IMPLIKASI KONSEP TA’DIB TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM

Posted on October 11, 2011

0


IMPLIKASI KONSEP TA’DIB TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM

Oleh: Ceceng Salamudin

“Yang terbanyak memasukkan ke surga ialah takwa kepada Allah dan budi pekerti luhur” (sebuah hadis yang dikutip dari Kitab Bulughul Maram)

 

A. Pendahulan

Salah satu tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam undang-undang sisdiknas nomor 20 Tahun 2003 (bab II; pasal 3) adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berakhlak mulia. Kutipan lengkap pasal tersebut seperti ini

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[1]

Pendidikan akhlak adalah pendidikan budi pekerti, sopan santun, tatakrama, adab, moral, atau etika.[2] Walaupun arti beberapa terminologi kadang kala dibedakan, tapi pada akhirnya semua terminologi sama berisi tentang konsep baik dan buruk.

Dalam Islam jelas sekali, pendidikan budi pekerti ini menempati posisi penting, bahkan pahala bagi yang melakukan budi pekerti yang baik, selain tentu saja ketaqwaan, adalah syurga, seperti yang disebutkan oleh hadis di atas.

Dalam persfektif pendidikan, konsep budi pekerti ini dinamakan ta’dib. Kata ini mempunyai implikasi luas dan mendalam terhadap konsep pendidikan Islam karena konsep ta’dib ini dijiwai oleh semangat al-Quran dan hadis sebagai kitab moral atau kitab akhlak.

Makalah ini akan mencoba memetakan implikasi ta’dib terhadap pendidikan Islam dengan mencoba menggali nilai-nilai al-Quran dan hadis yang memuat konsep ta’dib ini dan bagaimana implikasi ta’dib dari al-Quran dan hadis itu terhadap pendidikan Islam.

 

B. Pengertian Ta’dib

Secara etimologi, ta’dib-bentuk masdar dari kata kerja addaba-yuaddibu-ta’diban-diterjemahkan menjadi pendidikan sopan santun atau adab[3]. Dari sisi etimologi ini, kita bisa memahami bahwa ta’dib itu berkenaan dengan budi pekerti, moral, dan etika. Dalam Islam, budi pekerti, moral, dan etika itu “satu meja” dengan akhlak.

Menurut terminologi, ta’dib diartikan sebagai proses mendidik yang ditujukan kepada pembinaan budi pekerti pelajar dan berujung pada proses penyempurnaan akhlak sebagaimana Rasulullah sabdakan dalam sebuah hadis, yang berbunyi, “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan keluhuran budi pekerti.”

Kata ta’dib yang berarti pendidikan atau mendidik ini bisa dilacak dalam hadis yang  berbunyi: “Addibni rabbi fa’ahsana ta’dibi” (Tuhanku telah mendidikku, sehingga menjadikan baik pendidikanku)[4]. Dengan jelas hadis ini menyebutkan kata ta’dib atau turunannya (addibni) yang diartikan sebagai pendidikan atau mendidik.

Arti lebih luas tentang ta’dib ini dijelaskan oleh Sayyed Muhammad an-Naquib al-Attas. Menurutnya, kata ta’dib adalah:

Pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan[5].

Dari arti ini, ta’dib mencakup unsur-unsur pengetahuan (ilmu), pengajaran (ta’lim), dan pengasuhan (tarbiyah). Oleh karena itu menurutnya, kita tidak perlu mengacu pada konsep pendidikan Islam sebagai integrasi dari tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib. Hal ini disebabkan karena ta’dib telah mewakili konsep pendidikan Islam. Ia adalah istilah yang paling tepat untuk menunjukkan arti pendidikan Islam.[6]

Penjelasan al-Attas ini menegaskan bahwa ta’dib ini meliputi semua konsep pendidikan dalam Islam, termasuk konsep ta’lim dan tarbiyyah yang selama ini kedua konsep ini sering dibedakan dengan konsep ta’dib.[7]

Sebagai usaha pembentukan tata krama, Amatullah Armstorng dalam buku “Sufi Terminology (al-Qamus al-Sufi): The Mystic Language of Islam,” menjelaskan bahwa ta’dib terbagi empat:

(1) ta’dib adab al-haq, pendidikan tata karma spiritual dalam kebenaran, yang memerlukan pengetahuan tentang wujud kebenaran, yang didalamnya segala yang ada memiliki kebenaran tersendiri dan yang dengannya segala sesuatu diciptakan; (2) ta’dib adab al-khidmah, pendidikan tata karma spiritual dalam pengabdian. Sebagai seorang hamba, manusia harus mengabdi kepada sang Raja (Malik) dengan menempuh tata karma yang pantas; (3) ta’dib adab al-syariah, pendidikan tata karma spiritual dalam syariah, yang tatacaranya telah digariskan oleh Tuhan melalui wahyu. Segala pemenuhan syariah Tuhan akan berimplikasi pada tata karma yang mulia; (4) ta’dib adab al-shuhbah, pendidikan tata karma spiritual dalam persahabatan, berupa saling menghormati dan berprilaku mulia di antara sesame.

