LANDASAN EPISTEMOLOGI, OBJEK, DAN METODE KRITIK HADIS

Posted on October 4, 2011

0


LANDASAN EPISTEMOLOGI, OBJEK, DAN METODE KRITIK HADIS

Penulis: Ceceng Salamudin

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

”Telitilah kembali setiap hadis yang dinisbatkan pada Rasulullah SAW. Jangan asal riwayat Bukhari, lalu dikatakan sahih,” kata Prof. Dr. H. Muhibbiin, M.Ag.[1]

 

Pernyataan seorang Guru Besar bidang Hadits ini menjadi pembuka makalah ini. Pernyataan tersebut menjadi pengantar bagi tulisan yang terkait erat dengan kritik hadis dan sekaligus menjadi salah satu alasan mengapa kritik (baca: penelitian) hadis perlu dilakukan.

Sebagai pemula dalam kajian kritik hadis, penulis mencari dan menggali semua informasi yang berkenaan dengan judul makalah ini. Tanpa ada tendensi menyudutkan penyusun kitab Bukhori,[2] pernyataan Prof. Muhibbin ini pantas diangkat dalam makalah ilmiah ini.  Karena pernyataan beliau ini kesimpulan dari sebuah penelitian ilmiah, bukan dari asumsi semata atau kritik emosional belaka.

Berbicara tentang hadis berarti berbicara tentang sebuah peradaban teks yang menempati posisi yang penting dalam ajaran islam. Ia merupakan sumber hukum islam dan sumber rujukan konsep ketuhanan kedua setelah al-Quran. Ketika al-Quran “samar” dalam menjelaskan sebuah maksud Tuhan, maka hadis menjadi rujukan penjelas bagi al-Quran.

Namun berbeda dengan al-Quran, yang mempunyai kepastian teks (qathi al-Wurud) dan kepastian argumen (qathi al-dalalah),[3] hadis tidaklah demikian. Otentisitas hadis tidak terjaga sebagaimana otentisitas al-Quran. Kebenaran kandungan hadis tidak dijamin sebagaimana kebenaran kandungan al-Quran.

Berdasarkan kenyataan tersebut, sebuah keniscayaan untuk melakukan uji kelayakan dan uji kepatutan hadis untuk dijadikan sebagai sumber hukum islam. Uji kelayakan dan kepatutan ini dinamakan sebagai kritik hadis.

Pada masa Rasulullah, upaya kritik hadis ini telah dilakukan, namun masih bersipat konfirmatif, klarifikatif, dan mirip upaya testimoni.[4]   Baru pada masa muhaddisin, kritik hadis telah menjelma menjadi sebuah disiplin keilmuan yang melahirkan beberapa disiplin keilmuan lain, seperti ilmu Rijal al-Hadis, Thabaqat al-Ruwat, Tarikh Rijal al-Hadis, dan Jarh wa al-Ta’dil.[5]

Kritik hadis akan digunakan untuk menilik dua objek materialnya, yaitu sanad dan matan. Kritik sanad berkenaan dengan kritik terhadap para penyampai hadis, sedangkan kritik matan berhubungan dengan teks dan makna teks.

Pada masa sekarang, perkembangan kritik hadis menemukan pijakan yang kuat dengan munculnya metode ilmiah. Sehingga, kritik hadis telah menjadi proyek ilmiah yang dilakukan para akademisi dan orang yang tertarik dengan hadis. Metode ilmiah ini menjadi pemicu bagi munculnya metode-metode kritik hadis lain.

Makalah ini akan membahas landasan epistemologi, objek material, dan metode kritik hadis. Bagian landasan epistemologi akan membahas pengertian, tujuan, dan latar belakang pentingnya kritik hadis. Bagian objek kritik hadis akan menjelaskan tentang kritik sanad, kritik matan, dan latar belakang pentingnya kritik matan hadis. Bagian metode kritik hadis akan menguraikan tentang lima metode kritik hadis, yaitu metode perbandingan, rasional, kontekstual, histori, dan hermeneutika.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN EPISTEMOLOGI, OBJEK, DAN METODE KRITIK HADIS

 

  1. A.   Landasan Epistemologi Kritik Hadis

Di bagian ini, pembahasan landasan epistemologi akan dibagi ke dalam tiga bahasan utama: pengertian, tujuan dan latar belakang pentingnya kritik hadis.

