ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN*

Posted on July 20, 2010

0


  1. A. Pendahuluan

Pemikiran tentang Islamisasi ilmu pengetahuan beritik tolak dari pemikiran tentang hubungan antara islam dan ilmu modern(sain). Beragam pendapat muncul untuk menafsirkan hubungan tersebut, baik pendapat yang pro maupun kontra.

Pada tahun 1883, Ernest Renan mengangkat polemik tentang wahyu dan akal. Menurutnya, agama dan ilmu pengetahuan bersipat abadi, sehingga kebenaran keduanya bersifat absolut. Premis sekuler ini mendapat reaksi dari Jamaludin al-Afghani, salah seorang pemikir Muslim dengan seruan agar  umat Islam bersatu dalam sebuah kesadaran kolektif (Pan-Islamisme).[1]

Harun Nasution, seorang filosof Muslim Indonesia, menjelaskan hubungan antara Islam dan Ilmu pengetahuan berada pada wilayah ajaran-ajaran Islam yang bersifat relatif dan nisbi. Wilayah ajaran Islam ini cocok dengan kebenaran ilmu pengetahuan yang bersifat relatif dan nisbi.[2]

Osman Bakar (seorang pakar epistemologi sain dari Malaysia) lebih khusus lagi menjelaskan hubungan antara Islam dan ilmu pengetahuan dengan istilah tauhid dan sain. Tauhid, yang merupakan doktrin metafisika keesaan Allah yang terkandung dalam kalimat pertama kesaksian keimanana (syahadat) adalah ide utama yang membentuk karakter hubungan tersebut. Dalam mempraktikkannya, umat Islam memberikan ekspresi dalam teori dan prakteknya kepada dua prinsip paling fundamental hubungan tauhid dan sain, yaitu kesatuan kosmis dan kesatuan pengetahuan dan sain.[3]

Diskursus hubungan Islam dan agama, dalam perkembangannya sampai pada terminologi Islamisasi pengetahuan dari Naquib al-Attas yang kemudian diusung oleh Isma’il Raji al-Faruqi dan Ziaudin Sardar dengan proyek sain Islamnya.[4]

Naquib al-Attas mengembangkan konsep Islamisasi ilmu pengetahuan dari Syed Hossein Nasr, seorang pemikir muslim Amerika kelahiran Iran. Nasr meletakkan asas sains Islam dalam aspek teori dan prakteknya melalui karyanya Science and Civilization in Islam (1968) dan Islamic Science (1976). Hal ini ia lakukan karena menyadari adanya bahaya sekularisme dan modernisme yang akan mengancam dunia Islam.[5]

Sementara itu, dengan konsep sain Islamnya, Sardar mengkritik islamisasi ilmu pengetahuan yang diartikan sebagai mengislamkan seluruh sain. Ia juga mengkritik pendapat yang menjelaskan adanya relevansi antara ilmu pengetahuan Islam dengan sain Barat. Baginya tidak mungkin sain Barat relevan dengan sain Islam karena sudah nampak perbedaan paradigma antara keduanya. Baginya, islamisasi ilmu pengetahuan harus berangkat dari membangun epistemologi Islam sehingga benar-benar bisa menghasilkan sistem ilmu pengetahuan yang dibangun di atas fondasi ajaran Islam. [6]

Sejak jaman Isma’il Raji al-Faruqi sampai sekarang, islamisasi ilmu pengetahuan menjadi tema akademis yang sering dibahas dalam forum-forum ilmiah. Kehadirannya memperluas cakrawala pengetahuan umat Islam, dan sekaligus menjadi wacana ilmiah yang sering diperdebatkan oleh para pengkajinya.

Tulisan ini akan mengkaji hubungan Islam dan sain dalam sebuah terminologi ideologis[7] yang disebut islamisasi ilmu pengetahuan. Terminologi tersebut akan membahas latar belakang, pengertian, karakteristik dan prinsip, tujuan dan manfaat, dan rencana kerja islamisasi ilmu pengetahuan.  Selain itu paradigma keilmuan UIN Bandung sebagai tafsir “baru” terhadap islamisasi ilmu pengetahuan akan disajikan. Terakhir tulisan ini akan menyajikan kritik terhadap islamisasi ilmu pengetahuan.

