PENDIDIKAN KARAKTER DI LEMBAGA PENDIDIKAN FORMAL DAN NON-FORMAL (STUDI KASUS DI YAYASAN ISLAM GUNUNG JATI DESA BANGBAYANG KEC. TEGAL BULEUD KAB. SUKABUMI DAN YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM DAR AL-HUFÂZH KEC. JATINANGOR KAB. SUMEDANG)

Posted on October 11, 2011

0


PENDIDIKAN KARAKTER DI LEMBAGA PENDIDIKAN FORMAL DAN NON-FORMAL

(STUDI KASUS DI YAYASAN ISLAM GUNUNG JATI

DESA BANGBAYANG KEC. TEGAL BULEUD KAB. SUKABUMI

DAN YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM DAR AL-HUFÂZH

KEC. JATINANGOR KAB. SUMEDANG)

Oleh:

Ceceng Salamudin

 

A. Pendahuluan

Mengapa seorang muslim tega membunuh atau melukai saudaranya sesama muslim adalah pertanyaan yang mengganggu pikiran kita sebagai manusia yang beragama dan berbudaya. Bom bunuh diri yang dilakukan oleh seorang teroris muslim dan melukai saudaranya sesama muslim menjadi tantangan bagi kita untuk merumuskan dan mempraktekan pendidikan yang anti kekerasan. Belum lagi masih banyak wujud kekerasan atas nama budaya, agama, ras, suku, jender, dan golongan yang membuat kita mempertanyakan keberhasilan pendidikan selama ini. Pendidikan kita belum mampu memanusiakan manusia. Dengan demikian, perlu paradigma pendidikan yang berbasis pada nilai inti kemanusiaan.

Pendidikan karakter harapan baru menuju pendidikan yang mencerahkan. Ia diharapkan menjadi solusi bagi “kejumudan” pendidikan selama ini. Namun dikhawatirkan gagasan mengenai pendidikan karakter ini hanya sekedar wacana yang seiring waktu lenyap dimakan waktu dan tidak mempunyai pengaruh baik terhadap pendidikan. Kalau sekedar wacana, maka pendidikan karakter justru akan menjadi kontraproduktif bagi pengembangan karakter peserta didik[1]. Oleh karena itu, perlu adanya pengkajian dan penelian tentang pendidikan karakter di lembaga pendidikan sehingga kita akan menemukan akar pendidikan karakter yang bisa dikembangkan lebih jauh dan menjadi paradigma pendidikan berskala nasional.

Tulisan ini merupakan laporan hasil penelitian berskala kecil yang dilakukan di dua yayasan yang bergerak di bidang pendidikan formal dan non-formal. Keduanya adalah Yayasan Islam Gunung Jati (YIGJ) Tegal Buleud Sukabumi dan Yayasan Pendidikan Islam Dar al-Hufâzh (YPIDH) Jatinangor Sumedang. Keduanya sama-sama menyelenggarakan pendidikan formal. YIGJ menyelenggarakan pendidikan jenjang SMP dan SMA Islam, sedangkan YPIDH menyelenggarakan MI, Mts., dan MA. Khusus YIGJ, ia juga menyelengarakan pendidikan pondok pesantren.

Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai karakter yang diduga telah diimplementasikan di kedua yayasan tersebut sehingga peneliti bisa merumuskan sendiri apa hakikat pendidikan karakter dan bagaimana ia dipraktekan. Selain itu, penelitain ini juga akan mengkaji permasalahan yang membuat penanaman karakter menjadi terlambat dan terhambat. Sebagai studi lapangan yang bersifat kualitatif, teknis pengumpulan datanya menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Karena penelitian ini berskala kecil, maka informasi yang didapatkan dan waktu yang tersedia terbatas. Walaupun demikan, peneliti tetap menggarapnya dengan serius sehingga hasil yang didapatkan bisa benar-benar menjadi rujukan bagi para peneliti untuk mengembangkan pendidikan karakter.

