MENAFSIR AYAT 61 -70 SURAT AL-BAQARAH

Posted on October 11, 2011

0


MENAFSIR AYAT 61 -70 SURAT AL-BAQARAH

Oleh: Ceceng Salamudin

A. Pendahuluan

Hidup ini adalah menafsir, begitu kata Heiddeger, seorang filosof dekontruksionis. Baginya, menafsir itu pekerjaan remeh temeh yang tidak memerlukan syarat-syarat rumit. Semua orang bisa menafsir dan teks apapun bisa ditafsirkan. Tafsirkan saja apapun, begitu kira-kira maksud adagium Heiddeger ini.

Bagaimana menafsirkan teks kitab suci? Menafsirkan kitab suci bisa jadi berbeda caranya dengan menafsirkan teks selain kitab suci. Dalam tradisi Kristen, menafsirkan kitab suci ini dikenal dengan nama hermeneutika. Di kemudian hari hermeneutika ini digunakan oleh para filosof posmodernisme sebagai salah satu metodologi menafsirkan teks. Hasilnya lumayan bagus. Metodologi ini memberi ruang dan peluang sebesar-besarnya bagi para penafsir dan calon penafsir untuk menafsirkan teks tanpa persyaratan yang rumit.

Bagaimana dalam tradisi Islam, apakah hermeneutika ini dikenal dan dipakai dalam menafsirkan al-Quran atau Hadis? Pada jaman Nabi, hermeneutika tidak dikenal sama sekali, tapi mungkin pernah dipraktekan. Dalam tradisi Islam sekarang ini, hermeneutika dikenal baik dan juga dipraktekan secara luas untuk menafsirkan al-Quran dan Hadis. Hasilnya membuat al-Quran dan Hadis semakin menarik untuk ditafsir. Sehingga siapapun boleh menafsirkan al-Quran tanpa persyaratan yang rumit.

Hal ini mungkin yang menjadi alasan dosen saya menyuruh mahasiswanya untuk menafsirkan al-Quran, padahal beliau yakin dan paham betul bahwa mahasiswanya tidak memenuhi syarat untuk bisa menafsirkan al-Quran, sebagaimana yang disyaratkan oleh para ulama dalam menafsirkan al-Quran. Saya dan teman-teman menyambut baik “perintah” dosen kami tersebut.

Tulisan ini akan mencoba menafsirkan al-Quran. Karena sifatnya mencoba, maka jumlah ayatnya sedikit saja, yaitu ayat 61 – 70 Surat al-Baqarah. Karena sifatnya mencoba pula, jangan diharapkan hasil tafsir ini bagus. Walaupun hasilnya tidak bagus, tafsir ini “dilindungi” oleh hermeneutika dan dosen saya itu. Sehingga saya pede saja untuk menafsirkan al-Quran.

Sepuluh ayat dari Surat al-Baqarah ini memetakan empat tema utama, yaitu al-Baqarah sebagai pelajaran bagi umat yang tidak bersyukur, al-Baqarah mempertemukan beragam agama, al-Baqarah sebagai pelajaran bagi umat yang melanggar perjanjian dengan Allah, dan al-Baqarah pelajaran bagi umat yang banyak bertanya.

 

B. Al-Baqarah Pelajaran bagi Umat yang Tidak Bersyukur (Ayat 61)

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.” Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.” Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.

Ayat ini berbicara tentang karakteristik buruk Bani Israel, yaitu mereka merasa hanya diberikan nikmat dan karunia yang kecil dan sedikit saja dari Allah. Mereka tidak sabar dengan nikmat dan karunia tersebut. Padahal sebenarnya banyak karunia dan nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka. Karena ketidaksabaran itu, mereka jadi tidak bersyukur atas nikmat dan karunia Allah S. W. T.

Uraian karakter buruk mereka itu adalah mereka selalu meminta lebih dari apa yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka selalu merasa tidak puas dengan karunia Allah yang telah mereka nikmati. Mereka selalu meminta yang baru padahal belum tentu yang baru lebih baik dari apa yang telah mereka terima. Mereka tidak sadar bahwa apa yang telah mereka terima adalah sesuatu yang lebih baik dari apa yang mereka inginkan.