B. Mengapa Muncul Islamisasi Ilmu Pengetahuan?

Tahun 1880-an, Nietzsche telah mengkritik paradigma rasional yang menjadi ukuran kebenaran pengetahuan Barat. Menurutnya, budaya Barat diambang kehancuran apabila terlalu mendewakan rasio. Tahun 1990-an, Fritjof Capra juga menyatakan bahwa budaya Barat telah hancur karena terlalu mendewakan rasio.[8]

Kritik Capra disajikan dalam dua bukunnya; The Tao of Phsyic dan  The Turning Piont: Science, Society and The Rising Culture. Buku pertama menggemparkan filsafat fisika karena dalam buku tersebut, Capra telah menghubungkan fisika dengan spiritualisme. Jelas sekali buku ini mengkritik filsafat fisika Barat yang anti Tuhan. Buku kedua berisi uraian tentang proses dan bukti kehancuran budaya Barat. Dari dua buku ini, tampak kental kritik Capra terhadap filsafat Barat yang menjadi alasan utama kehancuran budaya barat.[9]

Proses kehancuran barat menurut Capra ini bisa digambarkan dalam skema berikut.

Rasionalisme
Cartesian dan Newtonian
Paradigma Sain yang tunggal
Budaya barat
Kehancuran (kacau, penuh kontradiksi).[10]

Berdasarkan skema tersebut dapat kita simpulkan bahwa kehancuran budaya Barat disebabkan karena paradigma sain Barat yang muncul dari pemikiran Cartesian dan Newtonian.[11] Pemikiran Cartesian dan Newtonian ini berangkat dari filsafat rasionalisme (dan empirisisme) yang menjadi mazhab filsafat keduanya.

Bagaimana mencegah pengaruh kehancuran Barat terhadap kehancuran budaya dunia? Capra menawarkan paradigma lain untuk mendesain kembali budaya dunia. Ia menghendaki agar I Ching menjadi formula baru paradigma sain. Menurutnya, filsafat Cina ini mampu melihat dunia secara keseluruhan sebagai sebuah sistem.[12]

Pemikiran Capra membuka peluang bagi Islam sebagai salah satu filsafat-yang bukan hanya mampu melihat dunia sebagai sebuah sistem, tapi juga telah membuktikannya dengan piagam Madinah-untuk tampil menjadi alternatif bagi paradigma sain dunia yang kacau ini.[13]

(di)tampil(kan)-nya Islam menawarkan aternatif lain ini membuktikan bahwa Islam bisa dihubungkan dengan sain. Sementara itu kenyataan gagalnya paradigma sain Barat dalam membangun budaya dunia menjadi latar belakang munculnya islamisasi ilmu pengetahuan dan memicu beragam pemahaman tentangnya.

C. Pengertian Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Islamisasi ilmu pengetahuan bisa dipahami sebagai internalisasi konsep-konsep Islam terhadap ilmu pengetahuan. Artinya, setiap ilmu pengetahuan yang berkembang harus mempunyai nilai-nilai islamnya. Dalam konsep ini, islam menjadi nilai (satu-satunya) bagi ilmu pengetahuan.

Secara teoritis dan ideologis, Syed M. Naquib al-Attas mendefenisikan islamisasi ilmu pengetahuan sebagai:

pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-nasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari belengu paham sekuler terhadap pemikiran dan bahasa. Juga pembebasan dari kontrol dorongan fisiknya yang cenderung sekuler dan tidak adil terhadap hakikat diri atau jiwanya, sebab manusia dalam wujud fisiknya cenderung lupa terhadap hakikat dirinya yang sebenarnya, dan berbuat tidak adil terhadapnya.[14]

Menurut al-Attas ini, islamisasi ilmu pengetahuan terkait erat dengan pembebasan manusia dari tujuan-tujuan hidup yang bersifat dunyawi semata, dan mendorong manusia untuk melakukan semua aktivitas yang tidak terlepas dari tujuan ukhrawi. Bagi al-Attas, pemisahan dunia dan akhirat dalam semua aktivitas manusia tidak bisa diterima. Karena semua yang kita lakukan di dunia ini akan selalu terkait dengan kehidupan kita di akhirat.

Sementara secara praktis dan metodologis, al-Faruqi menjelaskan islamisasi sebagai usaha untuk:

memberikan definisi baru, mengatur data-data, memikirkan lagi jalan pemikiran dan menghubungkan data-data, mengevaluasikan kembali kesimpulan-kesimpulan, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan-dan melakukan semua itu sedimikian rupa sehingga disiplin-disiplin ini memperkaya wawasan islam dan bermanfaat bagi cause (cita-cita) Islam.[15]

Defenisi al-Faruqi ini bisa dirinci sebagai berikut.

