KONSEP KEMAMPUAN (QUDRAH) DAN KEHENDAK (MASYIAH) DALAM DIRI MANUSIA

Posted on September 5, 2015

0


Oleh: Ceceng Salamudin

  1. Pendahuluan

Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks. Pemahaman tentang manusia sering menemukan jalan buntu sehingga pada akhirnya hakikat manusia tidak benar-benar terungkap. Dr. A. Carrel dalam Man the Unknown menulis tentang kesukaran memahami manusia.

‘Sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian dan usaha yang sangat besar untuk mengetahui dirinya, kendatipun kita memiliki perbendaharaan yang cukup banyak dari hasil penelitian para ilmuwan, filosof, sastrawan, dan para ahli di bidang keruhanian sepanjang masa ini. Tapi kita (manusia) hanya mampu mengetahui beberapa segi tertentu dari diri kita. Kita tidak mengetahui manusia secara utuh. Yang kita ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari bagian-bagian tertentu, dan ini pun pada hakikatnya dibagi lagi menurut tatacara kita sendiri. Pada hakikatnya, kebanyakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh mereka yang mempelajari manusia-kepada diri mereka-hingga kini masih tetap tanpa jawaban.’[1]

Manusia hanya mengetahui sedikit saja tentang dirinya. Banyaknya penelitian belum mampu mengungkapkan hakikat manusia secara utuh dan menyeluruh. Belum lagi, banyaknya perdebatan dan pertentangan dalam menafsirkan hakikat manusia semakin menambah kesulitan manusia untuk memahami hakikat dirinya.

Agama ikut berperan aktif dalam menafsirkan manusia. Dalam tingkat tertinggi, agama melihat manusia sebagai makhluk penyembah yang mampu menghidupkan Tuhan sebagai kekuatan dalam agama. Ini adalah perspektif agama tentang fungsi dan tujuan manusia diciptakan.

Agama juga melihat manusia sebagai makhluk yang tersusun dari unsur materi dan unsur imateri. Sebagai makhluk yang berunsur materi, manusia mempunyai tubuh sebagai media bagi kehidupan. Sebagai makhluk yang berunsur imateri, manusia mempunyai ruh. Ruh ini adalah kekuatan bagi manusia. Lebih tepatnya ruh ini disebut sebagai daya. Daya bagi manusia terbagi dua. Pertama adalah daya rasa yang kira-kira letaknya di sekitar dada. Jika diasah dengan baik, daya rasa bisa mempertajam hati nurani (dan keimanan). Kedua adalah daya pikir yang berada di sekitar kepala. Daya pikir, jika dilatih dengan baik, akan mempertajam penalaran.[2]

Hubungan antara Tuhan dan manusia menjadi kajian yang sangat penting karena agama melihat manusia sebagai sosok sentral yang mampu menguraikan hakikat agama dengan benar. Dalam hubungan ini, Tuhan dipahami sebagai otoritas[3] tertinggi yang mempunyai kedaulatan penuh dalam membuat dan menentukan aturan. Dalam Islam, Yahudi, Kristen, dan kemungkinan agama-agama lain, hukum Tuhan telah digariskan oleh Tuhan. Hukum Tuhan ini memuat pesan-pesan moral atau hikmah. Dengan demikian, pesan-pesan moral ini sama dalam semua agama.[4]

Otororitas atau kedaulatan Tuhan hanya dapat diperoleh ketika umat manusia “dilibatkan” dalam kehidupan. Pernyataan al-Qur’an bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi (Q. S. al-Baqarah [2]: 30) sangat sesuai dengan keharusan manusia dilibatkan dalam menerjemahkan kedaulatan Tuhan tersebut. Dengan pelibatan ini, maka kedaulatan Tuhan dan kedaulatan manusia tidak bertentangan karena kedaulatan manusia merupakan perpanjangan dari ketuhanan Tuhan.[5]

Dalam agama, relasi antara kedaulatan Tuhan dan manusia menjadi kajian teologi. Di antaranya, Asy’ari mengembangkan pertanyaan tentang hubungan kekuasaan Tuhan dengan tindakan-tindakan manusia.[6] Hubungan ini mengkaji tentang apakah manusia mempunyai kekuasaan dan kehendak bebas dalam semua tindakannya.

Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan memfokuskan pada studi tentang kemampuan dan kehendak dalam diri manusia. Kajian ini diawali dengan menjelaskan konsep kemampuan dan kehendak manusia menurut al-Qur’an. Selanjutnya akan dikaji tentang perkembangan teologi dan konsep tentang kemampuan dan kehendak manusia. Terakhir, tulisan ini membahas implikasi konsep tersebut bagi pendidikan.

