I’ JAZ AL-QURAN

Posted on October 11, 2011

0


I’ JAZ AL-QURAN

Oleh: Ceceng Salamudin

 

  1. A.      Pendahuluan

Al-Quran tidak henti-hentinya diteliti dan dikaji. Kandungan kitab suci tersebut terus menerus digali oleh para pengkajinya. Mereka berusaha menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tentang otentisitas al-Quran, kebenaran kandungannya, nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya, dan eksistensi al-Quran sebagai mukjizat abadi Nabi Muhammad saw.

Kajian al-Quran sebagai mukjizat ini berkenaan dengan kehebatan al-Quran dalam menantang dan mengalahkan berbagai upaya orang-orang yang mencari atau mencari-cari kekurangan atau kelemahan al-Quran. Tantangan al-Quran dan kemampuan mengalahkan “musuh-musuhnya” itu ini dinamakan i’jaz atau mukjizat al-Quran.

I’jaz atau mukjizat al-Quran adalah studi tentang bagaimana al-Quran mampu melindungi dirinya dari beragam “serangan”, baik yang berbentuk ketidakpercayaan, maupun keragu-raguan sampai pengingkaran terhadapnya. Pada saat yang sama, al-Quran juga mampu melakukan counter attack yang mampu mementahkan dan mengalahkan serangan-serangan tersebut.

Makalah ini akan membahas tentang pengertian i’jaz dan mukjizat, jenis-jenis mukjizat, unsur-unsur mukjizat, segi-segi kemukjizatan al-Quran, dan faktor-faktor  yang menyebabkan kegagalan dan ketidakmampuan bangsa Arab-dan manusia pada umumnya-dalam menandingi  al-Quran.

 

  1. B.       Pengertian I’jaz dan  Mukjizat

Dari sisi etimologi, i’jaz berasal dari kata a’jaza yu’jizu i’jazan (kata kerja transitif) yang artinya melemahkan, memperlemah, atau menetapkan kelemahan[1]. A’jaztu fulanan artinya aku melemahkan seseorang. Kata i’jaz sendiri awalnya berasal dari kata dasar a’jaza ya’jizu (kata kerja intransitif) yang artinya lemah atau tidak mampu. Pengertian ini bisa dilacak dalam Surat al-Maidah ayat 31: “… Berkata Qabil: ‘Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung Gagak itu, lalu aku bisa menguburkan mayat saudaraku ini?’…”  Kata yang digaris bawahi ini terjemahan dari kata aa’jaztu.[2]

Dari sisi terminologi, i’jaz didefinisikan oleh Manna Khalil al-Qaththan dan Ali al-Shabuny dalam tulisan Usman.[3] Manna Khalil al-Qaththan mendefiniskan i’jaz sebagai “menampakan kebenaran Nabi saw.-dalam pengakuan orang lain-sebagai seorang rasul utusan Allah swt. dengan menampakkan kelemahan orang-orang Arab untuk menandinginya atau menghadapi mukjizat yang abadi, yaitu al-Quran dan kelemahan-kelemahan generasi-generasi sesudah mereka.” Sementara Ali al-Shabuny mengartikan i’jaz sebagai “menetapkan kelemahan manusia baik secara kelompok atau bersama-sama untuk menandingi hal yang serupa dengannya…”

Jadi i’jaj ini upaya untuk menegaskan kebenaran seorang nabi dan pada saat yang sama ia juga menegaskan kelemahan manusia yang meragukan dan mengingkari kenabian. Wajar dalam konsep i’jaz ini kalau konsepsi kenabian diklaim sebagai kebenaran yang tidak bisa dibantah, apalagi dikalahkan.

Sementara itu, secara bahasa, mu’jizat juga berasal dari kata a’jaza yu’jizu i’jazan, yang artinya melemahkan atau menjadikan tidak mampu.[4] Secara istilah, mu’jizat didefinisikan oleh Manna al-Qaththan dalam tulisan Rosihan sebagai “suatu kejadian yang keluar dari kebiasaan, disertai dengan unsur tantangan, dan tidak akan dapat ditandingi.”[5]

Dari definisi ini, mukjizat mengandung arti menantang dan mengalahkan orang-orang yang meragukan dan mengingkari sabda Tuhan. Tantangan ini tidak bisa ditandingi oleh siapapun, karena Allah berkehendak untuk memenangkan semua “pertempuran,” sementara orang-orang ragu dan para pengingkar tersebut tidak mampu melawan Tuhan.