Mengapa manusia harus memahami konsep ta’dib dan mengamalkan nilai-nilai akhlak yang baik?  Pada dasarnya, manusia makhluk yang bermoral atau beradab, sebagaimana ia diciptakan dengan potensi untuk berbuat baik. Manusia dianggap bermoral karena ia mempunyai akal, sementara binatang tidak bermoral karena binatang tidak mempunyai akal; ia hanya mempunyai naluri saja.[8]

 

 

C. Ta’dib dan Filsafat Moral Mu’tazilah?

Tidak berebihan kalau kami menghubungkan ta’dib dengan moral karena konsep keduanya saling mengisi.  Artinya ta’dib ini pada ujungnya akan terkait dengan pendidikan moral atau pendidikan nilai.

Kenapa memilih mengkaji filsafat moral mu’tazilah, karena filsafat moral mu’tazilah ini memeliki kecenderungan kuat untuk bisa dipahami oleh akal sehat sehingga seseorang yang melakukan pelanggaran moral tidak akan menyalahkan Tuhan yang Maha Berkehendak, tapi ia menyalahkan dirinya sendiri yang mempunyai kehendak dan kemauan untuk menghindari sikap atau perbuatan yang melanggar moral tersebut.

Berkenaan dengan konsep moral ini, Mu’tazilah menyatakan bahwa perbuatan baik dan jelek manusia dilihat berdasarkan dzat perbuatannya[9]. Manusia bermoral atau tidak didasarkan pada perbuatan manusia itu sendiri, bukan karena perbuatan Allah. Seorang pelajar bermoral atau tidak ditentukan oleh dirinya sendiri berdasarkan aturan-aturan moral yang diatur dalam agama.

Lebih jauh lagi Mu’tazilah meyakini bahwa konsep amar ma’ruf dan nahi al-Munkar adalah dasar satu-satunya perbuatan manusia[10]. Keyakinan Mu’tazilah ini berimplikasi pada konsep ta’dib yang didasari oleh konsep  amar ma’ruf dan nahi al-Munkar ini.

Seseorang melakukan kebaikan dan keburukan diawali dari niat. Bisikan hati mendahului perbuatan anggota tubuh. Oleh sebab itu, wajar kalau niat dianggap sebagai pemimpin. Ia memimpin anggota tubuh yang lain. [11] Jadi, hati ini sebagai panglima dan anggota tubuh sebagai prajurit.

Bagaimana seseorang dinilai akhlaknya? Akhlak baik tidak bisa berdiri kecuali dengan membersihkan jiwa dari kerusakan-kerusakan yang tersembunyi atau keburukan-keburukan batin, contoh seperti sifat riya. Riya akan menghasilkan akhlak-akhlak tercela seperti merasa paling hebat dalam masalah ilmu dan amal, bersifat angkuh dengan kehidupan agama dan dunia, dan hasud. Oleh karena itu, perbauatan baik tidak pernah ada kecuali dengan membersihkan diri dari sifat riya ini.[12]

 

D. Al-Quran dan Hadis Berbicara Tentang Ta’dib

Konsep ta’dib bisa dilihat dalam al-Quran surat Luqman ayat 13 sampai 19.

øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8Ύô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ   $uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒy‰Ï9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çm•Bé& $·Z÷dur 4’n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur ’Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# ’Í< y7÷ƒy‰Ï9ºuqÎ9ur ¥’n<Î) 玍ÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ   bÎ)ur š‚#y‰yg»y_ #’n?tã br& š‚͍ô±è@ ’Î1 $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ Ÿxsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur ’Îû $u‹÷R‘‰9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur Ÿ@‹Î6y™ ô`tB z>$tRr& ¥’n<Î) 4 ¢OèO ¥’n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé’sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ   ¢Óo_ç6»tƒ !$pk¨XÎ) bÎ) à7s? tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB 5AyŠöyz `ä3tFsù ’Îû >ot÷‚|¹ ÷rr& ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÷rr& ’Îû ÇÚö‘F{$# ÏNù’tƒ $pkÍ5 ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ì#‹ÏÜs9 ׎Î7yz ÇÊÏÈ   ¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4’n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷“tã ͑qãBW{$# ÇÊÐÈ   Ÿwur öÏiè|Áè? š‚£‰s{ Ĩ$¨Z=Ï9 Ÿwur Ä·ôJs? ’Îû ÇÚö‘F{$# $·mttB ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä† ¨@ä. 5A$tFøƒèC 9‘qã‚sù ÇÊÑÈ   ô‰ÅÁø%$#ur ’Îû šÍ‹ô±tB ôÙàÒøî$#ur `ÏB y7Ï?öq|¹ 4 ¨bÎ) ts3Rr& ÏNºuqô¹F{$# ßNöq|Ás9 ΎÏJptø:$# ÇÊÒÈ

