HAKIKAT PENDIDIKAN

Posted on October 4, 2011

0


HAKIKAT PENDIDIKAN

Oleh: Ceceng Salamudin

 

Ada sebuah buku kumpulan cerpen yang berjudul “Cinta Tai Kucing”. Istilah ini kritik terhadap cinta. Nah, bisa kah pendidikan juga dikritik dengan ungkapan “tai kucing”? Jelas ini bukan pertanyaan yang layak untuk dijawab.

 

Pendidikan adalah integrasi potensi jasmani, akal, dan ruhani dalam diri seorang manusia, ia adalah proses yang berlangsung seumur hidup, dan masalah pendidikan tidak akan pernah selesai. Inilah kesimpulan kuliah kami bersama Prof. Tafsir tentang hakikat pendidikan.

Prof. tafsir menjelaskan tiga aspek pendidikan. Pertama terkait dengan konsep manusia. Konsep manusia yang berpendidikan itu adalah mampu mengendalikan diri, mencinta tanah air, dan mempunyai pengetahuan sehingga bisa berpikir dengan benar.

Kedua menolong anak didik supaya mampu mengembangkan dirinya. Jadi bukan mencetak anak didik menjadi manusia.  Menolong berarti sekedar menolong saja. Nanti ada yang berhasil menjadi manusia atau tidak bukan urusan guru atau orang tua. Artinya siswa yang gagal itu pasti ada, seperti halnya siswa yang sukses. So, jangan berharap semua siswa sukses-seperti dalam ujian nasional. Bersiaplah untuk menghadapai kenyataan bahwa siswa kita ada bahkan banyak yang tidak bisa menjadi manusia.

Ketiga pendidikan adalah proses yang berlangsung seumur hidup.  Ini benar-benar harus ditanamkan kepada siswa kita bahwa pendidikan itu “tak lekat dimakan waktu, tak usang dimakan jaman”. Gagal di sekolah bukan artinya gagal semuanya dan selama-lamanya. Teruslah bermimpi untuk menggapai cita-cita. Teruslah belajar dan belajar. Tembuslah tembok-tembok sekolah, karena di luar tembok itu kesempatan untuk menjadi manusia terbuka luas.

Tapi tanamkan juga kepada siswa bahwa lebih baik bersekolah dari pada tidak. Karena kesempatan menjadi manusia lewat sekolah telah dibuktikan dalam sejarah dan tentu saja lebih bisa dipahami oleh akal sehat.

Komentar saya terhadap pemikiran Prof. Tafsir  bahwa masalah pendidikan tidak akan pernah selesai menegaskan bahwa saya sepakat dengan Prof. Tafsir. Kayanya Prof. Tafsir juga sepakat dengan saya bahwa contoh masalah pendidikan itu yang tidak pernah selesai adalah ujian nasional. Kesimpulan kami berdua kayanya sama bahwa UJIAN NASIONAL MENYIMPAN BANYAK MASALAH.

Posted in: Artikel