Ali al-Shabuny mendefinisikan mukjizat sebagai “bukti yang datangnya dari Allah swt. yang diberikan kepada hamba-Nya untuk memperkuat kebenaran misi kerasulan dan kenabiannya.”[6] Definisi ini menegaskan bahwa fungsi mukjizat memperkuat posisi nabi dan rasul, sehingga tidak seorang pun mampu menghancurkan posisi tersebut.

Muhammad Bakar Ismali mendefinisikan mu’jizat sebagai  “perkara luar biasa yang disertai-dan diikuti-dengan tantangan yang diberikan Allah swt. kepada nabi-nabi-Nya sebagai hujjah dan bukti yang kuat atas misi dan kebenaran terhadap apa yang diembannya, yang bersumber dari Allah swt.”[7]

Sementara itu, Muhammad Syahrur mendefinisikan mukjizat dengan membaginya menjadi dua jenis, yaitu (1) mukjizat yang diturunkan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad dan (2) mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.  Menurut Syahrur, mukjizat yang diturunkan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad adalah “percepatan kemajuan di bidang dunia indrawi (alam al-mahsus). Ia adalah fenomena alam yang melampaui dunia rasion/nalar ketika mukjizat tersebut diturunkan.”[8]

Sementara itu mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah al-Quran yang memiliki karakter abadi dan sesuai dengan jaman dan tempat. Setiap pengetahuan dan ilmu manusia berkembang, maka kemukjizatan al-Quran akan semakin jelas.[9]

 

  1. C.  Jenis-Jenis Mukjizat

Pembagian mukjizat menurut Shahrur sejalan dengan penjelasan tentang jenis-jenis mukjizat itu sendiri. Mukjizat terbagi menjadi dua bagian pokok, yaitu mukjizat yang bersifat material indrawi yang tidak kekal dan mukjizat immaterial, logis yang dapat dibuktikan sepanjang masa.[10]

Jenis mukjizat yang bersifat inderawi dan tidak kekal ini sesuai dengan sifat mukjizat yang diturunkan kepada para Nabi selain Nabi Muhammad. Jenis mukjizat ini hanya berlaku untuk jaman tertentu, kapan mukjizat tersebut diturunkan. Oleh karena itu wajar kalau sifat mukjizat tersebut tidak kekal. Contoh mukjizat jenis pertama ini banjir besar pada jaman Nabi Nuh AS., api yang tidak membakar Nabi Ibrahim AS., pembelahan laut dan tongkat menjadi ular besar, dan penghidupan orang mati pada jaman Nabi Isa AS.

Menurut Muhammad Syahrur, kejadian-kejadian tersebut merupakan fenomena alam yang melampaui jamannya.Namun hal tersebut bukan artinya keluar dari hukum alam. Menurutnya, api yang tidak membakar Nabi Ibrahim bisa dipahami menurut hukum alam karena sifat api itu ada dua: bisa membakar dan tidak bisa membakar. Sifat api membakar terjadi kepada kita, sementara sifat api yang tidak membakar terjadi kepada Nabi Ibrahim. Begitu pun, penghidupan orang mati pada jaman Nabi Isa AS. tidak berada di luar dunia empiris, namun bisa dipahami dengan memahami konsep kebangkitan manusia secara fisik setelah mati pada hari Kiyamat nanti. Jadi, menurut Syahrur bukan hal yang berlawanan dengan hukum alam ketika ada orang yang hidup setelah mati, karena kita semua juga nanti akan dibangkitkan lagi setelah kematian.[11]

Sementara itu, jenis mukjizat yang kedua bersifat kekal dan berlaku sepanjang jaman. Mukjizat tersebut adalah al-Quran al-Karim. Hal ini, menurut Syahrur, karena Muhammad (sebagai penerima mukjizat ini) nabi terakhir, sehingga mukjizatnya harus memiliki sifat abadi dan berlaku sampai dunia ini hancur.[12]

