PEMBELAJARAN AL-QURAN MELALUI CERITA PENDEK (GAGASAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN AL-QURAN BAGI REMAJA)

Posted on October 4, 2011

0


PEMBELAJARAN AL-QURAN MELALUI CERITA PENDEK

(GAGASAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN AL-QURAN BAGI REMAJA)

Oleh: Ceceng Salamudin

 

A. Pendahuluan

Apakah pembelajaran al-Quran mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepribadian remaja yang mempelajarinya? Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan remeh temeh tapi pertanyaan yang muncul karena keprihatinan saya melihat remaja muslim yang mempelajari al-Quran di pengajian-pengajian kampung, pesantren atau sekolah tapi kepribadian mereka tidak bagus. Mereka masih terlibat tawuran, mengakses film-film porno, menggunakan alat komunikasi yang berlebihan, dan melakukan free sex.

Tanpa penelitian sekalipun, seharusnya al-Quran bisa memberikan pengaruh positif terhadap kepribadian manusia yang mempelajarinya. Tapi sepertinya untuk sebagian kalangan tidak lah demikian. Mengapa hal ini terjadi?

Alasan pertama bisa jadi karena faktor motivasi yang kurang kuat untuk mempelajari al-Quran. Para remaja mengaji atau sekolah karena takut orang tua atau karena malu saja sehingga ketika belajar mereka tidak serius. Untuk kalangan remaja seperti ini, bisa jadi sebaik apapun metode pembelajarn atau materi ajar tetap saja hal itu tidak akan mampu membangun motivasi belajar mereka.

Alasan kedua bisa jadi karena faktor metodologi pengajaran al-Qurannya yang kurang menarik sehingga guru pun jadi kurang menarik bagi siswa karena guru tidak menjadi pemicu bangkitnya motivasi siswa. Untuk alasan yang kedua ini, bisa jadi remaja yang mempunyai motivasi belajar yang bagus tapi metodologi pengajaran al-Qurannya kurang bagus akan lahir menjadi remaja yang keperibadiaannya tidak terpengaruh oleh al-Quran. Mereka sama saja dengan mereka yang mempunyai alasan pertama.

Tulisan ini akan mencoba menghubungkan antara alasan pertama dengan alasan kedua dengan hipotesa bahwa motivasi remaja untuk mempelajari al-Quran akan tumbuh dengan menggunakan metodologi pembelajaran al-Quran yang bagus.

Hipotesa ini sebenarnya telah dibuktikan ketika penulis mengajarkan surat-surat pendek al-Quran, seperti al-Fatihah, al-Ikhlas, dan al-Falaq kepada anak-anak pengajian dengan menggunakan cerita pendek. Motivasi mereka untuk mempelajari al-Quran lebih meningkat dengan bukti mereka jadi lebih respek terhadap pelajaran dan sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya mereka tidak pernah bertanya sama sekali.

Oleh karena itu, mengajarkan al-Quran melalui cerpen harus dikembangkan, sehingga motivasi remaja untuk mempelajari al-Quran semakin bagus. Dengan motivasi belajar al-Quran yang bagus, pemahaman al-Quran mereka semakin bagus. Dengan pemahaman al-Quran yang semakin bagus,  kepribadian mereka pun akan semakin bagus.

Pembelajaran al-Quran tersebut dinamakan pembelajaran al-Quran melalui cerpen karena cerpen menjadi penjelas ayat-ayat al-Quran yang diajarkan. Isi cerpen berarti materi-materi pembelajaran itu. Dengan cara ini, diharapkan siswa termotivasi untuk mempelajari al-Quran lebih serius. Pengajaran al-Quran melalui cerita pendek ini bisa menjadi alternatif bagi remaja untuk mempelajari al-Quran sehingga mereka bisa mencintai al-Quran.

