WAHYU MEMANDU SMK : RENCANA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SMKN 6 GARUT

Posted on October 3, 2011

0


WAHYU MEMANDU SMK : RENCANA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SMKN 6 GARUT
Oleh: Ceceng Salamudin
A. Pendahuluan
Tidak bisa dipungkiri bahwa dua tahun belakangan ini perkembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bagai jamur di musim hujan, banyak dan pesat. Para ahli pendidikan memperkirakan bahwa di kemudian hari SMK akan menjadi mainstream di antara sekolah-sekolah tingkat SLTA, seperti SMA dan Aliyah. Sekolah kejuruan diyakini akan “mengalahkan” SMA dan Aliyah, baik dari sisi kuantitas (jumlah sekolah dan jumlah siswa), maupun dari sisi kualitas (profesionalisme sumber daya manusia). Perkembangan ini memang sudah direncanakan dan sedang diperjuangkan oleh pemerintah dengan jargon “SMK Bisa.” Pertanyaanya, apakah dengan menjamurnya sekolah kejuruan akan menghasilkan lulusan yang mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat dan nilai-nilai kemanusiaan?
Taraf hidup masyarakat dalam arti kehidupan ekonomi jelas bisa meningkat kalau SMK benar-benar digaraf dengan baik. Namun nilai-nilai kemanusiaan atau nilai-nilai moral belum tentu meningkat, bahkan akan semakin menukik tajam menuju kehancuran. Aliyah saja sebagai lembaga pendidikan yang Islami dan lebih banyak bergelut dengan konsep moral ini belum bisa menjamin lulusannya lebih “shaleh” dibanding dengan lulusan SMA atau SMK.
Artinya ada persoalan serius yang mesti dipikirkan bersama terkait dengan perkembangan SMK yang begitu pesat. Kenapa konsep “shaleh” ini penting dalam pendidikan? Karena konsep itu menentukan kemajuan pendidikan dan bangsa secara keseluruhan. Apakah bangsa kita menginginkan generasi kita maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi namun semakin mundur dalam bidang nilai-nilai agama?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan lah pertanyaan remeh temeh. Ini sangat terkait dengan persoalan kepribadian bangsa dari sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Di saat anak-anak kita terus didorong untuk menguasai ilmu pengetahun dan tekhnologi dengan memasuki SMK, di saat bersamaan mereka menghadapai ancaman penggerusan nilai-nilai spiritual yang akan semakin meninggalkan mereka dari agama. Mengapa demikian? Karena sejarah telah membuktikan bahwa orang-orang Barat pun demikian. Mereka mendorong anak-anaknya untuk menguasai iptek, namun mereka tidak memperhatikan nilai-nilai moral anak-anak mereka. Sehingga kelak anak-anak itu lahir sebagai ilmuwan dan teknokrat yang menghalalkan segala cara demi ambisi keilmuan dan teknologinya.
Pendidikan Agama Islam tentu saja menjadi teramat penting diajarkan di SMK. Untuk apa? untuk memandu para siswanya agar tidak kelewat “batas”; menyadarkan mereka agar tidak kehilangan nilai-nilai agama; mengajarkan mereka agar memahami hakikat dirinya sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Pencipta. Ini lah yang disebut dengan kesadaran spiritualisme; sebuah kesadaran keberagamaan yang harus selalu dipraktekan dalam dimensi kehidupan apapun.
Bagaimana untuk menjadikan PAI menjadi pemandu SMK? Tulisan ini akan mencoba menawarkan jawabannya dalam bentuk rencana perkembangan PAI di SMK. Tentu saja tulisan ini tidak bermaksud menggurui para penulis buku ajar PAI untuk SMK. Namun tulisan ini hanyalah menjadi mitra dialog dengan mereka, sekaligus kritik terhadap kekurangan konsep-konsep pengajaran PAI di SMK.
Tulisan ini akan diawali dengan penjelasan tentang karakteristik pendidikan agama Islam dengan berangkat dari hakikat pendidikan Islam. Kemudian, karakteristik SMK pada umumnya dan sekilas tentang SMKN 6 Garut akan dijelaskan dengan melihat perkembangan SMKN 6 dari tahun ke tahun. Selanjutnya, perkembangan materi PAI dan komentar tentang buku-buku ajar juga akan disajikan. Terakhir tulisan ini akan menguraikan arti “Wahyu Memandu SMK” beserta contoh-contoh rencana perkembangan PAI di SMK.