Karakter buruk yang lain mereka telah membunuh para Nabi yang telah dipilih oleh Allah sebagai pembawa kebenaran kepada mereka. Secara tidak langsung, dengan pembunuhan tersebut, mereka telah membunuh kebenaran.

Puncak ketidaksabaran itu adalah mereka meminta kepada Nabi Musa agar Allah melimpahkan karunia yang banyak dan melimpah berupa sayur mayur dan rempah-rempah. Nabi Musa mempersilahkan mereka untuk datang ke suatu kota agar harapan mereka bisa terwujud. Namun apa yang mereka dapatkan hanyalah kenistaan, kehinaan, dan kemurkaan dari Allah. Mengapa mereka dinistakan, dihinakan, dan dimurkai oleh Allah? Karena karakter mereka yang buruk itu.

Ayat ini diawali dengan kata idz (yang diartikan ingatlah dan perhatikan lah) yang menunjukan bahwa isi kalimat sesudah kata tersebut harus benar-benar diperhatikan dengan serius, sehingga kita mampu memetik makna dari kandungan ayat tersebut. Apa yang harus diperhatikan tersebut? yaitu kita jangan mengikuti karakter buruk Bani Israel yang berakibat dihinakannya  mereka oleh Allah S. W. T.

Kalau kembali ke makna teks ayat ini, maka isi ayat ini tidak merilis jenis makanan apa yang membuat orang-orang bani Israel merasa bosan sehingga mereka meminta berbagai jenis makanan lain. Karena al-Quran tidak menyebutkan jenis makanan apa yang dimaksud, maka kita tidak usah menamakan jenis makanan tersebut. Inilah salah satu kecenderungan Muhammad Abduh dalam menafsirkan al-Quran. Menurut Abduh, kalau ayat tersebut tidak menyebutkan nama sesuatu, maka seorang penafsir tidak usah menamakannya atau mencari nama-nama yang kira-kira pas dengan maksud suatu ayat. Artinya, ayat yang bersifat umum harus dibiarkan saja tetap bersifat umum. Karena kalau ayat tersebut ditafsirkan secara khusus, maka al-Quran akan kehilangan ruhnya.

Namun, dalam Tafsir Jalalain, tha’amun wahidin (makanan yang monoton) itu ditafsirkan sebagai manna dan salwa[1]. Kita mengetahui arti manna dan salwa dari terjemahnya dalam bahasa Indoneisia. Manna diterjemahkan sebagai sejenis madu dan salwa diterjemahkan sebagai madu, manisan, dan Burung Puyuh. Kalau melihat terjemahan keduanya, maka hemat saya manna dan salwa satu jenis makanan saja, yaitu bisa jadi madu atau burung puyuh.

Walau diberi tafsiran, ayat 61 ini tidak memberikan penjelasan yang bagus tentang jenis makanan yang membuat Bani Israel merasa tidak puas. Oleh karena itu, saya memilih untuk tidak menafsirkan jenis makanan ini. Biarkan al-Quran itu hidup dengan adanya makna yang samar ini.

Ada makna universal yang bisa digali dari ayat ini, yaitu perintah untuk bersyukur kepada Allah S.W.T. Kita diwajibkan bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah S. W. T., walaupun dalam pandangan kita hal itu kecil dan sedikit.

Selain itu kita juga dilarang membunuh kebenaran, yang disimbolkan sebagai para Nabi. Sebagai pembawa kebenaran, jelas sekali membunuh para Nabi sebagai suatu kesalahan besar. Dalam konteks hari ini, para Nabi jelas tidak ada. Namun kebenaran selalu ada dan selalu akan dicoba untuk “dibunuh”. Oleh karena itu, konsep membunuh para Nabi dalam ayat ini bisa ditafsirkan sebagai membunuh kebenaran.

