METAFISIKA: SEBUAH PENGANTAR*

Posted on July 20, 2010

0


Kucari di ujung tanya

Kudapatkan di ujung tanya

Hilang di ujung Tanya

Siapakah yang bertanya?

(Sebuah puisi tanpa garam)

A. Pendahuluan

Keberadaan alam raya memunculkan banyak pertanyaan. Alam raya (seperti langit, bumi dan segala isinya) telah menjadikan manusia mau berpikir. Alam raya  telah mendorong manusia untuk mengajukan dan menjawab pertanyaan. Pertanyaan dan jawabannya bisa sederhana atau serius.

Lihat saja bulan purnama. Seorang manusia mungkin bertanya ketika melihatnya. Ia mungkin bergumam seperti ini. “Mengapa Kau tampak indah?” atau “Mengapa Kau tidak bisa kusentuh?”. Kedua pertanyaan ini mungkin dianggap sederhana karena jawabannya dianggap mudah atau karena gumaman tersebut tidak perlu untuk dijawab. Kalau pun mau dijawab, salah satu jawabannya bisa jadi seperti ini. “Mengapa Kau tampak indah?” bisa dijawab dengan “karena rembulan bercahaya di waktu malam”. Betul bulan bercahaya di waktu malam, sehingga ia tampak indah. Sebab kalau bulan bercahaya di waktu siang, ia tidak akan indah. “Mengapa kau tidak bisa kusentuh” bisa dijawab dengan “karena jarak rembulan jauh dari Si Penanyanya”. Betul juga bahwa rembulan jaraknya jauh dari Si Penanyanya. Sebab kalau bulan sedekat kaki Si penanya, maka kemungkinan besar bisa disentuh. Sampai di sini, pertanyaan dan jawabannya dianggap beres karena pertanyaan dan jawaban tersebut dianggap sederhana.

Bandingkan kedua pertanyaan tersebut dengan kedua pertanyaan ini. “Dari mana asal cahayamu wahai Sang Rembulan?” atau “berapa jarakmu dari diriku?” Hemat penulis, pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab. Pertanyaan “Dari mana asal cahayamu wahai Sang Rembulan?” bisa disebut pertanyaan sain dan pertanyaan mistis. Karena ia pertanyaan sain, maka jawabannya juga harus berdasarkan  penelitian sain. Penelitian sain membuktikan bahwa cahaya bulan berasal dari cahaya matahari karena proses ini itu dan seterusnya. Sementara pertanyaan mistis harus dijawab berdasarkan penelitian mistis, yaitu salah satunya dengan pendekatan agama. Maka jawaban pertanyaan tersebut bahwa cahaya makhluk, termasuk Sang Rembulan berasal dari cahaya Yang Maha Pemberi Cahaya, yaitu Allah S.W.T. Pertanyaan ini dianggap serius karena jawabannya memerlukan keseriusan.

Pertanyaan “berapa jarakmu dari diriku?” bisa dianggap pertanyaan sain, yaitu dengan menafsirkan arti kata “diriku” sebagai bumi. Maka jawabannya Si Penanya harus mengukur jarak bulan dengan jarak bumi dengan menggunakan perangkat-perangkat ilmiah. Pertanyaan ini juga dianggap serius karena jawabannya memerlukan keseriusan.

Dari kedua perbandingan pertanyaan dan jawaban tersebut bisa disimpulkan bahwa pertanyaan dan jawaban yang sederhana tidak memerlukan studi yang lebih jauh. Cukup kita mengetahui jawabannya dan bahwa jawaban tersebut masuk akal. Hal ini berbeda dengan pertanyaan dan jawaban yang serius. Pertanyaan dan jawaban tersebut memerlukan studi lebih jauh agar menemukan hakikat yang terkandung dalam jawaban tersebut. Jadi, hemat penulis pertanyaan tentang “Dari mana asal cahayamu wahai Sang Rembulan?” atau  “berapa jarakmu dengan diriku?”-lah yang memerlukan studi lebih jauh.