B. Karakteristik Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan salah satu kegiatan pendidikan Islam, sekaligus dijadikan sebagai nama bidang studi pendidikan Islam. Jadi, untuk mengetahui karaktersitik pendidikan agama Islam harus dipahami dulu karakteristik pendidikan Islam.
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang didasarkan pada konsep-konsep Islam. Bagaimana konsep-konsep Islam itu? Salah satu konsep Islam adalah penghargaaan setinggi-tingginya terhadap manusia. Penghargaan tersebut mewujud pada pandangan Islam terhadap manusia. Bagaimana pandangan Islam terhadap manusia hubungannya dengan pendidikan?
Prof. Ahmad Tafsir (Guru Besar Pendidikan Islam UIN Bandung) menjelaskan bahwa Islam memandang manusia sebagai makhluk yang mempunyai tiga potensi dasar, yaitu potensi jasmani, potensi akal, dan ruhani. Artinya, bahwa pendidikan Islam menghargai manusia sebagai makhluk yang mempunyai tiga potensi tersebut. Berbeda dengan pendidikan Islam, pendidikan Barat (dalam arti yang mengggunakan paradigma positivistik sebagai filsafat pendidikannya) hanya mengakui dua potensi manusia saja, yaitu potensi jasmani dan akal. Dengan kedua potensi ini, Barat memang maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sampai saat ini, namun kemajuan mereka adalah semu, dalam arti kemajuan tersebut menuju kehancuran peradaban. Mengapa? Karena kemajuan Barat adalah kemajuan tanpa nilai, tanpa agama, tanpa Tuhan. Buktinya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dimanpaatkan untuk menguasai negara lain, dalam bentuk penjajahan ekonomi, penjajahan budaya, dan penjajahan sendi-sendi kehidupan lainnya.
Islam sangat menghargai jasmani dan akal, namun itu bukan merupakan ukuran kehebatan manusia. Islam sangat menghargai dan menjungjung tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi, namun itu bukan merupakan tujuan. Dalam Islam, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dijadikan sebagai jalan untuk mengabdi kepada Allah S.W.T. Ini lah yang disebut potensi ruhani. Jadi pendidikan Islam itu, membimbing jasmani, akal, dan ruhani untuk mengabdi kepada yang Maha Agung.
Orang Barat memang beragama, tapi agama itu tidak dijadikan sebagai nilai dalam dimensi kehidupan. Bagi mereka, agama adalah urusan pribadi dan tidak perlu “mengintervensi” pendidikan. Artinya, bagi mereka agama tidak perlu dimasukan dalam kurikulum pendidikan. Ini lah yang dinamakan sekurelisasi pendidikan , yaitu memisahkan agama dari pendidikan.
Islam tentu saja menolak pandangan seperti itu. Intinya Islam menolak sekurelisasi pendidikan. Bagi Islam justru pendidikan itu harus dipandu oleh agama, agar tidak keblinger, agar tidak kacau dan mengacaukan masyarakat. Agama harus “mengintervensi” kurikulum sehingga jenis kurikulum apapun yang berkembang tidak bebas nilai. Inilah karakteristik pendidikan Islam.
Azyumardi Azra merinci tiga karakteristik pendidikan Islam. Pertama, pencarian, penguasaan, dan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai wujud ibadah kepada Allah S.W.T. Kedua, pengakuan akan adanya kemampuan dan potensi untuk berkembang dalam suatu kepribadian. Ketiga, pengamalan ilmu pengetahuan sebagai wujud tanggung jawab kepada Allah dan manusia.
Bagaimana hubungannya dengan pendidikan Agama Islam? PAI adalah salah satu praktek pendidikan Islam. Artinya pendidikan islam itu diantaranya dipraktekan dalam pendidikan agama Islam. Jadi karakteristik pendidikan agama Islam itu dijiwai oleh karakterisitik pendidikan Islam.