  1. 1.    Pengertian Kritik Hadis

Secara etimologi, kritik artinya menimbang, menghakimi, atau membandingkan.[6] Dalam bahasa arab, kritik diterjemahkan sebagai naqd, yang artinya mengkaji dan mengeluarkan sesuatu yang baik dari yang buruk.[7] Naqd itu sendiri populer diartikan sebagai analisis, penelitian, pembedaan, dan pengecekan.[8]

Penelitian hadis disebut kritik hadis atau naqd al-hadis.[9] Menurut Abi Hatim al-Razi, kritik hadis adalah usaha untuk menyeleksi atau memisahkan antara hadis shahih dan dhaif dan menilai kejujuran atau kecacatan perawinya[10]. Sebagai sebuah disiplin ilmu, kritik hadis diartikan oleh Al-Jawabi sebagai:

Penetapan status cacat atau adil pada perawi hadis dengan mempergunakan idiom khusus berdasar bukti-bukti yang mudah diketahui oleh ahlinya, dan mencermati matan-matan hadis sepanjang sahih sanadnya untuk tujuan mengakui validitas atau menilai lemah, dan upaya menyingkap kemusykilan pada matan hadis yang sahih serta mengatasi gejala kontradiksi antara matan dengan mengaplikasikan tolak ukur yang detil.[11]

Intisari gagasan kedua definisi tersebut menjelaskan bahwa kritik hadis usaha seseorang untuk:

  1. Menyeleksi hadis shahih dan dhaif
  2. Menilai kejujuran dan kecacatan para perawi
  3. Menetapkan kecacatan dan keadilan para perawi dengan bukti-bukti yang valid
  4. Mencermati hadis-hadis yang shahih sanadnya
  5. Mengakui validitas dan kelemahan sanad
  6. Menyingkap kemusykilan matan hadis yang sahih
  7. Mengatasi gejala kontradiksi antara matan
  8. Menerapkan tolak ukur yang detil

Jadi kritik hadis adalah usaha untuk menguji kelayakan sanad dan matan hadis dengan tujuan mengakui kelemahan dan kekuatan sanad dan menetapkan kebenaran dan kesalahan matan. Definisi kritik hadis ini sangat erat dengan tujuan kritik hadis itu sendiri.

  1. 2.    Tujuan Kritik Hadis

Hasyim Abbas menjelaskan bahwa hakikat kritik hadis bukan untuk menilai baginda rasul atau ketidakbenaran sabdanya, karena ia memang telah dima’shum oleh Allah dari segala kecacadan dan kesalahan, sehingga otoritas kenabian dan risalahnya yakin benar, tetapi kritik hadis sekedar menguji perangkat yang berisi informasi tentang beliau, termasuk menguji kejujuran para periwayatnya. Selanjutnya ia menulis.

Kritik hadis pada dasarnya bertujuan untuk menguji dan menganalisis secara kritis apakah fakta sejarah kehadisan itu dapat dibuktikan, termasuk komposisi kalimat yang terekspos dalam ungkapan matan. Lebih jauh lagi, kritik hadis bergerak pada level menguji apakah kandungan ungkapan matan itu dapat diterima sebagai sesuatu yang secara historis benar. [12]

Suryadilaga menulis dua tujuan kritik hadis: (1) untuk mendapatkan informasi yang benar dan akurat mengenai apapun yang disandarkan kepada Nabi dan (2) untuk mendapatkan pemahaman yang proporsional dalam konteks kekikinian.[13] Tujuan yang kedua ini berkenaan dengan kontekstualisasi hadis dengan masa kekinian, termasuk hubungan hadis dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Lebih spesisifik, Ali Mustafa Ya’qub mengatakan bahwa tujuan kritik hadis adalah untuk mengetahui kesohihan dan ketidakshohihan sebuah hadis sehingga bisa diterima sebagai hujjah.[14]

Dari beberapa tujuan kritik hadis tersebut, dapat disimpulkan bahwa kritik hadis bertujuan:

