MUNASABAH DALAM AL-QUR’AN

Posted on October 11, 2011

0


MUNASABAH DALAM AL-QUR’AN

Oleh: Ceceng Salamudin

 

  1. A.      Pendahuluan

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur selama hampir 23 tahun. Turunnya al-Quran secara berangsur-angsur ini memicu perdebatan di antara para peneliti al-Quran mengenai apakah setiap ayat atau surat yang diturunkan itu mempunyai korelasi (munasabah) antara satu sama lain?

Untuk menjawab pertanyaan ini para ulama kembali kepada perbedaan pendapat mengenai urutan surat dalam al-Quran. Mereka terpecah ke dalam tiga golongan. Golongan pertama, yang diwakili oleh Abu Bakar ibn al-Anbari, al-Kirmani, dan Ibnu al-Hisr berpendapat bahwa urutan surat dalam al-Quran tauqifi, yaitu terserah kepada petunjuk dari Nabi Muhammad. [1] Termasuk ke dalam golongan ini, Nasr Hamid Abu zaid, seorang ulama kontemporer. Menurutnya, urutan surat dalam mushaf tauqifi, karena pemahaman ini sesuai dengan gagasan wujud teks imanen yang ada di lauh mahfudz.[2]

Golongan kedua diwakili oleh Malik dan Ibnu al-Faris. Mereka berpendapat bahwa urutan surat dalam al-Quran didasarkan atas ijtihad para sahabat setelah memastikan bahwa urutan ayat-ayat tauqifi. Golongan ketiga berpendapat bahwa  urutan surat dalam al-Quran tauqifi kecuali surat al-Anfal dan at-Taubah, keduanya ijtihadi.[3]

Sementara mengenai urutan surat para ulama berbeda pendapat, maka mengenai urutan ayat, mayoritas mereka berpendapat bahwa urutan ayat tauqifi, yaitu telah ditetapkan oleh Nabi Muhammad S.A.W. As-suyuthi mengatakan bahwa banyak ijma dan nash yang menetapkan bahwa urutan ayat itu tauqifi.[4]

Bertolak dari perbedaan pendapat para ulama mengenai urutan surat dan kesepakatan mayoritas mereka mengenai urutan ayat, maka pendapat mereka mengenai munasabah pun beraneka ragam pula. Penjelasan ini akan dapat kita lihat di bagian “sikap para ulama terhadap munasabah” dalam makalah ini.

Selain penjelasan mengenai sikap para ulama terhadap munasabah, makalah ini pula akan menjelaskan pengertian munasabah dari beberapa ulama, cara mengetahui munasabah, macam-macam munasabah, dan manpaat munasabah.

 

  1. B.       Pengertian Munasabah

Secara etimologi, munâsabah berarti muqarabah (kedekatan) atau musyakala (keserupaan).[5] Az-Zarkaysi memberi contoh dengan kalimat, fulan yunasib fulan, yang artinya seseorang mendekati atau menyerupai seseorang.[6]. Dari kata munasabah bisa diambil kata nasib, yang berarti hubungan kerabat dengan garis keturunan yang masih bersambung.[7]

Secara terminologi, pengertian munasabah dirangkum dalam empat pengertian berikut ini[8].

  1. Menurut Manna Khalil al-Qattan, munasabah adalah “sisi keterikatan antara beberapa ungkapan di dalam satu ayat, atau antara ayat pada beberapa ayat, atau antar surat (di dalam Al-Quran).”
  2. Menurut Ibnu al-Arabi, munasabah adalah “ keterikatan ayat-ayat Al-Quran sehingga seolah-olah merupakan satu ungkapan yang mempunyai kesatuan makna dan keteraturan redaksi. Munasabah merupaka ilmu yang agung.”
  3. Menurut Az-Zarkasih, munasabah adalah “suatu hal yang dapat dipahami.Tatkala dihadapkan kepada akal, pasti akal itu akan menerimanya.”
  4. Menurut Al-Biqa’i, munasabah adalah suatu ilmu yang mencoba mengetahui alasan-alasan di balik susunan atau urutan bagian-bagian Al-Quran, baik ayat dengan ayat, atau surat dengan surat.”

Berdasarkan empat pengertian ini, dapat dirumuskan bahwa  munasabah adalah ilmu yang mengkaji tentang adanya keterkaitan dan keterikatan antara ayat atau surat di dalam al-Quran yang bisa dipahami dengan akal yang sehat, sehingga bisa memudahkan para pengkaji al-Quran untuk memahami setiap ayat-ayat al-Quran.