  1. Mendefenisikan kembali ilmu pengetahuan
  2. Menyusun ulang data-data ilmu pengetahuan
  3. Memikirkan kembali argumentasi dan rasionalisasi data tersebut
  4. Menilai kembali kesimpulan dan tafsiran yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan
  5. Memproyeksikan kembali tujuan-tujuan ilmu pengetahuan
  6. Ilmu pengetahuan apapun ditujukan untuk cita-cita islam dan memperkaya wawasan keislaman

Poin pertama sampai kelima bisa saja diklaim oleh siapa saja yang mencoba menjelaskan ilmu pengetahuan. Poin terakhir jelas membedakan konsepsi ilmu pengetahuan islam dengan konsepsi-konsepsi ilmu pengetahuan apapun. Penyebutan cita-cita islam dan wawasan keislaman menunjukan bahwa “proyek” islamisasi ini ditujukan bagi kemajuan islam. Melihat poin keenam ini, wajar kalau Kuntowijoyo menyebut islamisasi ilmu pengetahuan sebagai gerakan intelektual internasional[16], yaitu menyebarkan pemikiran-pemikiran Islam pada dunia.

Syeikh Idris mengajukan dua konsep islamisasi ilmu pengetahuan: Pertama, meletakan ilmu pengetahuan di atas fondasi Islam yang kuat. Artinya, fondasi ilmu pengetahuan itu adalah islam, bukan doktrin atau ajaran lain. Konsep pertama ini bersipat teoritis. Kedua, mempertahankan nilai-nilai Islam dalam pencarian ilmu pengetahuan. Konsep kedua ini bersipat metodologis.[17]

  1. B. Karakteristik dan Prinsip Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Karakterisitik islamisasi ilmu pengetahuan berangkat dari karakteristik ilmu pengetahuan islam. Di antara karakteristik tersebut: (1) mempunyai pokok persoalan yang jelas sesuai dengan prinsip-prinsip keislaman, (2) mempunyai asumsi-asumsi dasar yang sesuai dengan prinsip-prinsip keislaman, (3) menggunakan metode studi, metode penelitian, dan metode investigasi yang berbeda dan (4) mempunyai tujuan yang jelas.[18]

Hanya poin satu dan poin dua yang secara jelas menyebutkan terminologi Islam. Penyebutan ini mempertegas perbedaan karakteristik ilmu pengetahuan Islam dengan ilmu pengetahuan non-islam, walaupun tentu saja kedua karakterisitk tersebut memerlukan penjelasan yang lebih luas. Poin ketiga dan keempat bisa saja digunakan untuk memberikan karakterisitik terhadap pengetahuan non islam.[19]

Sementara prinsip islamisasi ilmu pengetahuan menurut al-Faruqi:

  1. 1. Keesaan Allah

Keesaan Allah terkai erat dengan tauhid. Tauhid menjadi prinsip pertama dari agama islam dan segala sesuatu yang islami. Islamisasi Ilmu pengetahuan pun harus mempunyai prinsip ini agar tidak kehilangan esensinya.

  1. 2. Kesatuan Alam Semesta

Prinisp ini terbagi ke dalam tiga bagian. Pertama, tata kosmis, yaitu keyakinan tentang kesatuan ciptaan Allah. Hanya ada satu realitas yang tertinggi di alam ini. Seandainya ada dua atau lebih realitas tertinggi, tentulah hancur dunia ini (Q.S. al-Anbiya [21]: 22). Kedua, penciptaan sebagai tujuan-tujuan akhirat. Manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah dengan cara menjaga dunia dan isinya sebaik-baiknya. Manusia harus mempertanggung jawabkan kehidupan di dunia ini kelak di akhirat. Ketiga, ketundukan alam semesta kepada manusia. Alam semesta harus dimanpaatkan untuk kehidupan manusia sesuai dengan aturan-aturan Allah S.W.T.

  1. 3. Kesatuan Kebenaran dan Kesatuan Pengetahuan

Prinsip ketiga ini mendasari tiga prinsip pengetahuan Islam, yaitu:

  1. Kesatuan kebenaran merumuskan bahwa berdasarkan wahyu kita tidak boleh membuat klaim yang bertentangan dengan realitas
  2. Kesatuan kebenaran yang merumuskan bahwa tidak ada kontradiksi, perbedaan atau variasi di antara nalar dan wahyu, merupakan prinsip yang bersifat mutlak
  3. Kesatuan kebenaran, atau identitas hukum-hukum alam dengan pola-pola dari Sang Pencipta, merumuskan bahwa tak ada pengamatan/penyelidikan ke dalam hakekat alam semesta atau setiap bagiannya dapat berakhir atau dipecahkan.[20]
  4. 4. Kesatuan hidup

Kesatuan hidup terkait dengan tiga hal pokok. Pertama, amanat Allah kepada makhluk-Nya, terutama manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Amanat yang harus dijalankan oleh makhluk-Nya  adalah kewajiban mereka untuk beribadah kepada-Nya. (Q. S. adz-Dzariyat [51]: 56).Kedua, manusia sebagai khalifah di muka bumi. Di antara tugas manusia sebagai khalifah adalah menyempurnakan hukum-hukum moral. Ketiga, kelengkapan syariat. Syariat menjadi pelengkap bagi manusia yang diamanatkan oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi ini.