 

C. Al-Baqarah Mempertemukan Beragam Agama (ayat 62)

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin[2], siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Inilah salah satu ayat yang berbicara tentang titik temu agama, yaitu semua agama benar dan para pengikut agama yang shaleh akan mendapatkan pahala dari Tuhan. Jadi, tidak ada keraguan sedikitpun bahwa orang-orang Islam, Yahudi, Nasrani, dan orang-orang yang mengikuti ajaran nabi-nabi terdahulu yang beriman kepada Allah dan beramal saleh akan mendapatkan kebaikan dari Allah. Ayat ini berlaku sampai kapan pun dan tidak bisa disalin dengan ayat manapun. Ayat ini menunjukan ruh al-Quran yang kontekstual.

Bagaimana dengan agama-agama hari ini selain agama Islam? Apakah para penganutnya yang beriman kepada Allah dan beramal shaleh akan mendapatkan kebaikan  dari Allah? Jawabannya iya. Para penganut agama selain Islam yang beriman kepada Allah, hari akhirat, dan beramal shaleh maka yakin mereka akan mendapatkan kebaikan dari Allah S. W. T.

Apakah konsep Allah dalam ayat tersebut hanya merujuk pada konsep Allah dalam pemahaman orang Islam? Tentu saja tidak. Pemeluk Kristen Protestan, Kristen Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, Sinto, dan agama-agama lain diyakini akan mendapatkan pahala dari Allah karena keimanan dan amal shaleh mereka. Hanya kadangkala kita so tau dengan keyakinan mereka  dan menganggap mereka orang-orang kafir yang akan mendapatkan kecelakaan karena tidak beriman. Untuk urusan iman dan tidak iman yang sebenarnya, kita serahkan saja kepada Allah. Kita mengikuti golongan Murji’ah[3] saja.

Bahkan keyakinan terhadap Allah ini tidak dimatikan dengan keharusan memeluk salah satu agama. Artinya, orang yang tidak memeluk salah satu agama tapi beriman kepada Allah dan beramal shaleh maka ia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah.

 

D. Al-Baqarah Pelajaran bagi Umat Yang Melanggar Perjanjian dengan Allah (Ayat 63-66).

1. Ayat 63

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thur) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa.”

Kata thur diterjemahkan menjadi gunung atau nama sebuah gunung. Apa arti thur ini? Pada awalnya thur ini nama bagi semua jenis gunung. Namun yang dimaksud dalam ayat ini, thur adalah sebuah gunung yang dikenal di Palestina[4]. Perlu pembuktian ilmiah apakah gunung yang dimaksud benar-benar ada? Letaknya dimana? Apakah benar di Palestina atau mungkin di tempat lain?

Kata rafa’na diterjemahkan atau diartikan menjadi “Kami mengangkat”. Kata “mengangkat” bisa berarti berhubungan dengan sesuatu yang konkret, yaitu seperti mengangkat gunung atau dengan sesuatu yang abstrak seperti mengangkat derajat atau kualitas.

Kalau rafa’na dihubungkan dengan sesuatu benda yang konkret, maka jelas lah bahwa Allah mengangkat gunung Thur di atas kepala Bani Israel untuk membuktikan kekuasaannya. Bahkan dalam Tafsir Jalalain, jelas sekali disebutkan bahwa Allah mencabut gunung tersebut dari permukaan bumi dan diangkat ke atas kepala orang-orang Israel[5]. Yang diangkat adalah gunung Thur tersebut. Arti pertama ini menjadi makna yang populer di kalangan penerjemah atau penafsir al-Quran..

Kalau mengikuti makna rafa’na yang pertama ini, maka jelas kandungan ayat ini berkenaan dengan peristiwa tertentu dan tidak berkenaan dengan keuniversalitasan al-Quran. Oleh karena itu, ayat ini sangat berkenaan dengan ilmu sosial dan antropologi yang membutuhkan pembuktian ilmiah. Benarkah pada suatu waktu Allah pernah mengangkat sebauh sunung ke atas kepala Bani Israel untuk membuktikan kemukjizatan-Nya? Dimanakah gunung tersebut? apakah ada bukti sejarahnya?