Di antara studi yang lebih jauh itu adalah studi tentang hakikat segala sesuatu, yang dalam filsafat dinamakan ontologi. Salah satu cabang ontologi adalah metafisika. Metafisika meneliti apa yang bisa diketahui sejauh bisa diketahui. Tafsiran metafisika mengalami perkembangan dan menemukan pijakannya dalam berbagai pengetahuan, seperti filsafat itu sendiri, seni, mistik, dan sain.

Makalah ini akan mencoba menjelaskan tentang pengertian, sejarah, dan perkembangan metafisika, dan juga hubungan metafisika dengan sain. Bagian perkembangan metafisika adalah bagian yang terumit dari makalah ini. Bagian tersebut akan mengurai perkembangan metafisika dari sisi sain dan mistik.

B. Pengertian Metafisika

Wikipedia Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa metafisika berasal dari bahasa Yunani, yaitu meta (μετά) yang artinya setelah atau di balik dan phúsika (φύσικα) yang artinya fisika atau hal-hal yang ada di alam raya.[1] Jadi, metafisika berarti setelah fisika atau dibalik fisika. Tafsiran pengertian metafisika dari sisi bahasa ini menjelaskan bahwa metafsika adalah nama pemikiran Aristoteles yang ditempatkan oleh para penyusun karya-karyanya setelah pemikiran mengenai fisika.

Pengertian etimologi ini sekilas tampak remeh temeh dan mudah dipahami.. Namun kalau direnungkan dengan menggunakan pemikiran filosofis, pengertian ini tidak se-remeh temeh yang dikira. Kenapa? Karena pertanyaan tentang apa yang ada setelah fisika atau dibalik fisika, tidak mudah untuk dijawab. Pertanyaan ini memerlukan pemikiran mendalam. Pengertian metafisika dari sisi filosofis inilah yang tampaknya lebih pas untuk mengartikan metafisika dibanding dari sisi bahasa. Pengertian filosofis ini menjadi salah satu pengertian metafisika secara terminologi.

Salah satu kamus bahasa Inggris menjelaskan bahwa metafisika (metaphysics: bahasa Inggris) adalah “branch of philosophy dealing with the nature of existence, truth, and knowledge”.[2] Dari sisi terminologi ini, metafisika dipahami sebagai cabang filsafat yang berkenaan dengan hakikat keberadaan, kebenaran, dan pengetahuan. Studi ini menjadi bagian dari kajian ontologis, yaitu cabang filsafat yang menjelaskan hakekat segala sesuatu. Immanuel Kant berpendapat bahwa metafisika menjawab pertanyaan tentang “apa yang dapat diketahui?”[3] Oleh karena itu, wajar kalau pengertian metafisika bergerak dari segala sesuatu yang ada yang bisa diketahui.

Gambaran tentang metafisika ini dijelaskan oleh Jujun S. Suriasumantri. Menurutnya, matafisika ini menjadi pijakan pemikiran filsafat dan pemikiran ilmiah. Ia mengibaratkan metafisika sebagai landasan peluncuran roket. Sementara pemikiran adalah roketnya.[4] Penjelasan ini ingin menegaskan metafisika sebagai sesuatu yang penting untuk bisa memahami filsafat dan sain.

Penjelasan lebih jauh mengenai metafisika bisa dilihat dalam kutipan berikut ini.