  1. 5. Kesatuan Ummat Manusia[21]

Karena Allah yang menciptakan semua manusia, maka tentu saja kesatuan umat ini menjadi sebuah fakta kemanusiaan yang tidak terelakan. Terminologi manusia merujuk pada siapapun manusia yang ada di jagat raya ini. Walaupun berbeda ideologi, agama, ras, bahasa, dan bangsa, namun mereka semua satu sebagai manusia.

  1. C. Tujuan dan Manfaat Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Tujuan Islamisasi ilmu pengetahuan adalah mengembalikan pengetahuan kepada agama, keimanan, dan lebih khusus lagi kepada tauhid.[22] Secara lebih gamblang, kuntowijoyo memaparkan tujuan tersebut, yaitu “berusaha supaya umat islam tidak begitu saja meniru metode-metode dari luar dengan mengembalikan pengetahuan pada pusatnya, yaitu tauhid. Dari tauhid akan ada tiga macam kesatuan, yaitu kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan, dan kesatuan sejarah.”

Dalam redaksi lain tujuan islamisasi ilmu pengetahuan adalah untuk:

melindungi umat Islam dari ilmu yang sudah tercemar yang menyesatkan dan menimbulkan kekeliruan. Islamisasi ilmu dimaksudkan untuk mengembangkan kepribadian muslim yang sebenarnya sehingga menambah keimanannya kepada Allah, dan dengan Islamisasi tersebut akan terlahirlah keamanan, kebaikan, keadilan dan kekuatan iman.[23]

Tujuan islamisasi ilmu pengetahuan dari sisi impelementasinya adalah:

  1. Penguasaan disiplin ilmu modern
  2. Penguasaan khasanah Islam
  3. Penentuan relevansi islam bagi masing-masing bidang ilmu modern
  4. Pencarian sintesa kreatif antara khasanah islam dengan ilmu modern
  5. Pengarahan aliran pemikiran islam ke jalan-jalan yang mencapai pemenuhan pola rencana Allah S.W.T.[24]

F. Rencana Kerja Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Langkah-langkah untuk mencapai proses islamisasi ilmu pengetahuan menurut al-Faruqi:[25]

  1. Menguasai disiplin ilmu modern melalui penguasaan kategori-kategori, prinsip-prinsip, metodologi-metodologi, masalah-masalah, dan tema-tema disiplin ilmu tertentu.
  2. Mensurvei disiplin ilmu
  3. Menguasai khasanah ilmiah islam dalam bentuk antologi
  4. Menganalisa khasanah ilmiah islam
  5. Menentukan relevansi islam terhadap disiplin-disiplin ilmu tertentu
  6. Menilai secara kritis perkembangan masa kini disiplin ilmu modern tertentu
  7. Menilai secara kritis perkembangan masa kini khasanah ilmiah islam
  8. Mensurvei permasalahan yang dihadapi umat islam masa kini
  9. Mensurvei permasalahan yang dihadapi penduduk dunia
  10. Menganalisa dan mensintesa secara kreatif langkah-langkah sebelumnya.
  11. Menuangkan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka islam melalui buku-buku pegangan wajib mahasiswa
  12. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang telah diislamisasikan

Al-Faruqi juga menjelaskan alat bantu lain untuk mempercepat proses islamisai ilmu pengetahuan.[26]

  1. Melakukan kegiatan-kegiatan ilmiah semacam konfrensi, seminar, lokakara, talkshow dan lain-lain.
  2. Pelatihan dan pembinaan instruktur-instruktur dan staf-staf pengajar.

Sementara itu aturan-aturan implementasi dijelaskan oleh al-Faruqi dalam tiga hal.[27]

  1. Menyediakan honorarium yang setimpal dengan pekerjaan para ilmuwan.
  2. Hanya ilmuwan yang kompeten yang ditugaskan untuk menulis baha-bahan pengajaran yang direncanakan.
  3. Memecah pekerjaan yang dianggap besar menjadi bagian-bagian kecil yang diserahkan kepada imuwan lain.
  4. Negara menangung pembiyaan islamisasi ini.
  5. D. Menafsirkan Paradigma UIN Bandung

Dalam hubungannya dengan islamisasi ilmu pengetahuan, menghadirkan UIN Bandung dalam makalah ini sebuah alternatif akademis, sebab universitas ini telah menjadi contoh lembaga pendidikan tinggi islam yang mendorong dan mempraktekan hubungan Islam dan ilmu pengetahuan dalam kegiatan akademiknya, terutama sejak perubahan status dari IAIN menjadi UIN pada tahun 2008. Alasan ini bisa dilihat dari visi, misi, dan paradigma keilmuan UIN Bandung.

