HAKIKAT MANUSIA

Posted on October 4, 2011

0


HAKIKAT MANUSIA

Oleh: Ceceng Salamudin

 

Seandainya aku menjadi Tuhan, maka aku akan rubah wajah pendidikan ini menjadi sekehendakku. Apakah akan lebih baik, belum tentu. Apakah akan diterima, jelas tidak. Ya sudah lah jangan berkhayal menjadi Tuhan segala. Bukankah anda punya potensi menjadi “Tuhan-Tuhan kecil,” ya sudah kembangkan saja potensi anda itu.

 

A. Dua Potensi versus Tiga Potensi

Kata Prof. Ahmad Tafsir, orang Barat itu memahami manusia sebagai makhluk yang hanya mempunyai potensi akal dan jasmani. Dengan kedua potensi ini persfektif pendidikan orang Barat lemah. Yang hebat dan kuat, kata beliau, persfektif Islam. Islam itu selain memahami manusia sebagai makhluk yang mempunyai potensi jasmani dan akal, juga memahami manusia sebagai makhluk yang mempunyai potensi ruhani. Bahkan ruhani ini sebenarnya yang menjadi kesejatian (hakikat) manusia. Jadi menurut islam, manusia mempunyai tiga potensi, yaitu jasmani, akal, dan ruhani. Dengan ketiga potensi ini, Prof. Tafsir percaya bahwa pendidikan islam akan lebih maju dari pada pendidikan Barat.  kira-Kira itu kesimpulan kuliah kami dengan beliau tentang hakikat manusia.

Rangkuman ini tidak bermaksud mendebat beliau, tapi rasanya pemikiran beliau tersebut harus diberikan catatan atau diberi sedikit komentar. Contoh pertanyaan atau komentar pernah saya sampaikan langsung kepada beliau. Komentar saya kira-kira begini.

Prof., hemat saya, pendidikan itu telah terbukti maju dengan hanya menggunakan dua potensi saja, yaitu jasmani dan akal. Contohnya pendidikan di Barat. Kalau toh memang mereka hanya menggunakan dua potensi saja, justru kelihatan mereka maju dan mampu menguasai dunia sampai saat ini. Orang Islam yang katanya menggunakan ketiga potensi ternyata tidak mampu maju seperti mereka.

Waktu itu saya juga mengatakan bahwa pendidikan tidak harus diintervensi dengan agama. Agama tidak harus menjadi bagian dari pendidikan di sekolah. Agama urusan pribadi yang fungsinya menjadi kontrol kehidupan saja, termasuk control terhadap pendidikan.

Beliau mengomentari pendapat saya. Kata beliau di Barat memang agama dan pendidikan dipisahkan. Agama menjadi urusan gereja, sementara pendidikan menjadi urusan pemerintah. Itu lah model pendidikan sekuler. Kata beliau betul dari sisi ilmu pengetahuan dan teknologi orang Barat lebih maju dari pada pada orang islam, namun mereka lemah dalam menumbuhkan nilai (ruhani) yang baik dan benar bagi dunia. Ilmu pengetahuan dan teknologi malah digunakan untuk menjajah Negara lain. Ini lah yang membahayakan. Menurut beliau, seandainya saja orang Islam mampu memadukan jasmani, akal, dan ruhani dengan benar dan tepat, maka beliau yakin pendidikan Islam akan lebih maju dan kuat dibandingkan pendidikan Barat. Beliau mengatakan bahwa integrasi ketiga potensi dalam pendidikan tersebut telah dan sedang dirancang, yaitu contohnya dengan membangun madrasah-madrasah unggulan. Hasilnya telah terbukti. Para siswa di sekolah-sekolah tersebut lebih maju dibandingkan di madrasah-madrasah non-unggulan.

Saya mengasumsikan bawah komentar beliau ini menegaskan bahwa integrasi jasmani, akal, dan ruhani secara masif dan berdampak luas bagi masyarakat global masih sebatas angan-angan, belum bisa membumi. Walaupun demikian, usaha ke arah sana sedang dibangun. Kalau benar maksud komentar beliau demikian, maka saya sepakat dengan beliau.

 

B. Empat Pertanyaan untuk Prof. Tafsir

Di luar kelas dan di dalam hati, saya mencoba mengajukan beberapa pertanyaan. Artinya, pertanyaan-pertanyaan ini belum pernah saya ajukan langsung kepada beliau. Pertanyaan-pertanyaan ini hanyalah merupakan kritik saya terhadap beliau yang tidak tersalurkan.

  1. Orang Barat yang mana yang hanya menggunakan potensi jasmani dan akal saja dalam filsafat pendidikan mereka, bukankah filsafat perennial juga tumbuh di dunia Barat?
  2. Kapan, bagaimana dan sampai kapan filsafat pendidikan Barat yang seperti itu tumbuh dan berkembang?
  3. Bukankah setelah filsafat posmo tumbuh dan berkembang, semua pemikiran apapun tumbuh dan berkembang, sehingga tidak ada satu identitas yang mainstream dan superior? Oleh karena itu tidak pas rasanya kalau hari ini kita masih menyebutkan bahwa identitas Barat rasional dan kurang beragama sementara orang Islam tidak rasional dan beragama?
  4. Angan-angan akan lahirnya pendidikan Islam yang luar biasa dan berpengaruh terhadap dunia global rasanya tidak mungkin terjadi. Kita (baca: orang Islam) sudah kalah start dengan orang Barat. Paling banter pendidikan Islam ini hanya akan berpengaruh terhadap orang Islam saja, tidak mungkin berpengaruh besar terhadap masyarakat luas (berbeda dengan pendidikan Barat yang mempunyai pengaruh besar terhadap pendidikan Islam). Dan kalau sudah seperti ini, sampai kiyamat pun pendidikan kita akan selalu tertinggal dengan pendidikan Barat. Thus, bagi orang-orang muslim, jangan terlalu memikirkan dunia ini, pikirkan saja alam akhirat: alam kubur, alam mahsyar, dan timbangan amal. Karena kenikmatan hakiki bagi kita adalah kenikmatan sukses di akhirat, bukan?

 

Posted in: Artikel