C. Karakteristik Sekolah Kejuruan
Pada dasarnya sekolah kejuruan dicanangkan oleh pemerintah untuk menjawab perkembangan jaman yang kian maju dan kompleks, terutama perkembangan di bidang teknologi dan industri. Hal ini dilakukan pemerintah karena minimnya pelajar Indonesia yang mempunyai keahlian di bidang keilmuannya yang bisa dipraktekan di dunia kerja. Artinya Sekolah kejuruan didirikan untuk mencetak lulusan yang siap kerja sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Lebih jauh lagi, sekolah kejuruan didirikan supaya lulusannya tidak nganggur. Mengapa supaya tidak nganggur? Karena banyak sekali lulusan SMA atau Aliyah yang tidak mempunyai pekerjaan.
Jadi, tidak bisa dipungkiri bahwa lulusan SMK disiapkan untuk menjadi tenaga “robot” yang disiapkan pemerintah untuk mendokrak devisa negara. Konsep ini sejalan dengan konsep ekonomi yang dikembangkan di Barat, yaitu berangkat dari model pendidikan yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, kemudian lulusan-lulusan lembaga pendidikan tersebut disiapkan untuk menjadi ahli ekonomi yang mampu memajukan ekonomi Barat.
Indonesia bukan Negara Barat. Maka sistem pendidikan Barat tidak relevan dengan Indonesia sebagai penganut budaya Timur. Budaya Timur bersifat spiritualis sementara budaya Barat sekuler. Maka ketika sistem pendidikan Barat diterapkan melalui sekolah-sekolah kejuruan, hal ini merupakan tantangan dan masalah besar. Oleh karena itu PAI harus tampil sebagai pemandu sekolah kejuruan. Sebelum lebih jauh membahas peran PAI sebagai pemandu SMK, saya akan menyajikan sekilas pandang tentang SMKN 6 Garut.
D. Sekilas tentang SMKN 6 Garut
Secara de facto SMKN 6 Garut (dulu namanya SMKN I Limbangan) telah berdiri pada tahun 2004. Namun secara de jure, SK pendirian SMKN 6 dikeluarkan pada tanggal 19 Oktober 2006. Artinya selama hampir dua tahun, SMKN 6 berada di bawah naungan lembaga pendidikan lain, yaitu SMPN 3 Limbangan.
SMKN 6 Garut terletak di Kampung Cijolang Desa Cijolang Kecamatan Limbangan Kabupaten Garut. Tidak banyak yang tahu pasti alasan pendirian SMKN 6 Garut ini. Salah satu sumber mengatakan bahwa pendirian SMK ini terkait dengan kebijakan pemerintah yang mendorong masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah kejuruan, sementara pada waktu itu di daerah Garut utara, khususnya wilayah Kecamatan Selaawi, Limbangan, dan Cibatu belum ada satu pun SMK Negeri.
Berdasarkan data yang ada di tata usaha SMKN 6 Garut, animo masyarakat sekitar untuk menyekolahkan anak-anak mereka luar biasa. Hal ini terbukti dari jumlah siswa yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun pertama pendirian, yaitu tahun ajaran 2004/2005 jumlah siswa 63 orang (2 rombongan belajar/rombel), sekarang setelah enam tahun berdiri jumlah siswa pada tahun ajaran 2009/2010 adalah 675 orang (20 rombel).
Jurusan yang disediakan oleh SMKN 6 Garut baru dua, yaitu Tata Busana (TB) dan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) dengan perbandingan jumlah siswa TKJ selalu lebih banyak dari pada jurusan TB. Tercatat tahun ini jumlah rombel jurusan TKJ adalah empat belas sementara TB enam.
Dengan jumlah rombel dua puluh, sepuluh ruang kelas yang ada sebenarnya sangat tidak memadai. Oleh karena itu, pengadaan kelas siang menjadi pilihan utama. Artinya di SMKN 6 ini, ada dua waktu pembelajaran, yaitu kelas X siang hari (jam 12.35-17.00) dan kelas XI dan XII pagi hari (jam 07.00-12.30).
Dengan jumlah siswa yang semakin meningkat, apalagi waktu pembelajaran terbagi dua, pembinaan moral siswa menjadi kendala utama. Dalam konteks ini, fungsi mata diklat PAI menjadi sangat penting, sebagai salah satu mata diklat yang berbasis nilai pendidikan Islam. Oleh karena itu sebuah keniscayaan untuk menjadikan PAI ini sebagai mata diklat gerakan moral di sekolah.
