KAIDAH KENAIKAN KUALITAS HADIS DAN KAIDAH I’TIBAR DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KAIDAH TASHHIH

Posted on October 11, 2011

0


KAIDAH KENAIKAN KUALITAS HADIS DAN KAIDAH I’TIBAR DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KAIDAH TASHHIH

Oleh: Ceceng Salamudin

 

A. Pendahuluan

            Studi hadis di kalangan para peneliti hadis terus mengalami perkembangan. Beragam objek studi hadis pun berkembang dari hari ke hari. Salah satu objek studi hadis itu terkait dengan penentuan kualitas hadis dari sisi perawi yang akan menentukan apakah sebuah hadis bisa dijadikan hujjah atau tidak.

Klasifikasi kualitas hadis dari sisi perawi ada tiga[1], yaitu shahih, hasan, dan dha’if atau ada dua saja[2] dengan membuang klasifikasi hasan. Klasifikasi kualitas hadis menjadi dua ini kayanya yang lebih tegas karena ia menentukan dengan jelas apakah hadis tersebut bisa diterima atau ditolak untuk dijadikan hujjah. Hadis yang bisa dijadikan hujjah masuk dalam kualitas shahih, sementara yang tidak bisa dijadikan hujjah masuk dalam kualitas dha’if[3]. Ini lah anggapan orang-orang yang setuju dengan pembagian kualitas hadis dari sisi perawi menjadi dua.

Namun, anggapan bahwa hadis dha’if tidak bisa dijadikan hujjah telah terbantahkan dengan kehadiran makalah ini. Artinya, secara tidak  langsung, makalah ini setuju dengan klasifikasi kualitas hadis dari sisi perawi menjadi tiga. Mengapa terbantahkan? Sebab pada kenyataanya, hadis dha’if bisa dijadikan hujjah, dengan menaikan derajatnya menjadi hadis hasan (li ghairihi).

Paragraf ketiga tadi merupakan penjelasan singkat mengenai salah satu isi makalah ini, yaitu berkenaan dengan kaidah kenaikan kualitas hadis. Isi kedua dari makalah ini berkenaan dengan kaidah i’tibar, yaitu penelitian literatur hadis untuk mencari dan mengkaji kualitas hadis yang ditulis dalam literatur hadis tersebut. Artinya, kualitas sebuah hadis bisa dilihat berdasarkan tinjauan terhadap keberadaan hadis tersebut dalam literatur hadisnya. Isi terakhir makalah ini tentang implikasi dua kaidah tadi terhadap kaidah tashhih.

Jadi, rincian makalah ini akan mengkaji tentang kaidah kenaikan kualitas hadis, dengan mengkaji pengertian hadis shahih li dzatihi, hadis shahih li ghairihi, hadis hasan li dzatihi, hadis hasan li ghairihi, dan hadis dha’if. Kemudian, makalah ini juga akan mengkaji tentang konsep syahid dan muttabi’, sebagai dua “entitas” yang menjadi bagian penting dalam proses kenaikan kualitas ini.

Selain itu makalah ini juga akan mengkaji tentang kaidah i’tibar yang diawali dengan pembahasan mengenai arti i’tibar, kemudian dilanjutkan dengan kajian tentang pembagian i’tibar.

Terakhir makalah ini akan membahas tentang implikasi kadiah kenaikan kualitas hadis dan kaidah i’tibar terhadap kaidah tashhih dengan terlebih dahulu menjelaskan ilmu dirayah sebagai grand theory dari kaidah tashhih (dan juga kadiah kenaikan kualitas hadis dan kaidah i’tibar).

 

B. Kaidah Kenaikan Kualitas Hadis

Dari sisi kualitas, hadis terbagi menjadi dua, yaitu hadis shahih dan hadis dha’if atau terbagi menjadi tiga, yaitu hadis shahih, hadis hasan[4], dan hadis dha’if. Berdasarkan pembagian hadis dari sisi kualitas ini, maka yang dimaksud kaidah kenaikan kualitas hadis adalah kaidah kenaikan hadis dha’if menjadi hadis hasan (li ghairihi) atau hadis hasan (li dzatihi) menjadi hadis shahih (li ghairihi).

Untuk lebih memahami konsep kenaikan kualitas hadis ini, saya akan menjelaskan pengertian hadis shahih li dzatihi, hadis shahih lighairihi, hadis hasan li dzatihi, hadis hasan lighairihi, dan hadis dhaif.