 

  1. al-Qur’an tentang Kemampuan dan Kehendak Manusia

Di dalam al-Qur’an, konsep tentang kemampuan dan kehendak manusia terbagi menjadi dua pemahaman. Pertama, manusia dianggap makhluk yang mempunyai kemampuan dan kehendak bebas. Manusia bebas menentukan tindakan-tindakannya. Kedua, manusia tidak mempunyai kemampuan dan kehendak bebas. Tindakan-tindakan manusia ditentukan oleh tuhan. Manusia hanya menerima apa yang telah ditetapkan oleh tuhan.

Kenyataan ini menunjukan betapa al-Qur’an sangat proporsional dalam melihat persoalan kemampuan dan kehendak manusia. Al-Qur’an sangat adil dalam memuat konsep tentang hubungan manusia dengan tindakan-tindakannya. Di satu sisi, manusia diberi kebebasan untuk menentukan dirinya. Di sisi lain, kehendak manusia tidak bisa keluar dari kehendak Tuhan.

  1. Manusia Mempunyai Kemampuan dan Kehendak Bebas

Beberapa ayat di dalam al-Qur’an menunjukan bahwa manusia adalah makhluk yang menentukan kehidupannya sendiri, baik kehidupan yang bermanfaat bagi dirinya maupun yang merugikannya. Di antara ayat-ayat yang berkenaan dengan hal ini adalah Q. S. al-Anfal [8]: 53, al-Ra’d [13]: 11, dan Al-Kahfi [18]: 29).

           

y7Ï9ºsŒ  cr’Î/ ©!$# öNs9 à7tƒ #ZŽÉitóãB ºpyJ÷èÏoR $ygyJyè÷Rr& 4’n?tã BQöqs% 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr’Î/   žcr&ur ©!$# ìì‹ÏJy™ ÒOŠÎ=tæ

“(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Anfal [8]: 53).

 

žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr’Î/ 3 !#sŒÎ)ur yŠ#u‘r& ª!$# 5Qöqs)Î/ #[äþqߙ Ÿxsù ¨ŠttB ¼çms9 4 $tBur Oßgs9 `ÏiB ¾ÏmÏRrߊ `ÏB @A#ur

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (Q. S. al-Ra’d [13]: 11).

 

È@è%ur ‘,ysø9$# `ÏB óOä3În/§‘ ( `yJsù uä!$x© `ÏB÷sã‹ù=sù ÆtBur uä!$x© öàÿõ3u‹ù=sù 4

“Dan Katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir” (Al-Kahfi [18]: 29).

Menurut M. Quraish Shihab, Q. S. al-Anfal [8]: 53 dan al-Ra’d [13]: 11 berbicara tentang perubahan sosial, bukan perubahan individu. Terbukti dengan penggunaan kata qaum dalam keduanya. Ayat pertama tentang perubahan nikmat yang ada di masyarakat dan yang kedua tentang perubahan apapun yang terjadi di masyarakat. Kedua perubahan tersebut dilakukan oleh masyarakat sesuai dengan usahanya. Selain itu, ada beberapa hal yang berkenaan dengan kedua ayat ini.

  1. Penggunaan kata qaum menunjukan bahwa hukum kemasyarakatan tidak hanya berlaku bagi kaum atau suku, ras dan agama tertentu saja, tetapi ia berlaku umum kapan dan di manapun mereka berada.
  2. Kedua ayat tersebut berbicara tentang dua pelaku perubahan. Pertama, pelakunya adalah Allah yang merubah nikmat yang dianugerahkan kepada suatu masyarakat atau Dia yang menentukan apa saja yang dialami oleh masyarakat. Kedua, pelakunya adalah manusia, yaitu masyarakat yang melakukan perubahan pada diri mereka.
  3. Perubahan yang dilakukan oleh Allah harus didahului oleh perubahan yang dilakukan oleh masyarakat yang menyangkut diri mereka.[7]

Ayat ketiga menunjukan kebebasan manusia untuk beriman atau tidak kepada Allah. Hanya saja, walaupun manusia bebas untuk beriman atau tidak, Allah mengajak manusia untuk beriman dan memberikan gambaran bagaimana keberuntungan orang-orang yang beriman dan kerugian orang-orang yang tidak beriman. Dengan gambaran ini, manusia bebas menentukan pilihan hidupnya apakah memilih kehidupan dunia dan akhirat yang baik dengan beriman kepada Allah atau menyukai kehidupan yang buruk dengan tidak beriman kepada Allah. Alangkah bodohnya seseorang jika ia memilih kehidupan yang buruk padahal ada jalan menuju kehidupan yang baik, yaitu dengan beriman kepada Allah.