Dalam buku IV Aristoteles mengatakan bahwa ada suatu ilmu yang bertugas mempelajari ‘yang ada, sejauh ada’ (to on hei on; “being as being atau “being as such”). Maksudnya tidak lain dari pada metafisika, biarpun di sini, ia tidak memberi nama khusus kepada ilmu ini. Mempelajari ‘yang ada sejauh ada’ berarti menyelidiki kenyataan seluruhnya (jadi, objek yang paling luas). Dengan itu metafisika berbeda dengan ilmu kedokteran umpamanya yang hanya mempelajari sebagian realitas saja (kesehatan tubuh). Metafisika juga berbeda dengan fisika dan ilmu pasti yang memang mempelajari seluruh, tetapi hanya menurut aspek tertentu saja. Karena, fisika mempelajari gerak benda-benda dan ilmu pasti menyelidiki benda-benda menurut aspek kuantitas. Tetapi metafisika menelaah kenyataan seluruhnya sejauh “yang ada” merupakan sesuatu. Dengan lain perkataan, metafisika mempelajari kenyataan sebagai “adaan” (being). Karena sifatnya sama sekalu umum, metafisika dalam arti ini boleh disebut ilmu yang tertinggi.[5]

Penjelasan ini menegaskan bahwa objek metafisika sangat luas. “Apa yang bisa diketahui sejauh bisa diketahui” atau “apa yang ada sejauh ada” adalah objek metafisika. Namun sekalipun luas batasannya, metafisika tidak bisa mengetahui apa yang tidak bisa diketahui dan ia tidak mempelajari yang tidak ada. Inilah batasan objek metafisika. Pertanyaanya adakah sesuatu yang tidak bisa diketahui? atau adakah sesuatu yang tidak ada? Mungkin kita bisa menemukannya dalam sejarah metafisika.

C. Sejarah Metafisika

Sejarah metafisika yang resmi dan sistematis bermula dari sejarah penamaan pengetahuan ini dengan metafisika yang dilakukan oleh para peneliti karya-karya Aristoteles. Pengertian metafisika secara bahasa, yang artinya setelah fisika menjadi bukti penamaan tersebut. Secara tidak resmi dan sistematis, sejarah metafisika telah dimulai ketika Adam diciptakan. Penulis yakin Nabi pertama ini manusia yang berpikir. Dengan sendirinya, ia juga melakukan praktek metafisika, yaitu minimal bertanya dan mencari jawabannya.

Aristoteles tidak pernah menamakan pengetahuan tersebut dengan nama metafisika. Istilah Metafisika muncul ketika para peneliti pemikiran Aristoteles menyusun karya-karya Aristoteles dan menempatkan pemikiran metafisika setelah fisika. Jadi, para penyusun karya-karya Aristoteles lah yang menamakan pengetahuan tersebut dengan nama metafisika. Sejak itu lah pengetahuan tersebut dinamakan metafisika.[6]

Bertens sepakat bahwa nama metafisika tidak digunakan oleh Aristoteles. Oleh karena itu, seiring waktu orang mencoba menyimpulkan bahwa nama metafisika diduga berasal dari Adronikus, salah seorang yang menerbitkan karya-karya Aristoteles sekitar tahun 40 S.M. Ia menempatkan bahasan metafisika setelah bahasan fisika. Sejak itulah orang berpikir bahwa itulah asal usul nama metafisika. Hal ini ini diperkuat dengan ungkapan Yunani ta meta ta physica yang berarti hal-hal sesudah hal-hal fisik. Namun, sejak kira-kira tahun 1950-an pendirian tersebut tidak bisa dipertahankan lagi.   Di antara orang yang membantahnya adalah P. Moraux, seorang sarjana Perancis dan H. Reiner. Menurut Moraux, nama metafisika telah lama digunakan oleh penganut mazhab Aristotelian, jauh sebelum Andronikus menamakannya. Nama ini pertama kali diduga telah diberikan oleh Ariston, yang menjadi pimpinan mazhab Aristotelian, sekitar tahun 226 S.M. Sementara H. Reiner berpendapat bahwa nama metafisika telah muncul pada generasi pertama Aristoteles (wafat tahun 321 S.M.), yaitu sekitar tahun 300-an S.M.[7]

Berdasarkan sejarah awal metafisika ini, sepertinya metafisika hanya berkenaan dengan penempatan pemikiran Aristoteles semata. Sehingga, asal usul metafisika dianggap sederhana, yaitu metafisika ditempatkan setelah fisika. Namun dalam perkembangannya, kajian metafisika tidak seremeh temeh asal usulnya. Tafsiran terhadap pengetahuan ini begitu beragam dan kompleks.