Hadis shahih lidzatihi adalah hadis yang memenuhi syarat-syarat hadis shahih[5], yaitu rawinya adil[6] dan ingatannya sempurna (rawinya dhabith[7]), sanadnya bersambung-sambung[8], tidak ber’illat[9] dan tidak janggal.[10]

Hadis shahih li ghairihi adalah hadis yang rawi-rawinya kurang sempurna ingatannya, tapi mereka masih dikenal sebagai orang yang jujur [11] atau hadis shahih li ghairihi adalah hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat hadis shahih.

Dalam redaksi yang lebih luas atau kalau dihubungkan dengan kaidah kenaikan kualitas hadis, maka hadis shahih li ghairihi dipahami sebagai:

Hadis hasan li dzatihi yang derajatnya naik menjadi shahih karena diperkuat oleh syahid dan muttabi’. Syahid artinya matan lain, sedangkan muttabi’ artinya sanad lain. Maksudnya kalau terdapat satu matan hadis yang hasan dikuatkan oleh matan lain yang hasan (yang disebut syahid), maka masing-masing dari kedua hadis hasan tersebut menjadi hadis shahih li ghairi. Jadi, keduanya saling menguatkan. Begitu pula bila hadis hasan memiliki dua sanad atau lebih (yang disebut muttabi’), maka kualitas hadis hasan tersebut naik menjadi hadis shahih li ghairi.”[12]

Jadi, hadis shahih li ghairihi ini awalnya hadis hasan li dzatihi. Namun karena ada syahid atau muttabi’, maka kualitas hadis hasan ini naik menjadi shahih, walaupun shahih-nya bukan shahih li dzatihi, tapi shahih li ghairihi.

Contoh hadis hasan li dzatihi yang naik kualitasnya menjadi hadis shahih li ghairihi karena adanya muttabi’ adalah hadis Bukhari dari Ubay ibn al-Abbas ibn Sahal yang berbunyi, Kaana li an-nabiyyi shall al-Allahu ‘alaihi wa as-salam fi haaitinaa farasun yuqaalu lahu al-Luhaifu (Konon Rasulullah mempunyai seekor kuda, yang ditaruh dikandang kami yang diberi nama al-Luhaif)[13].

Ubay ibn al-Abbas oleh Imam Ahmad, Ibn Ma’in, dan an-Nasa’iy dianggap rawi yang kurang kuat hapalannya. Oleh karena itu hadis ini berderajat hasan li dzatihi. Namun karena hadis ini juga diriwayatkan oleh Abdul Muhaimin (berarti dikuatkan oleh sanad lain sebagai muttabi’), maka kualitas kedua hadis ini naik menjadi hadis shahih li ghairihi. Artinya, kedua hadis ini saling menguatkan sehingga kedua-duanya menjadi hadis shahih li ghairihi[14].

Jadi, kunci untuk menaikan kualitas hadis dari hasan li dzatihi menjadi shahih li ghairihi adalah dengan syahid dan muttabi’. Syahid dan muttabi’ ini kalau dalam istilah an-Nawawi atau Jumhur adalah “jalan yang banyak”. [15]

Sementara itu, hadis hasan li dzatihi diartikan oleh at-Tarmusy sebagai “hadits yang pada sanadnya tiada terdapat orang yang tertuduh dusta, tiada terdapat kejanggalan pada matannya dan hadits itu diriwayatkan tidak dari satu jurusan (mempunyai banyak jalan) yang sepadan ma’nanya”.[16]

Defenisi yang lebih sistematis menjelaskan bahwa hadis hasan (li dzatihi) adalah hadis “yang dinukilkan oleh seseorang yang ‘adil, tak begitu kokoh ingatannya, bersambung sanad-sanadnya dan tidak terdapat illat serta kejanggalannya.”[17]

Dari dua definisi ini, dapat disimpulkan bahwa syarat-syarat hadis hasan (li dzatihi) hampir sama dengan syarat-syarat hadis shahih kecuali dalam hadis hasan (li dzatihi) adanya kekurang dhabith-an salah seorang perawinya. Karena adanya syarat yang kurang ini, maka kualitas hadis shahih turun menjadi hadis hasan (li dzatihi).