B. Konsep, Praksis, dan Hambatan Pendidikan Karakter di Kedua Yayasan Tersebut

Sebelum melaporkan hasil penelitian, kiranya tepat mengemukakan konsep pendidikan karakter yang telah dirumuskan oleh para ahli sebelumnya. Hal ini agar penelitian ini mempunyai landasan teori yang bisa dipertanggungjawabkan.

  1. 1.      Pendidikan Karakter

Secara umum, karakter diartikan sebagai “watak, tabiat, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues)”.[2] Akar kata karakter bisa dilacak pada bahasa latin, kharassein dan kharax yang berarti tools for making, to engrave, dan pointed stake. Pada abad ke-14,  kata ini populer digunakan dalam Bahasa Perancis, ‘caractere’, kemudian masuk ke dalam Bahasa Inggris menjadi “character” selanjutnya menjadi Bahasa Indonesia, “karakter”. [3] Dalam bahasa Indonesia, karakter dapat diartikan sebagai sifat-sifat, tabiat, atau watak kejiwaan. Kamus Arab-Inggris “Al-Mawrid” karya Ba’albaki, mendefinisikan karakter sebagai tabiat atau sifat. Secara lebih luas, al-Khuli memaknai karakter sebagai kesatuan ciri-ciri pribadi seseorang yang melekat selamanya.[4]

Berdasarkan definisi tersebut, pendidikan karakter diartikan sebagai pendidikan yang berorientasi pada penanaman watak, tabiat, akhlak atau kepribadian yang mulia. Walaupun istilah karakter bukan hanya bermakna positif[5], tapi istilah pendidikan karakter ditujukan untuk membangun pendidikan yang positif. Secara lebih luas dan mendalam, pendidikan karakter diartikan sebagai:

“Proses pembentukan jati diri manusia yang dilakukan dengan cara membangun kualitas logika, akhlak, dan keimanan. Pembentukannya diarahkan pada proses pembebasan manusia dari ketidakmampuan, ketidak benaran, ketidakjujuran, ketidakadilan dan dari buruknya akhlak dan keimanan. Dengan proses tersebut, diharapkan terbentuk jati diri manusia yang berwatak, berakhlak, dan bermartabat.”[6]

Berdasarkan penjelasan tersebut, pendidikan karakter berorientasi pada pengembangan fungsi akal dan hati yang sehat yang akan membentuk akhlak peserta didik yang mulia, yaitu akhlak kepada Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam sekitar.  Hal ini dipertegas oleh penjelasan lain tentang pendidikan karakter, yakni pendidikan budi pekerti plus yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).[7] Pendidikan karakter yang diduga dicetuskan pertama kali oleh pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966) menekankan dimensi etis spiritual dalam proses pembentukan pribadi peserta didik.[8] Dengan demikian, akan lebih baik kalau nilai-nilai agama dilibatkan dalam pengembangannya.

Dalam prakteknya, pendidikan karakter harus memenuhi tiga proses berikut, yaitu proses pemberdayaan (empowering) potensi peserta didik, proses humanisasi (humanizing), dan proses pembudayaan (civilizing). Sebagai proses pemberdayaan, pendidikan karakter harus mendorong pemberdayaan dan pengembangan peserta didik sehingga mereka menyadari dirinya sebagai makhluk yang mempunyai banyak potensi[9]. Sebagai proses humanisasi, pendidikan karakter harus mampu menyadarkan manusia sebagai manusia. Dengan demikian proses pendidikan tidak menjadikan peserta didik sebagai objek atau robot bagi orang dewasa, tapi sebaliknya mendorong mereka menjadi subjek yang bebas, mandiri, dan kritis. “Pendidikan karakter haruslah mampu menyadarkan peserta didik tentang eksistensi dirinya dan tentang realitas sosialnya, dan untuk selanjutnya, dengan kesadarannya, peserta didik bersama-sama pendidik melakukan perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik.”[10] Sebagai proses pembudayaan, pendidikan karakter “membantu membangun sistem pengetahuan, nilai-nilai, sistem keyakinan, norma-norma, tradisi atau kebiasaan, peraturan yang koheren dan berguna bagi individu, sekolah, keluarga, masyarakat, dan bagi bangsa dan negara sebagai satu kesatuan sehingga terbentuk kelompok masyarakat yang beradab.”[11]