Secara lebih gamblang, Syahrur membedakan mukjizat Nabi muhammad dengan nabi-nabi sebelumnya. Pertama, aspek rasionalitas kenabian Muhammad yang berupa al-Quran dan al-sab’ul al-matsani mendahului pengetahuan inderawi, yaitu dalam bentuk mutasyabih. Setiap jaman berubah, konsepsi-konsepi al-Quran masuk ke dalam wilayah pengetahuan inderawi, yang disebut sebagai takwil langsung, yaitu kesesuaian antara teks pengetahuan terhadap hal inderawi. Kedua, al-Quran memuat hakekat wujud mutlak yang dapat dipahami secara relatif, sesuai dengan latar belakang pengetahuan, pada masa yang di dalamnya usaha pemahaman al-Quran dilakukan. Ketiga, Kemukjizatan al-Quran bukan hanya bentuk redaksinya saja, tapi juga kandungannya.[13]

Sementara itu, Abu Qasim al-Ashfahany  dalam tulisan Hasbi ash-Shiddieqy membagi mukjizat menjadi dua jenis, yaitu mukjizat hissy dan mukjizat aqly. Mukjizat hissy adalah mukjizat yang dapat dipahami  dengan pancaindera, seperti taufan Nabi Nuh dan tongkat Nabi Musa, dan mukjizat aqly adalah mukjizat yang dapat dirasakan dengan mata hati seperti mengabarkan berita-berita yang baik dan menerangkan hakikat-hakikat ilmu yang diperoleh tanpa dipelajari.[14] Pembagian al-Ashfahany ini tidak membedakan antara mukjizat yang diturunkan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad dengan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Pembagian ini bisa berlaku untuk kedua jaman mukjizat tersebut.

Hasbi ash-Shiddieqy memberikan penjelasan terhadap pembagian ini. Menurutnya, mukjizat hissy bisa dipahami oleh orang-orang pada umumnya (awam) dan orang-orang yang berilmu (khauwash), sementara mukjizat aqly hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang berilmu saja, karena mereka mempunyai akal yang kuat dan pendapat yang cemerlang.[15]

Contoh mukjizat hissy yang terjadi kepada nabi Muhammad dan telah dikumpulkan oleh ahli-ahli hadis adalah batu kerikil bertashbih di tangannya, Nabi bicara dengan serigala, dan pohon yang datang kepadanya.[16] Sayang sekali ash-Shiddieqy tidak menjelaskan hadi-hadis tersebut, sehingga wajar kalau kita meragukan contoh-contoh ini. Apalagi kalau kita merujuk kepada pendapat Syharur bahwa mukjizat Nabi Muhammad itu hanyalah al-Quran al-Karim.[17]

Menurut ash-Shiddieqy, di antara mukjizat yang termasuk hissy dan juga aqly adalah al-Quran. Ia menjelaskan bahwa al-Quran adalah “ayat hissiyah yang dapat dirasakan panca indera, aqliyah yang bersifat akal, diam tidak berbicara dan kekal sepanjang masa berkembang di dalam dunia.”[18]

Sejalan dengan pendapat ash-Shiddieqy tentang sifat kemukjizatan al-Quran,  M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa tidak mungkin al-Quran, sebagai bukti kebenaran Nabi Muhammad, bersifat lokal, temporal, dan material, sebagaimana bukti kebenaran nabi-nabi sebelumnya. Bukti kebenaran beliau harus bersifat universal, kekal, dapat dipikirkan dan dibuktikan kebenarannya dengan menggunakan akal.[19]

 