 

B. Pembelajaran Al-Quran Melalui Cerpen

Mengapa pembelajaran al-Quran melalui cerpen perlu dilakukan? Cerpen merupakan bagian dari sastra. Pengajaran cerpen bagian dari pengajaran sastra. Dalam pengajaran sastra, pemberian makna pada eksistensi manusia menjadi penekanan karena sastra menyoroti hakikat peristiwa-peristiwa yang diangkat dari fakta sejarah[1]. Selain itu, sastra juga memanpaatkan “ketegangan antara realitas sejarah dengan rekaan. Fungsinya  untuk mempertegas kebenaran dan ketepatan isi cerita seluruhnya dalam rangka membawa massage teksnya.”[2]

Mengapa dalam mengajarkan al-Quran mesti melalui pengajaran sastra? Karena sastra (1) memuat materi yang autentik bernilai, (2) memperkaya budaya, (3) memperkaya bahasa, (4) melibatkan pribadi,[3] dan (5) al-Quran memuat kisah-kisah orang atau masyarakat terdahulu dan menyampaikannya dengan cara bercerita seperti dialog antara Nabi Khidir dengan Nabi Musa atau Nabi Isa dengan umatnya.

Salah seorang peneliti tentang pengajaran sastra menyimpulkan bahwa ssiswa lebih menyukai dan belajar lebih baik dengan cerita-cerita sederhana[4]. Menurutnya, hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa

Sastra adalah mata pelajaran yang penting karena mampu meningkatkan kemampuan berpikir dan literasi siswa (misalnya Purves, Roger, Soter 1990; Cobine 1996; Spiegel 1998), khususnya dalam pengembangan kemampuan berpikir kritis (misalnya Langer, 1991). Selain itu sastra juga dapat mengajarkan nilai-nilai luhur melalui cara di mana pembaca dapat memahami dan berbagai emosi dan aspirasi orang lain (Rosenblatt, 1990) atau melalui appresiasi nilai-nilai budaya dan karya seni pada umumnya (Purves et al., 1990).”[5]

Ari J. Adipurwawidjana, mengutip Barbara Christian menyatakan bahwa “sastra merupakan cara untuk menyadarkan diri kita bahwa kita tidak berhalusinasi, bahwa yang kita rasakan dan ketahui memang ada, bahwa teori yang kita yakini layak kita praktekan pula. Belajar sastra merupakan upaya pengukuhan bahwa perasaan adalah pengetahuan, dan bahasa sastra bahasa yang masuk akal.”[6]

Beberapa komentar remaja tentang pentingnya al-Quran dikenalkan melalui cerita-cerita sederhana adalah kutipan dari cover belakang buku Al-Fatihah Membuka Potensi Diri (Seri al-Quranku Keren). Buku ini telah mengenalkan al-Quran melalui cerita pendek. Berikut ini kutipan-kutipan komentar tersebut.[7]

‘Buku ini asyik untuk dibaca, ngajarin tentang al-Quran dengan cara yang nggak biasa. MENARIK!! Nggak usah deh khawatir nggak ngerti apa yang dibaca waktu salat kalo dah baca buku ini…’ (Reza, Manajemen Unpad’05)

‘Makin deket makin indah. Itu juga yang kita rasain waktu deket ama Allah lewat buku ini.’ (Q-ka, kelas VII-A SMP Taruna Bakti Bandung)

‘Buku ini ngungkapin kalo masalah kita bisa kebantu lewat mahamin al-Fatihah lho…’ (Gdish, Kelas X-D, SMAN 2 Bandung)

‘Cuma 2 kata buat buku ini: BAGUS BUANGET!!! Ngulas makna ayat-ayat di Surat Al-Fatihah. Jadi kita tau makna n artinya. Trus, kalo kita baca surat ini waktu salat jadi khusyu, soalnya sambil dibaca sambil dibayangin juga maknanya. Dijamin nggak bakal rugi beli ni buku. Two thumbs up deh’ (Myrna Annisaniwaty, Kelas III IPA, SMA Darul Hikam Bandung)

‘Ternyata al-Fatihah nggak se-simple yang saya kira. Buku ini ngasih berbagai inspirasi baru dan motivasi saya buat jadi the best.’ (Ilham, Kelas XII-I, SMAN 5 Bandung).