Sarana penunjang untuk menjadikan PAI sebagai lokomotif gerakan moral sangat minim. Masjid yang ada di SMKN 6 Garut ini, sebagai sarana untuk melakukan pembinaan moral siswa, sangat tidak representatif. Masjid hanya berukuran 2 x 3 meter, sementara jumlah siswa kelas siang sekitar 315 orang. Mereka tidak punya pilihan lain kecuali harus melaksanakan sholat Dzuhur dan Ashar di sekolah, kecuali siswa yang jarak rumahnya dekat dengan sekolah.
Namun disayangkan dengan sistem dua waktu ini, moralitas keagamaan mereka tidak terkontrol. Makanya PAI mempunyai tugas besar untuk menjadikan siswa mempunyai kesadaran keagamaan yang bagus. Oleh karena itu pula materi-materi PAI harus dikembangkan sehingga sesuai dengan tugas PAI itu sendiri.
E. Pengembangan Materi PAI di Sekolah Kejuruan
Tanpa bermaksud menyalahkan buku-buku ajar yang ada, saya harus mengatakan bahwa perlunya sebuah revisi dan pengembangan materi PAI untuk SMK ke tingkat operasional. Alasannya karena buku-buku ajar yang ada masih bersifat kognitif dan materinya terlalu padat.
Pemerintah memang telah menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar sebagai panduan. Namun panduan tersebut kadang-kadang tidak benar-benar bisa “memandu” guru untuk mengembangkan silabus dan membuat RPP. Artinya perlu kerja keras untuk mengembangkan silabus tersebut sehingga sesuai dengan tugas PAI dan konteks masyarakat hari ini. Ini adalah tantangan sekaligus masalah bagi guru. Disebut tantangan karena hal itu berarti mendorong guru PAI untuk semakain cerdas dalam mengembangkan silabus tersebut. Disebut masalah bagaimana kalau guru gagal dalam mengembangkan silabus sehingga PAI mandul dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemandu SMK.
Sebagai gambaran bahwa materi PAI masih bersifat kognitif dan terlau padat, kita bisa lihat buku-buku ajar PAI untuk SMK kelas X- XI, dan XII berdasarkan standar isi 2006 yang diterbitkan oleh Armico. Buku ini walapun banyak kekurangan, namun terpaksa saya gunakan sebagai buku salah satu buku ajar dengan penambahan konsep ke tataran operasionalnya.
Buku yang berjudul Memahami Pendidikan Agama Islam untuk SMK kelas X- XI, dan XII berjumlah 37 bab dengan rincian kelas X dan XI dua belas bab dan kelas XII 13 bab. Setia bab menjelaskan beberapa ayat yang berhubungan dengan tema yang ada.
Untuk konteks SMK buku ini terlalu “melelahkan.” Tema-tema buku ini lebih tepat disajikan untuk siswa Aliyah. SMK itu sekolah kejuruan, sehingga ayat-ayat al-Quran yang dipelajari harus disesuaikan dengan jurusan masing-masing, terkecuali tema-tema penting seperti sholat dan puasa bisa dimasukan dan terpisah dengan tema-tema yang berhubungan dengan jurusan, namun hanya sebagai tambahan saja.
Pemahaman terhadap ayat-ayat yang berkenaan dengan jurusan tersebut sebenarnya bisa dikembangkan sesuai dengan dimensi agama Islam, seperti akhlak, ibadat, dan muamalah. Artinya tema-tema al-Quran yang berkenaan dengan jurusan tersebut harus dihubungkan dengan konteks pendidikan agama Islam. Contohnya, ketika berbicara tentang tema teknologi dalam al-Quran, maka tema ini sebenarnya bisa dihubungkan dengan jurusan mereka masing-masing dan digali nilai-nilai agama dari tema tersebut.

F. Internalisasi Nilai-Nilai PAI ke dalam Mata Diklat Lain
Inilah sebenarnya maksud dari “Wahyu memandu SMK”. Artinya PAI dijadikan sebagai landasan nilai bagi mata diklat-mata diklat lain. Ini menjadi terobosan baru di dunia SMK, sekaligus hal ini melawan paradigma positivistik yang menjadi kecenderungan SMK.