  1. Untuk menguji perangkat yang digunakan oleh para muhaddisin dalam meneliti hadis
  2. Menguji kredibilitas dan intelegensia para perawinya sehingga dapat diketahui keshahihan dan ketidakshahihan hadis dari sisi sanadnya
  3. Menguji fakta sejarah kehadisan apakah dapat dibuktikan dalam tarikh Nabi
  4. Menguji kandungan matan hadis apakah dapat diterima dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan ilmu pengetahuan
  5. 3.    Latar Belakang Pentingnya Kritik Hadis

Karena hadis tidak dijamin otentisitas dan kebenaran kandungannya, maka kritik hadis harus dilakukan untuk memilih dan memilah mana hadis yang bisa dan tidak bisa dijadikan sebagai hujjah.

Fakta sejarah membuktikan bahwa hadis banyak diselewengkan dan dipalsukan untuk kepentingan politik dan kehormatan. Menurut Muhammad Abduh dan Abu al-Hasan al-Madain, pemalsuan hadis ini banyak terjadi diantaranya karena kebijakan raja Muawiyah ibn Abi Sufyan ketika menjadi salah satu raja Dinasti Umayyah.[15]

Suryadi mencatat empat alasan pentingnya kritik hadis. [16] Pertama, dalam banyak aspek, hadis berbeda dengan al-Qur’an: kodifikasi al-Qur’an relatif dekat dengan Nabi, al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir, otentisitasnya dijaga oleh Allah, dan kuantitas al-Qur’an lebih sedikit di banding al-Quran.

Kedua, perkembangan pemikiran hadis sangat lambat dibanding perkembangan pemikiran al-Quran. Pada abad pertama hijriyah, kitab-kitab hadis, sebagai bentuk pemikiran terhadap hadis, sangat sedikit dibandingkan dengan kitab-kitab tafsir al-Quran yang jumlahnya sampai ribuan.Hal ini menurut Amin Abdullah, karena para ulama cenderung menahan diri untuk mengembangkan pemikiran hadis karena takut menyalahi sunnah.

Ketiga, sebagaimana al-Quran, hadis turun dalam konteks sosial budaya masa Nabi, sedangkan, sebagai rujukan ajaran Islam, semangat kandungan hadis seharusnya berlaku bagi umat islam di berbagai tempat dan masa, padahal sebagaimana al-Quran, tidak semua hadis ada asbabul wurudnya. Otomatis hal ini memunculkan beragam penafsiran terhadap hadis.

Keempat, keberadaan Rasulullah dalam berbagai posisi dan fungsinya mengharuskan para ulama mampu menempatkan pemahaman hadis pada tempat yang proporsional. Penempatan ini memerlukan penelitian yang mendalam terhadap hadis Nabi, sehingga tidak ada disposisi hadis dalam konteks Nabi itu sendiri.

Sementara itu, M. Syuhudi Ismail menjelaskan 6 faktor yang melatar belakangi pentingnya kritik hadis: (1) hadis Nabi sebagai salah satu sumber ajaran islam, (2) tidak seluruh hadis ditulis pada jaman Nabi, (3) telah muncul beragam pemalsuan hadis, (4) proses penghimpunan hadis membutuhkan waktu yang lama, (5) jumlah kitab hadis yang banyak dengan metode penyusunan yang beragam, dan (6) telah terjadi periwayatan hadis secara makna.[17]

 

  1. B.  Objek Kritik Hadis

Kalangan muhaddisin mengelompokan objek material kritik hadis menjadi dua, yaitu an-naqd az-zahiri atau an-naqd al-khariji (kritik eksternal/kritik sanad) dan an-naqd al-batini atau an-naqd ad-dakhili (kritik internal/kritik matan).[18] Kritik sanad akan berkenaan dengan kritik terhadap para penyampai hadis, sementara kritik matan akan berkenaan dengan elemen teks atau elemen makna. [19]

Selain sanad dan matan, kitab-kitab hadis, pemahaman hadis (ma’an al-hadis), dan kritik living hadis juga bisa dijadikan sebagai objek kritik hadis. [20] Makalah ini hanya akan menjelaskan dua objek material pertama kritik hadis, yaitu sanad dan matan.