 

  1. C.      Sikap Para Ulama Terhadap Munasabah

Dalam menyikapi munasabah, para ulama terbagi ke dalam dua golongan. Pertama, golongan yang tertarik dengan munasabah, bahkan sebagian dari mereka mengembangkannya. Kedua, golongan yang tidak tertarik dan menganggap munasabah tidak perlu dikaji.[9]

Golongan pertama diwakili oleh Abu Bakar al-Nisabury, Fakhrudin al-Razi, Jalaluddin al-Suyuthiy, ibn al-Arabiy , Izzuddin ibn Abdis Salam,[10] dan yang lainnya[11].

Salah satu bentuk perhatian Abu Bakar al-Nisabury adalah dengan selalu mempertanyakan alasan urutan ayat dan surat dalam al-Quran; mengapa ayat ini diletakan setelah ayat ini atau mengapa surat ini disimpan sebelum surat yang ini. Ia sering mengkritik ketidak tahuan para ulama Bagdad terhadap alasan urutan ayat dan surat tersebut.[12]

Fakhrudin al-Razi seorang ulama yang sangat peduli terhadap munasabah, baik munasabah antar ayat atau antar surat. Ia pernah memberikan apresiasi terhadap surat al-Baqarah dengan mengatakan bahwa “barang siapa yang menghayati dan merenungkan bagian-bagian dari susunan dan keindahan urutan surat ini, maka pasti ia akan mengetahui bahwa al-Quran itu merupakan mukjizat lantaran kefasihan lafal-lafalnya dan ketinggian mutu makna-maknanya.”[13]

Jalaluddin al-Suyuthiy, salah seorang pengarang Tafsir Jalalain, mengatakan bahwa:

Ilmu munasabah adalah ilmu yang mulia, sedikit sekali para ahli tafsir yang menaruh perhatian pada ilmu tersebut. Hal ini disebabkan karena sangat halusnya ilmu tersebut. Orang yang paling sering mengungkap kannya adalah Imam Fakhruddin. Ia mengatakan dalam tafsirnya, banyak sekali bagian-bagian halus dari al-Quran yang tersimpan dalam susunan ayat dan hubungan-hubungannya.[14]

Ibn al-Arabiy menjadi pendukung munasabah karena menghubungkan munasabah dengan kedalaman makna al-Quran dari sisi sastra dan keindahan bahasa. Sehingga ia pernah menegaskan bahwa “hubungan ayat-ayat al-Quran satu sama lain, seperti kita yang satu, tersusun rapi maknanya dan teratur bentuk katanya, merupakan ilmu yang hebat, tidak ada yang menemukannya kecuali orang-orang  yang alim yang dapat menguraikan hubungan itu dalam surat al-Baqarah.”

Izzuddin ibn Abdis Salam mengakui adanya munasabah dalam al-Quran, namun ia melarang para mufasir mencari munasabah bagi setiap ayat, karena al-Quran turun secara berangsur-angsur berdasarkan peristiwa yang terjadi. Baginya, kadangkala seorang mufasir dapat menemukan hubungan antara ayat dan ada kalanya ia tidak dapat menemukannya. Oleh karena itu tidak perlu memaksakan mencari korelasi ayat, bagi ayat-ayat yang tidak ditemukan korelasinya.[15]

Golongan ulama yang menolak adanya munasabah dalam al-Quran diwakili oleh Ma’ruf Dualibi. Ia paling keras menentang menggunakan munasabah untuk menafsirkan ayat-ayat dan surat-surat dalam al-Quran. Ia mengatakan, ‘maka termasuk usaha yang tidak perlu dilakukan adalah mencar-cari hubungan di antara ayat-ayat dan surat-surat al-Quran.’ Karena menurutnya, “al-Quran dalam berbagai ayat yang ditampilkannya hanya mengungkapkan hal-hal yang bersifat prinsip (mabd’a) dan norma umum (kaidah) saja. Dengan demikian tidaklah pada tempatnya bila orang bersikeras dan memaksakan diri mencari korelasi (tanasub) antara ayat-ayat dan surat-surat yang bersifat tafshil.”[16]