  1. 1. VISI UIN Bandung

Menjadikan UIN sebagai perguruan tinggi yang unggul dan kompetitif yang mampu mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum berlandaskan paradigma “wayhu memandu ilmu”.[28]

  1. 2. Misi UIN Bandung

Misi UIN Bandung menyiapkan generasi ulul albab yang mampu:

a)       Memadukan dzikir dan fikr

b)      Memiliki kecerdasan spiritual, emosional, dan intelektual.

c)       Menemukan, mengembangkan dan menerapkan ilmu, teknologi, sosial, budaya, dan seni.[29]

  1. 3. Paradigma Keilmuan UIN Bandung

Paradigma keilmuan UIN Bandung dikembangkan dalam konsep keilmuan “Wahyu Memandu Ilmu” atau “Ayat Quraniyyah Memandu Ayat Kauniyyah.” Penjabaran konsep keilmuan tersebut:

a)       Perkembangan sains tidak bertentangan dengan wahyu, atau dengan kata lain, sains dikembangkan agar sesuai dengan wahyu, dalam ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

b)      Perkembangan sains yang didasarkan wahyu, dilakukan sejalan dengan ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

c)       Perkembangan wahyu memadu ilmu mengadopsi pendekatan integratif-holistik.[30]

Implementasi pendekatan integratif-holistik tersebut terdapat dalam beberapa level.

Pertama,  level filosofis. Dalam pengajaran, pendekatan integratif-holistik pada level ini dimaksudkan bahwa setiap mata kuliah harus diberi nilai fundamental eksistensial dalam kaitannya dengan disiplin keilmuan lainnya dan dalam hubungannya dengan nilai-nilai humanistiknya.

Kedua, level materi. Pendekatan integratif-holistik pada level ini merupakan suatu proses pengintegrasian nilai-nilai keislaman ke dalam mata kuliah umum seperti filsafat, antropologi, sosiologi, hukum, politik, psikologi dan lain sebagainya dan sebaliknya ilmu-ilmu umum ke dalam kajian-kajian keislaman. Implementasi corak integral-holistik pada level ini bisa dengan tiga model, yakni:

  1. Model pengintegrasian ke dalam paket kurikulum, misalnya dalam waktu delapan semester mahasiswa harus menyelesaikan bobot studi sebanyak 144 sks dengan komposisis 50 % ilmu-ilmu keislaman dan 50 % ilmu-ilmu umum.
  2. Model penamaan mata kuliah yang menunjukan hubungan antara dua disiplin ilmu umum dan keislaman, dengan mencantumkan kata islam, seperti Ekonomi Islam, Filsafat Islam, atau Politik Islam.
  3. Model pengintegrasian ke dalam tema-tema mata kuliah.

Ketiga, level metodologi, yaitu metodologi yang digunakan dalam pengembangan ilmu yang bersangkutan. Metodologi yang digunakan dalam pendekatan integral-holistik ini disesuaikan dengan mata kuliah yang ada.

Keempat, level strategi, yaitu level pelaksanaan  atau praktis dari proses pembelajaran keilmuan bercorak integratif-holistik. Pembelajaran model active learning dengan berbagai strategi dan metodenya menjadi sebuah alternatif. [31]

Berdasarkan visi, misi, dan paradigma keilmuan UIN Bandung ini setidaknya bisa menegaskan usaha yang serius lembaga ini untuk mewujudkan  tujuan yang hendak dicapai melalui paradigm keilmuannya sehingga menghasilkan lulusan yang berkualitas.[32]

  1. E. Respon terhadap Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Islamisasi ilmu pengetahuan menuai beragam respon. Respon tersebut berbentuk dua hal. Pertama, menerima dengan melakukan kritik. Respon bentuk pertama ini memiliki peran yang sangat penting untuk memurnikan kembali dan mengokohkan konsep islamisasi ilmu pengetahuan. Sipat respon ini rekonstruktif bukan dekonstruktif[33].

Nama Ziauddin Sardar bisa dimasukan ke dalam bentuk respon pertama ini. Walaupun ia mengkritik konsep islamisasi ilmu pengetahuan dari al-Faruqi, namun ia juga melakukan rekonstruksi terhadap konsep tersebut dengan menggunakan terminologi sain islam.