D. Perkembangan Metafisika

Aristoteles dianggap peletak dasar metafisika. Namun sebenarnya praktek pemikiran metafisika telah terjadi sejak Thales (624-546 S.M.), yang dianggap sebagai Bapak filosof Yunani, mempertanyakan bahan dasar alam semesta. Bahkan, hemat penulis, sejak Nabi Adam diciptakan dan tinggal di Syurga, praktek pemikiran metafisika telah terjadi.

Mengapa pertanyaan Thales dianggap pertanyaan metafisika? Karena pertanyaan tersebut bukan pertanyaan yang ecek-ecek. Ini pertanyaan mendasar; pertanyaan tentang sebuah hakikat. Pertanyaan yang sufer keren. Ia ingin mengetahui hakikat bahan dasar alam raya, yang belum pernah ditanyakan sebelumnya. Walaupun ia menjawab air, namun jawaban tersebut belum tuntas.

Mengapa Aristoteles dianggap peletak dasar metafisika? Alasan pertama karena istilah metafisika (di)-muncul-(kan) dalam karya-karya Aristoteles, tidak dalam karya-karya filosof lain. Alasan kedua karena pembahasan metafisika secara jelas dan sistematis hanya terdapat pada pembahasan filsafat Aristoteles. Buku-buku filsafat atau buku-buku yang sebagian isinya membahasa filsafat-yang pernah saya baca (walaupun masih sedikit)-menunjukan bukti ini.

Apa metafisika Aristoteles tersebut? Metafisika Aristoteles bisa dikategorikan dengan dua hal. Pertama, metafisika yang membahas tentang persoalan barang (matter) dan bentuk (form). Menurut Aristoteles, barang ialah materi yang tidak mempunyai bentuk. Ia hanyalah substansi belaka yang menjadi dasar segala wujud benda. Sementara bentuk adalah bangunannya yang memberikan kenyataan kepada benda.[8] Hubungan antara barang dan bentuk ini bisa dilihat pada marmer dan benda yang terbuat dari marmer. Marmer adalah barang. Ia memberikan kenyataan kepada bentuk. Meja marmer, keramik marmer, atau patung marmer adalah bentuk dari marmer. Meja, keramik, dan patung adalah bangunan yang terbuat dari marmer.

Segala yang ada adalah barang yang berbentuk. Oleh karena itu, semua barang sudah mempunyai bentuk. Barang dalam satu keadaan adalah bentuk dalam keadaan yang lain. Papan yang membentuk rumah (menjadi bahan rumah) adalah barang, namun papan itu disebut bentuk dari kayu sebagai barang.[9]

Menurut hemat penulis, barang yang dimaksud oleh Aristoteles adalah bahan atau bahan dasar. Ini sifatnya konkret. Sementara benda tertentu yang berbahan dasar dari barang itu adalah bentuk. Ini sifatnya abstrak. Menurut Aristoteles, hubungan antara barang dan bentuk tidak bisa dipisahkan. Di mana ada barang di situ juga ada bentuk. Gagasan Aristoteles mengenai hubungan keduanya tersebut membantah gagasan Plato yang memisahkan antara dunia idea (bentuk) dengan kenyataan (barang).