  1. 1.        Kritik Sanad

Kritik sanad berarti penelitian terhadap para penyampai hadis, baik sisi positifnya maupun sisi negatifnya. Tujuannya untuk menelusuri kredibilitas dan kapasitas intelektual para periwayat hadis berikut cara-cara mereka meriwayatkan hadis.[21] Jenis kritik ini diarahkan kepada kuantitas dan kualitas para periwayat hadis dalam meriwayatkan hadis. Sehingga yang dinilai, bukan hanya sosok pribadi mereka, tapi juga jumlah mereka dalam menyampaikan hadis Nabi.

Sebagaimana telah dijelaskan di awal, kritik sanad ini melahirkan ilmu rijal al-hadis, thabaqat al-ruwat, tarikh rijal al-hadis, jarh wa al-ta’dil, yang semuanya berkenaan dengan para periwayat hadis. Beberapa terminologi yang muncul dari hasil penelitan sanad ini adalah mutawatir, ahad, marfu’, mauquf, aziz, gharib, dan sebagainya.[22]

Dalam melakukan kritik sanad ini, para peneliti menggunakan kriteria atau syarat-syarat yang harus ada dalam sanad sehingga sanad bisa diterima. Kriteria tersebut diantaranya sanad harus bersambung, para periwayatnya harus adil, dhabith, serta tidak terdapat illah dan syad.

Al-Idlibi menjelaskan empat langkah metodologis kritik sanad:

(1) uji ketersambungan proses periwayatan hadis dengan mencermati silsilah keguruan hadis dan proses belajar mengajar hadis (tahammul dan ada’) yang ditandai dengan lambanga perekat riwayat (shighat al-tahdits); (2) mencari bukti integritas keagamaan perawi (al-adalah) yang menjangkau paham akidah dan sikap politik perawi; (3) menguji kadar ketahanan intelegensia perawi, data gangguan ingatan saat memasuki usia tua, bukti pemilikan naskah dokumentasi hadis (dlabith); (4) ada tidaknya jaminan “keamanan” dari gejala syadz atau dugaan illat dalam sanad hadis.[23]

  1. 2.        Kritik Matan

Kritik matan dipahami sebagai penelitian terhadap isi hadis, baik dari sisi teks maupun makna teks itu sendiri. Dibanding kritik sanad, kritik matan ini kurang mendapat perhatian para pakar hadis. Energi para pakar hadis lebih tersedot pada peneltian jalur periwayatan hadis (sanad).[24] Padahal sebagaimana kritik sanad, kritik matan juga merupakan studi yang sangat penting. Bahkan tidak ada jaminan ketika sandanya sehat, maka matannya juga sehat.[25] Hal ini menjelaskan bahwa hasil kritik matan hadis bisa menjadikan sebuah hadis yang sanadnya shahih, tidak bisa dijadikan hujah karena tidak shahih matannya.

Muhammad Thahir al-Jawabi menjelaskan dua tujuan kritik matan: (1) untuk menentukan benar tidaknya matan hadis dan (2) untuk mendapatkan pemahaman yang benar mengenai kandungan yang terdapat dalam sebuah matan hadis. [26]

Dengan demikian, kritik matan hadis ditujukan untuk meneliti kebenaran informasi sebuah teks hadis atau mengungkap pemahaman dan interpretasi yang benar mengenai kandungan matan hadis. Dengan kritik hadis kita akan memperoleh informasi dan pemahaman yang benar mengenai sebuah teks hadis.