13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

16. (Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.

17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Ayat 13 berbicara tentang akhlak kepada Allah, yaitu jangan mempersekutukan Allah. Tidak menyekutukan Allah merupakan salah satu akhlak tertinggi dalam Islam. Akhlak ini harus ditanamkan kepada para siswa sehingga mereka bisa memiliki akhlak ini.

Ayat 14 menyuruh manusia untuk berbuat baik kepada orang tua sebagai manifestasi akhlak kepada orang tua. Oleh karena itu berbakti kepada orang tua adalah pesan moral al-Quran terhadap manusia supaya mereka memiliki akhlak tersebut. Para siswa harus memahmi pesan moral ini sehingga mereka tumbuh menjadi pelajar yang mengabdi kepada orang tua.

Ayat ini juga memuat akhlak mulia lain, yaitu bersyukur kepada Allah dan orang tua. Jadi, manifestasi tidak menyukutukan Allah dan berbuat baik kepada orang tua adalah dengan bersyukur kepada Allah dan orang tua.

Selain itu, ayat ini dan ayat 15 juga menjelaskan akhlak yang mulia lain, yaitu menanamkan keyakinan bahwa semua makhluk akan kembali kepada Allah. Apakah keyakinan bahwa semua makhluk akan kembali kepada Allah perlu ditanamkan kepada semua pelajar? Tentu saja perlu supaya mereka bisa tumbuh menjadi manusia yang bertanggung jawab dan hati-hati dalam menjalanai hidup.

Ayat 15 berbicara tentang kewajiban kita untuk taat kepada Allah dan meninggalkan perintah mereka ketika mereka menyuruh kita menyekutukan Allah. Artinya, salah satu akhlak yang baik itu tidak mengikuti kemauan orang tua ketika mereka menyuruh kita menyekutukan Allah. Namun tatakrama kemanusiaan kita kepada orang tua harus tetap dijaga. Walaupun kita tidak mentaati mereka, tapi kewajiban untuk bersikap sopan dan santun kepada mereka tetap tidak hilang. Artinya, Allah tetap menyuruh kepada kita untuk berbuat baik kepada orang tua.

Kita juga harus mengikuti orang yang kembali kepada jalan Allah. Artinya, orang-orang yang sudah bertobat kepada Allah, maka kita ikuti jalan tobat mereka. Dalam arti kita mengikuti cara mereka (yaitu bertobat) ketika kita melakukan kesalahan. Contoh akhlak ini harus dipahami dan diamalkan oleh para pelajar sehingga mereka tumbuh menjadi manusia-manusia yang mampu bertoabt dengan benar.

Ayat 16 berbicara bahwa kita harus meyakini bahwa segala sesuatu ada balasaannya. Keyakinan ini merupakan wujud akhlak yang luhur. Keyakinan ini harus ditanamkan kepada para pelajar sehingga mereka tumbuh menjadi manusia yang bertanggung jawab dan hati-hati dalam menjalani hidup.

Ayat 17 menjelaskan salah satu akhlak yang tertinggi dalam Islam yaitu, mendirikan sholat, selain amar ma’ruf nahi al-munkar. Selain itu sabar juga merupakan wujud akhlak yang baik. Sabar dalam mendirikan sholat dan menjalankan amar ma’ruf nahi al-munkar adalah akhlak yang luhur yang perlu ditanamkan dan dijalankan oleh para pelajar.

Ayat 18 melarang manusia untuk bersikap dan berlaku sombong dan membanggakan diri. Sombong dan membanggakan diri adalah akhlak buruk yang harus ditinggalkan. Pesan moral al-Quran ini dengan tegas melarang manusia untuk sombong dan membanggakan diri. Pesan moral ini harus dipahami oleh para pelajar sehingga mereka tumbuh menjadi orang-orang yang santun.