Agar pendidikan karakter bisa berfungsi semestinya, tiga basis desain sangat diperlukan: (1) desain pendidikan karakter berbasis kelas. “Desain ini berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar di dalam kelas”, (2) desain pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. “Desain ini mencoba membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa”, dan (3) desain pendidikan karakter berbasis komunitas. “Dalam mendidik, komunitas sekolah tidak berjuang sendirian. Masyarakat di luar lembaga pendidikan, seperti keluarga, masyarakat umum, dan negara, juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka”.[12]

2. Konsep, Praksis, dan Hambatan Pendidikan Karakter di Yayasan Islam Gunung Jati (YIGJ)

Sebelum menjadi YIGJ pada tahun 2008, yayasan ini bernama Yayasan Pendidikan Islam Gunung Jati dan berdiri pada tahun 2002. Cikal bakal pendiran YPIGJ telah ada sejak tahun 1950an dengan penyelenggaraan pendidikan Islam di Majlis Ta’lim, Madrasah Diniyyah Awwaliyyah al-Baraqah, dan Pondok Pesantren al-Baraqah.  Selanjutnya, pada tahun 2007 didirikan SMP Islam Al-Fiyyah yang menginduk pada SDN Buniwangi Bangbanyang, baik secara administrasi maupun dalam pelaksanaan pembelajarannya. Pada tanggal 22 Desember 2010 (16 Muharram 1432 H), kampus terpadu untuk SMP dan SMA Al-Fiyyah dibangun dan diresmikan oleh Bupati Sukabumi, Drs. H. Sukmawijaya, M. M.  Dengan peresmian ini, SMP Islam telah memisahkan diri dari SDN Buniwangi, sekaligus pendidikan SMA bisa diselenggarakan pada tahun berikutnya. Sampai saat ini, YIGJ menyelenggarakan pendidikan Pondok Pesantren, Madrasah Diniyyah Awwaliyah, Majlis Ta’lim, SMP Islam, dan SMA Islam.

Berdasarkan visi, misi, dan tujuannya, SMP dan SMA Islam Al-Fiyyah  memiliki keunggulan sebagai sekolah terpadu. Yang dimaksud terpadu dalam konteks sekolah tersebut adalah (1) memadukan materi pendidikan formal dengan non formal seperti penggabungan kurikulum umum dengan kurikulum lokal khas pesantren, yaitu tahfizh al-Qur’an, BTQ (Baca Tulis al-Qur’an), dan kegiatan berjamaah di sekolah, (2) memadukan nilai keagamaan dengan nilai sain, seperti ketika belajar biologi, siswa dikenalkan dengan ayat-ayat atau hadits yang terkait dengan biologi dan bagaimana guru dan peserta didik bisa mengambil nilai-nilai keagamaan dari pelajaran biologi. Konsep sekolah terpadu ini menjadi konsep penguatan karakter peserta didik dalam mengembangkan potensinya. Dengan demikian, secara tidak langsung, konsep sekolah terpadu menjadi konsep pendidikan karakter.

Praktek pendidikan karakter telah dilakukan di YPGJ. Di SMP Islam, pembentukan karakter dilakukan melalui (1) hapalan Juz ‘Amma. Kelas VII menghapal al-Qur’an dari Q. S. al-Nâs [114] sampai Q. S. al-Dhuhâ [93]. Kelas VIII dari Q. S. al-Dhuhâ [93] sampai Q. S. al-A’lâ [87]. Kelas IX dari Q. S. al-A’lâ [87] sampai Q. S. al-Naba [78] dan (2) melalui Shalat berjamaah dzuhur dan (3) konsep menanam rempah-rempah di kebun sekolah untuk menanmkan nilai tanggung jawab memakmurkan bumi. DI SMA, pembentukan karakter dilakukan melalui (1) hapalan Juz ‘Amma dan juz 1 (hapalan juz I dikhususkan bagi peserta didik lulusan SMP Islam al-Fiyyah), (2) shalat berjamaah Ashar dan (3) konsep memakmurkan bumi dengan menanam rempah-rempah di kebun sekolah. Jadi, kebun sekolah ini digarap oleh peserta didik SMP dan SMA. Di Pesantren al-Baraqah, materi pelajaran dan aktivitas yang mampu membangun karakter santri adalah Hafalan al-Qur’an dua juz (Juz 1 dan juz 30) untuk santri tingkat SMP dan tiga juz (ditambah juz 2) untuk santri tingkat SMA, berjamaah setiap waktu Muhâzharah (latihan menjadi pembawa acara, pembaca al-Qur’an dan shalawat, dan ceramah), BTQ, dan gotong royong dengan masyarakat membersihkan lingkungan pesantren. Pesantren adalah salah satu pusat pendidikan karakter karena “proses pendidikan di pesantren diarahkan pada pembentukan kualitas iman, logika dan akhlak. Terkait dengan itu, pembangunan pendidikan di lingkungan pondok pesantren tidak sekedar membangun fasilitas belajar semata karena yang lebih penting adalah melakukan proses pembentukan kualitas jati diri dan kematangan kepribadian santri secara utuh dan total.”[13]