Metafisika barang dan bentuk ini tidak terkait langsung dengan konsep ketuhanan.  Yang terkait langsung dengan konsep ketuhanan adalah metafisika gerak. Ini menjadi kategori kedua metafisika Aristoteles. Gerak yang dimaksud di sini tidak sama dengan perpindahan tempat suatu benda. Gerak di sini adalah perubahan. Perpindahan tempat hanyalah salah satu sifat khusus dari perubahan. Menurut aristoleles, semua gerak yang ada digerakan oleh penggerak pertama. Ia adalah Tuhan. Ia mengatur segala-galanya. Ia immaterial dan tidak berubah. Ia tidak bergerak  dan tidak digerakan. Ia adalah Aktus Murni atau pikiran murni (yang tidak henti-hentinya berpikir). Ia menjadi tujuan selain dirinya. Ia tentu saja bukan barang dan bentuk.[10]

Dari sisi objeknya, yaitu apa yang bisa diketahui, Metafisika bisa dibedakan menjadi metafisika di wilayah sain (ontologi sain) dan metafisika di wilayah mistik (ontologi mistik). Metafisika di wilayah sains didefinisikan oleh Francis Bacon sebagai hukum-hukum alam, yaitu entitas yang tidak bisa disentuh oleh pengamatan inderawi. Bacon ini memang unik. Ketika mencari sebab-sebab dari peristiwa-peristiwa yang diamati oleh para ilmuwan, ia maju dari sebab-sebab fisik menuju sebab-sebab metafisik.[11] Jadi bagi Bacon, ketika realitas di alam ini luput dari pengamatan panca indera maka itu lah metafisika. Namun, jangan salah paham. Bacon tidak sedang membicarakan tentang Tuhan, sebagai sesuatu yang luput dari pengamatan inderawi. Ia tidak mempercayai itu. Ia hanya mempercayai hukum-hukum alam.

Berbeda dengan Bacon, Thomas Aquinas justru mempercayai bahwa metafisika itu adalah pemikiran tentang Tuhan. Baginya metafisika diarahkan untuk mengetahui Tuhan. Renungkan kutipan berikut ini.

Thomas percaya bahwa akal budi dituntut ke arah ini hanya dengan merenungkan dunia alamiyah (untuk memahami Tuhan: dari penulis makalah). Dengan mashur, Thomas mengajukan bukti-bukti eksistensi Tuhan yang didasarkan pada analisis akal budi terhadap para pengada kontingen (dengan kata lain, pengada-pengada yang bergantung pada sesuatu yang lain dari dirinya agar dapat mengada atau agar dapat berprilaku sebagaimana adanya).[12]

Siapakah “pengada”? Pengada adalah makhluk yang bereksistensi. Namun, ia tidak mampu melakukannya tanpa eksistensi Tuhan. Eksistensinya tergantung pada eksistensi Tuhan. Jadi, sebenarnya yang ada hanyalah eksistensi Tuhan. Yang lain hanya diadakan oleh Tuhan. Ini lah inti metafisika Thomas Aquinas.

Sebelum Aquinas, ada Plotinus, yang sistem metafisikanya sejalan dengan Aquinas. Metafisika Plotinus ditandai oleh konsep transendensi. Menurut Plotinus, di dalam pikiran terdapat tiga realitas, the one, the mind, dan the soul. The one adalah Tuhan. The mind adalah gambaran tentang Yang Esa. The soul mengandung satu jiwa dunia dan banyak dunia kecil.[13]

Percis sama dengan esensi metafisika Aquinas adalah metafisika dalam filsafat Perennial.[14] Metafisika tersebut ditujukan untuk mengetahui hakikat realitas Tuhan yang merupakan substansi dunia ini, baik material, biologis maupun intelektual.[15] Filsafat Perennial melihat eksistensi-eksistensi secara bertingkat, realitas selalu terkait, dan bahwa semakin tinggi eksistensi semakin nyatalah ia.[16]