Paradigma positivisitik menginginkan teknologi sebagai ilmu terapan yang bebas nilai. Paradigma ini dianggap sukses menjalankan fungsinya ketika lulusan SMK menjadi para teknokrat atau para pekerja yang suskes tapi tidak memperdulikan nilai-nilai agama. Sehingga mereka tumbuh menjadi manusia-manusia yang bebas nilai juga.
Bagaimana melawan paradigma ini? Tidak ada pilihan kecuali menjadikan teknologi sebagai ilmu terapan yang tidak bebas nilai. Ini tidak mudah. Namun harus diperjuangkan agar siswa-siswa kita menjadi manusia-manusia yang tidak bebas nilai. Caranya, yaitu dengan menjadikan mata diklat PAI sebagai “gerakan moral” melawan positivisitik ini.
Bentuk perlawanan terhadap positivisitik ini adalah dengan memasukan nilai PAI ke dalam semua mata diklat; terutama dengan memasukan nilai-nilai PAI ke dalam kegiatan praktek kejuruan. Bagaimana cara menginternalisasikan nilai-nilai itu? Yaitu dengan melakukan perubahan terhadap materi-materi PAI, sehingga nilai-nilai PAI itu bisa diterapkan dalam semua aspek pembelajaran.
Berikut ini contoh-contoh indikator mata diklat PAI yang bisa dijadikan sebagai pemandu bagi semua mata diklat SMK.
Pertama, siswa harus mampu membaca dan menulis al-Quran. Ini adalah kemampuan dasar dalam mata diklat PAI. Semua siswa harus lulus dalam indikator ini. Mengapa kemampuan membaca dan menulis al-Quran menjadi penting dalam pembelajaran PAI? Karena dengan membaca dan menulis al-Quran, nilai-nilai al-Quran bisa diserap.
Untuk mengetahui kemampuan siswa membaca al-Quran, guru bisa melakukan tes baca al-Quran. Semua siswa harus mengikuti tes ini. Yang belum mampu membaca dan menulis harus ada proses tindak lanjut dan mereka menjadi prioritas guru untuk dibantu. Seorang siswa yang belum mampu membaca al-Quran maka ia belum lulus dalam indikator tersebut dan selama tiga tahui ia harus terus berusaha supaya bisa lulus.
Kedua, siswa konsisten mendirikan sholat lima waktu dengan khusu’. Contoh indikator untuk kelas X, mereka konsisten mendirikan sholat dhuhur dan Atsar di masjid sekolah. Indikator ini memang sulit diukur. Tapi ini bisa dilakukan dengan membuat absensi sholat. Untuk menilai kekhusuan sholat siswa, maka seorang guru harus bisa khusu’ dalam sholat dan ia memimpin berjama’ah sholat dhuhur dan atsar. Siapa yang tidak melaksanakan berjama’ah dengan guru, maka ia belum lulus dalam indikator tersebut karena ia belum khusu’. Seiring waktu, pelatihan sholat khusu’ bisa dilakukan sehingga setelah siswa mampu khusu’ dalam sholat, berjamaah dengan guru tidak lagi menjadi indikator kekhusuan sholat.
Sholat maghrib, isya, dan shubuh tidak harus dijadikan indikator pembelajaran, tapi guru tetap melakukan kontrol terhadap siswa dengan cara membagikan kegiatan harian sholat mereka. Biarkan mereka yang mengisi dan melaporkannya tiap waktu. Di sini guru menguji kejujuran siswa.
Ketiga, siswa harus mampu mengingat Allah ketika melakukan kegiatan apapun, termasuk praktek kejuruan. Awali dengan basmallah ketika mereka melakukan praktek. Akhiri dengan Alhamdulillah ketika mereka selesai melakukan praktek. Sadarkan mereka bahwa ada yang mengerakan diri kita ketika seseorang bergerak.
Dulu dzikir ini tidak bisa diukur, tapi sekarang seorang guru PAI bisa melakukannya. Berikan kolom penilaian ini kepada siswa. Biarkan mereka yang mengisi kegiatan mereka, terutama ketika praktek-praktek kejuruan dilakukan. Contoh penilaian dalam kolom tersebut apakah siswa membaca basmallah dan Alhamdulillah ketika melakukan praktek kejuruan. Ada dzikir yang benar-benar mudah diukur, yaitu sholat. Kenapa? Karena sholat ini dzikit tertinggi dalam islam. Indikatornya gampang ketika siswa mendidirikan sholat berarti ia berdzikir ketika tidak, berarti ia tidak berdzikir.