Berkenaan dengan makna yang pertama ini, akan muncul juga sebuah pertanyaan apakah makna mengangkat gunung bisa berarti gunung tersebut meletus dan ketika letusan itu terjadi, Bani Israel ada di bawahnya? Bisa jadi ini yang bisa dipahami oleh pemikiran ilmiah bahwa makna “kami mengangkat gunung” adalah Allah meletuskan gunung tersebut sehingga material gunung menimpa Bani Israel.

Kalau rafa’na dihubungkan dengan sesuatu yang abstrak, yaitu terjemahnya “Kami mengangkat derajat Gunung Thur”, maka bisa dipahami bahwa Allah mengangkat derajat gunung tersebut karena di gunung tersebut Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa yang dikenal dengan kitab Taurat. Jadi, gunung Thur mempunyai kelebihan dibandingkan gunung-gunung yang lain.

Alasan ini bisa dipahami karena isi selanjutnya ayat 63 berkenaan dengan perintah Allh kepada Nabi Musa dan kaumnya untuk  memegang teguh dan menjalankan isi kitab Taurat tersebut agar mereka menjadi orang yang bertakwa.

Jadi, di Gunung Thur, Allah membuat perjanjian ketuhanan dengan Nabi Musa (dan kaumnya)-yang dijelaskan oleh ayat 64-yang membuat Gunung Thur memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding gunung-gunung yang lain, termasuk dengan Gunung tempat beradanya Gua Hira, tempat Rasulullah menerima wahyu pertama dari Allah S. W. T.[6]

2. Ayat 64.

Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi.

Anehnya orang-orang bani Israel itu tetap berpaling dari Allah walaupun perjanjian ketuhanan telah dibuat dan kekuasaan Allah S.W.T telah dibuktikan. Hanya dalam ayat ini, Bani Israel tetap diberikan karunia dan rahmat Allah dan mereka termasuk orang-orang yang tidak rugi. Hal ini lagi-lagi karena kasih sayang Allah kepada mereka. Walaupun mereka berkhianat, Allah tetap memberikan karunia dan rahmat-Nya, yaitu Allah menerima taubat mereka dan menunda siksa bagi mereka[7].

Syekh Ahmad al-Shawi memberikan penjelasan bahwa karunia dalam bentuk penerimaan taubat diberikan kepada golongan yang benar-benar menyesali dan beriman kembali kepada Allah. Sementara bagi mereka yang tidak benar-benar menyesal dan tidak beriman kembali kepada Allah, Allah menangguhkan siksa kepada mereka. Bukti penangguhan siksa tersebut dijelaskan dalam ayat 65.[8]

     3. Ayat 65

Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina.”

Mereka yang ditangguhkan siksanya oleh Allah melakukan kesalahan lagi, yaitu dengan melanggar larangan Allah untuk tidak mengail ikan pada hari Sabtu dan sebagian mereka malah melakukan perbuatan itu.

Ada apa pada hari Sabtu itu sehingga hari tersebut diabadikan dalam al-Quran? Kenapa ada larangan pada hari Sabtu? Hari Sabtu atau hari Sabat adalah hari untuk beribadah kepada Allah dengan mendatangi tempat-tempat ibadah. Namun ada sebagian orang-orang Bani Israel yang tidak melaksanakan ibadah. Mereka malah mengail ikan, padahal Allah melarang mereka untuk mengail ikan. Inilah ancaman luar biasa dari Allah terhadap kelakukan orang-orang tersebut. Ancaman tersebut dibuktikan oleh Allah dengan merubah mereka menjadi monyet. Monyet-monyet jelmaan ini hanya mampu bertahan selama tiga hari[9].

Perubahan mereka menjadi monyet hanyalah salah satu tafsiran dari ayat ini. Mayoritas ulama ahli tafsir sepakat dengan tafsiran ini. Tafsiran lain mengatakan bahwa mereka tidak dirubah menjadi monyet, hanya mereka diumpamakan seperti monyet karena kekerasan hatinya untuk menerima kebenaran dan karena kelincahan dirinya untuk melanggar larangan Allah.