Mahmud Syaltut seorang ulama kontemporer, kurang setuju dengan analisis munasabah dan menolak menjadikan munasabah sebagai bagian dari ilmu-ilmu  al-Quran. Ia tidak setuju dengan mufasir yang menggunakan munasabah untuk menafsirkan al-Quran.[17]

 

  1. D.      Cara-Cara Mengetahui Munasabah

Pengetahuan tentang munasabah bersipat ijtihadi, artinya pengetahuan tentang itu ditentukan berdasarkan ijtihad para ulama. Nabi tidak menetapkan pengetahuan tersebut. Oleh karena itu tidak ada kewajiban untuk mencari munasabah pada setiap ayat atau surat.[18]

Walaupun tidak ada keharusan untuk menemukan munasabah, namun ada empat langkah yang perlu diperhatikan bagi para peminat munasabah.

  1. Harus diperhatikan tujuan pembahasan suatu surat yang menjadi objek pencarian.
  2. Memperhatikan uraian ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang dibahas dalam surat.
  3. Menentukan tingkatan uraian-uraian tersebut, apakah ada hubungannya atau tidak. Setelah kita memahami uraian-uraian ayat, maka kita mulai menentukan tingkatan uraian-uraian tersebut sehingga sampai pada kesimpulan bahwa ayat atau surat ini mempunyai atau tidak mempunyai hubungan satu sama lain.
  4. Dalam mengambil kesimpulannya, hendaknya memperhatikan ungkapan-ungkapan bahasanya dengan benar dan tidak berlebihan.[19]

 

 

  1. E.       Macam-Macam Munasabah

Dilihat dari sifatnya, munasabah terbagi dua. Pertama, munasabah yang jelas (zhahir al-irtibath). Munasabah jenis ini diartikan sebagai “korelasi atau persesuaian antara bagian atau ayat al-Quran yang satu dengan yang lain tampak jelas dan kuat. Karena begitu kuatnya kaitan antara keduanya, sehingga yang satu tidak dapat menjadi kalimat yang sempurna jika dipisahkan dengan kalimat yang lain.” [20]

Contoh munasabah yang jelas adalah korelasi antara ayat pertama dengan ayat kedua surat al-Isra’. Ayat pertama menjelaskan tentang Nabi Muhammad yang diisra’kan oleh Allah S.W.T. dan ayat kedua menerangkan Nabi Musa yang menerima kitab Taurat. Korelasi keduanya dianggap jelas dalam hal diutusnya kedua Rasul tersebut.[21]

Kedua, munasabah yang terselubung (khafiyu al-irtibath). Jenis munasabah ini diartikan sebagai “korelasi antara bagian atau ayat al-Quran yang tidak tampak secara jelas, seakan-akan masing-masing ayat atau surat itu berdiri sendiri-sendiri, baik karena ayat yang satu di’athafkan kepada yang lain, atau karena yang satu seakan-akan tampak bertentangan dengan yang lain.”[22]

Contoh munasabah yang terselubung ini adalah korelasi antara ayat 189 dengan 190 surat al-Baqarah. Ayat 189 menjelaskan tentang bulan tsabit sebagai waktu untuk melaksanakan ibadah haji. Sementara ayat 190 menerangkan tentang perintah memerangi orang-orang yang menyerang umat islam. Sepintas, kedua ayat tersebut seperti tidak berkorelasi. Padahal kalau diamati dengan seksama, tampak adanya korelasi antara keduanya, yaitu pada pemahaman bahwa pada dasarnya umat islam dilarang untuk berperang ketika sedang melaksanakan ibadah haji, kecuali kalau mereka diserang, maka bagi umat islam boleh membalasnya. Itulah bentuk korelasi kedua ayat tersebut.[23]

Dilihat dari sisi materinya, munasabah terbagi dua, yaitu munasabah antarayat dan munasabah antarsurat. Munasabah antarayat al-Quran adalah hubungan antara ayat yang satu dengan ayat yang lain. Contohnya hubungan antara ayat 102 dengan ayat 103 surat Ali Imran. Isi ayat 102 adalah “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama islam.” Ayat 102 ini berkorelasi dengan ayat sesudahnya, yaitu “Dan berpeganglah kalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai berai.” [24]

Kedua ayat tersebut sangat erat hubungannya, yaitu bahwa untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa serta mati dalam keadaan muslim, maka seseorang harus berpegang teguh kepada agama Allah. Dengan berpegang teguh kepada agama Allah, maka ia tidak akan bercerai berai.[25]