Muhammad Syuhudi Ismail merinci tiga langkah metodologis kritik matan. Pertama, meneliti matan hadis dengan melihat kualitas sanadnya. Artinya sebelum meneliti sebuah matan hadis, kita harus memahami kualitas sanad hadis tersebut. Kedua, meneliti susunan lapal matan yang semakna. Dalam dunia penelitian, langkah kedua ini disebut analisis isi dengan pendekatan positifistik, yaitu menganalisis apa yang terlihat dari sisi gramatika dan makna tekstualnya. Ketiga, meneliti kandungan matannya. Langkah ketiga ini mengharuskan peneliti memahami maksud dan kandungan hadis tersebut. [27]

Ia juga menjelaskan lima kriteria hadis yang matannya bisa diterima, yaitu (1) tidak bertentangan dengan akal yang sehat,(2) tidak bertentangan dengan al-Quran, hadis mutawatir dan ijma, (3) tidak bertentangan dengan tradisi ibadah ulama salaf, (4) tidak bertentangan dengan dalil yang sudah pasti dan (5) tidak bertentangan dengan hadis ahad yang kualitas kesahihannya lebih kuat.” [28]

Abbas menjelaskan tiga langkah kritik matan, yaitu (1) kritik kebahasaan, (2) analisis terhadap isi kandungan makna matan hadis, dan (3) penelusuran ulang nisbah pemberitaan dalam matan hadis kepada narasumber. [29]

Setelah menjelaskan beberapa kriteria kritik matan yang dirumuskan oleh para ulama,[30] Suryadi menyimpulkan pokok-pokok pikiran kritik matan hadis. Pertama, matan hadis harus diuji dengan ayat-ayat al-Qur’an, sehingga kandungan hadis tersebut tidak pertentangan dengan al-Qur’an.  Kedua, matan hadis harus diujikan dengan hadis yang lebih shohih. Artinya, kandungan matan hadis tersebut sesuai dengan kandungan hadis yang lebih shohih. Ketiga, matan hadis tidak bertentangan dengan metode ilmiah. Namun ia harus sesuai dengan konsep  metode ilmiah. Keempat, matan hadis harus sesuai dengan fakta sejarah yang diketahui umum. Artinya kandungan hadis tersebut tidak bertentangan dengan realitas sejarah yang telah menjadi kebenaran umum (comman sense). [31]

  1. 3.        Latar Belakang Pentingnya Kritik Matan Hadis.

Abbas menjelaskan delapan alasan pentingnya kritik matan hadis.[32]

  1. Motivasi agama. Alasan ini terkait dengan pentingnya menjaga kemurnian agama dengan menjaga nilai-nilai hadis sebagai warisan Rasulullah yang dijadikan sebagai sumber rujukan umat islam.
  2. Motivasi kesejarahan. Tarikh islam, khususnya tarikh Nabi harus terbebas dari intervensi kekuasaan yang cenderung memalsukan fakta sejarah islam. Hal ini penting karena tarikh Nabi menjadi sumber ajaran islam.
  3. Keterbatasan hadis mutawatir. Tidak bisa dipungkiri hadis mutawatir sangat terbatas dibandingkan hadis ahad. Penelitian matan diperlukan supaya hadis ahad yang telah teruji kesahihannya bisa diterima dan diamalkan oleh masyarakat.
  4. Bias penyaduran ungkapan hadis. Tidak dipungkiri ekses penyaduran hadis pada jaman sahabat telah memunculkan keragaman teks hadis tanpa kontrol. Hal ini tentu saja bisa menimbulkan keraguan akan keaslian kandungan hadis. Penelitian matan bisa mengurangi bahkan menghilangkan keraguan tersebut.
  5. Teknik pengeditan hadis. Para kolektor hadis tidak sama dalam memilih strategi pengumpulan hadis. Teknik pengumpulan ini mendorong tercampurnya antara ungkapan Nabi dan fatwa sahabat. Hal ini menimbulkan masalah besar, karena banyak fatwa sahabta dianggap hadis.Penelitian matan bisa menjadi solusi dari masalah ini.
  6. Kesahihan sanad tidak berkorelasi dengan kesohihan matan. Sanad yang shahih tidak menjami matannya juga shahih. Begitupun sebaliknya. Maka kritik matan hadis secara tidak langsung menjadi langkah metodologis kritik sanad.
  7. Sebaran tema dan perpaduan konsep. Sebuah tema bisa tersebar dalam banyak konsep dan dari beberapa hadis. Hal ini tidak bisa dipahami tanpa adanya penelitian tentang tema tersebut. Maka penelitian matan menjadi begitu penting.
  8. Upaya penerapan konsep doktrinal hadis. Kandungan matan hadis notabene bersipat abstrak. Oleh karena itu supaya bisa dipahami sebagai konsep konkret yang bisa digunakan sebagai sumber ajaran islam, diperlukan tahapan pemahaman dari pemaknaan leksikal sampai makna kontekstual dengan menggali informasi mengenai para perawi dan asbabul wurudnya. Tanpa penelitian matan, hal ini tentu saja susah untuk dilakukan.