  1. Manusia Tidak Mempunyai Kehendak Bebas

            Allah mempunyai keesaan perbuatan. Keesaan perbuatan ini dipahami bahwa “segala sesuatu yang berada di alam raya ini, baik sistem kerjanya maupun sebab dan wujud-Nya, kesemuanya adalah hasil perbuatan Allah semata.”[8] Ini mengisyaratkan bahwa Tuhan adalah pemilik otorotas tunggal untuk menentukan kehidupan makhluk-Nya.

Dalam tingkat yang ekstrim, keesaan perbuatan dipahami sebagai suatu konsep bahwa manusia tidak mempunyai kemampuan untuk berbuat, bahkan manusia tidak mempunyai kehendak sama sekali karena yang ada adalah perbuatan dan kehendak Allah. Jadi, ketika ada kehendak dalam diri manusia, maka itu bukanlah kehendak manusia tetapi itu kehendak Allah.

Pernyataan tersebut sangat bermasalah dan berbahaya manakala manusia melakukan kejahatan atau pelanggaran moral karena pernyataan ini mengisyaratkan bahwa pelaku yang sebenarnya adalah Allah bukan manusia itu sendiri. Manusia hanya menerima perbuatan Allah dan dipaksa oleh Allah untuk berbuat jahat. Ini lah memang kelemahan paham Jabariyyah walaupun para pengikut paham ini membantah kalau paham mereka dihubungkan dengan dosa yang dilakukan oleh manusia.

Banyak ayat yang diduga menjadi fondasi teologis para penganut ketidakbebasan kehendak manusia. Di antaranya Q. S. Al-Hadid [57]: 22).

!$tB z>$|¹r& `ÏB 7pt6ŠÅÁ•B ’Îû ÇÚö‘F{$# Ÿwur þ’Îû öNä3Å¡àÿRr& žwÎ) ’Îû 5=»tGÅ2 `ÏiB È@ö6s% br& !$ydr&uŽö9¯R 4 ¨bÎ) šÏ9ºsŒ ’n?tã «!$# ׎Å¡o„

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada diri kamu melainkan telah tercatat dalam kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah sangat mudah” (QS. Al-Hadid [57]: 22).

Ayat ini menjelaskan bahwa bencana apapun yang terjadi di muka bumi, seperti kekeringan, gempa, banjir, longsor, dan juga yang terjadi pada diri manusia, seperti kemiskinan, kematian, penyakit telah ditentukan oleh Allah dan tercatat dalam Lauh Mahfuzh.[9]

Sekilas ayat ini mengisyaratkan bahwa manusia hanya menerima saja apa yang telah Allah tentukan di Lauh Mahfuzh. Keburukan apa pun jenisnya adalah atas kehendak Allah dan ditentukan oleh Allah. Padahal ayat lain menyatakan bahwa kerusakan bumi diakibatkan oleh perbuatan manusia, bukan karena Allah telah menghendaki kerusakan tersebut (al-Rum [30]: 41).

Ayat lain yang menjadi rujukan para pengikut Jabariyah adalah Q. S. Al-Anfal [8]: 17).

öNn=sù öNèdqè=çFø)s?  ÆÅ3»s9ur ©!$# óOßgn=tGs% 4 $tBur |Mø‹tBu‘ øŒÎ) |Mø‹tBu‘  ÆÅ3»s9ur ©!$# 4’tGu‘ 4

“Maka bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah lah yang melempar” (Q. S. Al-Anfal [8]: 17).

Ayat ini tidak bisa dipahami sebagai bukti ketidakkuasaan manusia (Nabi dan para sahabatnya) dalam kasus memerangi orang kafir yang mengakibatkan terjadinya pembunuhan, tetapi menunjukan bahwa kuasa Tuhan ikut serta dalam perbuatan mereka.

Dengan sangat bijak dalam melihat relasi antara perbuatan Tuhan dan manusia, M. Quraish Shihab menjelaskan maksud ayat ini:

“Yang dimaksud bukan engkau yang melempar bukanlah menafikan gerak tangan Nabi dan pelemparan yang beliau lakukan, terbukti dengan redaksi berikutnya yakni ketika engkau melempar, tetapi maksudnya bukan engkau yang menghasilkan dampak pelemparan tersebut. Karena kalau Nabi yang melakukannya, mana mungkin segenggam batu dapat mengenai tepat mata lawan, bahkan mengenai mereka semua yang jumlahnya seribu orang lebih.”[10]

Ini menandakan bahwa manusia mempunyai kekuasaan untuk melakukan pelemparan tetapi mesti diingat bahwa Tuhan lah yang menggerakan manusia sehingga mampu melemparkan batu. Karena Tuhan yang menggerakan manusia, maka Tuhan dalam pemikiran sebagian filosof dinamakan penggerak pertama dan utama sedangkan manusia adalah penggerak kedua dan seterusnya yang digerakan oleh Tuhan.

