempunyai tugas untuk mendidik. Kata rabbayâni menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mendidik keluarganya. Rabbaniyyîn menjelaskan penting seorang pendidik mempunyai ilmu yang luas dan ketakwaan kepada Allah Swt.

Ayat-ayat al-Qur’an yang tidak memuat kata rabb, ribâ, yarbû, nurabbika, rabbayâni, dan rabbaniyyîn mendominasi ayat-ayat yang terkait dengan konsep pendidikan. Di antara ayat-ayat tersebut adalah berkenaan dengan (1) tujuan pendidikan dalam Islam, (2) pendidikan sepanjang hidup (lifelong education), (3) metode penyampaian materi, (4) pendidikan akhlak dan (5) pendidikan teknologi.

Konsep tarbiyyah memperkuat konsep pendidikan Islam. Ayat-ayat tentang konsep pendidikan yang digali dari kata rabb, rabbayâni, dan rabbaniyyîn menegaskan pentingnya pemahaman tentang Allah sebagai hakikat pendidik dan manusia menjalankan perannya sebagai pendidik, orang tua sebagai pendidik utama dan pertama dalam keluarga, dan pendidik pada umumnya yang mesti mempunyai keilmuaan yang luas dan bertakwa kepada Allah Swt. Ketiganya berimplikasi pada hakikat pendidik dalam Islam. Ayat-ayat tentang tujuan pendidikan, pendidikan sepanjang hidup, metode penyampaian materi, pendidikan akhlak, dan pendidikan teknologi berimplikasi pada konsep pendidikan Islam yang dilihat dari sisi tujuan, metode, dan isu-isu kontemporer pendidikan Islam.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Madkur, ‘Ali Ahmad. 2002. Manhaj al-Tarbiyyah fi al-Tashawwur al-Islami. Mesir: Dar al-Fikri al-‘Arabi.

Azra, Azyumardi. 2000. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

al-Maraghi, Ahmad Mushtafa. 2006. Tafsir Al-Maraghi. Beirut: Dar al- al-Fikr.

Munawwir, Ahmad Warson. 1997. al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia, (Yogyakarta; Pustaka Progressif.

Ramayulis. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Shihab, M. Quraish. 2003. Membumikan al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.

——. 2003. Wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan.

——. 2010. Tafsir al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.

Tafsir, Ahmad. 2008. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

—–. 2001. Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

—–. 1992. Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya.

[1]Asep Ahmad Fathurrahman, “Interaksi Pendidikan dalam al-Qur’an”, (Bandung, Pascasarjana UIN SGD, 2011), Ringkasan Disertasi, hlm. 19.

[2]Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997), ed. ke-2, hlm. 469.

[3]Ibid., hlm. 462.

[4]M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2010), jilid ke-1, cet. ke-3, hlm. 37-38.

[5]‘Ali Ahmad Madkur, Manhaj al-Tarbiyyah fi al-Tashawwur al-Islami, (Mesir: Dar al-Fikri al-‘Arabi, 2002), hlm. 31-32.

[6]Maktabah Syamilah versi 3.5.

[7]Munawwir, al-Munawwir: Kamus, hlm. 469 dan Ali, Ushul al-Tarbiyyah, hlm. 31-32.

[8]Shihab, Tafsir al-Mishbah, vol. ke-9, hlm. 202.

[9]Ibid.

[10]Munawwir, al-Munawwir: Kamus, hlm. 462 dan Ali, Ushul al-Tarbiyyah, hlm. 32.

[11]Ahmad Mushtafa al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, (Beirut: Dar al-Fikr, 2006), jil. ke- 1, hlm. 20-21.

[12]Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2008), cet- ke-7, hlm. 16.

[13]Ibid.

[14]al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, jil. ke-1, hlm. 21.

[15] ‘Ali, Ushul al-Tarbiyyah, hlm. 32.

[16]Ibid.

[17]Shihab, Tafsir al-Mishbah, vol. ke-1, hlm. 145-146.

[18]Ibid., vol. ke-2, hlm. 22.

[19]Ibid., hlm. 398.

[20]Ibid.

[21]Ibid., vol. 15, hlm. 451.

[22]Ibid., hlm. 456.

[23]Ibid., hlm. 457.

[24]Ibid, hlm. 455 dan 461.

[25]Ibid., vol. 7, hlm. 66.

[26]M. Quraish Shihab, Membumikan al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 177-178.

[27]Ibid., hlm. 172.

[28]Ibid., hlm. 172-173.

[29]Ibid., hlm. 178.

[30]Ibid., hlm. 175

 

[31]Shihab, Tafsir al-Mishbah, jilid ke-1, hlm. 36.

[32]Ibid.

[33]‘Ali, Ushul al-Tarbiyyah, hlm. 33.

[34]Ibid.

[35]Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2008), cet. ke-3, hlm. 45.

[36]Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2001), cet. ke-19, hlm. 263-265.

[37]Tentang sekurelisasi pendidikan ini, kita bisa lihat pernyataan sikap pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi pendidikan agama di sekolah. Sikap tersebut dinyatakan dalam pasal 179 (2) I. S. (Indische Staatstregeling) yang berbunyi: “Pengajaran umum adalah netral, artinya bahwa pengajaran itu diberikan dengan menghormati keyakinan agama masing-masing. Pengajaran agama hanya boleh berlaku di luar jam sekolah”. Ahmad Tafsir, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya. 1992), cet. Ke-2, hlm. 1.

[38] Lihat Azyumardi Azra. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 2000), cet. ke-2. Hlm. 10.

Posted in: Artikel