Kalau merujuk pada pendapat pertama, maka harus ada pembuktian sejarah. Apakah benar orang-orang yang melanggar itu dirubah  wujudnya menjadi monyet dalam sekejap atau melalui proses evolusi? Mungkinkah ayat ini menjadi pijakan teori evolusi Darwin di kemudian hari?

Penulis berpikir bahwa dengan kekuasaan Allah S.W.T, sesuatu bisa dirubah wujudnya menjadi wujud yang lain. Hanya ketika dimaknai bahwa perubahan melalui proses yang cepat, seperti perubahan wujud akibat tongkat sihir dalam film Harry Potter, rasanya bertentangan dengan akal sehat. Artinya, perubahan manusia menjadi monyet itu terjadi dalam proses yang panjang. Kita memerlukan pembuktian ilmiah tentang perubahan wujud tersebut. Sayang saya belum menemukan bukti itu.

Hikmat ayat ini bahwa kita jangan melanggar larangan Allah karena hal itu akan mempunyai konsekuensi hukum yang akan kita rasakan. Turutilah kemauan Allah karena ia maha mengetahui yang baik dan tidak baik bagi kita.

     4. Ayat 66

Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

Apapun yang terjadi pada masa lalu menjadi peringatan dan pelajaran bagi manusia pada masa itu dan masa yang akan datang. Apa yang menjadi peringatan dan perhatian tersebut? Yaitu jauhilah karakter buruk Bani Israel.

Penjabaran peringatan dan penjabaran itu bahwa kita harus menggunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk bertobat kepada Allah ketika kita melakukan dosa, sementara Allah masih memberikan peluang kepada kita untuk bertobat. Jangan sampai jatuh kedua kali ke dalam lubang yang sama dan jangan sampai Allah benar-benar menutup jalan tobat kita.

 

E. Al-Baqarah Pelajaran Bagi Umat Yang Banyak Bertanya(Ayat 67 70).

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?”[62] Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” (Ayat 67).

Mereka menjawab: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” (Ayat 68).

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.” (Ayat 69).

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).” (Ayat 70).

Ayat 67 sampai 71 berkenaan dengan perintah menyembelih sapi betina yang membuat orang-orang Bani Israel banyak bertanya, sehingga hampir saja dimurkai oleh Allah.

Berdasarkan kelima ayat tersebut, bertanya belum tentu bagus. Bertanya malah cenderung seperti mengejek atau mempermainkan. Pada waktu itu Musa mengingkan umatnya jangan banyak bertanya tentang perintah atau larangan Allah yang sudah jelas maksudnya. Laksanakan saja tanpa banyak bertanya, begitu kira-kira keinginan Nabi Musa. Namun kaumnya malah banyak bertanya tentang sesuatu yang sebenarnya sudah jelas. Pertanyaan tersebut justru mempersulit mereka untuk mencari sapi Betina yang sesuai dengan perintah Allah. Itu yang membuat Nabi Musa geram.

Hikmat ayat ini menerangkan bahwa sesuatu yang sudah jelas dan tidak ada alasan untuk meminta penjelasan, tidak usah dipertanyakan. Dalam konteks peristiwa sapi Betina, sudah jelas yang disembelih itu sapi betina dan tidak usah dipertanyakan warna, usia, atau ciri-ciri yang lain. Yang penting sapi itu betina, silahkan sembelih.

Dalam konteks sekarang, bertanya menjadi bagian dari proses pengungkapan ayat-ayat quraniyyah dan ayat-ayat kauwniyyah. Hal ini memang baik dan diperlukan. Namun, sering terjadi orang banyak bertanya tapi tidak melakukan apa-apa, padahal sebenarnya tanpa banyak bertanya, sesuatu bisa dilakukan dan bisa dirasakan lebih cepat manfaatnya  bagi umat. Contohnya dalam ayat tersebut, hampir saja perintah Allah untuk menyembelih Sapi Betina tidak dilaksanakan oleh Bani Israel karena mereka banyak bertanya. Jadi, ayat ini melarang manusia banyak bertanya seperti yang dilakukan Bani Israel.

 

F. Penutup

Ada empat tema yang terdapat dalam sepuluh ayat Surat al-Baqarah tersebut. Keempat tema tersebut dijelaskan berdasarkan tafsiran yang telah ada dan tafsiran yang coba “diadakan.”