Walau pun mereka mampu menggerakan dirinya untuk melemparkan batu ke arah musuh, tetapi dalam konteks perang badar, kejadiannya menunjukan sesuatu yang di luar nalar manusia sehingga wajar kalau muncul pemahaman bahwa yang memenangkan peperangan adalah Tuhan melalui para malaikatnya. Mengenai hal ini, Shihab menjelaskan bahwa kemenangan perang Badar sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia atau hukum-hukum sebab akibat. Kemenangan itu benar-benar merupakan kekuasaan dan pertolongan Allah.[11]

Orang Jabariyyah memahami ayat ini sebagai bukti adanya otoritas Tuhan dan tidak adanya otoritas manusia. Bagi mereka, peristiwa perang Badar menunjukan bahwa Nabi dan para sahabatnya tidak mempunyai kemampuan untuk mengalahkan orang-orang kafir. Sangat tidak mungkin kalau menurut nalar manusia kaum muslimin yang jumlahnya sedikit bisa mengalahkan kaum kafir yang banyak dan persenjataannya lebih lengkap. Sangat jelas bahwa yang mempunyai kemampuan dan kekuasaan untuk mengalahkan mereka adalah Allah. Karena demikian, maka kehendak dan kekuasaan yang ada adalah hanyalah kehendak dan kekuasaan Allah dan sangat wajar kalau Allah lah yang bebas berkehendak dan berbuat sementara manusia tidak bebas berkehendak dan berbuat.

 

  1. Perkembangan Teologi dan Konsep Kemampuan dan Kehendak Manusia

Ada dua istilah untuk menunjukan konsep keimanan perspektif akal, yaitu ilmu kalam dan teologi. Keduanya dipahami sebagai kajian tentang poin-poin kepercayaan religius berdasarkan kriteria rasional.[12] Kedua istilah itu kadang artinya dibedakan tetapi lebih sering maksudnya sama. Salah satu konsep yang membedakan antara ilmu kalam dan teologi bahwa ilmu kalam dianggap kurang progresif dalam membangun peradaban manusia.[13] Ilmu kalam hanya berbicara tentang konsep tauhid yang tidak dihubungkan dengan perubahan sosial, sementara teologi adalah konsep tauhid yang terkait dengan perubahan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik. Hemat penulis konsep yang membedakan perbedaan keduanya tidak mempunyai argumen yang kuat selain perbedaan dari sisi etimologi dan sejarah kemunculannya. Ilmu kalam adalah istilah bahasa Arab sementara teologi (theo dan logos) pada awalnya adalah bahasa Yunani yang kemudian menjadi bahasa Inggris (theology). Ilmu kalam muncul di dunia Islam terutama diinspirasi oleh kekisruhan politik pada masa khalifah Ali ibn Abu Thalib. Teologi muncul di dunia Barat yang didorong oleh para pemikir Kristen ketika mereka melihat adanya kebekuan masyarakat ketika gereja dianggap sebagai rujukan kebenaran tetapi tidak mempunyai pengaruh kuat terhadap kemajuan masyarakat Barat. Mereka melahirkan teologi pembebasan untuk menegaskan bahwa keimanan terhadap Yesus Kristus harus mempunyai dampak yang kuat terhadap perkembangan umat.

Ada beberapa paham teologi yang berkembang yang menjelaskan tentang kekuasaan dan ikhtiar manusia sebagaimana yang digambarkan dalam tabel berikut ini.[14]

No Paham/Teologi Konsep tentang Kekuasaan dan Ikhtiar
1 Qadariyah/Mu’tazilah Kekuasaan dan ikhtiar diserahkan kepada manusia. Manusia menciptakan kekuasaan sendiri sehingga mereka bebas berkehendak (free will). Walaupun demikian, kebebasan manusia dibatasi oleh atau terikat dengan hukum alam. Kebebasan manusia adalah mengikuti hukum alam.
2 Jabariyah Manusia sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan ikhtiar untuk menentukan dirinya sendiri tetapi Tuhan lah yang mempunyai kekuasaan dan kehendak. Dia adalah pencipta kekuasaan dan kehendak.
3 Asy’ariyah Mencari jalan tengah antara Qadariyah dan Jabariyah, yaitu manusia tidak menciptakan kekuasaan dan kehendak, tetapi ia mempunyai kemampuan untuk melakukan usaha walaupun hasil usahanya sesuai dengan kekuasaan dan kehendak Tuhan.
4 Maturidiyah Ada dua perbuatan, yaitu perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia. Allah menciptakan perbuatan, sementara manusia melakukan perbuatan yang diciptakan oleh Tuhan. Perbuatan Tuhan asli, sementara perbuatan manusia semu.