 

 

C. Pentingnya Penelitian tentang Pembelajaran al-Quran Melalui Cerpen

Tidak bisa dipungkiri bahwa problem-problem sosial yang dihadapi remaja muslim seperti narkoba, pergaulan bebas, kehilangan jati diri, dan kehilangan semangat belajar, menjadi tantangan bagi al-Quran sebagai petunjuk bagi umat, termasuk bagi remaja.

Namun fungsi al-Quran sebagai petunjuk ini berlawanan dengan kenyataan. Remaja asik dengan dunia mereka sendiri, sementara al-Quran juga asik dengan dunianya sendiri.

M. Quraish Shihab melihat bahwa jurang pemisah antara kalangan muda dan al-Quran disebabkan pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan yang tidak diimbangi dengan penafsiran ulama terhadap al-Quran. Di satu sisi, perkembangan Ilmu pengetahuan dengan metode ilmiahnya sangat digandrungi oleh kalangan muda, sementara itu di sisi lain perkembangan agama melalui penafsiran para ulama justru kurang dikenal oleh kebanyakan mereka[8] karena metodologi penafsirannya yang kaku dan hasil penafsirannya tidak pro mereka. Oleh karena itu wajar kalau kalangan muda mengharapkan pengajaran al-Quran yang bisa dipahami oleh mereka dan penafsiran al-Quran yang mampu menyentuh keinginan mereka.

Salah satu jawaban terhadap harapan mereka adalah melalui pengajaran al-Quran yang mudah dipahami oleh mereka. Pengajaran al-Quran yang menarik bagi remaja ini harus dibuktikan melalui penelitian.  Oleh karena itu dengan penelitian ini, remaja bisa menjadi soul mate-nya al-Quran itu. Al-Quran dan remaja bisa saling “memperhatikan”. Mereka bisa saling memahami kepribadian masing-masing. Mereka bisa saling menyayangi. Kalau sudah saling menyayangi, remaja akan selalu menjadikan al-Quran sebagai “tempat curhat” dan begitupun sebaliknya, al-Quran akan memberikan solusi kepada permasalahan remaja. Jadi, kegunaan penelitian ini untuk mendorong remaja agar mencintai al-Quran melalui pertemannnya dengan al-Quran. Dengan mencintai al-Quran, diharapkan akhlak remaja semakin baik, sesuai dengan al-Quran.

 

D. Contoh Materi Pembelajaran al-Quran Melalui Cerpen

            Saya akan tulis beberapa materi pembelajaran al-Quran melalui Cerpen. Materi-materi ini saya ambil dari buku-buku Seri Al-Quranku Keren karya Bambang Q. Anees.

1. Al-Fatihah Sebagai Kunci[9]

“Hagia, ada sebuah hadis yang menceritakan manfaat Al-Fatihah. Konon bila kamu membaca Al-Fatihah terutama pada saat salat, saat itu kamu seperti sedang berdialog. Maksudnya setiap ayat yang kamu ucapkan langsung mendapat jawaban dari Allah. Jadi, saat membaca Al-Fatihah kamu seperti sedang mengobrol dengan Allah.. Dan tahukah kamu, saat itu Allah berjanji akan memberikan kamu segala sesuatu yang terbaik, yang membuatmu menjadi luar biasa…”

“Pak Mursyid, bagaimana bunyi hadis itu?” Tanya Hagia tak sabar.

“Begini, menurut Tafsir al-Amtsal, Tafsir al-Mizan, Tafsir al-Furqon, dan Uyun Akhbar al-Ridha diceritakan bahwa:

“…Jika seorang hamba berkata Bismillahirrahmanirrahim, Allah swt berkata, “Hamba-Ku memulai dengan nama-Ku. Wajib bagi-Ku untuk menyempurnakan segala urusannya dan memberkati dia dalam segala keadaannya.”