Kritik Sardar diarahkan pada pendapat adanya relevansi antara sain Islam dan sain Barat. Ia tidak setuju dengan al-Faruqi yang menyatakan perlunya penguasaan terhadap sain Barat terlebih dahulu untuk menguasai sain Islam.[34] Ia menjelaskan bahwa:

semua ilmu dilahirkan dari pandangan tertentu dan dari segi hirarki tunduk kepada pandangan tersebut. Oleh karena itu, usaha untuk menemui epistemologi tidak boleh diawali dengan memberi tumpuan kepada ilmu modern, karena Islamisasi ilmu modern hanya bisa terjadi dengan membina paradigma yang mengkaji aplikasi luar peradaban Islam yang berhubungan dengan keperluan realitas kontemporer. Jika tetap bertahan pada corak berpikir seperti itu berarti hanya sebatas mengeksploitasi ilmu pengetahuan Islami namun tetap menggunakan corak berpikir Barat.[35]

Ia memberikan solusi dengan mengatakan bahwa islamisasi ilmu pengetahuan harus berangkat dari membangun epistemologi Islam sehingga hal ini bisa menghasilkan sistem ilmu pengetahuan yang dibangun di atas pilar-pilar ajaran silam.[36]

Tokoh  lain yang mendukung islamisasi ilmu pengetahuan adalah Ja’far Syekh Idris, seorang ulama Sudan. Ia mengajak para cendikiawan muslim untuk memasukan ajaran Islam ke dalam ranah studi dan karya akademis mereka dalam rangka melakukan perombakan ilmu sosial Islam. Ia  mengajukan lima pertanyaan sebagai panduan untuk menuju ke arah islamisasi ilmu pengetahuan tersebut.

  1. Apakah makna mengislamkan Ilmu?
  2. Apakah ilmu pengetahuan itu bersifat “mungkin”?
  3. Apakah semua ilmu pengetahuan itu dipelajari atau sebagiannya bawaan sejak lahir?
  4. Apakah sumber-sumber ilmu pengetahuan itu?
  5. Apakah metode ilmiah itu?[37]

Kelima pertanyaan tersebut memandu para akademisi muslim ketika mereka terlibat dalam kegiatan-kegiatan ilmiah dan mereka harus mampu menjawabnya dengan terlibat secara proaktif dalam penelitian-penelitian ilmiah. Itulah kira-kira yang diinginkan oleh Syekh Idris ini.

Di Indonesia, salah satu tokoh yang terlibat dalam kritik terhadap islamisasi ilmu pengetahuan adalah almarhum Kuntowijoyo. Salah satu bukunya yang berjudul “Islam sebagai Ilmu” memuat kritik membangun terhadap islamisasi ilmu pengetahuan. Baginya tidak semua entitas dalam pengetahuan islam bisa diislamikan. Metode, teknologi, kesenian, dan ilmu yang benar-benar objektif, seperti kimia tidak bisa diislamkan.[38]

Lebih jauh lagi, kritik Kuntowijoyo mengarah pada usaha untuk meninggalkan islamisasi pengetahuan. Menurutnnya, konsep islamisasi pengetahuan bergerak dari konteks ke teks, yaitu dari realitas sehari-hari maupun realitas ilmiah dihadapkan pada teks al-Quran dan Sunnah. Oleh karena itu konsep ini tidak bergerak menuju wilayah praksis (realitas), tapi hanya menggurita di ranah teoritis (teks al-Quran dan Sunnah). Sebaliknya, umat Islam perlu melakukan “pengilmuan islam” yang bergerak dari teks ke konteks, yaitu dari teks al-Quran dan Sunnah ke realitas.[39]

Respon kedua menolak dengan tegas islamisasi ilmu pengetahuan. Tokoh-tokoh ini diantaranya Fazlur Rahman dan Abdul Karim Soroush. Fazlur Rahman menyatakan “ilmu pengetahuan tidak bisa diislamkan karena tidak ada yang salah di dalam ilmu pengetahuan. Masalahnya hanya dalam menyalahgunakannya.”[40]

Abdul Karim Soroush berargumen bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan tidak mungkin. Menurutnya, islamisasi ilmu pengetahuan tidak masuk akal karena tidak ada realitas yang Islami dan tidak Islami. Sain adalah realitas yang tepat. Ia realitas yang netral. Secara ringkas Soroush menjelaskan bahwa;

1) Metode metafisis, empiris atau logis adalah independen dari Islam atau agama apa pun. Metode tidak bisa diislamkan; 2) Jawaban-jawaban yang benar tidak bisa diislamkan. Kebenaran adalah kebenaran dan kebenaran tidak bisa diislamkan; 3) Pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah yang diajukan adalah mencari kebenaran, sekalipun diajukan oleh non-muslim; 4) Metode yang merupakan presupposisi dalam sains tidak bisa diislamkan”[41]

Dua kutub pemahaman di antara tokoh-tokoh Islam tersebut ini pada akhirnya akan selalu berdialektika atau bersintesa seiring dengan perkembangan pemikiran. Yang terpenting adalah bagaimana ajaran Islam bisa diimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari dan kegiatan ilmiah, sehingga apa yang menjadi tujuan hidup umat Islam bisa tercapai.