Tabel 1. Perkembangan paham ketuhanan atau teologi Islam

Berdasarkan tabel ini, perbedaan konsep yang sangat mencolok adalah antara teologi Qadariyah dan Jabariyyah. Konsep kekuasaan dan ikhtiar antara keduanya menunjukan bahwa manusia di satu sisi dianggap sebagai makhluk Tuhan yang berkuasa terhadap kehendaknya dan sisi lain manusia dipahami sebagai makhluk Tuhan yang tidak berkuasa sama sekali terhadap kehendaknya. Dalam sejarah, Kedua kutub pemikiran ini mempunyai pengaruh terhadap kemajuan dan kemunduran dunia Islam.

  1. Mu’tazilah dan Kebebasan Kehendak Manusia

Mu’tazilah adalah paham teologi yang lahir dalam dunia Islam. Pendukung mazhab teologi Mu’tazilah dianggap sebagai kaum rasionalis “yang mengagungkan hasil pemikiran rasio manusia dan menganggapnya sebagai petunjuk kebenaran yang mutlak melebihi al-Qur’an.” [15] Mereka juga mendeklarasikan konsep keterciptaan al-Qur’an.[16]

Mu’tazilah juga mengedepankan pemahaman tentang kemahadilan Tuhan. Konsep ini “menghendaki agar manusia sendirilah yang melakukan perbuatan dalam arti kehendak dan daya yang diperlukan untuk mewujudkan perbuatan, haruslah kehendak dan daya manusia sendiri, dan bukan kehendak dan daya Tuhan, sebagaimana terdapat dalam paham Jabariyah atau fatalisme.”[17]

Hanya saja Mu’tazilah terlalu gegabah dengan mengatakan bahwa Tuhan selalu mengganjar manusia yang pantas bagi mereka karena manusia dapat memilih tindakan mereka semaunya.[18] Padahal tidak selalu demikian. Manusia tidak selalu dapat memilih tindakan semaunya. Penentuan jenis kelamin tidak didasarkan pada kemauan dan tindakan manusia tetapi Allah yang berkuasa untuk menentukan jenis kelamin seseorang. Dia tidak bisa diintervensi oleh siapapun.

Dalam perkembangan selanjutnya, teologi Mu’tazilah dinamakan sebagai teologi sunatullah. Sunatullah adalah hukum alam. Teologi sunnatullah adalah teologi hukum alam atau teologi sebab akibat. Teologi sunatullah muncul pada Zaman Klasik. Ulama-ulama pada saat itu sadar akan tingginya kedudukan akal dalam al-Qur’an dan Hadits. Ciri-ciri Teologi sunnatullah:

  1. Kedudukan akal yang tinggi
  2. Kebebasan manusia dalam kemauan dan perbuatan
  3. Kebebasan berpikir hanya diikat oleh ajaran-ajaran dasar dalam al-Qur’an dan hadits yang sedikit sekali jumlahnya
  4. Percaya adanya sunnatullah dan kausalitas
  5. Mengambil arti metaforis dari teks wahyu
  6. Dinamika dalam sikap dan berpikir[19]

Salah seorang tokoh muslim pendukung teologi sunnatullah yang sangat berpengaruh di dunia Islam adalah Muhammad. Sebagai contoh, ia menafsirkan ungkapan Allah al-shamad (Q. S. Al-Ikhlas [112]: 2) dengan menghubungkannya dengan keberlakuan hukum alam yaitu hukum sebab akibat. Salah satu penjelasan tentang kandungan ayat tersebut adalah sebagai berikut:

“seseorang yang menginginkan sesuatu hasil, ia harus menempuh prosedur yang terkait langsung dengan keberhasilan itu. Ia juga mengemukakan betapa penting peranan kasab (usaha), kehendak dan potensi manusia dalam menentukan keberhasilan suatu hajat, sesuatu yang didambakan. Memang betul adanya, bahwa Allah adalah tempat menggantung segala kebutuhan, tetapi untuk tercapainya sesuatu yang diinginkan, demikian kelihatannya menurut Muhammad Abduh, peranan usaha atas dasar kehendak dan daya yang ada pada manusia, amat menentukan.”[20]

Pernyataan ini menegaskan bahwa usaha merupakan hal yang sangat penting bagi manusia untuk mencapai apa yang diinginkan. Allah tempat bersandar tidak dimaknai sebagai kepasrahan manusia sehingga mereka hanya berdiam diri tanpa melakukan usaha untuk mencapai suatu tujuan hidup. Manusia mesti bergerak dan berusaha keras untuk mencapainya. Takdir Allah adalah sesuatu yang misterius dan rahasia. Sehingga manusia harus berusaha untuk menentukan takdirnya sendiri. Allah tempat bersandar dimaknai bahwa Allah akan mengabulkan apa yang diinginkan manusia sesuai dengan usahanya.