Pengaruh positif dari penanaman nilai di sekolah dan pesantren adalah peseta didik mampu mengendalikan diri untuk tidak berkata kasar, padahal sebelum mereka masuk pesantren dan sekolah, berkata kasar sudah menjadi tradisi sebagian besar anak-anak di daerah tersebut. Kemampuan mengendalikan diri ini menunjukan bahwa akhlak siswa lebih bagus. Khusus terkait dengan tradisi membersihkan lingkungan pesantren, santri sudah terhindar dari penyakit budug yang dianggap sebagai something given oleh Tuhan. Dengan demikian, penyakit gatal ini sudah tidak identik lagi dengan pesantren tradisional.

Dengan latar belakang lembaga pendidikan yang berada di daerah pinggiran, yakni sekitar 80 km dari kota, tepatnya di daerah Jampang Tengah, permasalahan muncul di YIGJ, yaitu pesantren dan sekolah kekurangan guru yang sesuai dengan materi atau mata pelajaran yang diampu. Hal ini bisa diamati dengan banyaknya guru yang rangkap mengajar; guru pesantren merangkap guru SMP dan SMA sekaligus. Rangkap mengajar ini membuat proses pembelajaran tidak efektif. Selain tidak profesional,ia juga berdampak pada ketidakefektifan penguatan karakter peserta didik. Selain itu, fasilitas belajar pun masih belum memadai. Ruang perpustakaan untuk menanamkan nilai pentingnya membaca belum ada padahal cinta membaca merupakan nilai karakter yang mesti ditanamkan. Masjid pun kurang memadai padahal mesjid tempat pembentukan karakter anak melalui sholat berjamaah atau kegiatan lainnya.

3. Konsep, Praksis, dan Hambatan Pendidikan Karakter di Yayasan Pendidikan Islam Dar al-Hufâzh (YPIDH)

Cikal bakal pendidikan di YPIHD telah ada sejak tahun 1990an, yaitu dengan penyelenggaraan pendidikan Madrasah Dîniyyah Awwaliyyah. Di madrasah ini, pendidikan diarahkan untuk anak-anak usia 6 sampai 12 tahun.  Pada tahun 2008, secara remsi didirikanYPIDH yang menyelenggarakan pendidikan formal; MI dan Mts, kemudian MA pada tahun 2011. Sesuai dengan namanya, Dar al-Hufâzh (yang artinya tempat para penghafal), lembaga ini menggagas metode cepat menghapal al-Qur’an yang dinamakan al-Barq (yang artinya kilat yang berarti cepat seperti kilat) melalui konsep 3T, yaitu Tahsîn (membaca), Tarjîm (menerjemahkan), dan Tahfîzh (menghapal). Metode ini diterapkan pada materi pelajaran menghapal al-Qur’an di MI, Mts., dan MA. Di MI, selama enam tahun, peserta didik harus mampu menghapal Juz ‘Amma.  Di Mts., selama tiga tahun, peserta didik harus menghapal empat juz al-Qur’an, yaitu Juz ‘Amma ditambah Juz Alif Lâm Mîm, Juz Sayakûlu, dan Juz Tilka al-Rusul. Di MA, selain keempat juz tersebut, peserta didik juga harus menghapal Juz Lan Tanalû dan Juz Wa al-Muhshanâtu. Jadi, lulusan MA harus hapal enam juz. Bagi MI dan Mts., materi hapalan al-Qur’an dilakukan dari jam 07.00 sampai 08.20 (jam ke-1 dan 2). Bagi MA, karena masuknya siang hari, materi ini dilakukan dari jam 10.00 – 11.20 (jam ke-1 dan 2).