Jadi, hadis hasan li dzatihi adalah hadis hasan dengan sendirinya, yaitu hadis hasan yang memenuhi syarat-syarat hadis hasan. Definisi ini menegaskan bahwa syarat-syarat hadis hasan harus terpenuhi sehingga tidak turun kualitasnya menjadi hadis hasan li ghairihi.

Sementara itu, hadis hasan li ghairihi adalah hadis dhaif yang menjadi hasan karena diperkuat oleh syahid dan muttabi’. Contoh hadis hasan li ghairihi adalah hadis dhaif yang disandarkan kepada shahabat (yang dinamakan hadis mauquf), seperti ucapan Umar ibn Khattab, yang kemudian diperkuat oleh syahid hadis mauquf lain, seperti ucapan Abu Bakar. Karena adanya ucapan Umar ibn Khattab ini, maka kedua hadis dha’if tersebut naik kualitasnya menjadi hadis hasan li ghairihi. Begitu pun ketika hadis mauquf itu bersanad muttabi’, maka kualitasnya menjadi hadis hasan li ghairihi.[18]

Hadis dha’if adalah hadis yang kehilangan salah satu syarat atau lebih dari syarat hadis shahih atau hadis hasan.[19] Hadis dha’if bisa dinaikan derajatnya menjadi hadis hasan li ghairihi. Bagaimana proses menaikan kualitas hadis dhai’f menjadi hasan li ghairihi?

Secara umum, an-Nawawy dalam at-Taqrib menyatakan bahwa hadis dha’if bisa naik derajatnya menjadi hasan ketika banyak jalan (banyak matan atau sanad).[20] Jumhur Ulama dengan jelas menyebutkan bahwa hadis dha’if bisa menjadi hadis hasan li ghairihi dan dapat dijadikan hujjah ketika jalan periwayatan hadisnya banyak dan kelemahannya dapat ditutupi.[21]

Dalam redaksi lain, dijelaskan bahwa hadis dha’if yang rawinya buruk hapalannya (su-u’l hifdhi), identitasnya tidak dikenal (mastur) dan ia menyembunyikan cacat (mudallis), dapat naik menjadi hadis hasan li ghairihi karena dibantu oleh hadis-hadis lain yang semisal dan semakna atau karena banyak yang meriwayatkannya.[22]

Secara lebih metodologis, dijelaskan bahwa hadis dhaif bisa naik menjadi hadis hasan li ghairihi kalau ada syahid dan muttabi’[23]. Contoh hadis dha’if yang naik kualitasnya menjadi hasan li ghairihi karena adanya muttabi’ adalah hadis tentang mandi sunat dan memakai wangi-wangian pada hari Jum’at, yang diriwayatkan oleh at-Turmudzi. Hadis tersebut berbunyi, “Haqqun ‘ala al-muslimiina ayyaghtasiluu yaum al-Jum’ati walyamassa ahaduhum min thibi ahlihi fai’llam yazid fa-al-mau’ lahu thibun” (‘adalah haq bagi orang-orang muslim mandi di hari jum’at. Hendaklah mengusap salah seorang mereka dari wangi-wangian keluarganya. Jika ia tidak memperoleh, airpun cukup menjadi wangi-wangian’).[24]

Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tarmidzi dari Abu Yahya Isma’il ibn Ibrahim dari Yazid ibn Abi Ziyad dari Abdurrahman ibn Abi Laila, dan seterusnya. Kualitas hadis ini dha’if karena di sana ada Abu Yahya Isma’il ibn Ibrahim yang di-dha’if-kan oleh para ahli hadis. Namun kualitas hadis ini bisa dinaikan menjadi hasan li ghairihi karena adanya dua muttabi’ (sanad lain). Pertama, hadis ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Ahmad ibn Manii’ dari Hasyim dari Yazid ibn Abi Ziyad dari Abdurrahman ibn Abi Laila, dan seterusnya. Kedua, hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdul Shamad dari Abdul Aziz dari Yazid ibn Abi Ziyad dari Abdurrahman ibn Abi Laila, dan seterusnya. [25]

Selain itu, hadis ini juga diperkuat oleh syahid (matan lain), yaitu adanya hadis yang semakna dengan hadis at-Turmudzi dan Imam Ahmad tersebut yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Ahmad. Salah satu contoh hadis yang semakna dengan hadis at-Turmidzi dan Imam Ahmad ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari ‘Ali dari Harami ibn Amarah dari Syu’bah dari Abu Bakar ibn al-Munkadir dari ‘Amr ibn Sulaim, dari Abu Sa’id ra, yang berbunyi, “al-ghuslu yaum al-jum’ati wajibun ‘ala kulli muhtalimin wa ayyastanna wa ayyamassa thiban in wajada…” (‘Mandi hari jum’at itu wajib bagi setiap orang yang baligh dan mengerjakan sunnat-sunnat dan memakai wangi-wangian jika ada’).