  1. F. Kesimpulan

Latar belakang munculnya Islamisasi ilmu pengetahuan karena kegagalan paradigma tunggal yang digunakan oleh sain Barat dan berujung pada kekacauan dunia. Kekacauan ini membahayakan kehidupan manusia, sehingga diperlukan paradigma utuh, yaitu Islam yang menjadi paradigma islamisasi ilmu pengetahuan.

Islamisasi ilmu pengetahuan adalah internalisasi nilai-nilai Islam kedalam ilmu pengetahuan, sehingga semua ilmu harus mengandung nilai-nilai Islam. Internalisasi ini tentu saja bersifat ideologis karena “memaksakan” islam menjadi nilai tunggal dari semua jenis ilmu pengetahuan.

Karakterisitik islamisasi ilmu pengetahuan adalah adanya nilai tauhid yang terkandung dalam setiap ilmu pengetahuan. Nilai tauhid ini membedakan ilmu pengetahuan Islam dengan ilmu pengetahuan non islam.

Islamisasi ilmu pengetahuan ditujukan untuk melindungi umat islam dari paradigma ilmu yang menyesatkan dan mendorong mereka mengunakan paradigma Islam untuk meningkatkan keimanan kepada Allah S.W.T.

Rencana kerja islamisasi ilmu pengetahuan mengikuti rumusan dari Islamil Raji al-Faruqi. Rumusan ini bukan satu-satunya rumusan yang dianggap paling benar, namun salah satu tawaran dari al-Faruqi bagi yang belum mempunyai rumusan yang lebih baik.

UIN Bandung salah satu perguruan tinggi yang telah berusaha menghidupkan dan menerapkan tafsir baru terhadap konsep islamisasi ilmu pengetahuan dalam kegiatan akademik, walaupun hasilnya belum sesuai dengan apa yang diharapkan.

Respon terhadap islamisasi ilmu pengetahuan berbentuk penerimaan dengan melakukan kritik membangun, seperti yang dilakukan Ziaudin Sardar, Ja’far Syekh Idris, dan Kuntowijoyo dan dengan menolak mentah-mentah, seperti Fazlur Rahman dan Abdul Karim Soroush. Respon terhadap islamisasi ilmu pengetahaun tidak berhenti pada mereka tapi terus menerus bergerak sampai saat ini. Hal ini mengisyaratkan bahwa hubungan islam dan ilmu pengetahuan belum selesai dirumuskan.

  1. G. Daftar Pustaka

Bakar, Osman. 2008. Tauhid dan Sains: Perspektif Islam tentang Agama dan Sains. Bandung: Pustaka Hidayah.

_____. Epistemology in Islamic Perspective: The Theory. Bandung, 13 November 2009.

al-Faruqi, Isma’il Raji. 2003. Islamisasi Pengetahuan. Bandung: Penerbit Pustaka.

Huda, Miftahul. 2009. Historisitas Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Tersedia di drmiftahulhudauin.multiply.com

Kuntowijoyo. 2007. Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Muzani, Syaiful (Editor). 1995. Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Prof. Dr. Harun Nasution.Bandung: Mizan.

Natsir, Nanat Fatah. The Implementation of “Wahy Guides Sciences” in Teaching Process at State Islamic University Sunan Gunung Djati Bandung. Bandung, 13 November 2009.

Solomon, Robet C. & Kathleen M. Higgins. 2002. Sejarah Filsafat. Jogjakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Tafsir, Ahmad. 2001. Filsafat Umum: Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra. Bandung: Remaja Rosdakarya.


[1] Lihat kata pengantar dari penerbit buku Kuntowijoyo. Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika. (Yogyakarta: Tiara Wacana. 2007). hlm.v.

[2] Ajaran-ajaran agama terbagi ke dalam dua kelompok besar. Pertama, ajaran-ajaran dasar dasar yang bersifat mutlak benar, kekal tak berubah dan tidak boleh dirubah. Kedua ajaran-ajaran hasil penafsiran manusia dari ajaran-ajaran dasar. Ajaran ini bisa berubah dan bisa diubah. Lihat Harun dalam Syaiful Muzani (Editor). Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Prof. Dr. Harun Nasution. Bandung: Mizan. 1995. hlm.292.

[3] Osman Bakar. Tauhid dan Sains: Perspektif Islam tentang Agama dan Sains. Bandung: Pustaka Hidayah. 2008). hlm. 29- 30.

[4] Kuntowijoyo. Islam. hlm. v.

[5] Ibid. Hlm. 5.