  1. D.  Unsur-Unsur  Mukjizat

M. Quraish Shihab dalam tulisan Rosihan menjelaskan empat unsur mukjizat[20], yaitu:

  1. Hal atau peristiwa yang luar biasa. Peristiwa-peristiwa alam atau kejadian sehari-hari walaupun menakjubkan tidak bisa dinamakan mukjizat. Ukuran “luar biasa” tersebut adalah tidak bertentangan dengan hukum alam, namun akal sehat pada waktu terjadinya peristiwa tersebut belum bisa memahaminya.
  2. Terjadi atau dipaparkan oleh seorang Nabi. Artinya sesuatu yang luar biasa tersebut muncul dari atau berkenaan dengan seorang Nabi. Peristiwa besar yang muncul dari seorang calon Nabi tidak bisa dikatakan mukjizat, apalagi dari manusia biasa seperti kita.
  3. Mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian. Mukjizat terkait erat dengan tantangan dan jawaban terhadap orang-orang yang meragukan kenabian. Jadi peristiwa yang terkait dengan Nabi, tapi tidak berkenaan dengan kenabian tidak bisa dikatakan sebagai mukjizat.
  4. Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani. Mukjizat merupakan tantangan terhadap orang-orang yang meragukan atau mengingkari kenabiaan dan mereka tidak mampu melayani tantangan tersebut. Oleh karena itu, kalau tantangan tersebut mampu dilawan atau dikalahkan, maka tantangan tersebut bukan lah bentuk mukjizat.

Keempat unsur tersebut menjadi syarat bagi peristiwa tertentu sehingga peristiwa ini bisa dinamakan mukjizat. Kalau salah satu unsur tersebut tidak ada, maka persitiwa itu tidak bisa dikatakan sebagai mukjizat. Untuk memahami esensi keempat unsur mukjizat tersebut, kita mesti memahami segi-segi kemukjizatan, khususnya kemukjizatan al-Quran.

 

  1. E.  Segi-Segi Kemukjizatan al-Quran

Syeikh Muhammad Ali al-Shabuniy dalam tulisan Usman menyebutkan segi-segi kemukjizatan al-Quran, yaitu:

  1. Keindahan sastranya yang sama sekali berbeda dengan keindahan sastra yang dimiliki oleh orang-orang Arab
  2. Gaya bahasanya yang unik yang sama sekali berbeda dengan semua gaya bahasa yang dimiliki oleh bangsa  Arab
  3. Kefasihan bahasanya yang tidak mungkin dapat ditandingi dan dilakukan oleh semua makhluk termasuk jenis manusia
  4. Kesempurnaan syariat yang dibawanya yang mengungguli semua syariat dan aturan-aturan lainnya
  5. Menampilkan berita-berita yang bersifat eskatologis yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh otak manusia kecuali melalui pemberitaan wahyu al-Quran itu sendiri
  6. Tidak adanya pertentangan antara konsep-konsep yang dibawakannya dengan kenyataan kebenaran hasil penemuan dan penyelidikan ilmu pengetahuan
  7. Terpenuhinya setiap janji dan ancaman yang diberitakan al-Quran
  8. Ilmu pengetahuan yang dibawanya mencakup ilmu pengetahuan syariat  dan ilmu pengetahaun alam (tentang jagat raya).
  9. Dapat memenuhi kebutuhan manusia
  10. Dapat memberikan pengaruh yang mendalam dan besar pada hati para pengikut dan musuh-musuhnya
  11. Susunan kalimat dan gaya bahasanya terpelihara dari paradoksi dan kerancuan. [21]

Al-Mawardi dalam tulisan Hasbi ash-Shiddiqie menerangkan dua puluh hal yang menunjukan kemukjizatan al-Quran.[22]