Secara tidak sengaja penulis menemukan kesamaan pandangan antara konsep yang terakhir ini(semakin tinggi eksistensi semakin nyatalah ia) dengan Lima Prinsip Kehadiran Ketuhanan (al-hadarat al-ilahiyyah al-Khams) yang disusun secara sistematis oleh Abu Thallib al-Makki (w.386 H/ 996 M). Kelima prinsip itu adalah doktrin metafisika mengenai beberapa tingkatan realitas. Mereka adalah Hahut (realitas absolut), Lahut (realitas menjadi, yaitu pribadi Tuhan), jabarrut (alam malaikat), malakut (alam ghaib), dan nasut (alam manusia).[17]

E. Posisi Metafisika dalam Sain

Bagaimana posisi metafisika dalam sain? Sebagai studi ontologis, metafisika sangat penting. Tanpa metafisika, sain tidak akan pernah ada. Mengapa? Karena sain itu dibentuk dari perpaduan antara dua aliran pemikiran dalam filsafat, yaitu Rasionalisme dan Empirisisme. Rasionalisme meyakini bahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang dihasilkan melalui rasio, yaitu sesuatu dipahami berdasarkan akal. Oleh karena itu kebenaran yang didapatkan tidak melalui rasio berarti salah. Sementara itu, Empirisisme meyakini bahwa kebenaran adalah sesuatu yang dihasilkan oleh pengalaman inderawi. Oleh karena itu kebenaran yang didapatkan tidak melalui pancaindera berarti salah. Sain mengambil keduanya. Sehingga ukuran kebenarannya adalah sesuatu dianggap benar kalau bisa dipahami oleh rasio dan dibuktikan dengan pengalaman inderawi.

Sain memerlukan metafisika sebagai busur atau landasan peluncuran pemikiran ilmiah.  Artinya penelitian sain ada karena metafisika mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang nanti sebagain pertanyaan tersebut akan dijawab melalui penelitian sain. Bahwa tidak semua pertanyaan metafisika akan diteliti oleh sain adalah benar sekali. Namun tidak mungkin sain bekerja tanpa terlebih dahulu adanya kinerja pemikiran ilmiah. Jadi pertanyaan metafisika itu akan berujung pada pertanyaan-pertanyaan yang dikelola oleh filsafat dan ada yang nanti diteruskan menjadi pertanyaan-pertanyaan sain.

F. Penutup

Secara bahasa, metafisika adalah nama pemikiran Aristoteles yang ditempatkan oleh para penyusun karya-karyanya setelah pemikiran mengenai fisika. Secara istilah, metafisika adalah bagian dari ontologis yang mengkaji persoalan-persoalan realitas tanpa batas. Metafisika menelusuri hakikat keberadaan, kebenaran, dan pengetahuan. Ia mengkaji yang ada yang bisa diketahui.

Kapan nama metafisika digunakan terjadi perbedaan pendapat. Pendapat pertama adalah kesimpulan orang-orang. Mereka mengatakan bahwa istilah metafisika digunakan oleh Adronikus ketika ia menerbitkan karya-karya Aristoteles sekitar tahun 40 S.M. Pendapat kedua membantah pendapat pertama. Pendapat kedua ini dari P. Moraux dan H. Reiner. Mereka mengatakan bahwa istilah metafisika telah digunakan jauh sebelum Adronikus menggunakannya, yaitu sekitar tahun 226 S.M. dan tahun 300-an.

Metafisika Aristoteles bisa dikategorikan menjadi dua. Pertama metafisika yang membahas tentang hubungan antara barang (matter) dan bentuk (form). Metafisika ini tidak berhubungan dengan konsepsi ketuhanan secara langsung. Kedua metafisika yang membahas gerak. Metafisika ini berhubungan dengan konsepsi ketuhanan secara langsung dengan penyebutan Tuhan sebagai Penggerak Pertama.

Metafisika juga bisa dibedakan menjadi metafisika di wilayah sain (ontologi sain) dan metafisika di wilayah mistik (ontologi mistik). Metafisika diwilayah sain dipelopori oleh Francis Bacon, sebagai perintis filsafat ilmu. Metafisika di wilayah mistik dikembangkan oleh Plotinus, Thomas Aquinas, dan para pemikir filsafat Perennial.