Visi, misi, dan tujuan sekolah di YPIDH menegaskan bahwa sekolah ini ingin membentuk generasi qur’ani yang mampu mempraktekan nilai-nilai al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Menurut pendirinya, sekolah ini didirikan agar peserta didik bisa serius memahami al-Qur’an melalui hapalan al-Qur’an sebagai pintu pertama untuk memahami al-Qur’an.  Dengan demikian, tradisi menghafal al-Qur’an merupakan konsep pendidikan karakter yang diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Tradisi ini telah membentuk peserta didik menjadi pencinta al-Qur’an yang dibuktikan dengan kebiasaan mereka membaca al-Qur’an ketika di sekolah atau di lingkungan masing-masing. Mencintai al-Qur’an adalah salah satu karakter yang mulia yang mesti dimiliki oleh salah seorang muslim. Oleh karena itu, menanamkan cinta terhadap al-Qur’an dari sejak dini perlu dilakukan untuk membentuk karakter peserta didik. Tradisi menghapal al-Qur’an ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas untuk menyekolahkan anak-anaknya di yayasan tersebut. Mereka menginginkan anak-anaknya bisa menghapal al-Qur’an.

Selain menghafal al-Qur’an, tradisi lainnya adalah berjamaah Sholat Dhuha, Zhuhur, dan Ashar. Tradisi Sholat Dhuha menjadikan peserta didik mampu meneladani sebagain sunah Nabi. Tradisi berjamaah sholat fardhu menjadikan peserta didik mampu menjaga sholat lima waktu. Tradisi ini juga menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat. Mereka menginginkan anak-anaknya bisa menjalankan sholat lima waktu dan meneladani sunah-sunah Nabi yang lain .

Hambatan praktek pendidikan karakter di YPIDH adalah kurangnya ruang belajar untuk menampung jumlah peserta didik. Dengan minat masyarakat yang bagus, ruang belajar jadi tidak mencukupi. Penggemukan kelas pun bukan jadi solusi karena proses pembelajaran jadi kurang nyaman. Dengan ketidaknyamanan ini, proses pembentukan karakter peserta didik menjadi tidak efektif.

 

C. Simpulan dan Saran

            Berdasarkan hasil penelitian, maka pendidikan karakter diartikan sebagai kebiasaan yang dilakukan oleh peserta didik, kemudian menjadi tradisi yang mempunyai pengaruh positif terhadap perkembangan kepribadian peserta didik. Dengan demikian, bentuk tradisi tersebut bisa beragam tergantung bagaimana lembaga menjalankan program sekolahnya.

Sebelum menjadi wacana hangat, pondok pesantren dan sekolah sebenarnya telah menanamkan dan mengembangkan karakter pada diri peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Di pondok pesantren, pembelajaran Kitab Kuning, sholat berjamaah, sholat-sholat sunat, hapalan al-Qur’an, muhadharah,  dan bersih-bersih lingkungan telah mendorong pembentukan karakter pada diri peserta didik. Di sekolah pun demikian, sholat dhuha, sholat fardhu berjama’ah, hapalan al-Qur’an, dan berkebun telah membentuk karakter yang berguna bagi pengembangan potensi peserta didik.

Kekurangan SDM dan fasilitas pendidikan telah menjadikan proses pengembangan karakter menjadi lambat dan dengan demikian, sebelum karakter terbentuk dalam diri peserta didik, ia mudah terpengaruh oleh lingkungan yang negatif.