Ayat 19 melarang manusia berlebihan dalam berjalan sehingga tampak seperti menyombongkan diri dan melarang meninggikan suara yang tentu saja menggangu orang lain atau makhluk lain. Pesan moral ini harus dipahami oleh para pelajar, sehingga mereka tumbuh menjadi manusia yang titih rintih dalam segala aktivitas.

Ayat 21 Surat al-Ahzab juga berbicara tentang ta’dib, terutama akhlak yang dicontohkan oleh Nabi dan harus diikuti oleh umat. Ayat berbunyi:

ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqߙu‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.

Ayat ini mempertegas bahwa akhlak Nabi harus dijadikan teladan karena akhlak Nabi adalah al-Quran. Dalam persfektif pendidikan, seorang pelajar harus mengikuti akhlak Nabi ini sehingga ia tumbuh menjadi pelajar yang berakhlak mulia.

Konsep ta’dib dalam hadis bisa dilacak dari hadis yang salah satunya telah saya sebutkan sebelumnya, yaitu  “Yang terbanyak memasukkan ke surga ialah takwa kepada Allah dan budi pekerti luhur”,  “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”, dan “Tuhanku telah mendidikku, sehingga menjadikan baik pendidikanku”.

Hadis yang artinya “Yang terbanyak memasukkan ke surga ialah takwa kepada Allah dan budi pekerti luhur” menjelaskan bahwa pendidikan budi pekerti ini bersanding dengan konsep taqwa. Artinya, pendidikan budi pekerti ini menjadi bagian dari taqwa dan menempati posisi penting dalam moralitas keagamaan.

Hadis kedua yang artinya “Aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang luhur” menunjukan pentingnya budi pekerti ini dalam kehidupan sehingga Rasulullah S.A.W. sengaja diutus untuk “membereskan” akhlak ini. Pernyataan rasul ini mempertegas pentingnya pendidikan budi pekerti ini untuk membangun umat yang beradab.

Hadis ketiga yang artinya “Tuhanku telah mendidikku, sehingga menjadikan baik pendidikanku” memperlihatkan bahwa Rasulullah adalah “murid” Allah S.W.T. Allah langsung mendidik Nabi tentang adab, sehingga rasul tumbuh menjadi manusia yang beradab.

 

E. Implikasi Ta’dib Terhadap Pendidikan Islam

Bagaimana implikasi hadis terhadap pendidikan Islam? Jawabanya konsep ta’dib sangat mempengaruhi konsep pendidikan Islam, bahkan bahkan konsep ta’dib ini merupakan esensi pendidikan Islam. Hal ini bisa dilihat dari pendapat Nurcholis Madjid. Menurutnya, pendidikan islam adalah pendidikan untuk pertumbuhan total manusia, yaitu ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebaikan kepada sesama manusia (akhlaqul karimah).[13]

Jadi, menurut beliau pendidikan Islam pada akhrinya ditujukan kepada penyempurnaan keluhuran budi pekerti. Oleh karena itu, hadis yang menyatakan bahwa“sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi” menunjukan kedudukan budi pekerti dalam pendidikan Islam.[14]

Syekh Muhammad Naquib al-Attas menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah menciptakan manusia yang baik. Oleh karena itulah makanya orang yang benar-benar terpelajar menurut perspektif Islam didefinisikan al-Attas sebagai orang yang beradab. Ia menulis:
“Orang yang baik itu adalah orang yang menyadari sepenuhnya akan tanggungjawab dirinya kepada Tuhan yang Haq, yang memahami dan menunaikan kewajiban terhadap dirinya sendiri dan orang lain yang terdapat dalam masyarakatnya.”[15]

Ia juga mengatakan bahwa orang yang terpelajar adalah orang baik, yaitu orang yang beradab adab dalam artian yang menyeluruh, yang meliputi kehidupan spiritual dan material seseorang, yang berusaha menanamkan kualitas kebaikan yang diterimanya.’[16]

Kita lihat implikasi konsep ta’dib terhadap pendidikan Islam dari abstraksi sebuah karya tulis.[17]

(1) Tujuan pendidikan Islam diarahkan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu, berkualitas dalam bidang intelektual dan yang paling mendasar adalah nilai-nilai moral agama selalu membimbingnya, sehingga menciptakan situasi serta kondisi sedemikian rupa dalam membangun peradaban saat ini dan di masa depan. (2) Bentuk dan formulasi kurikulum di sini harus mengandung makna dan nuansa nilai-nilai ilahiyah yang tidak mesti dipahami dalam bentuk dikotomis. Proses sosialisasinya bisa didekati dengan muatan semua disiplin ilmu yang diajarkan dengan ruh dan semangat moralitas atau akhlak Islam. (3) Metodologi pengajaran pendidikan Islam perlu disintesiskan secara kreatif sehingga menjadi perpaduan harmonis antara pendekatan doktriner dan saintifik, dan lebih merupakan proses learning, ketimbang hanya proses teaching; disamping proses intelektualisasi, juga proses inkulturisasi.