 

  1. C.  Metode Kritik Hadis

Untuk melakukan penelitian Hadits Nabi SAW., ada tiga metode yang lazim digunakan, baik pada zaman Nabi SAW., atau pun era saat ini. Mereka adalah metode perbandingan, metode rasional, dan metode kontekstual.[33]

1. Metode Perbandingan.

Ada empat ragam metode perbandingan menurut A’zami.[34]

  1. Membandingkan hadis-hadis dari para sahabat dan tabiin. Caranya dengan mengumpulkan berbagai hadis kemudian membandingkannya dengan yang lain.
  2. Membandingan pernyataan ulama setelah jarak waktu tertentu
  3. Membandingan dokumen yang ditulis dengan yang disampaikan dari ingatan
  4. Membandingan hadis dengan al-Qur’an yang berkaitan

2. Metode Rasional

Metode rasional bisa dilakukan karena berbagai hal. [35]

  1. Karena adanya pertentangan antara hadis dengan al-Quran. Ketika hadis bertentangan dengan al-Quran, maka hadis tersebut tidak bisa diterima
  2. Karena adanya pertentangan antara hadis dengan hadis. Ketika ada dua hadis yang saling bertentangan, maka yang diterima hadis yang paling unggul kesahihahannya.
  3. Karena adanya pertentangan antara hadis dan ilmu pengetahuan dan kebenaran umum. Ketika hadis bertentangan dengan kebenaran umum atau ilmu pengetahuan, maka hadis yang demikian harus ditolak.

3. Metode Kontekstual

Metode ini sangat berkaitan dengan asbabul wurud hadis dan orang yang dimaksud oleh sebuah hadis. Metode seperti ini mewajibkan para peneliti mencari peristiwa-peristiwa yang menjadi alasan hadis diturunkan dan memahami konteks sosial budaya yang menjadi tempat hadis diturunkan .

Selain ketiga metode tersebut, masih ada dua ragam metode yang bisa digunakan, terutama berkenaan dengan living hadis. [36] Mereka adalah metode histori dan heurmeneutik.[37]

  1. 4.    Metode Historis

Metode historis yang dimaksud adalah studi yang kritis terhadap peninggalan masa lampau dengan menggunakan dua standar ilmiah sebagaimana dimaksud oleh Louis Gottschalk, yaitu (1) mampu membuktikan fakta sejarah dan (2) mengkritisi dokumen sejarah.[38]

Metode ini digunakan untuk menguji otentisitas atau validitas teks-teks hadis dari aspek sanad maupun matan, sehingga teks-teks tersebut diyakini sebagai hadis Nabi.[39]

  1. 5.    Metode Hermeneutik

Sementara metode hermeneutik merupakan modifikasi dari pemikiran Fazlur Rahman mengenai pemahamannya terhadap al-Quran. Konsep tersebut adalah makna teks, latar belakang teks, dan gagasan moral yang dimaksud oleh teks. [40]

Untuk mengaplikasikan ketiga konsep tersebut ke dalam hadis, konsep- tersebut berkembang menjadi lima konsep.[41]

Pertama, pemahaman dari sisi bahasa. Kajian diarahkan pada sisi semantiknya, baik makna leksikal maupun gramatikal.

Kedua, pemahaman terhadap latar belakang sejarah. Konsep kedua ini terkait erat dengan asbabul wurud hadis dan konteks sosial budaya tempat hadis diturunkan.

Ketiga, menghubungkan hadis secara tematik dan komperehensif–integral. Dengan konsep ketiga ini, diharapkan kandungan hadis bisa dipahami secara utuh, tidak parsial.