Keempat, siswa memahami kandungan al-Quran, terutama tema-tema al-Quran yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam konteks ini, guru harus mampu mengajarkan al-Quran dengan baik dan menarik. Sehingga siswa memamahmi kandungan al-Quran. Salah satu metode pembelajaran al-Quran yang mampu mendorong minat siswa adalah mengajarkan al-Quran dengan cerita pendek. Jadi, materi-materi itu dirangkai dalam cerita pendek.
Kelima, siswa harus memahami ayat-ayat al-Quran yang berkenaan dengan akhlak terhadap sesama dan lingkungan. Indikatornya mereka mampu mempraktekan kandungan ayat-ayat tersebut dalam lingkungan sekolah. Ketika menjelaskan surat al-Ma’un, maka indikatornya siswa bisa memberikan bantuan kepada temannya yang sakit melalui shodaqoah jumat. Ketika menjelaskan tentang kebersihan menurut Islam, indikatornya kelas dan lingkungan bersih, membuang sampah pada tempatnya, dan WC tidak bau. Ketika menjelaskan larangan mencuri dan korupsi buat lah kantin kejujuran atau kalau dikelas simpan saja uang siswa di atas meja. Biarkan siswa belajar mengendalikan diri.Biarkan Tema-tema tentang akhlak ini bisa dikembangkan lebih jauh lagi.
Kelima indikator ini tidak serta merta terlepas dari pengelolaan sekolah. Tetap saja hal tersebut harus di bawah pengelolaan sekolah dengan payung konsepnya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS ini merupakan fondasi konseptual sekaligus payung hukum dalam mengembangkan dan memajukan sekolah. Dalam MBS ini, sekolah diberi kebebasan untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan secara luas.
G. Penutup
Pendidikan Agama Islam adalah bagian dari pendidikan Islam. Oleh karena itu, konsep Pendidikan Agama Islam dijiwai oleh konsep pendidikan Islam. Konsep pendidikan Islam memandang manusia sebagai mahluk yang mempunyai tiga potensi, yaitu jasmani, akal, dan Ruhani.
SMK adalah sekolah kejuruan yang pendiriannya dilatarbelakangi oleh keinginan pemerintah untuk mencetak lulusan yang terampil dalam bidang teknologi. Hal ini lah yang akan mengancam SMK karena lulusan-lulusan SMK akan menjadi calon-calon teknokrat yang kehilangan nilai-nilai agama.
SMK 6 Garut pun tidak terlepas dari ancaman ini. Maka, kehadiran mata diklat PAI sebuah keniscayaan. Karena PAI inilah yang akan memandu SMK supaya tidak kehilangan nilai. Proses pemanduan ini dimulai dari perubahan atau revisi terhadap materi-materi PAI yang nantinya akan berimplikasi pada perubahan silabus dan Rencana Pogram Pengajaran (RPP).
Indikator, sebagai bagian dari RPP juga mengalami perubahan atau revisi. Ada lima indikator yang menjadi indikator dasar pengajaran PAI, yaitu, siswa harus mampu membaca dan menulis al-Quran, siswa harus konsisten melaksanakan sholat khusu’, siswa harus mengingat Allah dalam kegiatan-kegiatan praktikum, siswa harus mempraktekan kandungan ayat-ayat yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan siswa harus mempraktekan ayat-ayat al-Quran yang berkenaan dengan akhlak dalam kehidupan di sekolah.
H. Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi. 2000. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Megawangi, Ratna, dkk. 2005. Pendidikan Holistik. Bogor: Indonesia Heritage Foundation.
Mulyasa, E. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Sangkan, Abu. 2007. Pelatihan Shalat Khusu’: Shalat sebagai Mediasi Tertinggi dalam Islam. Jakarta: Yayasan Shalat Khusu’ & Manajemen Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia.
Tafsir, Ahmad. 1992. Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam. (Bandung: Remaja Rosda Karya.
___________. 2001. Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
____________. 2008. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Posted in: Artikel