Abduh juga menjelaskan bahwa manusia diciptakan sesuai dengan sifat-sifat dasar manusia yang khusus, di antaranya ialah manusia makhluk yang berpikir dan mereka memilih suatu perbuatan sesuai dengan jalan pikirannya.[21] Dengan demikian, manusia makhluk yang bebas menentukan perbuatannya sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Kehidupan manusia tidak ditentukan oleh Tuhan tetapi ia sendiri yang menentukannya. Ini lah hakikat manusia sebagai makhluk yang mempunyai kehendak bebas.

Salah satu tokoh muslim Indonesia yang setuju dengan teologi sunnatullah adalah Harun Nasution sehingga ia dianggap sebagai neo-Mu’tazilah. Ia menjelaskan dua ajaran agama yang berkenaan dengan produktivitas hidup manusia. Pertama, ajaran agama yang berkenaan dengan kehidupan akhirat, yaitu kehidupan setelah masa kehidupan dunia berakhir. Kalau manusia menganggap kehidupan dunia penting, maka manusia akan produktif karena ia menyempurnakan proses dengan berusaha keras. Sebaliknya kalau hanya kehidupan akhirat yang penting, maka kehidupan manusia akan mundur karena manusia tidak produktif. Kedua, agama mengajarkan tentang adanya nasib dan perbuatan manusia. Kalau nasib dan perbuatan manusia telah diciptakan oleh Tuhan, yaitu telah ditentukan oleh Tuhan, maka produktivitas manusia akan sangat rendah. Tetapi kalau nasib dan perbuatan manusia ditentukan oleh diri mereka sendiri, dalam arti Tuhan tidak menciptakan nasib dan perbuatan tersebut, maka produktivitas akan tinggi karena manusia diberi kebebasan untuk maju dan berkembang.[22]

  1. Jabariyyah dan Kehendak Mutlak Tuhan

Lawan dari teologi kebebasan manusia adalah teologi kehendak mutlak Tuhan. Teologi ini muncul dari pemikiran Jabbariyah tentang ketidakbebasan manusia dalam berkehendak dan sebaliknya kebebasan dan kemutlakan Tuhan dalam berkehendak. Teologi ini didasarkan pada pemikiran bahwa hanya Tuhan lah yang berkehendak sedangkan selain-Nya hanya digerakkan oleh kehendak-Nya. Manusia hanya menerima kehendak-Nya tanpa mampu melawan kehendak-Nya.

Teologi ini berkembang dan dipaksakan sebagai otoritas satu-satunya teologi pada zaman pertengahan Islam. Ciri-ciri teologi kehendak mutlak Tuhan:

  1. Kedudukan akal yang rendah
  2. Ketidakbebasan manusia dalam kemauan dan perbuatan
  3. Kebebasan berpikir yang diikat dengan banyak dogma
  4. Ketidakpercayaan kepada sunnatullah dan kausalitas
  5. Terikat kepada arti tekstual dari al-Qur’an dan Hadits
  6. Statis dalam sikap dan berpikir[23]

 

  1. Implikasi Teologi Mu’tazilah dan Paham Jabbariyah bagi Pendidikan

Teologi Mu’tazilah menjadi kekuatan untuk memajukan umat. Hal ini telah dibuktikan pada zaman Klasik Islam. Banyak para cendekiawan muslim lahir pada zaman tersebut dan memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan umat dalam segala bidang, termasuk pendidikan.

Teologi Jabbariyah sebaliknya memberikan pengaruh negatif terhadap kemajuan umat. Hal ini telah dibuktikan pada zaman pertengahan Islam. Pada zaman tersebut, doktrin-doktrin Jabbariyah terlalu kuat sehingga mempengaruhi pola pikir dan pola tindak masyarakat, termasuk tokoh-tokoh Islam. Masyarakatnya menjadi stagnan dan para ulamanya terlalu dikungkung oleh doktrin-doktrin yang mengharamkan filsafat dan pemikiran-pemikiran filsafat. Akibatnya, masyarakat tidak maju karena bidang-bidang kemasyarakatan tidak maju, termasuk pendidikan.