[6]. Lihat Miftahul Huda di drmiftahulhudauin.multiply.com. Historisitas Islamisasi Ilmu Pengetahuan. (2009). hlm. 14 -15.

[7] Konsep islamisasi ilmu pengetahuan disebut sebagai “proyek” ideologi karena konsep tersebut tetap saja “memaksakan” islam sebagai ideologi tunggal, terutama dalam epistemologi dan ontologinya.

[8] Ahmad Tafsir. Filsafat Umum: Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra. (Bandung: Remaja Rosdakarya. 2001). Cet. ke-9. hlm. 257.

[9] Ibid, hlm. 259-265.

[10] Ibid. hlm. 264.

[11] Cartesian merujuk pada metode filsafat dari Rene Descartes, Mbahnya filsafat modern, yang terkenal dengan ungkapan cogito ergo sum (aku berpikir, jadi aku ada). Descartes sendiri seorang filosof rasionalisme yang tentu saja ikut andil dalam mendorong rasionalisme menjadi salah satu metode ilmiah. Andilnya ini menjadikannya dianggap sebagai salah seorang yang pertama kali menghubungkan filsafat dengan ilmu. Sementara Newtonian merujuk pada pemikiran Sir Isaac Newton, seorang ilmuwan besar yang telah mempraktekan kedua metode ilmiah, yaitu rasionalisme dan empirisisme dalam melakukanan proyek ilmiahnya. Perkembangan pemikiran kedua tokoh ini dianggap telah melahirkan paradigma sain yang tunggal, yang tidak melihat alam dan kehidupan secara utuh menyeluruh, tapi hanya dari sisi empirik dan rasional semata. Paradigma ini bertanggung jawab dalam menjadikan budaya barat hancur. Lihat Robet C. Solomon & Kathleen M. Higgins. Sejarah Filsafat. (Jogjakarta:Yayasan Bentang Budaya. 2002). Hlm. 357 dan ibid. Hlm. 131 & 263.

[12] Ahmad, Filsafat. hlm. 264.

[13] Ibid. hlm, 245.

[14] Miftahul. Historisitas. Hlm. 7.

[15] Isma’il Raji al-Faruqi. 2003. Islamisasi Pengetahuan. Bandung: Penerbit Pustaka.Cet ke-3.Hlm. 38-39.

[16] Kuntowijoyo, Islam. hlm. 7.

[17] Miftahul. Historitas.  hlm. 15.

[18] Osman Bakar. Epistemology in Islamic Perspective: The Theory. (Sebuah makalah ilmiah yang disajikan dalam Seminar Internasional Epistemologi dalam Perspektif Islam: Teori dan Implementasinya di Perguruan Tinggi Islam). Bandung, 13 November 2009. hlm.7.

[19] Dari tulisan Osman Bakar tersebut, saya tidak menemukan penjelasan lebih jauh mengapa poin ketiga dan keempat yang tidak mencantumkan kata-kata islam. Namun saya mencoba menghubungkan kedua poin tersebut dengan pemikiran Kuntowijoyo bahwa tidak semua entitas ilmu pengetahuan bisa diislamkan. Lihat Kuntowijoyo, Islam. hlm. 8.

[20] Ismail. Islamisasi. hlm. 56-71

[21] Ibid, hlm. 56-66

[22] Kuntowijoyo. Islam.  hlm. v.

[23] Miftahul. Historitas.  hlm. 9.

[24] Isma’il, Islamisasi, hlm. 98.

[25] Ibid, hlm. 98-118.

[26] Ibid. Hlm. 118-119.

[27] Ibid. Hlm. 119- 121.

[28] Nanat Fatah Natsir. The Implementation of “Wahy Guides Sciences” in Teaching Process at State Islamic University Sunan Gunung Djati Bandung. Bandung, 13 November 2009.hlm.1.

[29] Ibid

[30] Ibid. Hlm. 2.

[31] Ibid., hlm. 5-7.

[32] Out put kualitas sarjana UIN Bandung memiiliki standar akademik: kekokohan iman, keluasan ilmu, kemuliaan akhlak, dan keunggulan amal. Lihat ibid., hlm. 2

[33] Miftahul. Historitas.  Hlm. 13.

[34] Ibid, hlm. 14

[35] Ibid, 14-15

[36] Ibid, hlm. 15.

[37] Ibid, hlm. 15

[38] Kuntowijoyo, Islam. 8-9.

[39] Ibid, hlm. 1.

[40] Ibid, hlm. 16

[41] Ibid, hlm. 18

* Tulisan ini pernah disajikan dalam seminar mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam di bawah bimbingan Prof. Dr. H. Afifuddin, M. M. pada Desember 2009.

Posted in: Artikel