DIALEKTIKA ISLAM FUNDAMENTAL DENGAN ISLAM LIBERAL *

Posted on July 20, 2010

0


Term Islam fundamental sering dipahami sebagai genre Islam yang mewakili Islam yang non-liberal . Sebaliknya, Islam liberal diartikan sebagai sebagai mainstream Islam lain yang mewakili Islam yang non-fundamental. Dalam tulisan ini, kedua genre Islam itu diusahakan saling berdialektika, untuk membuahkan hasil yang mampu mendorong terjadinya proses aufklarung bagi Islam an sich.

Islam liberal dan Islam fundamental merupakan diskursus pemikiran terhadap Islam. Keduanya merupakan usaha umat Islam dalam memahami Islam. Hanya saja dalam tataran realitas, diskursus tersebut tidak hanya dipahami sebatas itu. Keduanya dianggap ideologi yang harus dipertahankan, bahkan tidak mungkin digantikan oleh ideology pemikiran lain. Yang lebih khawatir lagi, keduanya selalu dipertarungkan, bahkan di tingkat horizontal, keduanya telah dipahami secara berlebihan. Pengklaiman bahwa satu sama lain akan membahayakan terhadap Islam telah menjadi informasi yang hangat selama ini, terutama peran media informasi dan dunia maya yang semakin memperkuat kenyataan ini. Pokoknya, reaksi yang overdosis telah dimunculkan oleh masing-masing kubu.

Diakui atau tidak, ada beberapa perbedaan cara pandang atau pendekatan kedua genre tersebut dalam memahami Islam. Tapi, haruskah perbedaan-perbedaan tersebut mengakibatkan keduanya saling menyalahkan, dan bisakah dibangun islah untuk sama-sama membumikan konsep rahmatal lil‘alamin?

Pertama, dari sisi metodologis, Islam fundamental selalu dipahami mengutamakan metode atau pendekatan teologis-normatif, yaitu pendekatan yang memahami Islam hanya dari sisi tauhid dan aplikasi ibadah ritual semata, dan kurang memperhatikan pendekatan lain yang lebih egalitarian. Sebaliknya, Islam liberal kurang senang dengan pendekatan seperti itu, sebab terlalu rigid kalau memahami Islam dari sisi itu saja. Genre ini lebih tertarik kepada pendekatan filosofis, sosiologis, atau psikologis dalam memahami Islam. Intinya bahwa Islam, menurut penganut genre ini, bukan hanya agama tauhid, tapi juga agama yang menjungjung tinggi nilai-nilai budaya dan kemasyarakatan. Sehingga konsekuensinya Islam selalu berkembang seiring dengan perkembangan budaya dan masyarakat. Tapi genre Islam ini juga tidak seratus persen tidak senang terhadap pendekatan teologis-normatif itu. Dalam hal-hal yang bersifat fundamental, mereka masih menggunakan pendekatan ini. Contohnya dalam menafsirkan kalimat sawa (QS. Ali Imran: 64), mereka tidak sepakat hal itu ditafsirkan sebagai tukar menukar keyakinan (tauhid), tapi meminjam istilah dari Budhy Munawar Rahman, hal itu harus dipahami sebagai pesan dasar agama yang sama, bukan pokok-pokok keyakinan yang harus sama.

Kedua, dari sisi paradigma per se, Islam fundamental juga sering dipahami lebih cenderung menggunakan paradigm positivistik, yang dituding rigid, eksklusif, dan non-pluralis dalam memahami kebenaran. Paradigma ini menjelaskan bahwa kebenaran absolut, sudah final, dan berlaku untuk semua zaman dan waktu. Sebaliknya, Islam lebih bisa memahami paradigma naturalistik, yaitu paradigma yang menghargai kebenaran yang relatif, belum final, ada di mana-mana dan di siapa saja.

Berangkat dari pemahaman yang membedakan cara pandang kedua genre Islam itu, maka kalau toh pemahaman ini benar, yang diperlukan adalah membangun dialektika antara keduanya. Sebab kalau masing-masing kubu menggunakan double standard-meminjam term Hugh Goddard-dalam melihat perbedaan itu, maka proses massifikasi Islam di masyarakat tidak akan terjadi. Lebih berbahaya kalau hal itu berimbas ke wilayah grass root.