Sebuah artikel dari Harun Nasution semakin menunjukan secara tegas dampak positif teologi sunnatullah terhadap kemajuan umat dan dampak negatif teologi Jabariyah terhadap kemunduran umat. Artikel yang berjudul “Teologi Islam dan Upaya Peningkatan Produktivitas” menegaskan pentingnya teologi sunnatulllah untuk memajukan umat. Teologi yang didasarkan pada cara berpikir rasional, ilmiah, dan filosofis ini telah mendorong kemajuan Islam pada Zaman Klasik (650-1250 M). Pada zaman ini, politik, ekonomi, pertanian, sains, ilmu al-Qur’an, tafsir, fikih, akidah, dan tasawuf berkembang sedemikian rupa sehingga umat Islam menjadi umat yang jaya.[24] Sebaliknya teologi Jabariyah yang anti berpikir rasional, ilmiah, dan filosofis telah mendorong keterpurukan dunia Islam. Hal ini telah dibuktikan pada Zaman Pertengahan Islam (1250- 1800 M). Pada zaman tersebut, produktivitas dalam bidang filsafat dan sains hilang dan produktivitas dalam bidang ekonomi, industri, dan pertanian menurun drastis. Hanya bidang politik yang masih menonjol dengan bertahannya tiga kerjaan besar Islam, yaitu Kerajaan Turki Usmani, Kerajaan Safawi, dan Kerajaan Mughal.[25]

Setelah Zaman pertengahan berakhir, umat Islam sampai pada masa modern (1800 sampai sekarang), yaitu masa kebangkitan kembali teologi sunnatullah di sebagian negara Islam. Masa ini mampu membangkitkan semangat rasional dan ilmiah di sebagian kalangan tokoh muslim, yaitu ditandai dengan berhasilnya negara-negara Islam keluar dari penjajahan fisik kalangan Barat. Tetapi sayangnya, di saat dunia muslim memodernisasi dirinya, dunia Barat sudah terlalu kuat mencengkram dunia Islam sehingga walaupun negara-negara Islam telah merdeka, tetapi secara ideologi,mereka sampai saat ini masih dijajah oleh Barat.

Melihat fakta sejarah mengenai pengaruh teologi sunnatullah dan Jabariyah, teologi Mu’tazilah sepertinya akan mampu memajukan pendidikan saat ini dan sebaliknya teologi Jabariyah akan memundurkan pendidikan. Berpikir rasional dan ilmiah masih dianggap penting untuk ditanamkan dalam lingkungan pendidikan kita saat ini. Ilmuwan-ilmuwan muslim seperti yang lahir pada Zaman Klasik masih ditunggu kelahiran dan perannya dalam kehidupan. Namun pola pendidikan yang berbasis pada konsep berpikir rasional dan ilmiah dan kelahiran para ilmuwan yang ditunggu-tunggu akan menghadapi pertentangan dari pribadi-pribadi muslim yang lain yang berpikir irasional, instant, dan politis, selain tentu saja dari ideologi Barat yang masih kuat mempengaruhi dunia Islam. Dengan demikian, menanti kemajuan Islam saat ini seperti pada Zaman Klasik memerlukan perjuangan yang super keras yang bisa jadi hanya merupakan mimpi di siang bolong.

 

  1. Kesimpulan

            Al-Qur’an memuat tentang konsep tentang kebebasan dan ketidakbebasan manusia dalam berkehendak dan bertindak. Perbedaan kedua konsep kehendak manusia ini menunjukan bahwa al-Qur’an mengakomodasi dua kutub pemahaman yang berbeda tersebut. Di sisi lain, al-Qur’an juga memuat tentang konsep jalan tengah yang ditunjukan oleh pemikiran Asy’ariyah, yaitu jalan tengah antara kebebasan dan ketidakbebasan manusia dengan menyatakan bahwa manusia bebas berkehendak tetapi kebebasannya dibatasi oleh kemutlakan kuasa Tuhan.

Konsep tentang kemampuan dan kehendak manusia bermuara pada dua pemikiran yang berbeda, yaitu paham Qadariyah di satu sisi dan paham Jabariyah di sisi lain. Dalam prakteknya, paham Qadariyah dijadikan kekuatan oleh Mu’tazilah untuk menyatakan gerakan teologinya dan melahirkan teologi Sunnatullah. Dalam prakteknya, sebagian paham Jabariyah dijadikan pegangan oleh As’ariyyah tetapi diberi tafsiran yang berbeda dan kemudian di antaranya melahirkan teologi kehendak mutlak Tuhan.