Munasabah antara surat diartikan sebagai persesuaian antara surat yang satu dengan surat yang lain. Munasabah jenis ini terbagi menjadi lima bagian.[26]

  1. 1.        Munasabah antar nama surat

Munasah ini terjadi antara nama suatu surat dengan nama surat sesudahnya atau sebelumnya. Contoh korelasi di antara surat al-Mukminun (orang-orang yang beriman), surat al-Nur (cahaya), dan surat al-Furqan (pembeda). Korelasinya bahwa orang-orang mukmin (al-Mukminun) itu berada di bawah cahaya (al-Nur ) yang menerangi kehidupannya, sehingga mereka bisa membedakan (al-Furqan ) antara yang baik dan burk, dll.

  1. Munasabah antar kandungan surat secara global dengan kandungan surat berikutnya.

Contohnya korelasi antara kandungan surat al-Fatihah dengan surat al-Baqarah, yaitu kedua-duanya menerangkan lima pokok kandungan al-Quran: akidah, ibadah, mu’amalah, kisah, janji dan ancaman. Dalam surat al-Fatihah, kelima hal tersebut dimuat secara ringkas, sedangkan di dalam surat al-Baqarah, kelimanya diterangkan secara rinci dan panjang lebar.

  1. 3.        Munasabah antara awal surat dengan akhir surat yang sama

Gambarannya seperti korelasi antara awal dengan akhir surat al-Nisa. Awal dan akhir surat ini berbicara tentang hubungan pernikahan yang melahirkan keturunan dan berujunag pada masalah waris. Awal surat al-Nisa (ayat pertama) menjelaskan tentang penciptaan manusia dengan pasangannya yang melahirkan pernikahan dan berujung pada keturunan. Bagian akhir surat ini (ayat 76) memuat tentang masalah kalalah yang berujung pada masalah waris.

  1. 4.        Munasabah antara akhir surat dengan awal surat sesudahnya

Munasabah jenis ini terbagi dua: munasabah dari sisi hurup dan munasabah dari sisi makna. Contoh munasabah dari sisi hurup adalah munasabah antara hurup akhir surat al-Fil dengan hurup awal surat al-Quraisy. Akhir hurup surat al-Fil adalah hurup lam, begitu pun awal hurup surat al-Quraisy hurup lam. Jadi, antara awal dan akhir surat ada korelasi.

Munasabah dari sisi makna, seperti munasabah antara akhir surat al-Maidah (ayat 120)[27] dengan awal surat al-An’am (ayat 1)[28]. Akhir surat al-Maidah menerangkan bahwa Allah pemilik langit, bumi dan segala isinya. Dia mengaturnya sesuai dengan kehendak-Nya. Awal surat al-An’am menjelaskan bahwa Allah yang menciptakan langit, bumi, dan segala isinya.

  1. Munasabah awal surat yang terdiri dari hurup-hurup terpisah (al-ahruf al-muqatha’ah) dengan hurup-hurup dalam surat yang sama.

Contohnya al-ahruf al-muqatha’ah dalam awal surat al-Baqarah, Ali Imran, al-A’raf, Yunus, dll. mendominasi hurup-hurup dalam surat-surat tersebut.

Rosihan menjelaskan delapan macam munasabah.[29]

  1. Munasabah antarasurat dengan surat sebelumnya.

Munasabah ini berfungsi menerangkan atau menyempurnakan ungkapan pada surat sebelumnya. Contohnya ungkapan alhamdulilah dalam ayat 1 surat al-fatihah berkorelasi dengan ayat 152[30] surat al-Baqarah.

  1. 2.        Munasabah antar nama surat dan tujuan turunnya

Nama surat mempunyai keterkaitan dengan tujuan turunnya. Contoh surat al-Baqarah, surat Yusup, surat an-Naml, dan surat al-Jin. Ayat 67-71 surat al-Baqarah berisi cerita tentang lembu betina. Inti cerita ini adalah kekuasaan Tuhan membangkitkan orang mati. Jadi, tujuan surat ini berkenaan dengan kekuasaan Tuhan dan keimanan kepada hari akhirat.

  1. 3.        Munasabah antarbagian suatu ayat.

Munasabah ini sering berbentuk pola munasabah perlawanan. Contoh seperti ayat 4 surat al-Hadid. Dalam ayat itu ada munasabah perlawanan antara kata “yaliju” (masuk) dengan kata “yakhruju” (keluar) dan kata “yanzilu” (turun) dengan kata “ya’ruju” (naik). Pola munasabah ini berlawanan antara kata yang satu dengan kata yang lain.