Walaupun kedua yayasan ini mempunyai kekurangan, namun tidak berlebihan kiranya peneliti menegaskan bawah sekolah terpadu perlu terus dikembangkan. Khusus mengenai tradisi menghapal al-Qur’an di sekolah, peneliti mangajak masyarakat untuk memilih sekolah yang di dalamnya ada program menghapal al-Qur’an. Bagi para peneliti lain, perlu kita mengembangkan penelitian tentang praktek menghapal al-Qur’an di sekolah yang mampu membentuk karakter peserta didik.

Daftar Pustaka

Budiman, Dasim dan Komalasari, Kokom (ed.). 2001. Pendidikan Karakter: Nilai Inti bagi Upaya Pembinaan Kepribadian Bangsa. Bandung: Widya Aksara Press.

Koeseoma, Doni. “Pendidikan Karakter Integral”. Tersedia di http:/pendidikankarakter.org/articles_003.html.

_______.“Pendidikan Karakter”. Tersedia di http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/pendidikan/umum1.html.

_______. “12 Pilar Keutamaan Pendidikan Karakter Utuh Menyeluruh”. Tersedia di http://pendidikankarakter.org/12%20Pilar.html

Suyanto. “Urgensi Pendidikan Karakter”. Tersedia di http://pendidikankarakter.org/articles_004.html.

Syah, Muhibbin. 2011. “Alternatif Pendidikan Karakter”. Tersedia di http://padepokanguru.org.

 


[1]Doni Koeseoma A., “Pendidikan Karakter Integral”. Tersedia di http:/pendidikankarakter.org/articles_003.html.

 

[2]Endang Sumantri, “Pendidikan Budaya dan Karakter Suatu Keniscayaan bagi Kesatuan dan Persatuan Bangsa”, dalam Dasim Budiman dan Kokom Komalasari (Ed.), Pendidikan Karakter: Nilai Inti bagi Upaya Pembinaan Kepribadian Bangsa, (Bandung: Widya Aksara Press, 2001), cet. ke-1, hlm. 3.

[3]Ibid., hlm. 6.

[4]Muhibbin Syah, “Alternatif Pendidikan Karakter”,  Tersedia di http://padepokanguru.org.

[5]Ada lima kata yang terkait dengan perbuatan atau perilaku baik-buruk, yaitu etika, moral, akhlak, karakter, dan budi pekerti. Dali lima kata ini, tiga diantaranya, yaitu etika, moral, dan budi pekerti merujuk pada tingkah laku atau perbuatan yang dianggap baik, sementara dua sisanya, yakni karakter dan akhlak bisa merujuk pada perilaku yang baik atau buruk. Lihat Yadi Ruyadi, “Pendidikan Karakter atau Pendidikan Budi Pekerti?”, dalam Dasim Budiman dan Kokom Komalasari (Ed.), Pendidikan Karakter: Nilai Inti bagi Upaya Pembinaan Kepribadian Bangsa, (Bandung: Widya Aksara Press, 2001), cet. ke-1, hlm. 341.

[6]Dedi Mulyasana, “Pendidikan Karakter: Apa, Mengapa dan Bagaimana?”, dalam Dasim Budiman dan Kokom Komalasari (Ed.), Pendidikan Karakter: Nilai Inti bagi Upaya Pembinaan Kepribadian Bangsa, (Bandung: Widya Aksara Press, 2001), cet. ke-1, hlm. 298.

[7]Suyanto, “Urgensi Pendidikan Karakter”. Tersedia di http://pendidikankarakter.org/articles_004.html.

[8]Doni Koesoema A., “Pendidikan Karakter”. Tersedia di http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/pendidikan/umum1.html.

[9]Sukadi, “Pendidikan Karakter Bangsa Berideologi Pancasila”, dalam Dasim Budiman dan Kokom Komalasari (Ed.), Pendidikan Karakter: Nilai Inti bagi Upaya Pembinaan Kepribadian Bangsa, (Bandung: Widya Aksara Press, 2001), cet. ke-1, hlm. 98.

[10]Ibid., hlm. 99.

[11]Ibid., hlm. 100.

[12]Koeseoma, “Pendidikan Karakter”.

[13]Mulyasana, “Pendidikan Karakter”, hlm. 301.

Posted in: Artikel