Keempat, memaknai teks dengan menyarikan ide dasarnya. Artinya, ketika meneliti hadis, kita tidak melupakan kenyataan bahwa hadis adalah produk dialogis-komunikatif Nabi dengan umat Islam pada waktu itu, sehingga intisari gagasan hadis tidak hilang.

Kelima, mengaitkan pemahaman teks-teks hadis dengan teori yang terkait. Konsep terakhir ini menegaskan bahwa penelitian hadis aspiratif dengan teori yang lain yang sekiranya berkaitan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kritik hadis bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu al-hadis. Kehadirannya sangat penting untuk membuka cakrawala pengetahuan tentang hadis yang lebih dalam, sehingga kita bisa mengamalkan kandungan hadis tanpa dihantui keraguan akan ketidakshahihannya.

Kritik hadis diarahkan pada wilayah sanad dan wilayah matan. Kritik sanad meliputi penelitan tentang kredibilitas dan intelektualitas para periwayat hadis dan cara-cara yang mereka gunakan untuk meriwayatkan hadis. Kritik matan terkait erat dengan penelusuran tentang teks dan makna teks, sehingga diketahui hadis yang bisa diterima atau ditolak.

Ada lima metode yang bisa digunakan dalam mengkritik hadis. Mereka adalah metode perbandingan, rasional, kontekstual, historis, dan hermeneutik. Semua metode ini bertumpu pada tujuan yang sama, yaitu mengetahui hadis yang bisa dan tidak bisa digunakan sebagai sumber ajaran islam.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abbas, Hasjim. 2004. Kritik Matan Hadis: Versi Muhaddisin dan Fuqaha. Yogyakarta: Teras.

El-Mawa, Mahrus. 2005. Metodologi Ilmu Hadis. Tulisan di groups. yahoo.com/group/eramuslim.

Ismail, M. Syuhudi. 1992. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Jakarta: Bulan Bintang.

Mansur, M. dkk. 2007. Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis. Yogyakarta: Teras.

Muhibbin. 2009. Hadis Palsu dan Lemah dalam Sahih Bukhari. (Sebuah wawancara yang diangkat di www/republika.co.id.), Yogyakarta.

Noorhidayati, Salamah. 2009. Kritik Teks Hadis: Analisis tentang ar-Riwayah bi al-Ma’na dan Implikasinya bagi Kualitas Hadis. Yogyakarta: Teras.

Rahmat, Jalaludin.  2002. Al-Mustafa; Pengantar Studi Kritis Tarikh Nabi Saw. Bandung: Muthahhari Press.

Suryadi. 2008. Metode Kontemporer Memahami Hadis Nabi: Perspektif Muhammad al-Ghazali dan Yusup al-Qaradhawi. Yogyakarta: Teras.

Suryadilaga, Alfatih. 2009. Aplikasi Penelitian Hadis: Dari Teks ke Konteks. Yogyakarta: Teras.


[1]Pernyataan ini adalah salah satu jawaban beliau ketika diwawanacarai oleh seorang wartawan Republika.  Menurutnya, beberapa hadis dalam kitab Jami’ al-Shahih karya  Imam Bukhori lemah dan palsu. Menurut Al-Daruquthni ada sekitar 110 hadis lemah dan palsu dalam kitab tersebut, sementara Muhamamd al-Ghazali (ulama kontemporer dari Mesir) menyebutkan lebih banyak lagi. Lihat Muhibbin, Pembantu Rektor I IAIN Walisongo, Wawancara Mendalam, Yogyakarta, 10 Agustus 2009  di www/republika.co.id.

[2]Dalam sebuah diskusi kelas di bawah bimbingan seorang guru besar, penulis pernah mengatakan sebuah kutipan dari buku al-Mustafa karya Jalaludin Rahmat tentang adanya hadis yang  lemah dalam Shahih Bukhori. Namun sayang, kenyataan adanya hadis lemah terssebut direspon emosional oleh guru besar dan ia mengatakan tidak mungkin hadis tersebut lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah. Pengalaman ini membuktikan bahwa hasil penelitian ilmiah tentang hadis belum tentu bisa diterima oleh sebagian kalangan.

[3]Hasjim Abbas. Kritik Matan Hadis: Versi Muhaddisin dan Fuqaha. (Yogyakarta: Teras. 2004), Cet. Ke-1, hlm.iii.