Namun tidak semua hadis dhaif, walaupun syahid dan muttabi’nya ada, bahkan banyak, bisa naik kualitasnya menjadi hadis hasan li ghairihi. Hadis dha’if yang tidak bisa naik menjadi hadis hasan li ghairihi adalah hadis munkar (hadis yang rawinya fasik dan banyak salah), hadis matruk (hadis yang rawinya tertuduh dusta), dan hadis maudhu’ (hadis yang rawinya dusta).[26]

Alasan ketiga jenis hadis dha’if tersebut tidak bisa naik menjadi hasan (li ghairihi) karena substansi ketiga hadis tersebut memang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akademik dan tidak bisa dipahami oleh akal kalau kualitasnya bisa dinaikan.

 

C. Kaidah I’tibar

I’tibar adalah salah satu bentuk metode takhrij. Metode i’tibar adalah metode untuk “mencari dan mendapatkan petunjuk untuk mengetahui kualitas hadis.” Jadi, I’tibar adalah metode untuk mendapatkan informasi mengenai kualitas hadis dari literatur hadis.[27]

I’tibar terbagi tiga, yaitu i’tibar diwan, i’tibar syarah, dan i’tibar fan. I’tibar diwan artinya mendapatkan informasi kualitas hadis dari kitab-kitab yang asli, yaitu Mushannaf, Musnad, Sunan, dan Shahih. Contoh, seperti kitab al-jami’ al-shahih li al-Bukhari, Shahih Muslim, atau Sunan Abu Dawud. I’tibar syarah artinya mendapatkan informasi kualitas hadis dari kitab-kitab syarah, yaitu kitab-kitab kutipan hadis, seperti Bulughul Maram, Nailul Authar, Lu’lu’ war Marjan, atau Riyadhus Solihin. I’tibar fan artinya mendapatkan informasi kualitas hadis dengan menelaah kitab-kitab fan tertentu, seperti fan tafsir, fikih, tauhid, tasawuf, dan akhlak yang memuat dan menggunakan hadis sebagai pembahasannya.[28]

 

D. Implikasi Kaidah Kenaikan Kualitas Hadis dan Kaidah I’tibar terhadap Kaidah Tashhih.

Bagian ini terkait erat dengan salah satu objek kajian ilmu dirayah, yaitu kaidah tashhih. Apakah itu ilmu dirayah? Prof. Endang Soetari menjelaskan ilmu dirayah sebagai kaidah-kaidah untuk mengetahui hal-ihwal rawi, sanad, matan, dan sistem riwayat (cara-cara menerima, memelihara, dan menyampaikan hadis) yang digunakan untuk menentukan apakah suatu hadis bisa diterima (maqbul) atau ditolak (mardud) untuk dijadikan hujjah[29].

Bagaimana hubungan kaidah tashhih dengan isi makalah ini? Makalah ini membahas tentang kaidah kenaikan kualitas hadis dan kaidah i’tibar. Kaidah kenaikan kualitas hadis terkait dengan  kajian mengenai klasifikasi kualitas hadis dari sisi rawi menjadi shahih, hasan, dan dha’if. Klasifikasi kualitas hadis dari sisi rawi ini akan terkait dengan kaidah tashhih, yaitu kaidah penentuan apakah sebuah hadis diterima (maqbul) atau ditolak (mardud) untuk dijadikan hujjah. Hadis yang diterima masuk ke dalam klasifikasi hadis shahih atau hasan sementara hadis yang ditolak masuk ke dalam klasifikasi hadis dha’if. Kesimpulannya kaidah kenaikan kualitas hadis terkait dengan kaidah tashhih.

Sementara itu, kaidah i’tibar terkait dengan pencarian kualitas hadis dari kitab-kitab hadis, baik kitab mashadir ashliyyah, kitab syarah, atau kitab fan. Saya menamakan kitab-kitab tersebut sebagai literature hadis. Pencarian kualitas hadis dalam literatur hadis itu akan menemukan hadis yang berkualitas shahih, hasan, atau dha’if. Kesimpulannya kaidah i’tibar terkait dengan kaidah tashhih.