Pada saat hamba-Nya berkata, Alhamdulillah rabbil ‘alamin, Allah swt berkata, “Hamba-Ku memuji-Ku dan mengakui bahwa segala nikmat yang ada padanya berasal dari-Ku. Segala bencana Aku palingkan darinya dengan anugerah-Ku, Aku minta kalian bersaksi bahwa akan Aku tambahkan padanya nikat dunia dan akhirat. Akan Aku tolakkan darinya bencana akhirat sebagaimana Aku lepaskan darinya bencana dunia”.

Ketika hambanya-Nya berkata, Arrahmanirrahim, Allah swt berkata, “Hamba-Ku bersaksi bahwa Aku Mahakasih dan Mahasayang. Aku minta kalian bersaksi, akan Aku curahkan bagiannya dari limpahan kasih-Ku dan akan Aku berikan haknyaa dari lumbung karunia-Ku.”

Ketika hamba-Nya berkata Maliki yawmiddin, Allah swt berkata, “Aku minta kalian bersaksi sebagaimana ia mengakui bahwa Aku adalah Penguasa pada Hari Pembalasan, akan Aku terima segala kebaikannya dan akan Aku ampuni segala kesalahannya.”

Jika hamba-Nya berkata Iyyakana’budu, Allah swt akan berfirman, “benar kalian bersaksi, sungguh akan Aku balas dia untuk segala yang menentangnya dalam beribadat kepada-Ku”.

Ketika hamba-Nya berkata, “wa-Iyyakanasta’in, Allah swt berfirman, “kepada-Ku hamba-Ku memohon pertolongan. Kepada-Ku ia mencari perlindungan. Aku minta kalian bersaksi, sungguh Aku akan menolong urusannya. Aku akan melindunginya dalam segala kesusahannya. Aku akan bombing tangannya dalam segala kesusahannya.”

Saat hamba-Nya berkata, Ihdinasshirathal mustaqim sampai waladldlallin…Allah swt akan berkata, “inilah hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Aku sudah memenuhi permintaan hamba-Ku. Aku sudah memberikan kepadanya apa yang ia harapkan dan Aku telah menenteramkannya dari apa yang ia takutkan.”

Wah…..Hagia melongo. Ia tak mengira bahwa al-Fatihah begitu luar biasa. Sekali mengucapkan surat al-Fatihah, Allah langsung menjanjikan banyak hal yang membuat dirinya bisa luar biasa. Hagia langsung melonjak kegirangan. “bagaimana caranya?”

2. Allahu Ahad dan Surat Al-Ikhlas[10]

“Bagaimana hati bisa saling terhubung, pak? Tanya Hagia, “sedangkan masing-masing orang saling terpisah?”

Allahu Ahad, Dunia ini dan semua manusia berasal dari Allah yang sama”, jawab Pak Mursyid, “Kamu harus ingat bahwa dunia ini satu dan diatur oleh Allah yang Ahad. Dunia ini satu dan diatur oleh pencipta yang satu pula. Semuanya saling terhubung. Cahaya yang membantu pertumbuhan tanaman di bumi adalah cahaya yang sama dengan cahaya bintang, yang berjarak sangat jauh. Tanaman, yang tumbuh dengan bantuan cahaya tadi menjadi makananmu; makanan itu membuatmu dapat bertahan hidup dalam rahim ibumu; dan, sekarang kau sedang memandang bintang-bintang itu dengan mata yang mereka berikan padamu. Selalu ada hubungan kosmik di alam semesta.

Tahukah kamu, ketika kamu menarik nafas, kau menghirup jutaan atom yang telah dihirup kemarin oleh seseorang di Cina sana? Atom-atom tersebut pernah ada di dalam tubuh lain, membantu sirkulasi darah, atau membentuk sebuah sel, atau bahkan membentuk seorang bayi. Tanpa mengetahuinya, kau terhubung dengan seorang bayi yang bahkan belum dilahirkan. Air di dalam tubuhmu memiliki kandungan garam dan mineral yang sama dengan lautan, artinya kau membawa lautan dalam tubuhmu.