Metafisika mempunyai keterkaitan dengan sain. Metafisika menjadi landasan pemikiran sain. Perkembangan penemuan-penemuan ilmiah diyakini karena metafisika menjalankan perannya dengan baik dan para ilmuwan melakukan penelitian dengan baik pula.

F. Daftar Pustaka

Bertens, Kees. 1989. Sejarah Filsafat Yunani. Jakarta: Kanisius.

Glasse, Cyril. 1999. Ensiklopedia Islam (Ringkas). Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Hatta, Mohammad. 1980. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: PT. Tintamas Indonesia.

Hornby, AS. 1974. Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English. New York: Oxford University Press.

Rudianto, R. Bambang, dkk. 1993. (Tim Redaksi Driyarkara). Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-Ilmu. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Solomon, Robert C. & Higgins, Kathleen M. 2002. Sejarah Filsafat. Jogjakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Suriasumantri, Jujun S. 1999. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Tafsir, Ahmad. 2001. Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

—————–. 2009. Filsafat Ilmu.. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Wikipedia Bahasa Indonesia: Ensiklopedia Bebas.


[1] Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia bebas.

[2] AS Hornby. Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English. (New York: Oxford University Press. 1974). Hlm. 533.

[3] Ahmad Tafsir. Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2001). Cet. Ke-19. Hlm. 11.

[4] Jujun S. Suriasumantri. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 1999). Cet. Ke-12. Hlm. 63-64.

[5] Kees Bertens. Sejarah Filsafat Yunani. (Jakarta: Kanisius.1989). Cet. Ke.6. Hlm. 154

[6] Lihat di parapemikir.com/metafisika-dan-filsafat.html.

[7] Kees. Sejarah. Hlm. 152-153.

[8] Mohammad Hatta. Alam Pikiran Yunani. (Jakarta: PT. Tintamas Indonesia. 1980). Hlm. 126-127.

[9] Ibid. Hlm. 127.

[10] Kees. Filsafat. Hlm. 157. Lihat juga Mohammad. Alam. Hlm. 128.

[11] Christ Verhaak. Francis Bacon: Perintis Filsafat Ilmu Pengetahuan. Salah satu makalah dalam buku Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-Ilmu. Disusun oleh Tim Redaksi Driyarkara. (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 1993). Hlm. 17.

[12] Robert C. Solomon & Kathleen M. Higgins. Sejarah Filsafat. (Jogjakarta: Yayasan Bentang Budaya. 2002). Hlm. 291.

[13] Ahmad. Filsafat Umum. Hlm.68-69.

[14] Kata perennial berasal dari bahasa latin perennis yang diadopsi ke dalam bahasa Inggris menjadi perennial, yang berarti kekal. Tafsiran filsafat perennial adalah “filsafat yang dipandang dapat menjelaskan segala kejadian yang bersifat hakiki, menyangkut kearifan yang diperlukan dalam menjalani hidup yang benar, yang menjadi hakikat seluruh agama dan tradisi besar spiritualitas manusia.” Lihat Komarudin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis dalam Ahmad Tafsir. Filsafat Ilmu. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2009). Cet. Ke-4. Hlm. 70.

[15] Ibid. Hlm.71.

[16] Lihat Frithjof Schoun dan Houston Smith dalam Ahmad. Filsafat Umum. Hlm. 72.

[17] Penjelasan kelima prinsip ini bisa dilihat dalam Cyril Glasse. Ensiklopedia Islam (Ringkas). (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada). Cet.Ke-2. 1999. Hlm. 235-238.

*Makalah ini disampaikan pada seminar mata kuliah Filsafat Ilmu di bawah bimbingan Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si. pada hari Selasa tanggal 09 Maret 2010 di Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.

Posted in: Artikel