Implikasi kaidah kenaikan kualitas hadis terhadap kaidah tashhih adalah membantu kaidah tashhih dalam menentukan apakah hadis tersebut berkualitas shahih, hasan, atau dha’if, yaitu dengan menaikan kualitas hadis dha’if menjadi  hasan (li ghairih) dan kualitas hadis hasan menjadi hadis shahih (li ghairihi). Proses menaikan kualitas hadis ini tidak bisa dilakukan oleh kaidah tashhih, tapi hanya bisa dilakukan oleh kaidah kenaikan kualitas hadis.

Implikasi kaidah i’tibar terhadap kaidah tashhih adalah membantu kaidah tashhih dalam memilah-milah mana hadis shahih dan mana hadis hasan atau hadis dha’if berdasarkan literatur hadis. Dengan kaidah i’tibar, akan diketahui kitab-kitab hadis yang masuk klasifikiasi hadis shahih, hasan atau dha’if.

 

E. Penutup

Kaidah kenaikan kualitas hadis berkenaan dengan kaidah yang membahas tentang kenaikan hadis dha’if menjadi hadis hasan li ghairihi dan hadis hasan li dzatihi menjadi hadis shahih li ghairihi. Yang menjadikan kualitas hadis tersebut meningkat karena adanya matan lain (syahid) atau sanad lain (muttabi’) yang menguatkan hadis tersebut sehingga kualitasnya naik.

Kaidah i’tibar berkenaan dengan kaidah penentuan kualitas hadis dengan melihat hadis tersebut dalam literatur hadis. Kaidah i’tibar ada dua, yaitu i’tibar diwan, i’tibar syarah, dan i’tibar fan. Dengan kaidah ini akan diketahui kualitas kitab hadis tersebut apakah hadis-hadisnya berkualitas shahih, hasan, atau dha’if.

            Implikasi kaidah kenaikan kualitas hadis dan kaidah i’tibar terhadap kaidah tashhih adalah membantu kaidah tashhih menentukan kualitas sebuah hadis dari sisi rawi apakah termasuk shahih, hasan, atau dha’if dan membantu memilah-milah mana kitab hadis yang hadis-hadisnya berkualitas shahih, hasan, atau dha’if. Penentuan dan pemilahan ini akan mengetahui mana hadis yang diterima dan mana hadis yang ditolak.

 

Daftar Pustaka

Abbas, Hasjim. Kritik Matan Hadis: Versi Muhaddisin dan Fuqaha. 2004. Yogyakarta: Teras.

ash-Shiddieqy,  M. Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. 1991. Bandung: Bulan Bintang.

Darmalaksana, Wahyudin. Hadis di Mata Orientalis: Telaah atas Pandangan Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht. 2004. Bandung: Benang Merah Press.

Soetari Ad., Endang. Ilmu Hadis: Kajian Riwayah dan Dirayah. 2008. Bandung: Mimbar Pustaka.

Rahman, Fatchur. Ikhtisar Mushthalah al-Hadits. 1987. Bandung: PT. Alma’arif.


[1]Menurut Ibnu Taimiyah, ulama yang mula-mula membagi kualitas hadis menjadi tiga adalah Abu ‘Isa at- Turmudzy. Beliau memperkenalkan istilah hadis hasan untuk menilai kualitas hadis, selain shahih dan dha’if. Lihat  M. Hasbi ash-Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar  Ilmu hadits. (Bandung: Bulan Bintang. 1991). Cet. Ke. 10. Hlm. 214.

[2]Diantara ulama yang merumuskan pembagian ini adalah Imam Ahmad. Beliau membagi hadis menjadi hadis shahih (diterima) dan hadis dha’if (ditolak). Ia tidak membagi kualitas hadis menjadi hadis hasan. Lihat Ibid.

[3]Lihat Hasjim Abbas. Kritik Matan Hadis: Versi Muhaddisin dan Fuqaha. (Yogyakarta: Teras. 2004). Hlm. X. Sebenarnya tidak tepat juga menyebut ungkapan “kualitas dha’if”, karena seharunys dha’if itu tidak mempunyai kualitas. Tapi saya tetap saja menyebutkannya untuk memudahkan pemahaman saja.