Ketika kamu bertindak dengan jiwamu, dengan hatimu, kamu akan tersambung dengan orang lain yang juga bertindak berdasarkan jiwanya. Seorang ibu yang sedang berada di pasar, bisa mendadak gelisah tanpa sebab. Pada saat bersamaan, anaknya yang masih bayi di rumah sedang menangis dan merindukannya. Nggak Cuma itu, pada saat kamu bayi kamu merasa kehausan ingin menyusu, secara aneh saat bersamaan air susu ibumu itu menetes secara otomatis membasahi bajunya padahal belum kamu hisap. Itu lah keterhubungan jiwa.”

 

3. Al-Falaq: Dalam Gelap Terbitlah Terang[11]

“Hagia, ada satu cerita yang harus kamu dengarkan, “pak Mursyid membuka uraiannya, “cerita ini dari Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi.

Suatu ketika seorang anak kecil terjebak dalam malam yang gelap. Ia ketakutan. Ibunya yang selalu melindungi anak itu berkata, “Tenang anakku, ada Ibu di sini!” Si anak menjadi tenang. Dia bermain lagi di tengah gelap. Namun ia melihat bayangan aneh dan serem di didning. “Ibuuu…ada setan kecil di sana”, sambil mendekap ibunya, anak itu ketakutan.

Sang ibu segera mendekap dengan hangat dan berkata, “Tenanglah ada Ibu di sini, setan kecil itu nggak akan berani pada Ibu”. Anak itu berhenti menangis. Ia senang dan nyaman, karena setan kecil itu pasti akan ketakutan, begitu melihat ibunya yang lebih besar dari tubuhnya. “Tapi Bu…!”, tiba-tiba anak itu ingat sesuatu, “Bagaimana kalau anak hantu itu mengadu pada ibunya? Apakah Ibu nggak takut?”

Diam-diam ibu itu membenarkan perkataan anaknya. Segera ia membayngkan bagaimana kalau setan itu nggak hanya mengadu pada ibunya, namun juga pada pada nenek moyangnya. Karena kata Pak Ustadz, setan-setan itu nggak pernah mati; jadi pastilah setan-setan senior yang lebih serem dan kejam akan mengerubuti dirinya. Diam-diam ibu itu merinding ketakutan, namun agar anaknya nggak ketakutan ia berusaha tetap tenang. “Tenanglah Allah yang Perkasa melindungi kita!”Saat Sang ibu menemukan jawaban itu, Sang anak sudah tertidur.”

“Begitulah ceritanya, Hagia!” ujar Pak Mursyid.

“Maksud cerita itu apa, Pak?” Hagia nggak paham.

“Berlindunglah hanya kepada Allah, karena nggak ada yang lebih hebat dan perkasa kecuali Allah,” jawab Pak Mursyid, “Kalau kamu merasa aman karena ibumu, pastilah kamu akan ketakutan ketika ada bahaya yang lebih kuat, yang ibumu sendiri nggak bisa menghadapinya. Misalnya, kamu berlindung pada kakekmu, bahaya yang lebih kuat dari kakekmu bisa saja membuat kakekmu nggak berdaya. Jadi, berlindunglah hanya kepada Allah saja. Nggak aka nada yang lebih kuat daripada Allah.”

 

E. Kesimpulan

Pembelajaran al-Quran melalui cerpen merupakan gagasan yang penting untuk dipraktekan sehingga tujuan utama pembelajaran al-Quran untuk membentuk pribadi muslim yang shaleh bisa diwujudkan.

Pembelajaran al-Quran melalui cerpen memiliki keunggulana karena cerpen merupakan bagian dari sastra dan pembelajaran sastra memiliki kelebihan-kelebihan dalam menyadarkan manusia tentang hakikat dirinya karena sastra menyentuh eksistensi manusia secara langsung.

Penelitian tentang pembelajaran al-Quran melalui certita pendek harus dilakukan agar konsep pembelajaran al-Quran melalui cerpen ini menemukan pijakan ilmiahnya dan terus bisa dikembangkan sesuai dengan tuntutan zaman dan kebutuhan masyarakat.