  1. Kefashahan al-Quran dan cara penjelasannya
  2. Keringkasan lapad al-Quran, tapi sempurna maknanya
  3. Nazham uslub-nya yang unik. Ia tidak termasuk ke dalam kalam yang ber-nadzam, tidak termasuk ke dalam syi’ar atau rajaz, tidak bersajak dan bukan pula bersifat khatbah.
  4. Banyak makna-maknanya yang tidak dapat dikumpulkan oleh oleh pembicaraan manusia.
  5. Al-Quran mengumpulkan ilmu-ilmu yang tidak dapat diliputi oleh manusia dan tidak dapat berkumpul pada seseorang.
  6. Al-Quran mengandung berbagai hujjah dan keterangan untuk menetapkan ketauhidan dan menolak i’tiqad-i’tiqad yang salah
  7. Al-Quran mengandung khabar-khabar orang yang telah lalu dan umat-umat purbakala.
  8. Al-Quran mengandung khabar-khabar yang belum terjadi, kemudian terjadi persis sebagaimana yang dikhabarkan.
  9. Al-Quran menerangkan isi-isi hati yang tidak dapat diketahui melainkan oleh Allah sendiri.
  10. Lafad-lafad al-Quran melengkapi jazal mustarghab dan sahl al-mustaqrab. Dalam pada itu, tidak dipandang sukar jazal-nya dan tidak dipandang mudah sahl-nya.
  11. Pembacaan al-Quran mempunyai khushusiyah dengan kelima penggerak yang tidak didapatkan pada selainnya. Pertama, kelembutan tempat keluarnya. Kedua, keindahan dan kecantikannya. Ketiga, mudah dibaca nadzam-nya dan saling berkaitan satu sama lain.Keempat, enak didengar, dan kelima, pembacanya tidak jemu membacanya dan pendengarnya pun tidak bosan mendengarnya.
  12. Al-Quran dinukilkan dengan lafad-lafad yang diturunkan. Jibril menyampaikannya dengan lafad dan nazham-nya. Rasul pun meneruskan kepada umat persis sebagaimana yang diterima dari Jibril.
  13. Terdapat makna-makna yang berlainan di dalam sesuatu. Yakni di dalam sesuatu surat itu kita mendapatkan berbagai rupa masalah. Kemudian masalah-masalah itu kita temukan di dalam surat-surat lain
  14. Perbedaan ayat-ayatnya, ada yang panjang dan ada yang pendek, tidak mengeluarkan al-Quran dari uslub-nya.
  15. Walaupun kita sering sekali membacanya, namun kita tidak dapat mencapai kepashahannya, karena al-Quran itu di luar tabi’at manusia.
  16. Al-Quran mudah dihapal oleh segala lidah.
  17. Al-Quran itu lebih tinggi dari segala martabat pembicaraan. Martabat pembicaraan terbagi tiga:
    1. Mantsur yang dapat dibuat oleh segenap manusia.
    2. Syi’ir yang hanya dapat disusun oleh sebagaian manusia
    3. Al-Quran melampaui kedua martabat itu. Martabatnya tidak sanggup dicapai oleh golongan a dan b.
    4. Tambahan yang disisipkan atau pengubahan lafad-lafadnya dapat diketahui.
    5. Tidak ada umat yang sanggup menentang al-Quran.
    6. Allah memalingkan manusia dari menentangnya.

 

  1. F.   Faktor-Faktor  Yang Menyebabkan Kegagalan dan Ketidakmampuan Bangsa Arab dalam Menandingi  al-Quran[23]
    1. Ketika menyusun syi’ir-syi’ir atau teks lisan lainnya, bangsa arab hanya mampu mensifati benda-benda yang bisa dilihat, seperti kuda, unta, perempuan, dll. Namun al-Quran, selain mensifati benda-benda yang bisa dilihat, tapi juga mampu memaparkan hal-hal ghaib, termasuk sejarah-sejarah masa lalu dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.
    2. Bagaimanapun hebatnya para pujangga dan orator Arab dalam menyusun kata-kata dan merangkai kalimat, mereka tidak mampu menyusun kata dan rangkaian kalimat yang semuanya fasih dan baligh. Sedangkan semua susunan kata dan rangkaian kalimta al-Quran fasih dan baligh, sehingga tidak seorang pun mampu menandinginya.
    3. Ketika para sastrawan Arab berulang-ulang memberikan sifat tentang sesuatu benda atau peristiwa yang terjadi dengan kalimat berbeda-beda, maka kalimat yang kedua berbeda maksudnya dengan kalimat yang pertama. Tetapi al-Quran tidaklah demikian, sekalipun kalimat yang satu diulang-ulang dengan menggunakan kalimat yang lain, namun ayat-ayat al-Quran tidak berubah dari tujuan yang semula, bahkan akan menambah kefasihannya.
    4. Para sastrawan Arab  yang paling tersohor sekalipun, hanya dapat menyusun syi’ir yang fasih dan baligh hanya dalam satu bidang saja, sedang dalam bidang lainnya tidak. Tetapi al-Quran semua susunan kalimat dan ayat –ayatnya fasih dan baligh.
    5. Kandungan syi’ir –syi’ir para pujangga dan sastrawan Arab banyak berisi kebohongan dan kepalsuan, namun semua kandungan al-Quran sangat bersih dari kedustaan dan kepalsuan.