Teologi sunnatullah telah memberikan bukti nyata bagi kemajuan pendidikan dan sebaliknya teologi kehendak mutlak Tuhan telah membuktikan kemunduran dunia pendidikan. Dalam konteks pendidikan sekarang, pemilihan teologi sunnatullah menjadi teologi pendidikan merupakan langkah yang bisa dipertanggung jawabkan walaupun belum tentu akan berhasil seperti yang terjadi pada Zaman Klasik.

Daftar Pustaka

Arif, Mahmud. 2008. Pendidikan Islam Transformatif. Yogyakarta: LKiS.

Hasbi, A. Kahar Muzakari. 1994. Ilmu Kalam II. Bandung: CV. Maju Raya.

Hitti, Philip K. 2008. The History of Arabs. Terjemahan dari The History of Arabs; From The Earliest Times to The Present Oleh R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.

Hodgson, Marshall G. S. 2002. The Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia (The Venture of Islam: Conscience and History in a World Civilization). Penerj.: Mulyadhi Kartanegara Jakarta: Paramadina.

Lewis, Bernad, dkk. 2002. Islam Liberalisme Demokrasi. Jakarta: Paramadina.

Misrawi, Zuhairi. 2010. Al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin. Jakarta: Pustaka Oasis.

Muzani, Syaiful (Ed.). 1995. Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Prof. Dr. Harun Nasution. Bandung: Mizan.

Nawawi, Rifat Syauqi. 2002. Rasionalitas Tafsir Muhammad Abduh: Kajian Masalah Akidah dan Ibadah. Jakarta: Paramadina.

Shihab, M. Quraish. 2003. Wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan.

—– . 2010. Tafsir al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.

[1]M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2003), cet. ke-14, hlm. 277.

[2]Syaiful Muzani (Ed.), Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Prof. Dr. Harun Nasution, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 37-8.

[3]Sumber otoritas (kewenangan) adalah tradisi, wahyu (Tuhan), kualitas pribadi, peraturan perundang-undangan, dan hal yang bersifat instrumental. Mahmud Arif, Pendidikan Islam Transformatif, (Yogyakarta: LKiS, 2008), hlm. 148.

[4]Zuhairi Misrawi, Al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, (Jakarta: Pustaka Oasis, 2010), hlm. 370.

[5]Bernad Lewis, dkk., Islam Liberalisme Demokrasi, ( Jakarta: Paramadina, 2002), hlm. 28.

[6]Marshall G. S. Hodgson, The Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, Penerjemah: Mulyadhi Kartanegara (The venture of Islam: Conscience and History in A World Civilization), (Jakarta: Paramadina, 2002), hlm. 271.

[7]M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2010), vol. ke-6, cet. ke-3, hlm. 232-3.

[8]Shihab, Wawasan Al-Qur’an, hlm. 35.

[9]Shihab, Tafsir al-Mishbah, vol. 13, hlm. 446.

[10]Ibid., vol. 4, hlm. 487.

[11]Ibid., hlm. 488.

[12]Hodgson, The Venture of Islam, hlm. 266.

[13]Pemahaman ini muncul ketika penulis mempelajari sejarah ilmu Kalam dalam mata kuliah Ilmu Kalam di strata satu. Tetapi pemahaman ini terbantahkan ketika penulis membaca buku-buku tentang teologi pembebasan baik yang muncul di dunia Barat (Kristen) maupun di dunia Islam. Di dunia Barat, kekuatan keimanan yang mampu merubah tersebut disebutnya teologi, sementara di dunia Islam, diterima atau tidak namanya ilmu kalam atau ilmu tauhid. Sampai sekarang, masih banyak orang yang membedakan teologi dan ilmu kalam.

[14]Diadaptasi dari A. Kahar Muzakar Hasbi, Ilmu Kalam II, (Bandung: CV. Maju Raya, 1994), hlm. 99-104.

[15]Philip K. Hitti, The History of Arabs. Terjemahan dari The History of Arabs; From The Earliest Times to The Present Oleh R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta. 2008), Cet. Ke-1, hlm. 541.

[16]Ibid., hlm. 542.

[17]Muzani, Islam Rasional, hlm. 130.

[18]Hodgson, The venture of Islam, hlm. 271.

[19]Muzani, Islam Rasional, hlm. 112.

[20]Rifat Syauqi Nawawi, Rasionalitas Tafsir Muhammad Abduh: Kajian Masalah Akidah dan Ibadah, (Jakarta: Paramadina, 2002), hlm. 123.124.

[21]Ibid., hlm. 125.

[22]Muzani, Islam Rasional, hlm. 111.

[23]Muzani, Islam Rasional, hlm. 116.

[24]Ibid., hlm. 112-116.

[25]Ibid., 116-118.

Posted in: Artikel