Tema pertama berkenaan dengan kandungan surat al-Baqarah sebagai pelajaran bagi umat yang tidak bersyukur. Yang dipelajari karakter Bani Israel yang tidak bersyukur kepada Allah. Dengan mempelajari karakter Bani Israel tersebut, umat hari ini bisa memetik hikmah dengan cara tidak mencontoh karakter mereka.

Tema kedua berkenaan dengan pengakuan kebenaran semua agama yang diabadikan lewat ayat 62 Surat al-Baqarah. Ayat ini menunjukan bahwa al-Quran mengakui adanya titik temu agama. Dalam konteks sekarang, ayat al-Quran seperti ini sangat ditunggu-tunggu ketika perselisihan atas nama agama sering terjadi.

Tema ketiga berkenaan dengan larangan melanggar perjanjian dengan Allah. Perjanjian kita dengan Allah adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Ayat ini mendorong manusia untuk menjadi orang yang bertanggung jawab, baik terhadap diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan.

Tema keempat berkenaan dengan larangan untuk banyak bertanya tentang sesuatu yang sudah jelas, apalagi kalau pertanyaan tersebut bermaksud mengejek atau mempermainkan Allah. Allah tidak menyukai karakter seperti itu.

Daftar Pustaka

al-Mahalli, Jalaludin dan al-Suyuti, Jalaluddin. Tafsir Jalalain. (Semarang: Taha Putra semarang). Zuz 1. Hlm. 9.

al-Maliki, Syekh Ahmad al-Shawi. Hatsiyah al-‘Alamah al-Shawi (Syarah Kitab Tafsir Jalalain). Jilid 1. Indonesia: Darul al-Ihya Kutub al-‘Arabiyyah.

Al-Aliyy: Al-Quran dan Terjemahnya. 2000. Bandung: Diponegoro.

 


[1]Lihat Jalaludin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuti. Tafsir Jalalain. (Semarang: Taha Putra). Zuz 1. Hlm. 9.

[2]Shabiin diartikan sebagai golongan Yahudi dan Nashrani. Lihat Ibid. Hlm. 10.  Syekh Ahmad al-Shawi al-Maliki mengartikan Shabiin sebagai orang-orang yang keluar dari agamanya, kemudian menyembah bintang-bintang dan dewa-dewa atau diartikan juga sebagai para pengikut agama Shabi ibn Syit ibn Adam. Lihat Syekh Ahmad al-Shawi al-Maliki. Hatsiyah al-‘Alamah al-Shawi (Syarah Kitab Tafsir Jalalain). Jilid 1. Darul al-Ihya Kutub al-‘Arabiyyah. Indonesia. Hlm. 35. Lihat juga Al-Aliyy (Al-Quran dan Terjemahnya). (Bandung: Diponegoro. 2000). Cet. Ke-10. Hlm. 490.

[3]Murji’ah adalah salah satu aliran kalam dalam Islam yang menyerahkan penilaian urusan iman dan amal shaleh kepada Allah. Mereka menangguhkan penilaian itu dan menyerahkannya kepada Allah kelak di Akhirat. Nanti Allah yang akan memutuskan apakah seseorang itu benar-benar beriman atau tidak.

[4]Lihat Syekh Ahmad. Hatsiyah. Hlm. 35.

[5]Lihat Jalaludin. Tafsir Jalalain. Hlm. 10.

[6]Mengapa gunung tempat Gua Hira ini tidak memiliki kelebihan derajat dibandingkan Gunung Thur? Karena gunung tersebut tidak diabadikan di dalam al-Quran sebagaimana Gunung Thur, sehingga keberadaan gunung tersebut tidak menjadi kajian yang penting dalam al-Quran sebagaimana Gunung Thur.

[7]Lihat Jalalain. Tafsir Jalalain. Hlm. 10

[8]Lihat Syekh Ahmad. Hatsiyah. Hlm. 35.

[9]Lihat Ibid. Hlm. 35-36.

Posted in: Artikel