  1. 4.        Munasabah antarayat yang letaknya berdampingan.

Munasabah ini sering terlihat jelas tapi juga sering tidak jelas. Munasabah yang terlihat dengan jelas biasanya menggunakan pola ta’kid (penguat), tafsir (penjelas), i’itiradh (bantahan), dan tasydid (penegasan). Contoh munasabah menggunakan pola ta’kid adalah dalam surat al-Fatihah. Ungkapan “rabb al-alamin” pada ayat kedua memperkuat ungkapan ‘al-rahman” dan “ar-rahim” pada ayat pertama.

Munasabah antar ayat yang tidak jelas dapat dilihat melalui hubungan makna dengan menggunakan pola at’tanzir (perbandingan), al-mudhadat (perlawanan), istithrad (penjelasan lebih lanjut) dan at-takhallush (perpindahan). Contoh munasabah dengan pola al-mudhadat adalah ayat 6 surat al-Baqarah; “sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.” Ayat ini berbicara tentang watak orang-orang kafir. Ayat ini berkorelasi dengan ayat sebelumnya, yang menceritakan watak orang-orang mukmin.

  1. 5.        Munasabah antar-suatu kelompok ayat dan kelompok ayat di sampingnya.

Contoh ayat 1 sampai ayat 20 surat al-Baqarah. Kelompok ayat tersebut menjelaskan tentang kebenaran dan fungsi al-Quran bagi orang-orang yang bertakwa. Kelompok ayat berikutnya berbicara tentang tiga kelompok manusia dan sifat-sifat mereka yang berbeda-beda, yaitu mukmin, kafir, dan munafik.

  1. 6.        Munasabah antarfashilat (pemisah) dan isi ayat.

Salah satu tujuan munasabah ini untuk menguatkan makna yang terkandung dalam suatu ayat. Contoh ayat 25 surat al-ahzab. “Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa,”

Ungkapan yang digaris bawahi adalah fashilah (pemisah) di antara kedua penggalan ayat tersebut. Maksud pemisah ini supaya pemahaman terhadap ayat tersebut menjadi lurus dan sempurna.

 

  1. 7.        Munasabah antara awal surat dengan akhir surat yang sama
  2. 8.        Munasabah antar-penutup suatu surat dengan awal surat berikutnya[31]

 

 

  1. F.       Manfaat Munasabah

Az-Zarkasyi menjelaskan manpaat munasabah, yaitu ‘menjadikan sebagian pembicaraan berkaitan dengan sebagian lainnya, sehingga hubungannya menjadi kuat, bentuk susunannya kukuh dan bersesuaian bagian-bagiannya laksana sebuah bangunan yang amat kokoh.’[32]

Sementara Abu Bakar ibn al-Arabi menerangkan bahwa kegunaan munasabah dapat ‘mengetahui sejauhmana  hubungan antara ayat-ayat satu dengan yang lain sehingga semuanya menjadi seperti satu kata, yang maknanya serasi dan susunannya teratur merupakan ilmu yang besar.’[33]

Rosihan Anwar menulis empat manpaat munasabah.[34]

1. Dapat mengembangkan sementara anggapan orang yang menganggap bahwa tema-tema al-Quran kehilangan relevansinya antara satu bagian dengan bagian yang lainnya.

2. Mengetahui persambungan atau hubungan antara bagian al-Quran, baik antara kalimat-kalimat atau ayat-ayat maupun surat-suratnya yang satu dengan yang lain, sehingga lebih memperdalam pengetahuan dan pengenalan terhadap kitab al-Quran dan memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan dan kemukjizatannya.

3. Dapat diketahui mutu dan tingkat kebalaghahan bahasa al-Quran dan konteks kalimat-kalimatnya yang satu dengan yang lainnya, serta penyesuaian ayat/surat yang satu dari yang lain.

4. Dapat membantu menafsirkan ayat-ayat al-Quran setelah diketahui hubungan suatu kalimat atau ayat dengan kalimat atau ayat yang lain.