 

G. Penutup

I’jaz atau mukjizat al-Quran adalah eksistensi dan realitas al-Quran dalam mengalahkan beragam upaya orang-orang untuk meragukan atau mengingkarinya. Eksistensi dan realitas tersebut menjadi bagian dari studi al-Quran yang tidak henti-hentinya mengalami perkembangan.

Mukjizat terbagi menjadi dua, yaitu mukjizat material indrawi yang bersifat tidak kekal dan berlaku untuk jaman tertentu, dan mukjizat immaterial, bersifat kekal dan abadi, yang dapat dibuktikan sepanjang masa, dan berlaku sampai dunia ini berakhir.

Unsur mukjizat ada empat, yaitu hal atau peristiwa yang luar biasa, terjadi atau dipaparkan oleh seorang nabi, mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian, dan tantangan tersebut tidak mampu dilayani.

Menurut Syeikh Muhammad Ali al-Shabuniy, segi-segi kemukjizatan al-Quran ada sebelas, sementara menurut al-Mawardi ada dua puluh. Segi-segi kemukjizatan tersebut saling berkaitan satu sama lain.

Ada lima faktor yang menyebabkan manusia tidak mampu menandingi al-Quran. Kelima faktor tersebut telah terbukti terjadi pada bangsa Arab dan akan selalu menjadi alasan sampai kapan pun mengapa manusia tidak akan mampu menandingi al-Quran.

 

Daftar Pustaka

Anwar, Rosihon. 2008. Ulum Al-Quran. Bandung: Pustaka Setia.

Shahrur, Muhammad. 2008. Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al-Quran Kontemporer. Sahiron Syamsuddin dan Burhanudin Dzikri (Penerj.).Yogyakarta: Elsaq Press.

ash-Shiddieqy, Hasbi. 2009. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an dan Tafsir. Semarang: Pustaka Rizki Putra.

Shihab, M. Quraish. 2003. “Membumikan” al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan. Cet. Ke-26.

Usman. 2009. Ulumul Qur’an.Yogyakarta: Teras.

 


[1]Usman. Ulumul Qur’an.(Yogyakarta: Teras. 2009). Hlm. 285.

[2]Rosihon Anwar. Ulum Al-Quran. (Bandung: Pustaka Setia. 2008). Hlm. 184.

[3]Ibid. Hlm. 285-287.

[4]Rosihon. Ulum.Hlm. 184.

[5]Ibid. Hlm. 185.

[6]Usman. Ulumul. Hlm. 286-287.

[7]Ibid. Hlm. 286.

[8]Muhammad Shahrur. Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al-Quran Kontemporer. (Yogyakarta: Elsaq Press. 2008).Cet. Ke-4. Hlm. 241.

[9]Ibid. Hlm. 242.

[10]Rosihon. Ulum. Hlm. 192.

[11]Muhammad. Prinsip.Hlm. 241.

[12]Ibid. Hlm. 242.

[13]Ibid. Hlm. 242-245.

[14]Hasbi ash-Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an dan Tafsir. (Semarang: Pustaka Rizki Putra. 2009). Ed. Ke-3. Hlm. 125.

[15]Ibid..

[16]Ibid. Hlm. 126.

[17]Muhammad. Prinsip.Hlm. 242.

[18]Hasbi. Sejarah. Hlm. 126.

[19]M. Quraish Shihab. “Membumikan” al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. (Bandung: Mizan. 2003). Cet. Ke-26. Hlm. 28.

[20]Rosihon. Ulum. Hlm. 185-186.

[21]Usman. Ulumul. Hlm. 297.

[22]Hasbi. Sejarah. Hlm. 130-133.

[23]Usman. Ulumul. Hlm. 307-309.

Posted in: Artikel