Contoh materi pembelajaran al-Quran melalui cerpen adalah Surat Al-Fatihah, Surat Al-Ikhlas, dan Surat Al-Falaq. Melalui sebuah hadis yang menceritakan keutamaan Surat Al-Fatihah yang diceritakan Pak Mursyid kepada Hagia, siswa diharapkan mampu memahami kandungan Surat Al-Fatihah. Melalui penjelasan tentang Allahu Ahad yang diceritakan Pak Mursyid kepada Hagia, siswa diharapkan mampu memahami salah satu kandungan Surat Al-Ikhlas. Melalui kisah antara seorang ibu dan anaknya yang dicerikatakn Pak Mursyid kepada Hagia, siswa diharapkan mampu memahami salah satu kandungan Surat Al-Falaq.

           

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Adipurwawidjana, Ari J. Titian Benak Dibelah-Belah: Pendidikan Sastra dan Kemanusiaan. Sebuah Artikel

Alwasilah, A. Chaedar dan Abdullah, Hobir (Ed.). Revitalisasi Pendidikan Bahasa: Menungkap Tabir Bahasa Demi Peningkatan SDM Yang Kompetitif. 2003. Bandung: STBA-YAPARI ABA Press.

Anes, Bambang Q. Al-Fatihah Membuka Potensi Diri. 2009. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

_______________. Al-Ikhlas: Jalan Hidup Remaja Muslim, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media. 2009), cet., ke-2.

_______________. Al-Falaq: Menjadi Remaja Waspada, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media. 2009), cet., ke-2.

Collie, Joanne and Slater, Stephen. Literature in Language Classroom: A Resource Book of Ideas and Activities. 1987. New York: Cambridge University Press.

Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. 2003. Bandung: Mizan.

Sugihastuti. Teori dan Apresiasi Sastra. 2002. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


[1]Sugihastuti, Teori dan Apresiasi Sastra (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2002), cet., ke-1, hlm. 169.

[2]Ibid., hlm. 168.

[3]Joanne Collie and Stephen Slater, Literature in Language Classroom: A Resource Book of Ideas and Activities (New York: Cambridge University Press. 1987), Cet., ke-1, hlm. 3-6.

[4]Lihat tulisan Yan Ardian Subhan; Memotret Pembelajaran Sastra dalam A. Chaedar Alwasilah dan Hobir Abdullah (Ed.), Revitalisasi Pendidikan Bahasa: Menungkap Tabir Bahasa Demi Peningkatan SDM Yang Kompetitif (Bandung: STBA-YAPARI ABA Press. 2003), cet., ke-1, hlm. 331.

[5]Ibid., hlm. 332.

[6]Ari J. Adipurwawidjana, Titian Benak Dibelah-Belah: Pendidikan Sastra dan Kemanusiaan, Sebuah Artikel Yang Disajikan di UIN SGD Bandung dalam Sebuah Seminar Yang Diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Bahasa Dan Sastra Inggris UIN SGD Bandung antara Tahun 2002-2005.

[7]Bambang Q. Anes, Al-Fatihah Membuka Potensi Diri (Bandung: Simbiosa Rekatama Media. 2009), cet., ke-2. Selain buku ini, ada beberapa buku Seri Al-Quranku Keren lain yang ditulis oleh Bambang Q. Anes yang berisi pengenalan surat-surat pendek al-Quran melalui cerita pendek, seperti Surat al-Ikhlas, al-Falaq, an-Naas, dll.

[8]M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan. 2003), cet., ke. 26, hlm. 378.

 

[9] Bambang, Al-Fatihah, hlm. 13-15.

[10] Bambang Q. Anes, Al-Ikhlas: Jalan Hidup Remaja Muslim, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media. 2009), cet., ke-2, hlm. 114-115.

[11] Bambang Q. Anes, Al-Falaq: Menjadi Remaja Waspada, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media. 2009), cet., ke-2. 69-70.

Posted in: Artikel