Ada banyak cara untuk membangun proses dialektika itu, diantaranya menggunakan pisau analisis filsafat posmo. Salah satu yang bisa menjadi alternatif adalah metode dekontruksinya Derrida, seorang filosof poststrukturalis. Metode tersebut bisa membelah kebuntuan antara dua hal yang berbeda , walaupun dalam bidang metafisikanya ada beberapa kelemahan. Derrida mendekontruksi pemikiran para filosof sebelumnya yang cenderung hitam putih dalam memahami perbedaan. Kita dipaksa harus memilih antara hitam atau putih , ketika ada dua hal yang bersebrangan ((kalau tidak Islam fundamental, yah Islam liberal). Pemikiran seperti ini dibongkar oleh Derrida, maka muncullah term logika lateral (menyamping) yang mendekontruksi logika identitasnya Arsitotelian. Seperti dikatakan oleh Mulyadi J. Amalik (2002), bahwa logika identitasnya Aristotelian didekontruksi oleh Derrida karena terkesan kaku, apalagi kalau logika tersebut digunakan dalam ilmu sosial dan Humaniora.

Sebagai contoh, J. Amalik mengatakan bahwa logika Aristotelian selalu mengandung hukum kontradiksi (Islam liberal dan Islam fundamental tidak mungkin sekaligus benar dan salah dalam waktu yang sama) atau hukum penyisihan jalan tengah (sesuatu yang bukan Islam liberal, pasti Islam fundamental). Hal ini dibongkar olah filosof asal Prancis itu. Menurutnya, suatu hal mungkin saja benar dan salah sekaligus pada saat yang sama (Islam liberal dan Islam fundamental, mungkin saja benar dan salah sekaligus pada saat yang sama) atau segala sesuatu yang berlawanan bisa melahirkan jalan tengah atau jalan ketiga (kalau benar Islam liberal vis a vis Islam fundamental, bisa dibangun alternatif lain atau jalan tengah untuk mempertemukannya). Begitu kira-kira saya memahami pemikiran Derrida lewat seorang J. Amalik, dengan tidak menutup kemungkinan pemikirannya tersebut didekontruksi oleh pemikiran lain.

Jadi, jalan tengah sangat diperlukan untuk membangun kesadaran bersama antara kedua kubu tersebut. Paling tidak jalan tengah menjadi semacam kesepakatan bersama untuk saling menghormati. Sebab lagi-lagi, kalau pengklaiman bahwa genre saya lebih progresif, pluralis, dan demokratis dari pada genre yang lain, maka akan muncul semacam sakit hati dari pendukung genre lain.

Pemahaman bahwa Islam fundamental tidak progresif, inovatif, atau modern, itu hanya “perasaan” kita saja. Tidak etis mengukur progresif atau tidak dari kacamata kita yang memang kebetulan beda. Seperti kata Armstrong, seorang pakar studi lintas agama dalam buku The Battle for The God (2000). Ia melihat bahwa term fundamental sebenarnya menunjukan pemikiran yang progresif, inovatif, dan modern. Jadi, Islam fundamental bukan hanya dituduh anti pluralistik dan anti demokratis.

Sebaliknya juga tidak pantas mengukur Islam liberal-dari persepsi kita yang kebetulan tidak liberal-sebagai anti Islam atau perusak syariat Islam. Kita sebaiknya merenungkan statement Ulil Absar Abdalla, seorang aktivis NU, bahwa term Islam fundamental, Islam liberal, atau genre-genre Islam yang lain merupakan beberapa kios atau toko saja dari pasar raya penafsiran. Boleh saja kita menawarkan barang dagangan yang ada dalam kios kita. Yang tidak boleh adalah merusak kios orang lain, sebab akan terjadi “baku hantam” di antara pemilik kios, sehingga mengakibatkan chaos-nya  pasar raya.

Jalaludin Rahmat (seorang pakar komunikasi), walaupun ia sering disebut sebagai salah satu anggota Jaringan Islam Liberal (JIL), namun pernyataannya-dalam sebuah seminar tentang Jaringan Islam Liberal yang diadakan di IAIN Bandung-bahwa Islam itu liberal, sekaligus juga fundamental, harus kita renungkan. Ia mencontohkan Sayyidina Ali sebagai seorang liberal, karena sangat keras mengkritik kebijakan khalifah pada jamannya, sekaligus juga ia seorang fundamental yang sanggup mempertahankan komitmennya terhadap Islam sampai ia terbunuh. Rasulullah pun sangat menjaga kemurniaan Islam (seorang fundamental), sekaligus juga beliau seorang yang sangat toleran dan pluralis (seorang liberal juga).

Dengan pernyataannya itu, maka secara tidak langsung Kang Jalal menawarkan sebuah proses dialektika antara Islam liberal dengan Islam fundamental. Dalam redaksi lain, bagaimana dapat “mengawinkan” keduanya agar terbangun sebuah rumah tangga Islam yang sakinah dan mawaddah wa rahmat. Amin.

*Diterbitkan oleh Pikiran Rakyat  pada tanggal 21 Agustus 2002.

Posted in: Artikel