[4]Ibid, hlm. 25.

[5]Ibid, hlm. v dan Lihat Salamah  Noorhidayati. Kritik Teks Hadis: Analisis tentang ar-Riwayah bi al-Ma’na dan Implikasinya bagi Kualitas Hadis. (Yogyakarta: teras, 2009), Cet. Ke-1, hlm. 7.

[6]Ibid, hlm. 9.

[7]Suryadi. Metode Kontemporer Memahami Hadis Nabi: Perspektif Muhammad al-Ghazali dan Yusup al-Qaradhawi. (Yogyakarta: Teras, 2008), Cet. Ke-1, hlm. 14.

[8]Abbas. Kritik Matan, hlm. 9

[9]Ibid, hlm. x dan Suryadi. Metode Kontemporer. hlm.14

[10]Abbas. Kritik Matan. hlm.10

[11]Ibid.

[12]Ibid. hlm. 10-11.

[13]Alfatih Suryadilaga. Aplikasi Penelitian Hadis: Dari Teks ke Konteks. (Yogyakarta: Teras. 2009), Cet. Ke- 1, hlm. 2.

[14]Lihat  Abbas,  hlm. X.

[15]Jalaludin Rahmat,  Al-Mustafa; Pengantar Studi Kritis Tarikh Nabi Saw. (Bandung: Muthahhari Press. 2002), Cet. Ke-1, hlm. 11-12.

[16]Suryadi. Metode Kontemporer, hlm. 1- 4.

[17]M. Syuhudi Ismail. Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Jakarta: Bulan Bintang. 1992), hlm. 7-21.

[18]Noorhidayati . Kritik Teks, hlm. 9, Abbas. Kritik Matan, hlm. 12, dan Suryadi, Metode Kontemporer, hlm. 14-15.

[19]Lihat Noorhidayati.  Kritik Teks, hlm. 10.

[20]Suryadilaga. Aplikasi Penelitian, hlm.  4.

[21]Suryadi. Metode Kontempore. Hlm. 14.

[22]Abbas. Kritik Matan, hlm. vi dan  Noorhidayati. Kritik Teks, hlm. 7- 8.

[23]Lihat Abbas, Kritik Matan, hlmlm. 12-13.

[24]Ibid, hlm. vi.

[25]Ibid.

[26]Suryadi. Metode Kontemporer, hlm. 15.

[27]M. Syuhudi Ismail. Metodologi Penelitian, hlm. 121-122.

[28]Suryadilaga. Aplikasi Penelitian, hlm. 39.

[29]Abbas. Kritik Matan, hlm. 16.

[30]Mereka adalah al-Khatib Al-bagdadi, al-Amidi, Ibn al-jauzi, al-Syathibi, Mushthafa al-Sibai, Shalah al-din al-Adlabi, dan Ahli ushul Hanafiyah. Lihat Suryadi, Metode Kontemporer, hlm. 16-20.

[31]Ibid, hlm 20.

[32]Abbas. Kritik Matan, hlm. 17-21.

[33]Mahrus eL-Mawa. Metodologi Ilmu Hadis. Lihat di groups. yahoo.com/group/eramuslim. 01 Desember 2005.

[34]Ibid.

[35]Ibid.

[36]Living hadis atau hadis yang hidup adalah hadis yang dipraktekan oleh masyarakat muslim menurut situasi yang mereka hadapi. Dengan sendirinya praktek beragama tersebut menjadi kesepakatan bersama, sebagaimana ijma umat dan ijtihad para ulama. Contoh hadis tentang nikah mut’ah dengan sendirinya substansinya hilang ketika pada jaman Umar ibn Khattab nikah mutah dilarang. Haramnya nikah mutah menjadi kesepakatan sebagaian umat Islam sampai sekarang. Lihat M. Mansur, dkk. Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis. (Yogyakarta: Teras. 2007), hlm. 93-96.

[37]Ibid, hlm. 139.

[38]Ibid, hlm. 140.

[39]Ibid, hlm. 140-141.

[40]Ibid, 143.

[41]Ibid, 144-151.

Posted in: Artikel