SEKULERISASI KURIKULUM

Posted on October 4, 2011

0


SEKULERISASI KURIKULUM

Oleh: Ceceng Salamudin

 

Katanya, pendidikan bisa maju kalau berdiri di atas budaya dan ideologi bangsa. Apakah pendidikan Indonesia telah berdiri di atas budaya dan ideologi bangsa? Kalau jawabannya  iya, berarti Indonesia menjadi bukti bahwa pendidikan yang dibangun di atas budaya dan ideologi bangsa belum tentu bisa memajukan pendidikan

 

Saya pikir di sekolah Pasca sarjana ini saya tidak akan pernah menemukan kajian sekulerisasi dalam pendidikan. Tapi ternyata ini menjadi isu kajian. Artinya pembahasan tentang sekulerisasi masih diperlukan.

Almarhum Nurkholis Madjid dulu mendukung sekulerisasi tapi menolak sekulerisme. Saya lupa lagi alasan yang pasti. Tahun 2000 saya pernah membaca buku karya Cak Nur tentang sekulerisasi dan sekulerisme itu. Kalau tidak salah Cak Nur mendukung sekulerisasi karna memang kita harus mampu memisahkan mana urusan dunia mana urusan akhirat. Menurut Cak Nur kedua urusan itu jelas berbeda. Ketika berbicara agama saya yang paling benar itu kan urusan akhirat, tapi ketika di dunia ini, kita harus mengatakan bahwa agama sampeyan juga benar dan agama saya juga benar.

Sementara itu alasan Cak Nur menolak sekulerisme karna sekulerisme itu memisahkan kita dari agama. Jelas itu bertentangan dengan diri kita sebagai manusia beragama. Mungkin persis seperti penganut materialisme itu. Penganut paham ini berpendapat bahwa tidak ada dunia ruhaniyah, yang ada dunia materi. Jelas saja mereka menolak Tuhan, alam kubur, dan akhirat. Atau juga seperti paham anti-materialisme yang mengganggap dunia materi tidak ada. Yang ada adalah alam ruhaniyah. Mereka jelas saja menolak kehidupan ini.

Kita tentu saja bukan penganut materialisme dan anti-materialisme. Lantas kita siapa? Ya kita yang menjejakan kaki di alam materi dan akan mati menuju alam ruhani. Maka pendidikan kita juga akan berada dalam pemahaman ini. Salah satu komponen pendidikan itu adalah kurikulum. Artinya kurikulum yang kita bangun ini akan berdasarkan pemahaman kita itu.

Rangkuman ini tentang sekulerisasi kurikulum. Saya tidak tahu pasti maksud sekulerisasi kurikulum ini. Apakah sama atau tidak dengan makna sekulerisasi atau sekulerisme dari Cak Nur? Saya tidak tahu percis. Namun kalau saya pahami kuliah Prof. Tafsir tentang sekulerisasi kurikulum, tampaknya yang beliau maksud dengan sekulerisasi kurikulum itu adalah pemisahan pendidikan dari nilai-nilai (agama). Artinya program-program pendidikan itu tidak dijiwai oleh nilai-nilai (agama). Jelas saya menolak kalau pendidikan dipisahkan dari nilai-nilai. Bagi saya, seseorang yang beragama itu seharusnya menjadikan nilai-nilai agama itu sebagai kontrol pendidikan. Karena  nilai sebagai kontrol, nilai tersebut tidak harus dimasukan ke dalam kurikulum. Toh, nilai itu sudah ada dalam diri sesorang sebelum dia memasuki dunia sekolah.

Yang tidak kalah pentingnya materi sekulerisasi pendidikan yang berangkat dari filsafat kurikulum ini. Prof. Tafsir berangkat dari akal yang berfungsi “membuat” kurikulum. Bagi Prof. tafsir, akal ini ada dau jenis: akal manusia yang terbatas dan akan Tuhan yang tidak terbatas. Akal manusia jelas tidak akan mampu memahami Tuhan. Ketika akal ini tidak mampu memahami Tuhan sebenarnya itu awal yang baik untuk memahami Tuhan. Sebab ketika manusia tidak memahami Tuhan dengan akalnya, seharusnya dan sebenarnya ia mulai memahami Tuhan dengan akal Tuhan. Jadi tipis sekali jarak antara akal manusia dengan akal Tuhan ini.

Akal manusia dan akal Tuhan ini penting sekali dalam pendidikan, contohnya dalam membuat program-program pendidikan. Orang Barat yang dikritik oleh Prof. Tafsir ini kayanya hanya menggunakan akal manusia saja. Sementara Islam yang dipuji oleh beliau sangat menghargai kedua akal tersebut. Tapi kenapa pendidikan Islam yang memadukan akal manusia dan Tuhan masih jauh tertinggal dari pendidikan Barat?. Wallahu a’lam bi ash-Shawwab.

Posted in: Artikel