Sementara, Usman mencatat tiga kegunaan munasabah.[35]

  1. Dari sisi balaghah, keterkaitan antara ayat dengan yat menjadikan keutuhan yang indah dalam tata bahasa al-Quran, dan bila dipenggal maka keserasian, kehalusan, dan keindahan kalimat ayng teruntai akan menjadi hilang.
  2. Munasabah dapat memudahkan orang dalam memahami makna ayat atau surat.
  3. Sebagai ilmu kritis, munasabah akan sangan membantu seorang mufasir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran.

 

G. Penutup

Munasabah ilmu yang relatif baru dibanding ilmu tafsir itu sendiri. Pengetahuan tentang munasabah bukan sebuah keharusan, sebagaimana keharusan seorang muslim memahami al-Quran, namun sekedar pilihan bagi yang tertarik dalam mengkaji al-Quran.

Wajar kalau terjadi perbedaan paham mengenai keberadaan munasabah, karena munasabah (di)-muncul-(kan) dari pemikiran seorang mufasir ketika menafsirkan al-Quran. Ilmu ini menjadi berkembang manakala para ulama meresponnya dengan beragam pemikiran juga.

Pada saat sekarang, keberadaan munasabah penting karena bisa memuluskan jalan bagi siapapun yang terlibat secara pro aktif dalam mengkaji al-Quran. Tidak terkecuali bagi mahasiswa studi Quran Hadis.

 

Daftar Pustaka

Anwar, Rosihan. 2008. Ulum al-Quran. Bandung: Pustaka Setia.

al-Qattan, Manna’ Khalil. 2007. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Jakarta: Litera antarNusa. Cet ke-10.

ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. 2009. Sejarah & Pengantar Ilmu Al-Quran & Tafsir. Semarang: Pustaka Rizki Putra.

Usman. 2009. Ulumul Quran. Yogyakarta: Teras.

Zaid, Nasr Hamid Abu. 2001. Tekstualitas al-Qur’an : Ktitik Terhadap Ulumul Qur’an. Yogyakarta : LkiS.

 


[1]Rosihan Anwar. Ulum Al-Quran. (Bandung: Pustaka Setia. 2008), hlm. 81.

[2]Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas al-Qur’an : Ktitik Terhadap Ulumul Qur’an, (Yogyakarta : LkiS. 2001), hlm. 215.

[3]Rosihan, Ulum al-Quran, hlm. 81.

[4]T. M. Hasbi ash-Shiddieqy. Sejarah & Pengantar Ilmu Al-Quran & Tafsir.(Semarang: Pustaka Rizki Putra. 2009), hlm. 53.

[5]al-Qattan, Manna’ Khalil. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. (Jakarta: Litera antarNusa. 2007).  Cet ke-10, hlm. 137. Lihat juga Rosihan, Ulum al-Quran, hlm. 81.

[6]Rosihan, Ulum al-Quran, hlm. 81.

[7]Usman. Ulumul Quran. (Yogyakarta: Teras, 2009),  hlm. 161.

[8]Rosihan, Ulum al-Quran, hlm. 82-83.

[9]Usman, Ulumul Quran,  hlm. 164.

[10]Ibid, hlm. 164-166.

[11]Mereka Adalah Nizhamudin al-Nisaburiy, Abu Hayyan al-Andalusy, Imam Fakhrudin,  Lihat ibid hal. 65-166.

[12]Ibid, hlm. 165.

[13]Ibid.

[14]Ibid, hlm. 166

[15]Ibid, hlm. 167.

[16]Ibid, hlm. 169-170.

[17]Ibid, hlm. 170.

[18]Rosihan, Ulum al-Quran, hlm. 83.

[19]Ibid, hlm. 84.

[20]Usman, Ulumul Quran, hlm. 177.

[21]Ibid, hlm. 178.

[22]Ibid

[23]Ibid, hlm. 179.

[24]Ibid, hlm. 180-181

[25]Ibid, hlm. 182

[26]Ibid, hlm, 188-192.

[27]“Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

[28]“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langti dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang.”

[29]Rosihan. Ulum al-Quran, hlm. 84-95.

[30]“Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku,” Lihat Ibid, hlm. 85.

[31]Contoh 7 dan 8 ini sudah ditulis sebelumnya dalam makalah ini di bagian pembagian munasabah antar surat.

[32]Manna. Studi Ilmu. Hlm. 138.

[33]Ibid, hlm. 138.

[34]Rosihan.Ulum al-Quran.  Hlm. 98.

[35]Usman. Ulumul Quran. Hlm. 172-173.

Posted in: Artikel