 

 

F. Kesimpulan

Ta’dib berkenaan dengan budi pekerti, sopan santun, akhlak, moral, dan etika. Dalam konsep pendidikan, ta’dib ini dipahami sebagai pendidikan adab atau pendidikan akhlak. Namun ta’dib juga memuat juga konsep ta’lim dan tarbiyyah. Tujuan pendidikan adab ini supaya pelajar tumbuh menjadi manusia yang beradab.

Filsafat moral Mu’tazilah menjelaskan bahwa perbuatan baik dan jelek ini karena kehendak manusia oleh karena itu manusia harus bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Dalam konteks pendidikan, filsafat moral ini mendorong para pelajar bertanggung jawab terhadap perbuatannya karena mereka menyadari bahwa baik dan buruk tergantung dirinya sendiri.

Konsep ta’dib ini diabadikan dalam al-Quran, diantaranya Surat Luqman ayat 13-19 dan Surat al-Ahzab ayat 21 dan beberapa hadis Nabi juga mengabadikan konsep ta’dib ini. Ayat-ayat al-Quran dan hadis ini menegaskan bahwa konsep ta’dib menjadi bagian yang sangat peting dalam Islam.

Implikasi ta’dib terhadap pendidikan Islam adalah bahwa konsep ta’dib ini menjadi esensi pendidikan Islam. Implikasi tesebut mewujud dalam konsep kecerdasan emosional dan spiritual yang harus dimiliki oleh para pelajar.

 

Daftar Pustaka

ath-Thawil, Taufiq. Falsafat al-Akhlaq. Mesir: Dar an-Nahdhah al-‘Arabiyyah.

Daulay, Haidar Putra. Pendidikan Islam: Dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia. 2007. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Fajar, A. Malik. Reorientasi Pendidikan Islam. 1999. Jakarta: Fajar Dunia.

Mujib, Abdul dan Mudzakkir. Ilmu Pendidikan Islam. 2008. (Jakarta: Kencana Prenada Media group.

Ngator, Zaenul. Ta`Lim, Ta`Dib, Dan Tarbiyah. 29 Januari 2009 http://mimbarbaiturrahman.blogspot.com/2009.

Shubhy, Ahmad Mahmud. Al-Filsafat al-Akhlaqiyyah fi al-Fikri al-Islami. Mesir: Dar al-Ma’arif.

Yunus, Mahmud. Qamus. 1990. Jakarta: Mahmud Yunus Wadzuriyah.

Wastuti. Konsep Ta’dib Dalam Pendidikan Islam (Studi Atas Pemikiran Sayyed Muhammad Naquib al-Attas). 2009. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga.


[1]Haidar Putra Daulay. Pendidikan Islam: Dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2007). Cet. Ke. 2. Hlm. 215-216.

[2]Ibid. Hlm. 216

[3]Mahmud Yunus. Qamus. (Jakarta: Mahmud Yunus Wadzuriyah. 1990). Cet. Ke. 8. Hlm. 37.

[4]Abdul Mujib dan Mudzakkir. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Kencana Prenada Media group. 2008). Cet. Ke-2. Hlm. 20.

[5]Abdul dan Mudzakkir. Ilmu.  Hlm. 20.

[7]Lihat Abdul dan Mudzakir. Ilmu. Hlm. 10-21. Lihat juga di Zaenul. Ta’lim.

[8]Taufiq ath-Thawil. Falsafat al-Akhlaq. (M esir: Dar an-Nahdhah al-‘arabiyyah. 1979). Cet. Ke. 4. Hlm. 17).

[9]Ahmad Mahmud Shubhy. Al-Filsafat al-Akhlaqiyyah fi al-Fikri al-Islami. (mesir: Dar al-Ma’arif). Hlm. 128.

[10]Ibid. Hlm. 191.

[11]Ibid. Hlm. 268.

[12]Ibid. Hlm. 274.

[13]A. Malik Fajar. Reorientasi Pendidikan Islam. (Jakarta: Fajar Dunia. 1999). Hlm. 3.

[14]Ibid. Hlm. 4

[15]Wastuti. Konsep Ta’dib Dalam Pendidikan Islam (Studi Atas Pemikiran Sayyed Muhammad Naquib al-Attas). (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga 2009). Lihat di digilib-uinsuka.com.

[16]Ibid.

[17]Ibid.

Posted in: Artikel