[4]Hadis shahih dan hadis hasan mempunyai istilah li dzatihi dan li ghairihi (sehingga muncul istilah shahih li dzatihi dan shahih li ghairihi  atau hasan li dzatihi dan hasan li ghairihi), sementara hadis dha’if tidak mempunyai istilah tersebut. Hal ini menunjukan bahwa derajat hadis dha’if adalah yang terendah di antara jenis kualitas hadis yang dua lainnya, yaitu shahih dan hasan.

[5]Fatchur Rahman. Ikhtisar Mushthalah al-Hadits. (Bandung: PT. Alma’arif. 1987). Cet. Ke.5. 95 & 100.

[6]“Keadilan rawi, yaitu suatu kekuatan jiwa yang mendorong untuk selalu berbuat taqwa, menjauhi dosa besar, menjauhi kebiasaan dosa-dosa kecil dan meninggalkan perbuatan-perbauatan mubah yang dapat menodai muru’ah, seperti makan di jalan umum, buang air di tempat yang bukan disediakan untuknya atau semacam bergurau secara berlebih-lebihan”. Lihat Wahyudin Darmalaksana. Hadis di Mata Orientalis. Telaah atas Pandangan Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht. (Bandung: Benang Merah Press. 2004). Hlm. 40.

[7]Kedhabithan rawi, yaitu suatu sifat rawi yang cermat terhadap apa yang diterimanya dan paham terhadap apa yang didengarnya, kuat hapalannya sejak ia menerima sampai waktu menyampaikannya, hafal dan mengerti terhadap apa yang diriwayatkannya (dhabith al-shadri), menguasai betul apakah hadis tersebut disampaikan dengan ma’na dan senantiasa menjaga adanya perubahan, penambahan dan pengurangan, apabila suatu disampaikan berdasarkan catatan-catatannya (dhabith al-kitab). Lihat ibid. Hlm. 40-41.

[8]“Sanad-nya bersambung-sambung dan selamat dari keguguran, yakni tiap-tiap rawi dapat saling bertemu dan menerima langsung dari guru yang memberinya. Selain itu hadis tersebut juga diidhafatkan pada Nabi Muhammad Saw. secara langsung.” Lihat ibid. Hlm. 41.

[9]“Tanpa ‘illat, karena ‘illat hadis adalah suatu penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshahihan suatu hadis.” Lihat ibid.

[10]“Selamat dari kejanggalan, artinya bahwa hadis tersebut selamat dari adanya perlawanan antara suatu hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul dengan hadis yang lebih kuat dari adanya, disebabkan oleh adanya kelebihan jumlah sanad dan kelebihan dalam kedhabithan atau adanya segi tarjih yang lain.” Lihat ibid.

[11]Lihat Fatchur. Ikhtisar. Hlm. 101.

[12]Endang Soetari Ad. Ilmu Hadis: Kajian Riwayah dan Dirayah. (Bandung: Mimbar Pustaka. 2008). Hlm. 142. Lihat juga Fatchur. Ikhtisar. Hlm. 101.

[13]Lihat Fatchur. Ikhtisar. Hlm. 101.

[14]Ibid.

[15]Lihat M. Hasbi. Sejarah. Hlm. 214.

[16]Lihat Fatchur. Ikhtisar. Hlm. 110.

[17]Lihat Wayhudin. Hadis. Hlm.42.

[18]Lihat Endang. Ilmu. Hlm. 143.

[19]Lihat Fatchur. Ikhtisar. Hlm. 140.

[20]Lihat M. Hasbi. Sejarah. Hlm. 214.

[21]Lihat ibid.

[22]Lihat Fatchur. Ikhtisar. Hlm. 112-113.

[23]Penjelasan tentang syahid dan muttabi telah ditulis sebelumnya di awal bagian B dari makalah ini.

[24]Lihat Fatchur. Ikhtisar. Hlm. 112.

[25]Ibid. Hlm. 112-113.

[26]Lihat Endang. Ilmu. Hlm. 143. Lihat juga M. Hasbi. Sejarah. Hlm. 214.

[27]Lihat Endang. Ilmu. Hlm. 145.

[28]Lihat ibid.

[29]Lihat juga M. Hasbi. Sejarah. Hlm. 151 dan Fatchur. Ikhtisar. Hlm. 55.

Posted in: Artikel